
Setelah pertemuannya dengan Merry beberapa waktu lalu, Aisyah menjadi begitu penasaran dengan ibu kandung suaminya.
"Mas Leon!" panggil Aisyah saat melihat Leon kebetulan pulang untuk mengambil beberapa berkas.
"Iya nona!"
"Apa mas Leon akan ke kantor lagi?" tanya Aisyah.
"Iya nona, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Leon.
"Bisakan mas Leon mengantar saya sebentar ke rumah mas Alex?"
Leon terlihat berpikir, "Apa ada sesuatu yang ingin anda lakukan?"
"Saya hanya ingin menemui bibi Merry, tidak pa pa kan?"
"Sebaiknya saya tanyakan tuan dulu!"
"Baiklah ....!"
Leon pun segera menghubungi Alex, ia bertanya apa Aisyah di ijinkan untuk ke rumahnya. Setelah dengan berbagai macam syarat, akhirnya Aisyah di ijinkan. Leon pun mengantar Aisyah ke rumah Alex dan segera menemui Merry, memintanya untuk menjaga Aisyah selama Alex belum datang menyusul Aisyah.
"Saya akan ke kantor dulu nona, jika anda membutuhkan sesuatu mintalah pada Merry!" ucap Leon.
"Baik, terimakasih mas Leon!"
Setelah Leon meninggalkan mereka, Aisyah pun segera mengajak Merry untuk ke paviliun, karena Aisyah tahu hanya di paviliun dan kamar yang tidak di pasang cctv.
"Apa yang nona ingin tanyakan dari saya?" tanya Merry.
"Bi ...., Aisyah tahu, bibi tahu banyak tentang ibunya mas Alex, bibi dulu juga satu kampus kan berarti bibi tahu alamat ibunya mas Alex!"
"Nona ...., saya mohon jangan menanyakan hal itu pada saya, jangan membuka luka lama!"
"Saya seorang wanita bi, saya juga akan menjadi seorang ibu! Insyaallah pahala besar jika saya bisa memuliakan ibu saya dan ibunya mas Alex, seburuk apapun dia, aku sangat membutuhkan doanya sebelum saya melahirkan!"
"Tapi tuan Alex tidak akan suka!"
"Jangan sampai tahu, aku juga tidak mau trauma mas Alex kambuh gara-gara aku, bi! bibi bisa kan merahasiakan semuanya?"
"Baiklah, apa yang bisa saya lakukan untuk nona?"
Aisyah pun meminta segala informasi yang berhubungan dengan ibunya Alex. Termasuk alamat lamanya.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Alex, Aisyah
terus mencari keberadaan ibu kandung suaminya itu melalui beberapa situs di internet tanpa dan sesekali keluar rumah untuk mencari di rumah lamanya, ternyata rumah lama Nia sudah berganti pemilik beberapa tahun yang lalu.
Aisyah akan segera kembali ke rumah sebelum Alex pulang, ia juga mencarinya di beberapa sosial media, tapi ternyata sosial medianya juga sudah lama tidak di gunakan.
“Mengerjakan apa sih sayang? Kok sibuk sekali?" tanya Alex yang melihat beberapa kali istrinya itu meminjam laptopnya. Bahkan saking fokusnya, sampai Aisyah tidak menyadari kedatangan suaminya itu.
“Nggak mas …, Cuma cari-cari pengetahuan tentang merawat bayi! Tinggal hitungan minggu aja aku kan udah melahirkan, jadi harus tahu caranya merawat bayi!” Aisyah mencoba beralasan.
"Ohhhh ...., beberapa hari ini kamu pergi ke mana?" tanya Alex tiba-tiba, ia sudah duduk di samping Aisyah dan menatap wajah istrinya itu.
Mas Alex tahu kalau aku pergi ...., tapi kalau tahu kenapa mas Alex tidak mencegahku ....
"Kenapa malah diam?" tanya Alex lagi sambil mengusap kepala Aisyah.
"Maafkan aku mas, aku berbohong sama mas Alex!" ucap Aisyah menyesal.
"Jangan mencarinya, dia sudah menghilang!" ucap Alex dengan wajah yang penuh dengan kebencian.
"Mas ...., mau bagaimanapun dia tetap ibunya mas Alex!"
"Tidak setelah dia memilih laki-laki itu! Jadi jangan membuang waktu untuk mencarinya lagi, pikirkan putri kita!" Alex mengusap perut besar Aisyah.
Maafkan aku mas, aku nggak bisa janji ...., semua ini demi kebaikan mas Alex, Aisyah nggak mau nanti mas Alex hidup dalam penyesalan ...
"Aku mana bisa marah sama kamu ....!" ucap Alex sambil mengusap punggung istrinya itu.
"Tunggu sebentar!" ucap Alex sambil melepaskan pelukan istrinya, ia berdiri dan mengambil sesuatu di atas meja kerjanya. Karena ingin tetap dekat dengan istrinya, bahkan Alex memindahkan meja kerjanya di dalam kamar.
Alex kembali dengan setumpuk map di tangannya, ia duduk di samping Aisyah dan meletakkan map-map itu di atas meja.
“Itu apa mas?” tanya Aisyah yang penasaran. Alex pun mengambil sebuah bolpoin dan menyerahkannya pada Aisyah.
"Bolpoin buat apa mas?" tanya Aisyah bingung.
“kamu tanda tangan ya!” ucap Alex sambil membuka berkas mulai dari yang paling atas dan meletakkan nya di atas pangkuan Aisyah.
“Tanda tangan? untuk apa?” tanya Aisyah lagi sebelum membubuhkan tanda tangan.
"Ini adalah semua aset milik ku!" ucap Alex.
"Lalu buat apa aku tanda tangan mas?" tanya Aisyah sambil menyodorkan kembali bolpoin itu pada suaminya.
__ADS_1
“Aku harus mengalihkan semua aset milikku atas nama kamu!” ucap Alex membuat Aisyah bertambah heran. Perasaannya berubah menjadi tidak enak, ia curiga terjadi sesuatu.
“Kenapa?” tanya Aisyah menyelidik.
“Nggak pa pa, cuma buat jaga-jaga saja sayang! Jangan khawatir seperti itu sayang ....!”
“Bagaimana aku nggak khawatir mas, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba mas mau mengalihkan semua aset kekayaan mas Alex atas nama Aisyah, bukankah itu hal yang aneh! Jaga-jaga apa mas, jujur sama Aisyah?”
"Bukan apa-apa, belum waktunya untuk mas cerita, nanti kamu juga akan tahu!”
“Jangan membuatku bertambah khawatir mas!”
Bukannya menandatanganinya, Aisyah malah memilih meletakkan bolpoinnya kembali dan menutup berkas itu.
Alex pun menghela nafas, ia menakup kedua pipi istrinya dan menatapnya dengan penuh keyakinan.
“Kamu percaya kan sama aku?” tanya Alex.
"melebihi diriku sendiri mas!” ucap Aisyah dengan begitu yakin.
“Maka lakukan apa yang aku katakan, aku tidak akan mencelakakan kamu!"
"Tapi mas ....!"
"kamu tanda tangani semua berkas ini dan besok kita ke kantor ya!”
“Untuk apa?” tanya Aisyah lagi, ia masih butuh penjelasan atas semua tindakan suaminya.
“Untuk rapat pemilik saham! Kamu yang akan memegang surat kuasa kedua setelah aku, jadi nanti jika terjadi sesuatu, hanya kamu yang bisa mengambil keputusan atas perusahaan!"
Aisyah pun akhirnya menyerah, ia tidak mungkin menolak lagi saat suaminya begitu menginginkan ia menandatangani surat-surat itu.
Bahkan ia tidak bisa menanyakan apapun, suaminya memiliki banyak misteri tapi ia tidak bisa tidak percaya pada suaminya itu.
Terlalu banyak kebaikan dan keburukan dalam hidupnya, bahkan antara kebaikan dan keburukan itu seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa di pisahkan.
Mencintai suaminya, seperti menaiki roller coaster, kadang naik dan kadang turun, ia harus siap dengan segala resikonya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰