
Gus Raka bergegas meninggalkan toko dan menuju ke masjid terdekat dengan toko, beruntung toko bukunya memiliki letak yang strategis, selain dengan dengan tempat ibadah juga tempat perbelanjaan. Berjalan beberapa meter saja sudah bisa menemui beberapa komplek sekolah.
Gus Raka hanya jalan kaki menuju ke masjid karena memang tidak begitu jauh, ia juga tidak lupa menyelipkan dompet di saku kokonya agar saat pulang bisa langsung mampir ke toko baju untuk membelikan baju ganti istrinya.
Setelah melaksanakan sholat di masjid, Gus Raka bergegas masuk ke toko baju. Tidak sulit baginya mencari ukuran baju istrinya, karena ia bahkan sudah tahu apa ukuran sepatu Asna.
"Ini saja mas?" tanya petugas toko saat melihat Raka membawa satu paket baju lengkap dengan dalaman milik wanita.
"Iya, ini saja!"
"Apa istrinya tidak ikut?"
"Istri saya sedang kurang enak badan!" Raka terpaksa berbohong agar tidak banyak bertanya.
Maafkan aku ya sayang ....
Mengatakan istrinya kurang enak badan padahal baik-baik saja cukup membuatnya tidak nyaman.
"Semuanya empat ratus lima puluh ribu!"
Raka pun segera menyelesaikan pembayarannya agar tidak terlalu lama meninggalkan sang istri di ruangannya tanpa baju.
Raka berbegas keluar dari toko dan berjalan cepat menuju toko buku miliknya.
"Assalamualaikum!" sapanya saat kedua kakinya baru masuk ke dalam toko.
"Waalaikum salam, tumben cepet mas Raka ke masjidnya?" tanya karyawan yang kebetulan berdiri di balik meja kasir.
"Iya, ada yang nungguin, ya sudah aku masuk dulu ya!"
Karyawannya hanya tersenyum, ia cukup tahu siapa yang di bicarakan oleh atasannya itu.
Raka bergegas menuju ke ruangannya, tapi saat tangannya memutar handle pintu, pintu itu tidak bisa di buka. Ia lupa jika meminta istrinya untuk mengunci dari dalam.
"Astaghfirullah hal azim, sampai lupa!" gumamnya sambil mengelus keningnya sendiri, ia pun segera mengetuk pintu agar sang istri membukanya.
"Dek, ini mas!"
Setelah mendengar suara sang suami, Asna yang sudah selesai mandi sedari tadi segera bangun dan membukakan pintu, tapi tidak berani membuka terlalu lebar karena ia hanya mengenakan kemeja milik Raka yang sengaja Raka tinggal di toko jika sewaktu-waktu ia membutuhkan baju ganti, seperti hari ini.
"Astaghfirullah hal azim, dek!" Raka begitu kaget saat melihat istrinya yang begitu seksi dan segera menutup kembali pintunya, tidak lupa ia segera menguncinya kembali.
"Maaf mas, tadi Asna ketemu bajunya mas Raka di lemari, jadi Asna pakek tanpa ijin!"
"Kamu sudah sholat?"
"Sudah tadi, untung aku juga menemukan mukena! Tapi kelihatannya masih baru, aku tanpa ijin lagi memakainya! maaf ya!"
Raka segera mengusap kepala sang istri, ia benar-benar ingin kembali mencumbu istrinya yang seksi itu. Sungguh ini pertama kalinya melihat sang istri dengan pakaian seksi, kemeja miliknya yang hanya sampai di atas lututnya tinggi membuat paha putih Asna terekspos dengan jelas, apalagi kemeja itu tampak trasparan dan menampakkan tubuh polos Asna tanpa dalaman.
"Dek, kayaknya jangan di pakek dulu deh ini!"
__ADS_1
"Kenapa mas?"
Raka segera melempar paper bag nya begitu saja dan menarik tubuh Asna ke dalam pelukannya.
"Mas, mau ngapain lagi?"
"Bagaimana kalau kita melakukannya lagi?"
"Di sini?"
"Hmmm!" Raka menganggukkan kepalanya dan bibirnya sudah tidak bisa si kondisikan lagi, bibirnya terus menyusup di leher Asna.
"Maass!" Asna sungguh tidak mampu menolaknya, Raka segera menggiring tubuh sang istri kembali ke sofa dan melanjutkan apa yang sudah mereka lakukan tadi.
Raka segera menindih tubuh Asna, menyingkap baju kebesarannya hingga menampakan tubuh polos milik sang istri, hingga ia bisa langsung melahap dua gundukan di dada Asna.
Dan semakin lama permainan Raka semakin panas, hingga Asna beberapa kali mengejang kan tubuhnya karena ulah sang suami.
Saat di rasa Asna sudah siap, Raka pun segera melanjutkan tugasnya hingga mereka benar-benar menyelesaikannya.
"Maaf ya dek, mas kelepasan lagi!" Raka kembali memakaikan kemeja yang di kenakan Asna.
"Kan aku jadi harus mandi lagi mas!"
"Istirahat dulu nggak pa pa sayang!"
"Aku jadi lapar lagi mas!" Asna begitu lemas dan masih berbaring di sofa besar itu.
Setelah memesankan makanan, Raka segera ke kamar mandi untuk kembali mandi.
Tidak berapa lama, pintu ruangan itu di ketuk, Raka yang sudah menyelesaikan mandinya segera membuka dan keluar agar karyawan tidak sampai masuk ke dalam ruangannya karena Asna masih belum mandi dan ganti baju.
"Di depan ada orang mengantar makanan, katanya yang pesan mas Raka!"
"Oh iya, tunggu sebentar aku ambil uangnya!" Raka pun kembali masuk, tidak pula menutup kembali pintunya membuat karyawannya keheranan. Tidak biasanya Raka bersikap seperti itu.
Hingga ia keluar lagi dan mengambil pesanan makanannya.
"Dek, bangun yuk! Makanannya sudah datang!"
Asna dengan malas bangun dan duduk, Raka begitu telaten menyiapkan makanan untuk sang istri.
"Makannya pelan aja sayang!" tangan Raka terulur ke bibir Asna yang ada sisa saus kacang yang menempel di sudut bibirnya.
"Laper banget mas!"
Raka hanya tersenyum dan membantu Asna melepaskan sate itu dari tusuknya agar Asna lebih mudah saat makan.
"Ya Allah, kenyangnya!" Asna sampai mengelus perutnya yang terasa kenyang.
Asna yang sudah siap untuk membuang bungkusnya segera di tahan oleh sang suami, "Biar mas aja yang buang!"
__ADS_1
"Mas, jangan terlalu memanjakan Asna! Nanti kalau Asna terlalu terbiasa sama mas gimana?"
"Nggak pa pa! Mas malah seneng kalau kamu mengandalkan mas! Insyaallah mas akan temani Asna hingga sisa umur mas!"
"Janji ya!"
"Insyaallah, kepastian hanya milik Allah kan!" Raka pun berdiri dan memasukkan semua sampah ke dalam plastik dan membawanya ke tempat sampah.
"Lain kali nggak usah nyusul mas ke tempat kerja ya!"
"Kenapa?"
"Mas suka nggak tahan kalau ada adek di sini, mas kan jadi nggak kerja!"
"Itu sih mas Raka nya yang mau!"
"Abis gimana lagi, kalau udah liat yang halal-halal di depan mata suka khilaf!"
Asna hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berdiri dari duduknya.
"Asna mandi dulu ya mas!"
"Biar turun dulu makanannya!"
"Udah kok!" Asna segera berdiri dan menuju ke kamar mandi,
"Dek kamu haid ya?"
Asna yang sudah hampir membuka pintu kamar mandi terpaksa menoleh dan melihat, "Hah, tadi enggak! Ini juga bukan waktunya!"
"Harusnya?"
"Minggu lalu, oh mungkin karena agak lambat, untung Asna selalu jaga-jaga bawa pembalut!" Asna pun kembali menghampiri tasnya dan mengambil benda empuk itu, ia juga menyambar paper bag yang di bawa suaminya tadi dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi.
Ia sekalian mengganti bajunya di kamar mandi agar tidak memancing suaminya lagi.
...***...
"Mas, ini haidnya kok rasanya beda ya! Nggak sebanyak biasanya hanya fleks saja tapi kok sakit ya perut aku!" keluh Asna saat suaminya kembali dari gudang belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Sakit bagaimana?"
"Perut aku nyeri banget deh!" Raka segera menghampiri sang istri dan melihat wajah istrinya sedikit pucat.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...