Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ektra part (Leon 8)


__ADS_3

...**Jika bisa, bolehkan aku mengusahakan dirimu menjadi wanita yang aku aku sebut dalam setiap doaku, aku tidak meminta lebih hanya saja pastikan dirimu benar untukku dan aku akan bertahan...


...🌺Selama membaca🌺**...


Pagi ini Nisa sudah harus bersiap-siap untuk berangka ke rumah sakit, kebetulan dokter Reza juga ada tugas hari ini jadi Nisa bisa ikut nebeng mobilnya. Memang orang tuanya belum benar-benar mengijinkannya membawa mobil sendiri walaupun sebenarnya sudah memiliki SIM sendiri.


Mama Nisa terus saja mengikuti putrinya itu. Rasanya belum rela putrinya itu sudah harus kerja lagi dan akan menginap di rumah sakit cukup lama.


"Liburnya cuma semalam ya?"


Entah sudah berapa kali mamanya menanyakan hal itu, Nisa yang masih duduk di depan meja rias segera berbalik pada ibunya.


"Iya ma! Jangan khawatir, Nisa kan di sana juga ada kak Reza, ada kak Ardan! Kalau malam Nisa juga banyak temennya!"


Mama mengusap pipi Nisa,


"Padahal mama masih kangen!" ucap mama lagi dan Nisa pun memeluk mamanya.


"Kalau dia sembuh, Nisa juga akan pulang setiap hari ma!"


Mama segera melepas pelukan Nisa dan menatap sang putri.


"Maksudnya pengusaha itu?"


Mendengar pertanyaan mamanya, Nisa segera berbalik badan dan merapikan barang-barang yang akan di bawanya. memasukkan berkas yang memang harus ia bawa lagi kalau tidak mungkin pria itu akan marah-marah.


"Mama, jangan mulai deh!"


Mama kembali duduk, matanya terus mengawasi tangan putrinya yang dengan cekatan memasukkan barang-barang yang akan di bawa, tidak banyak hanya beberapa barang pokok dan wajib di bawa ke mana-mana, seperti sabun, skincare, bedak, lipstik, parfum, pensil alis. Kalau baju ganti, sudah banyak baju yang ia bawa kemarin jadi tidak perlu membawa lagi.


"Ya nggak pa pa kalau dia baik, suruh ke sini saja kenalan sama mama sama papa!"


"Ma, mama mikirnya kejauhan!" protes Nisa.


"Ya memang seperti itu nak harapan orang tua, pengen putra putrinya dapat pasangan yang baik, yang sayang dan yang bertanggung jawab!"


Nisa menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap mamanya, "Nisa belum kepikiran buat nikah ma, usia Nisa aja masih dua puluh dua tahun, masih jauh ma!"


Kembali ia menenteng tas di bahu sebelah kirinya dan bersiap memakai sepatu.


"Jodoh nggak ada yang tahu sayang!" ucap mama sambil mengikuti Nisa berdiri,


Mereka keluar dari kamar Nisa bersama-sama, papanya sudah berangkat sedari pagi karena ada perkejaan di luar kota.


Dan dokter Reza sudah menunggu Nisa di depan rumah,


"Ini bekal untuk kamu!" ucap mama sambil menyerahkan dua buah kotak makan.


Nisa menoleh pada kakaknya dan ternyata di tangannya juga sudah membawa dua kotak makanan siang, pasti yang satunya untuk dokter Ardan.


"Ma, kok dua sih punya Nisa?"


"Satunya untuk calon mantu mama?"


"Siapa, kak Silvi?"


Silvi adalah calon istri dokter Reza, tapi jika ia, bukankah di titipkan pada dokter Reza.


"Bukan sayang, si pengusaha itu, yang kamu rawat!"


"Apaan sih mama, ngomongnya dari tadi itu terus!"


"Ya kan mama pengen tahu orangnya seperti apa!"


"Sudah ah ma, Nisa berangkat dulu ya, mama jaga diri, jangan telat makan!"


"Seharusnya mama yang ngingetin kamu seperti itu! Jangan lupa nanti kotaknya di kasihkan!"


"Iya ma!"

__ADS_1


Dokter Reza hanya tersenyum mendengar ucapan mamanya. Dia biang dari semua itu, jadi berhasil sudah membuat adik perempuannya kuwalahan.


Seperti biasa, dokter Reza dan Nisa mencium punggung tangan mamanya sebelum berangkat.


...🌺🌺🌺...


Kini Nisa sudah berada di dalam mobil bersama dokter Reza. Mobil itu berjalan begitu lambat karena jam sibuk orang berangkat kerja. Sepedah motor menyelip di sela-sela mobil yang hanya bisa berjalan sedikit demi sedikit. Seringkali Nisa mengeluh dan berharap bisa naik motor saja dari pada macet terlalu lama sepeti ini.


"Kemarin di suruh ke mana?" pertanyaan dokter Reza mengalihkan konsentrasi Nisa dari hiruk pikuk jalanan. Nisa yang awalnya menatap ke luar kini berbalik menatap kakak laki-lakinya.


"Hahhh?" ia tidak terlalu mendengarkan pertanyaan kakaknya tadi.


"Kata teman-teman kamu, kamu keluar sejak jam sepuluh pagi, kenapa sampai di rumah jam lima sore, mampir ke mana?"


Mendengar pertanyaan kakaknya, ia jadi teringat dengan perjalanannya kemarin, dan yang paling membuatnya paling terkejut adalah percakapan mereka di meja makan kemarin malam.


"Tahu nggak kak?"


"Enggak!"


"Aku belum selesai ngomong kak!" protes Nisa.


"Kalau belum selesai ngomong jangan tanya dulu, kebiasaan ya kamu!"


"Makanya sabar!"


"Mau ngomel atau jadi ngomong nih?"


"Issstttttt ....!" keluh Nisa, lalu ia melanjutkan ucapannya, "Kakak hampir buat aku jantungan tahu nggak?"


"Kenapa memangnya?" tanyanya dengan santai.


"Tahu nggak kak, orang yang Kakak maksud pengusaha sukses itu seorang narapidana!"


"Tahu!" dokter Reza menghentikan ucapannya, tapi kemudian dia berpikir ulang, "Jadi maksudnya kamu kemarin ke rumah binaan pemasyarakatan?"


Kali ini dokter Reza terlihat begitu panik, "Sama siapa?"


"Sendiri!" jawab Nisa dengan santainya, ia tidak tahu kenapa kakaknya sampai sepanik itu.


"Astagfirullah, kalau terjadi sesuatu sama kamu gimana?"


"Buktinya enggak kak!"


"Keras kepala, lain kali bilang sama kakak atau kak Ardan kalau mau ke mana-mana, biar ada yang temenin kamu!"


"Ribet kak!"


"Nggak usah ngeyel!" ucap dokter Reza dan kali ini Nisa tidak mendebatnya lagi. Nisa pun memilih untuk kembali menatap ke luar.


Dan setelah terbebas dari kemacetan, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah sakit tepat saat jam masuk. Dokter Reza memang sengaja berangkat lebih awal untuk jaga-jaga kalau ada macet.


"Aku turun duluan kak!"


"Hmm!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Nisa pun turun lebih dulu, tapi belum sampai Nisa benar-benar berlalu, dokter Reza kembali memanggilnya,


"Nisa!"


"Iya?"


"kalau mau dekat sama dia, nggak pa pa! Aku dukung!"


"Apaan sih kak!" ucap Nisa dengan kesal lalu berlalu begitu saja dan seperti biasa dia juga akan berjalan cepat agar tidak barengan dengan dokter Reza.

__ADS_1


Menjadi anak magang memang kadang serba salah, takut saja jika teman-teman nya sampai salah paham padanya dan mengira jika dia masuk ke rumah sakit itu karena kakak-kakaknya.


Hal yang pertama dia lakukan adalah menuju ke lokernya, ia harus memakai seragam perawatnya.


Hehhhh


Sebelum masuk ke ruangan Leon, Nisa menghela nafas dalam dulu.


"Bismillahirrahmanirrahim!"


Ceklek


Ia bisa melihat pria itu sedang duduk dan sibuk dengan ponselnya, mungkin itu cara pria itu untuk bekerja.


"Assalamualaikum!"


Mendengar salam dari Nisa, Leon segera mengalihkan matanya dari ponselnya dan menatap Nisa.


"Kamu!"


Nisa berjalan cepat menghampiri Leon, dan mengeluarkan berkas-berkas milik Leon dari dalam tasnya.


"Ini mas, berkasnya! Dan ini ada makan siang dari mama aku!"


"Terimakasih ya!"


"Sama-sama mas, bagaimana keadaan mas Leon?"


"Peduli banget sama saya?"


Hehhhh


Lagi-lagi Nisa harus super sabar menghadapi makhluk yang ada di depannya itu.


"Kan saya perawatnya mas Leon!" ucapnya lalu di.lanjutkan sebuah gumaman lirih, "Semakin cepat sembuh semakin cepat kan keluar dari sini!"


Walaupun Leon mendengarnya, sepertinya Leon sedang malas berdebat.


"Sebentar lagi akan ada yang datang untuk mengambil berkas ini! Tolong kamu simpan!"


"Baik mas!"


Nisa mengambilnya lagi dan memasukkannya ke dalam nakas yang ada di sampingnya.


"Oh iya mas, pak Alex hebat ya?"


Mendengar ucapan Nisa, Leon mengerutkan keningnya, "Kenapa?"


"Walaupun di dalam rumah binaan pemasyarakatan tapi tetap bisa berprestasi, mas Leon juga!"


"Kamu sengaja ya memujiku agar aku baik padamu?"


Yahhhh salah lagi kan ....


"Nggak mas serius, kemarin aku terkejut soalnya pas baca beritanya di surat kabar!"


Nisa tidak mau lagi diam di tempatnya, ia memilih membereskan barang-barang yang terlihat sedikit berantakan saat ia tinggal. Sepertinya Leon bohong soal bi Merry.


Bersambung


...Memang jodoh siapa yang tahu, kita bisa berencana tapi tetap saja Allah yang menentukannya. Hanya sebuah doa yang tertuju pada seseorang yang selalu ia sebut tanpa nama dan berharap menjadi jodoh terbaiknya...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2