
Setelah perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka sampai juga di sebuah desa, tidak terlalu besar tapi sepertinya memang desa ini di jadikan salah satu desa wisata. Desa yang menjadi tujuan utama hari ini adalah desa Budakeling.
Bagi wisatawan mancanegara, desa Budakeling sudah begitu dikenal sejak era 1970-an. Namun, bagi wisatawan nusantara masih asing mendengar kata Desa Budakeling.
Desa ini banyak dikunjungi wisman karena merupakan desa penghasil kerajinan perak, selain Desa Celuk.
Sebagai salah satu desa berkonsep desa wisata, masyarakat desa juga menyediakan satu sampai dua kamar tidur bagi wisatawan yang ingin menginap.
Ketika wisman berkunjung ke sini, biasanya akan diajak ke pasar tradisional desa hingga berbelanja dan memasak di rumah warga.
Wisman juga akan diajak trekking menyusuri wilayah pedesaan dan melihat aktivitas penduduk. Sementara untuk wisnus biasa, akan berkunjung ke Candidasa, Amed, Taman Ujung dan Tirtagangga.
Karena Nisa dan Leon hanya ingin berkunjung jadi mereka tidak berniat untuk menyewa penginapan, mereka hanya berkeliling di desa itu untuk melihat aktifitas penduduk desa.
Hingga langkah mereka terhenti pada satu rumah, Leon menatap rumah itu ada sesuatu yang sepertinya mengingatkannya pada suatu kejadian.
"Mas, mas Leon tidak pa pa?" Nisa yang sedari tadi sibuk mengambil gambar beberapa rumah langkahnya ikut terhenti saat melihat suaminya bengong di depan sebuah rumah yang sebenarnya tidak terlalu menarik karena rumahnya terlihat sudah usam.
"Kita berhenti sebentar di sini ya?"
"Ada apa?"
"Tidak pa pa, aku hanya ingin melihat ke dalam!"
Karena ada tour guide, makan Nisa meminta tour guide itu untuk meninggalkan mereka, walaupun pria yang mengantarnya itu terlihat keberatan tapi akhirnya pria itu bersedia juga.
Nisa mengikuti suaminya memasuki rumah yang terlihat sepi itu,
srekkkk
Nisa menarik tangan Leon lagi saat mereka sudah mencapai pintu depan.
"Kita harus permisi dulu mas!"
Leon menoleh dan tersenyum, mengusap lengan Nisa.
"Permisi_!" ucapnya kemudian.
Tapi tidak ada sahutan dari dalam. cukup lama mereka berdiri di depan pintu hingga seorang kakek keluar dari rumah itu karena mungkin mendengar suara mereka.
"Iya, siapa ya?"
Melihat kakek itu, Nisa dan Leon pun berjalan mendekat.
"Maaf kek, kami wisatawan yang sedang berlibur. Pas lewat depan rumah kakek, kami tertarik untuk melihatnya, apa boleh kami masuk?"
"Maaf nak, rumah ini sedang tidak menerima wisatawan, lagi pula rumah kami tidak bagus, di sebelah sana ada rumah yang lebih bagus dan siap menerima wisatawan!"
Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar seseorang bicara dan langkah kakinya sepertinya mengarah ke luar,
"Siapa kek?"
Kakek itu menoleh ke dalam, "Tidak, hanya wisatawan yang kesasar saja!"
__ADS_1
"Nggak pa pa kek, suruh masuk saja, siapa tahu benar kesasar!"
Seseorang yang bicara itu akhirnya keluar dan berdiri tepat di belakang sang kakek, tepat di depan pintu.
Nisa dan Leon terlihat tercengang saat melihat siapa yang berada di depannya kini,
"Gus Raka!"
"Mas Raka!"
Baik Nisa dan Leon begitu terkejut dengan keberadaan Gus Raka di rumah itu.
Walaupun terlihat terkejut, gus Raka segera tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Mas Leon, Nisa!"
Kakek yang melihat mereka sudah saling kenal membuatnya memutar kepalanya menatap gus Raka.
"Kalian kenal?"
"Iya kek, kebetulan dua wisatawan ini adalah teman Raka di Surabaya, mereka mas Leon dan Nisa, baru menikah!" Gus Raka memperkenalkan Nisa dan Leon kepada kakeknya dengan sebutan teman.
"Oh_, jadi mereka yang baru menikah!?" sepertinya kakek sudah tahu tentang pernikahan itu membuatnya mengganggukkan kepalanya pelan.
"Ya sudah, masuk masuk_!"
Kakek itu akhirnya mempersilahkan mereka masuk.
Mereka pun duduk di ruang tamu, Gus Raka sudah masuk ke dalam dan kembali lagi dengan membawa nampan yang berisi beberapa gelas teh hangat,
"Jangan sungkan, lagi pula hanya teh hangat!"
Setelah itu tidak ada percakapan lagi, kakek meninggalkan mereka ke dalam membiarkan mereka agar leluasa untuk bicara.
"Itu tadi_?" Nisa menunjuk ke arah kakek yang baru saja masuk.
"Dia kakek saya!"
"Jadi gus Raka keturunan dari Bali?"
"Iya!" kali ini Gus Raka hanya menjawabnya singkat, seperti sedang berhati-hati dalam bicara.
"Pak Kyai apa Bu Nyai yang orang Bali?" tanya Nisa lagi, walaupun tidak bertemu langsung tapi setidaknya Nisa sudah pernah mendatangi ceramah ayah dari Gus Raka.
"Bukan mereka!"
Nisa mengerutkan keningnya lalu menoleh ke arah suaminya seperti sedang menanyakan sesuatu, kalau soal bahasa tubuh atau menyelidiki dia tahu suaminya lebih tahu.
"Kalian pasti bingung, ya kenyataannya saya bukan anak kandung dari mereka! Seperti mas Leon, saya sebenarnya tidak jauh berbeda, saya hanya anak angkat dari mereka. Kemarin saya sempat bercerita sedikit sama mas Leon tentang keluargaku di sini!"
"Jadi saudara yang sakit?" tanya Leon lagi.
"Kemarin adalah hari pemakamannya, adik saya sudah meninggal dua hari yang lalu!"
__ADS_1
"Innalilahi wa innailaihi roji'un, maaf kami tidak tahu kalau kalian sedang berkabung!"
"Tidak pa pa, saya malah senang kedatangan kalian sedikit menghibur saya!"
"Kenapa Gus Raka tidak mengatakannya kemarin pas kita bertemu?" protes Leon, jika saat itu Gus Raka mengatakannya mungkin dia bisa membantu sesuatu, pikirnya.
"Saya tidak mungkin merubah liburan kalian, tidak masalah! Kalian bisa bantu saya untuk mendoakannya!"
Setelah cukup lama berbincang-bincang, mereka pun akhirnya berpamitan. Leon mengabaikan perasaannya, ia sedang tidak bisa bertanya banyak jika keadaannya tidak memungkinkan. Mungkin lain waktu ia bisa bertanya kembali.
Melihat rumah yang rasanya tidak asing membuatnya menyimpulkan banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya.
"Kita langsung ke resort tidak pa pa ya?" Leon yang sudah duduk di balik kemudi itu menanyai sang istri. Entah kenapa hari ini tiba-tiba mood nya untuk berlibur hilang.
"Iya mas, tapi kamu tidak pa pa kan?"
"Tidak, hanya saja aku merasa tidak asing dengan rumah kakek Gus Raka!"
"Mungkin karena mas Leon sudah sering datang ke Bali, jadi sudah kayak rumah sendiri!"
Mobil mereka pun akhirnya melaju meninggalkan kampung wisata.
Di rumah yang baru saja di tinggalkan oleh tamunya itu, terlihat kembali tenang. Gus Raka mengambil belas yang sudah kosong di atas meja dan meletakkannya di atas nampan dan membawanya kembali ke dapur.
"Tamunya sudah pulang, Ka?" pertanyaan seseorang membuat Gus Raka menghentikan kegiatannya, dia cukup terkejut karena tidak menyadari kalau ada seseorang di sana.
"Kek, sejak kapan di situ?" Kakek itu duduk di pojok ruangan sedang melanjutkan membuat kerajinan dari bambu.
"Duduklah, kakek ingin bicara!"
Gus Raka pun membiarkan gelas kotor itu tetap di atas meja, dia memilih untuk mendekati sang kakek dan duduk di depannya.
"Kakek tidak pa pa jika kamu tinggal Ka, kakek sudah baik-baik saja. Yani sudah baik di sana, kamu juga harus melanjutkan hidup kamu!"
"Raka tidak pa pa jika kakek ingin Raka tetap tinggal, atau kakek bisa ikut Raka ke Surabaya, kakek sama Raka dan orang tua Raka!"
"Jangan, biar kakek di sini saja! Kakek ingin meninggal di sini juga, ibu bapakmu juga meninggal di sini!"
"Kalau begitu Raka akan menemani kakek di sini!"
"Jangan! Sudah waktunya kamu kembali, kakek akan senang kalau kamu jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain! Kakek juga masih punya satu lagi rahasia yang belum kamu ketahui!"
"Apa?"
"Kamu masih punya saudara!"
Bersambung
...Hidup ini sangatlah sederhana, tetapi kita bersikeras membuatnya rumit dengan menunjukkan masalah yang sebenarnya datang dari diri kita sendiri...
jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...