Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Membujuk Alex


__ADS_3

“Merry?" tanya nenek Widya, ia sudah melupakan nama itu. Gadis yang pernah di kenalkan padanya oleh putra semata wayangnya. Gadis yang dulu sangat di cintai oleh putranya.


“Iya nek, bi Merry selama ini tinggal di rumah mas Alex!” ucap Aisyah membuat nenek Widya semakin terkejut. Selama ini Merry ada begitu dekat dengannya tapi ia tidak menyadarinya.


Setelah melihat nenek Widya hanya terdiam, Aisyah tahu jika nenek Widya sedang memikirkan sesuatu, bukan dia ingin menyalahkan neneknya tapi semua salah di sini, Aisyah hanya ingin mengemukakan pendapatnya menurut sudut pandang dia yang sebelumnya hanya orang lain.


"Aisyah nyusul mas Alex dulu ya nek!" ucap Aisyah dan nenek Widya pun mengangguk.


     Aisyah pun segera menghampiri suaminya di kamar, terlihat suaminya itu baru saja selesai mandi, Alex terlihat begitu tampan dengan sarung yang sudah melekat di pinggangnya.


Walaupun masih baru bisa memakai sarung, tapi terlihat lipatannya sudah sangat rapi, kaos tipis berwarna putih melekat di tubuhnya dengan rambut yang sedikit basah.


"Mandilah sayang ...., setelah ini kita sholat magrib berjamaah!" ucap Alex sambil mengambil baju kokonya.


"Iya mas ....!"


Aisyah pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan suaminya karena waktu magrib akan segera berlalu, Aisyah bergegas ke kamar mandi.


Kini Aisyah sudah melepas mukenanya, ia duduk berselonjor di sofa sambil menunggu suaminya membaca beberapa ayat pendek yang sudah suaminya bisa, memang belum banyak tapi bacaannya sudah cukup baik. Alex masih rutin pergi ke kyai Hamid untuk memperdalam ilmu agamanya di sela-sela kesibukannya.


Ia belajar mulai dari nol, karena sebelumnya memang tidak ada yang memperkenalkannya dengan agamanya yang sudah sejak dulu menempel di kartu tanda penduduk miliknya.


Ia hanya tahu agamanya Islam tapi ia tidak tahu apa itu Islam, kemudian Aisyah datang dengan membawa salam nya yang khas membuat Alex tertarik dengan arti sebuah salam bagi seorang muslim.


Hingga rasa penasarannya membawanya dengan segala macam hal-hal yang menakjubkan, hal-hal kecil yang dia lihat dari kebiasaan Aisyah, membuatnya semakin penasaran untuk tahu apa yang di lakukan istrinya, apa yang membuat istrinya selalu melakukan itu dan berulang-ulang.


Seperti membaca basmallah setiap akan memulai sesuatu, hamdallah ketika selesai melakukan sesuatu, berdoa sebelum tidur, adab saat tidur, adab saat makan, adab saat bicara dengan orang yang lebih tua, lebih muda, semau ia pelajari dari Aisyah.


Bagaimana Aisyah berjalan, bersikap dengan laki-laki yang bukan mahram nya, adab Aisyah saat ia makan, bagaimana kecewanya Aisyah saat salamnya tidak di jawab dan masih banyak lagi.


Hal-hal kecil itu yang membuat Alex merasa Aisyah begitu istimewa begitupun dengan Islam yang sebelumnya tidak ia kenal.


Alex menyelesaikan bacaannya, ia sudah menutup juz amma nya, memang belum Al-Qur'an karena jilidnya belum selesai, ia masih sampai jilid empat masih ada dua lagi baru ia bisa mulai membaca Al-Qur'an, itu yang di katakan oleh Kyai Hamid.


Alex tidak melepas sarungnya karena sebentar lagi pasti azan isya akan berkumandang, ia hanya melipat sajadahnya dan meletakkannya di atas tempat tidur, kemudian Alex menghampiri istrinya yang sedang duduk dengan mukena yang masih ada di atas pangkuannya.


Alex duduk di samping Aisyah, "Capek ya?" tanya Alex tanpa menyentuh istrinya, ia tidak mau membuat istrinya itu kesusahan dengan memintanya mengambil wudhu lagi.


"Enggak mas ....!"


Alex pun kemudian mengambil ponselnya yang sedari tadi ia letakkan di atas meja, ia memeriksa beberapa pesan.


“Mas …!” panggil Aisyah membuat Alex mengalihkan pada istrinya itu.

__ADS_1


"Mas bu Nia ...!" ucap Aisyah ragu dan benar saja seketika ekspresi wajah Alex berubah.


“Jangan bicara jika ini tentang wanita itu!” ucap Alex kesal, Alex kembali dengan ponselnya.


Mendengar jika suaminya masih begitu marah, Aisyah pun memilih diam.


Mereka hanya saling diam hingga azan isya berkumandang, meraka pun melaksanakan sholat isya’


berjama’ah di dalam kamar.


Setelah membaca Al-Qur'an sebentar, Aisyah segera melepas mukenanya dan melipat sajadahnya, ia melihat suaminya kembali sibuk dengan pekerjaannya di sofa yang tadi mereka duduki,


Aisyah merasakan tubuhnya masih sangat capek setelah buang air kecil, Aisyah pun segera naik keatas tempat tidur. Ia merasakan kakinya begitu nyeri karena seharian ia kurang istirahat di tambah dengan kontraksi semu yang sering muncul akhir-akhir ini.


Alex yang sedang memeriksa berkasnya, melihat istrinya kesusahan memijit kakinya sendiri karena terhalang perutnya yang besar, Alex pun memilih menutup kembali berkas-berkasnya dan menghampiri Aisyah.


“Sayang …, kakinya sakit ya? Aku pijitin ya …!” ucap Alex, ia sudah duduk di samping Aisyah dan memijat kaki Aisyah membuat Aisyah tersenyum dan menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi.


“Makasih ya mas!”


"Lain kali jangan terlalu capek, lihat kaki kamu bengkak seperti ini!” ucap Alex lagi saat melihat kaki istrinya yang memang sedikit bengkak. Aisyah hanya tersenyum.


Alex kembali fokus dengan pijatannya. Mereka kembali saling diam cukup lama, Aisyah bingung bagaimana ia memulai bicara pada suaminya.


"Mas seneng-seneng saja sayang, tapi mas nggak mau liat kamu kesusahan seperti ini, lebih baik satu aja ya, biarlah ..., mas juga masih bingung bagaimana nantinya kalau kamu melahirkan, mas bisa sanggup apa enggak liatnya!" ucap Alex.


Memang itu yang sedang Aisyah inginkan dari suaminya saat ini, dia tahu jika suaminya hanya keras di luarnya tapi hatinya sangat lembut.


Aisyah tersenyum, “Mas…, semua ibu pasti juga merasakan yang namanya mengandung dan melahirkan, mengurus anak mulai dari anak tidak bisa apa-apa hingga anak bisa merangkak dan berjalan, ibu harus rela tidur malamnya tertunda, tapi semua ibu pasti menikmati proses itu!"


Alex terdiam kemudian menatap istrinya itu, "Kamu pasti akan kesusahan nanti, jika aku tidak bisa membantumu untuk merawat anak kita nanti maafkan aku ya, mulai sekarang!"


"Nggak pa pa mas, sebenarnya bukan itu mas inti pembicaraan Aisyah!"


"Apa?"


"Mas ...., bu Nia sudah mengandung mas Alex selama Sembilan bulan! Melahirkan mas ke dunia. Menyusui mas Alex, apa semua itu kurang cukup untuk menggambarkan kasih sayang seorang ibu?” tanya Aisyah, Alex kembali menatap istrinya itu.


"Aisyah Ratna!” ucap Alex dengan penuh penekanan.


“Mas …!”


“cukup!”

__ADS_1


“Tapi kalau mas Alex tidak mau menjenguknya, Aisyah mohon, tetap ijinkan Aisyah ya mas buat rawat


bu Nia!”


“Aisyah …!” Alex tampak tidak setuju.


“Aku istri kamu mas, aku juga sedang hamil! Aku nggak mau menanggung dosa karena telah menelantarkan ibu kandung suamiku!”


Alex terdiam,


“Ya mas ya ...., boleh ya …?” bujuk Aisyah dengan wajah yang penuh harap.


“Tidurlah…, aku akan mengusap punggungmu!”


"Mas…!”


“Tapi harus sama Leon!” ucap Alex lagi membuat Aisyah tersenyum senang.


“terimakasih ya mas …!”


***


 Setelah mendengarkan pendapat Aisyah, nenek Widya jadi merasa bersalah. Tidak seharusnya seperti itu. Ia memutuskan untuk menemui mantan menantunya itu di rumah sakit tanpa sepengetahuan Alex dan Aisyah.


“Ruang perawatan atas nama Nia Rusela!” ucap nenek Widya.


“Di rumah dahlia 5 bu!”


“Terimakasih!”


Nenek Widya pun akhirnya menuju ke ruangan yang di tunjukkan oleh resepsionis rumah sakit.


Bu Nia begitu terkejut saat melihat kedatangan nenek Widya di ruangannya.


“ibu …!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2