
Waktu berjalan begitu lambat, hingga Asna ingin waktu ini segera berganti setiap kali menatap suaminya yang masih tidur dengan tenangnya,
"Mas, putri kita sudah boleh pulang, kapan mas Raka akan pulang?" Asna terus menatap suaminya yang sama sekali tidak bergerak.
"Ini sudah sangat lama, mau berapa lama lagi?"
Di luar ruangan sudah ada mama ayu yang menggendong putri kecilnya yang siap untuk di ajak pulang.
Hari ini sang putri sudah bisa pulang karena keadaannya sudah lebih baik. Sedangkan suaminya sama sekali tidak menunjukkan kemajuan sama sekali.
...****...
Semenjak kepulangan Asna dan bayinya, hari-hari Asna hanya di fokuskan pada bayi, pekerjaan dan menjenguk suaminya, ia bahkan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Tapi karena terpaan hidup yang seolah tak henti mengujinya membuatnya menjadi pribadi yang percaya diri. Asna yang mengutuk hidupnya waktu itu kini sudah sirna.
Hidup Asna sedikit terhibur dengan kehadiran buah hatinya yang semakin hari semakin menggemaskan.
Saat ia tinggal ke toko, Shahia akan di rawat oleh mbak Rumi. Seperti biasa sebelum pulang ia akan menyempatkan diri untuk menjenguk suaminya di rumah sakit hanya sekedar menceritakan apa yang sudah ia lalui hari ini tanpa suaminya.
Hari semakin gelap saat ia keluar dari rumah sakit, ia memutuskan untuk sholat magrib di mushola rumah sakit agar tidak terburu-buru saat pulang. Sebelum itu ia juga menghubungi mbak Rumi menanyakan keadaan Shahia, takut kalau putrinya rewel.
"Enggak mbak, Shahia nya lagi mau tuh!" bayi kecil itu sudah mulai belajar berjalan sekarang jadi ia benar-benar tidak mau diam di tempat. Ia terus mengelilingi seisi rumah hingga Asna dan mbak Rumi harus meminggirkan meja dan beberapa perabotan rumah lainnya agar Shahia tidak sampai terbentur perabot rumah saat berjalan.
"Arahkan kamera nya ke Shahia dong mbak!"
Mbak Rumi pun melakukannya hingga terlihat dari layar putri kecilnya yang begitu menggemaskan dengan wajah yang begitu mirip dengan suaminya itu.
"Cantiknya putri mama, lagi ngapain sayang?"
"Ma ma ma ma ....!" celotehnya pun mulai banyak, Shahia mulai bisa memanggil mama pada Asna.
"Mama lagi ke tempatnya papa, Shahia kangen papa ya, nanti akhir pekan mama akan ajak Shahia temui papa ya sayang!"
"Pa pa pa ...!"
"Iya sayang papa!" Asna begitu senang saat putrinya mulai bisa memanggil papa juga, ia ingin saat suaminya bangun sang putri sudah bisa memanggil papa.
"Mbak sudah mau azan, telponnya di matiin dulu ya!"
"Iya mbak, hati-hati di jalan!"
"Mbak juga ya! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Asna pun segera menyimpan kembali ponselnya saat azan berkumandang. Ia berjalan menuju ke tempat wudhu wanita, tanpa Asna sadari sedari tadi ada yang sedang mengawasinya dari jauh.
Selesai mengambil wudhu, Asna segera bergabung dengan jama'ah lainnya yang sudah mulai banyak, ia duduk di urutan shaff ke tiga karena tadi masih terlalu awal ia datang dan di belakangnya sudah berjejer beberapa shaff lainnya, saat imam meminta jama'ah nya untuk meluruskan shaff, semua jama'ah berdiri dan berjajar lurus dengan sebelahnya.
__ADS_1
Satu per satu jama'ah meninggalkan tempatnya, tapi Asna terlihat masih khusyu berdoa, kesembuhan bagi suaminya menjadi doa utamanya setiap hari, ia berharap suaminya akan segera sadar dan bergabung kembali dengannya.
Setelah puas mengadu dengan sang pencipta, Asna pun segera melepas dan melipat kembali mukena yang di sediakan mushola. Ia tidak mau pulang terlalu malam, waktunya dengan Shahia sedikit terkuras saat ia harus mengurus toko juga. Ia tidak mungkin meninggalkan toko begitu saja, walaupun di sana ada orang-orang kepercayaan Raka tetap saja ia tidak bisa lepas tangan. Leon sebenarnya dengan senang hati akan memberi bantuan, karena ia juga pernah berperan sebagai Raka dulu, jadi tidak sulit baginya untuk mengurus toko milik saudara kembarnya itu, tapi Asna merasa tidak enak membebankan segalanya pada Leon. Leon sudah menanggung semua biaya pengobatan Raka selama ini, ia tidak mau merepotkan lebih banyak lagi. Selagi ia bisa melakukan sendiri, ia berjanji tidak akan merepotkan orang lain. Ia juga jadi punya kegiatan selain menjaga Shahia.
Asna segera memakai kembali sepatunya, saat akan melangkahkan kakinya tiba-tiba ia kembali terpaku karena di hadapannya ada seseorang yang sedang berdiri menatapnya.
"Assalamualaikum, Asna!"
"Waalaikum salam, Zaki!"
"Aku mau bicara, bisa kita cari tempat yang nyaman untuk bicara?"
Mereka pun memutuskan untuk berbicara di kafe terdekat dengan rumah sakit.
"Bagaimana kabar kamu, Na?"
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat!"
"Ada apa di rumah sakit ini?"
"Suami saya di rawat di sini!"
Sebelum Zaki kembali bertanya, seorang waiters datang dengan membawa dua cangkir kopi.
"Minumlah!" Zaki mempersilahkan Asna untuk minum setelah waiters itu pergi.
"Terimakasih!"
"Suami saya koma sudah hampir satu tahun yang lalu!"
"Maaf saya benar-benar tidak tahu perkembangan kamu selama ini!"
"Tidak pa pa, memang bukan urusan kamu kan! Jadi jangan di pikirkan!"
"Aku seneng bisa ketemu kamu lagi, semenjak hari itu aku_!"
"Lebih baik nggak usah di bahas lagi kan Zak, kamu tahu aku sudah punya suami, bahkan sekarang aku juga sudah punya putri kecil yang lucu, akan lebih baik kalau kamu mulai memikirkan hidupmu sendiri!"
"Maaf, walaupun sulit aku akan mencobanya Na, tapi jangan pernah menghindar dariku, kita masih bisa berteman kan?"
"Maaf zak, bukannya Asna nggak mau, tapi tidak baik berteman antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, apalagi keadaan suami saya seperti ini!"
"Baiklah, tidak pa pa, tapi saat kita bertemu jangan menghindar ya! Oh iya, sekarang kamu sibuk apa?"
"Aku sedang mengurus toko buku dan percetakaan suami saya selama suami saya masih koma!"
"Wahhh kebetulan sekali!"
__ADS_1
"Apanya?"
"Kebetulan aku di minta profesor_!"
"Profesor?"
"Iya, sebenarnya aku ambil kuliah kedokteran sudah dua tahun ini!"
"Selamat ya!"
"Terimakasih! Oh iya aku lanjut yang tadi ya!" Asna pun menganggukkan kepalanya.
"Jadi aku di minta profesor buat cariin percetakan yang bagus buat terbitin karya nya, dia lagi menulis buku tentang anatomi tubuh manusia!"
Asna pun mengeluarkan sebuah kartu nama dari tasnya.
"Ini kartu nama saya dan suami saya, jadi kalau sudah yakin kamu bisa ke toko langsung atau hubungi saya!"
"Pasti!"
Mereka pun akhirnya membicarakan banyak hal.
Hingga Asna tersadar sudah jam delapan malam,
"Ya Allah, Zak! Aku pulang dulu ya, sudah malam banget soalnya!"
"Kamu pulang sama siapa?"
"Aku pakek taksi!"
"Aku antar aja ya!"
"Nggak usah deh!"
"Nggak pa pa kalau kamu nggak nyaman duduk di samping aku, nggak pa pa duduk aja di belakang!"
"Tapi Zak!"
"Ayolah Na, aku nggak akan tega biarin kamu pulang sendiri, ini sudah malam, apalagi kamu pulang telat gara-gara aku!"
"Baiklah kalau kamu maksa!" Asna sebenarnya juga takut pulang sendiri kalau kemalaman seperti ini, walaupun pakai jasa taksi, tetap saja mendengar berita tentang kejahatan taksi yang sering meresahkan membuatnya merinding.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...