Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra Part (Kepergian kakek)


__ADS_3

Kini mereka sudah duduk di meja makan bersama sang kakek. Bi Murti juga masih di sana untuk membantu menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Ini ya kembarannya mas Raka, gantengnya sama!"


Leon yang di bicarakan hanya tersenyum tipis,


"Dia sedikit pemalu, bu!" ucap gus Raka menimpali ucapannya.


"Benarkah?" bu Murti memperhatikan wajah Leon, "Kalau di lihat sekilas beda, tapi kalau di lihat sungguh-sungguh ternyata banyak kesamaannya, kayaknya yang beda cuma tatapan matanya!" ucap Bu Murti mencoba menilai satu persatu wajah mereka.


"Ya beginilah bu!"


"Ya sudah, makan dulu. Maaf sama ibu di ajak ngomong terus malah nggak jadi-jadi makan!"


"Iya_, gimana sih kamu, Mur, Mur!" ucap kakek sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu saya permisi pulang dulu ya, di enakkan saja makannya, seadanya makanan orang kampung!"


sepanjang obrolan Leon hanya tersenyum sedikit, menyaksikan keakraban mereka.


"Kamu mau aku bantu?" tanya gus Raka setelah bu Murti meninggalkan mereka, membuat sang kakek memperhatikan tingkah kedua cucunya.


"Apanya yang di bantu?" tanya sang kakek.


"Ini kek, Leon ini singa yang tak pandai menyuwir daging ayam!" ucap gus Raka asal membuat sang kakek beralih menatap Leon.


"Tidak seperti itu Kek, sungguh!" Leon mencoba untuk membela diri.


Kakek hanya menggelengkan kepalanya, Sudah Ka, bantu adikmu untu menyuwir ayam biar cepet selesai makannya, kakek sudah nggak sabar pengen melihat cucu menantu kakek!"


Gus Raka tersenyum dan mengambil satu potong ayam bumbu dan memisahkan daging dan tulangnya seperti biasanya.


Walaupun mungkin menurut orang ini aneh, tapi sungguh Leon sangat menikmati hal ini, Leon tersenyum menikmati kemanjaannya sebagai seorang adik.


Setelah makan malam selesai, gus Raka dan leon segera membereskan meja makan, mencuci piring kotor bersama-sama.


"Ayo ka, Lee, jangan lama-lama! huks huks huks!" sang kakek memang batuk berat hal itu yang membuat keadaannya sering drop. Kebiasaan buruknya adalah merokok, membuat dadanya sering sesak.


Gus Raka dan Leon pun segera menghampiri sang kakek, "Ada apa kek?" tanya mereka bersamaan, tampak sekali wajah mereka begitu khawatir.


"Mana, katanya mau telpon sama istri kamu!"


"Ahhh, kakek buat aku khawatir saja!" gerutu Leon,


"Kakek nggak akan mati semudah itu!" timpal sang kakek membuat kedua cucunya tergelak.


Leon pun segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video kepada sang istri,


Banyak sekali yang dibicarakan oleh sang kakek,


"Baik-baik ya nak, kamu harus sabar jadi istri, kalau suami kamu nakal jewer saja, laki-laki kadang suka mau menang sendiri, kamu yang pinter-pinter nyetir dia!"


"Baik mbah!" ucap lembut gadis berhijab di seberang sana.


"Kok semua nasihatnya terasa memojokan saya sih kek?" protes Leon.


"Gitu aja kok ya meri, sama istri sendiri loh!" ucap kakek dan langsung mendapat gelak tawa dari sang istri dan gus Raka.


"Istri kamu cantik!" ucapnya setelah menyelesaikan panggilan videonya.


***


Banyak hal di habiskan Leon dan gus Raka untuk merawat sang kakek.

__ADS_1


Saat malam hari sebelum tidur, Leon tidak pernah absen melakukan panggilan video call dengan sang istri.


"Kapan pulang mas?" tanya wanita di seberang sana dengan menampakkan wajah cantiknya dengan bibir yang di buat cemberut, "Ini sudah lima hari kan?"


"Iya benar, maaf ya! Keadaan kakek masih belum baik, aku nggak enak juga kan kalau ninggalin Raka di sini sendiri ngurus kakek!"


"Ya udah nggak pa pa, tapi tetap jaga hati ya di sana, jangan suka lirik-lirik cewek Bali ya!"


"Memang siapa yang berani!"


"Temani aku sampai aku tertidur ya!"


"Itu matanya sudah merah, kasihan adek sama kakak kalau sering di ajak begadang sama mamanya!"


"Mau bagaimana, bantal ternyamannya masih jauh!"


"Baiklah, sebagai ganti bantal, bagaimana kalau aku bernyanyi saja supaya cepat tidur!"


"Memang bisa nyanyi?"


"Bisa, cuma nyanyi kan. Nggak penting suara bagus atau jelek, yang penting nyanyi!"


"Baiklah, aku akan mendengarkan sekarang!"


Leon pun mulai menyanyikan lagu kesukaan Nisa, walaupun dengan suara standartnya, nggak bagus-bagus banget, jelek juga enggak buktinya Nisa sampai benar-benar tertidur oleh lagi yang di nyanyikan sang suami.


Gus Raka yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka hanya sesekali melirik dan tersenyum, walaupun di tangannya ada sebuah buku, ia hanya membukanya tapi sebenarnya sedang memperhatikan tingkah pasangan muda itu.


"Ternyata punya bakat terpendam juga kamu, Lee!" ucapnya setelah Leon mematikan sambungan telponnya dan langsung mendapat tatapan dari Leon.


"Nguping ya?"


"Nggak, cuma nggak sengaja dengar!"


"Hahhhha, dasar penguping!" gumam Leon sambil menyebirkan bibirnya pada saudara kembarnya itu.


Ahhh, aku selalu kalah kalau berdebat sama dia, batin Leon kesal karena sudah kalah berdebat dan memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan kan Gus Raka masih asik duduk di kursi yang menghadap ke jendela, menikmati sinar bulan yang kebetulan bersinar sempurna malam ini.


***


Hari ini jadwal sang kakek periksa kesehatan di klinik terdekat, untuk itu Gus Raka mencari mobil untuk di sewa mereka, setelah sholat subuh Gus raka tidak langsung pulang, ia mencari orang kampung yang mempunyai mobil, rumahnya agak jauh dari rumah mereka. Sedangkan Leon, mereka sengaja berbagi tugas, Leon bertugas menemani sang kakek, beberapa hari ini memang kesehatannya menurun, kalau malam hari sering batuk-batuk dan sesak nafas.


"Terimakasih ya pak mobilnya, insyaallah aku pulangkan nanti sore nggak pa pa ya!"


"Iya nggak pa pa, bli!"


Setelah mendapatkan mobilnya, Gus Raka bergegas kembali ke rumah, Leon dan sang kakek sudah siap di depan rumah.


Gus Raka segera turun dan membantu sang kakek naik ke dalam mobil bersama Alex.


"Biar aku saja yang nyetir!" tawar Leon, "Nanti tunjukan saja jalannya ke klinik!"


"Baiklah!"


Gus Raka duduk di belakang menemani sang kakek.


Kondisi sang kakek semalam tiba-tiba drop, dan kata Bu Murti kalau malam tidak ada akses menuju ke klinik. Kata Bu Murti mobil satu-satunya di kampung itu sedang ada carteran ke luar daerah dan baru kembali pagi buta.


Nafas sang kakek terlihat tersengal-sengal, mulai pendek-pendek.


"Kek, sabar ya, sebentar lagi sampai di klinik, kakek tahan ya!"


"Ka_kek, su_dah te_nang se_ka_rang, Ka_kek nggak pa pa, ka_lau ha_rus per_gi se_ka_rang!" bahkan suara kakek sudah terbata-bata sekarang, Leon yang mengemudikan mobilnya mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di klinik.

__ADS_1


Akhirnya setelah perjalanan selama setengah jam mereka sampai juga di klinik desa.


Leon segera memanggil perawat untuk membawakan tempat tidur pasien, gus Raka membantu menaikan sang kakek ke atas tempat tidur dorong, beberapa perawat segera mendorongnya dan memasukkan ke ruang IGD.


Sebuah tabung oksigen sudah di siapkan dan dokter pun segera datang untuk menangani.


Keluarga pasien tidak di perbolehkan masuk, Leon dan Gus Raka menunggu di depan ruangan, tampak wajah mereka begitu cemas.


Sesekali mereka berdiri dan berjalan mondar mandi untuk menghilangkan rasa cemasnya, tapi tetap saja tidak bisa.


"Keluarga pasien!"


"Iya kami dok!" ucap Gus Raka dan Leon bersamaan.


"Akan sebaiknya keluarga menghabiskan waktu bersama pasien, agar pasien bisa tengan!"


"Maksud dokter?" Leon sudah mulai cemas, ia seperti kembali saat di mana ia menemani Oma Widya di saat-saat terakhirnya, dokter pun mengatakan hal yang sama.


Leon pun dengan cepat menerobos tubuh sang dokter masuk ke dalam ruangan, sedangkan Gus Raka masih berdiri mematung.


"Yang tabah ya mas!" ucap sang dokter lalu meninggalkan Gus Raka yang masih mematung. Sepertinya sang dokter berasal dari Jawa dengan logat bicara yang seperti orang Jawa.


Gus Raka pun segera menyusul masuk, ikut duduk di samping Leon. Ia bingung harus mengantarkan kepergian sang kakek dengan kalimat apa, sejatinya sang kakek adalah umat Hindu.


Apa aku bantu pakek syahadat ya ..., batin Gus Raka.


Gus Raka menatap wajah sang kakek dengan sebuah kantong oksigen yang menggantung di hidungnya.


"Aku bantu pakek syahadat bagaimana?" tanyanya pada Leon.


Leon tidak mengerti dengan hal itu memilih bertanya dulu pada sang kakek, ia mendekatkan bibirnya pada telinga sang kakek,


"Kek, baca syahadat nggak pa pa ya kek?" tanya Leon dan sang kakek menganggukkan kepalanya pelan.


"Ka, sebaiknya kita tuntun dengan syahadat saja, urusan di terima atau tidak biarkan Allah yang menentukan sendiri!" ucap Leon membuat keputusan.


Gus Raka pun mendekat ke telinga sang kakek,


"Ikuti saya ya kek, 'ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH".


Berkali-kali Gus Raka mencoba menuntun sang kakek, karena terlihat kesusahan Gus Raka pun meminta perawat untuk melepaskan kantong oksigennya.


Walaupun terbata akhirnya sang kakek bisa mengucapkan syahadat di detik nafas terakhirnya.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un!"


Leon dan Gus Raka hanya bisa saling berpelukan, para perawat segera mengurus jenazah sang kakek.


Perawat meminta Leon untuk mengurusi atministrasinya sedangkan Gus Raka membawa jenazah sang kakek ke ambulan, dia juga menghubungi Bu Murti untuk melakukan persiapan di rumah. Ia meminta tolong untuk memanggilkan para pemuka agama Islam karena di nafas terakhirnya sang kakek sudah sempat mengucapkan kalimat syahadat, hal itu pun di setujui oleh Bu Murti.


Setelah menyelesaikan atministrasinya, Gus Raka meminta Leon untuk pulang membawa mobil yang telah ia sewa tadi sedangkan dirinya ikut dengan ambulans.


Sesampai di rumah, kedatangan mereka sudah di Sambut seluruh warga yang melayat, beberapa tokoh agama Islam juga sudah ada di sana.


Gus Raka dan Leon memandikan sang kakek dan merawat dengan cara merawat jenazah orang islam.


...Mungkin hari ini kita masih di sini, tapi besok belum tentu. Maka jalanilah hidup ini dengan benar. Kematian adalah puncak....


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2