
Asna yang sudah mulai tenang pun segera meraih botol air mineral itu dan meminumnya.
Gus Raka sengaja meninggalkan Asna sendiri di dalam mobil agar gadis itu tenang kembali, sebenarnya ada rasa bersalah keluar dari diri Gus Raka saat memegang bahu Asna, ia sudah membangunkan kembali trauma Asna.
Dari sikap Asna padanya, terngiang betapa menyakitkan peristiwa itu bagi gadis berusia dua puluh dua tahun itu, trauma yang mendalam sudah membuatnya kehilangan jati dirinya.
Gus Raka memilih menunggu Asna di samping mobil, sengaja tidak ingin melihat ke dalam, ia memilih menatap jauh ke taman, banyak anak kecil yang sedang berlarian di sana. Mungkin karena sekarang hari Sabtu jadi anak-anak pun libur jadi para orang tua sengaja mengajak mereka ke taman karena selain murah juga membuat ruang gerak anak lebih luas tidak seperti di rumah yang hanya punya halaman yang sempit atau rumahnya pinggir jalan.
Bagi pria berusia dua puluh tujuh tahun itu, pemandangan seperti itu memang sudah mulai di rindukan. Anak-anak dan keluarga kecil.
Hehhh ....
Helaan nafas mulai muncul dari bibirnya,
"Aku sungguh iri pada mereka!" gumamnya lirih dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya yang putih bersih.
Hingga akhirnya ia bisa mendengar suara mobil yang di buka dan kembali di tutup dengan sedikit lebih keras.
Gus Raka pun menoleh ke sumber suara dan benar Asna sudah turun, gadis itu berjalan mendekatinya. Tanpa sepatah katapun ia menghampiri Gus Raka.
"Baiklah, kita cari tempat duduk yang nyaman ya!" Gus Raka berinisiatif untuk bicara lebih dulu dan tentunya berjalan lebih dulu, ia tahu Asna pasti tidak akan mau berjalan di sampingnya.
Hingga akhirnya sebuah meja yang berbentuk bundar terbuat dari bahan cor yang di kelilingi oleh empat tempat duduk yang bahannya sama menjadi pilihan Gus Raka. Bukan tanpa alasan ia memilih tempat itu, karena dengan tempat duduk yang terpisah pasti akan membuat Asna lebih nyaman dari pada memilih bangku panjang, walaupun ada jarak di antara mereka.
"Duduklah!"
Tanpa menunggu Asna duduk, Gus Raka pun segera berjalan mengitari tempat duduk itu dan memilih tempat duduk yang berhadapan dan terpisah dengan meja.
"Ayo, duduklah!" pinta Gus Raka lagi saat Asna masih memilih untuk berdiri.
Akhirnya Asna duduk juga, mereka sekarang saling berhadapan.
Terlihat Gus Raka mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemejanya. , sebuah kertas kosong yang ia lipat kecil dan juga sebuah bolpoin,
"Kamu pasti membutuhkan ini!" Gus Raka membuka kertas itu dan menyodorkannya pada Asna.
Asna mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Kamu perlu menuliskan beberapa aturan yang harus aku sepakati saat kita sudah menikah nanti!" Gus Raka berucap dengan begitu yakin seolah Asna sudah menyetujui jika gadis itu akan menerima lamarannya.
"Jika aku tidak mau menikah denganmu?"
__ADS_1
"Kamu pasti bersedia, karena sudah aku katakan kemarin jika kamu hanya punya dua pilihan, satu menikah denganku tanpa mengajukan syarat apapun dan dua kamu menikah denganku dengan syarat yang akan kamu ajukan. Dan dua duanya intinya kamu harus menikah denganku, tanpa atau dengan persetujuan dari kamu!"
"Sejak kapan kamu jadi suka memaksa?"
"Sejak ada seorang gadis yang memilih menghukum dirinya sendiri karena kesalahan orang-orang yang tidak bertanggung jawab! Dan setelah ini aku tidak mau ada gadis gadis lain yang akan mengalami hal yang sama seperti dia!"
Kamu menikahiku bukan karena kamu mencintaiku tapi karena kamu kasihan padaku, batin Asna sambil menatap tajam pada Gus Raka. Seolah-olah jika saja tatapan itu mengeluarkan semburan api sudah pasti Gus Raka akan terbakar olehnya.
"Kamu tidak membuatku takut dengan menatapku seperti itu, tapi aku takut dengan setan yang mungkin akan menggodaku!"
Mendengar penuturan dari Gus Raka, Asna sadar sudah menatap pria yang belum mahram, ia pun segera meraih bolpoin dan kertas yang ada di atas meja dan menuliskan sesuatu di sana. Begitu banyak kalimat yang di tulis oleh Asna di atas kertas itu hingga menghabiskan hampir satu halaman, hanya menyisakan sedikit ruang kosong di bawahnya.
"Ini syarat yang aku ajukan!"
Persis seperti dugaan Gus Raka, Asna pasti akan mengajukan banyak hal. Gus Raka pun mengambil kertas itu dan membacanya mulai dari poin satu.
poin 1 : Setelah menikah harus langsung tinggal di rumah sendiri, tidak mau tinggal di rumah aku atau orang tua kamu apalagi di lingkungan pesantren.
***
Poin 2 : Tidak ada acara tidur dalam satu kamar, aku mau kita tetap punya privasi masing-masing sampai traumaku benar-benar sembuh dan memilih untuk tetap lanjut dengan pernikahan ini atau kita cerai.
***
***
Poin 4 : Kamu bebas untuk berkencan dengan siapapun, aku tidak akan pernah melarangnya karena itu ranah pribadi kamu.
***
Poin 5 : Aku tidak akan masak atau apapun yang romantis-romantisan selain di depan orang tua kita.
***
Poin 6 : Aku juga tidak akan menuntut apapun dari kamu, anggap saja aku numpang di rumah kamu.
***
Poin 7 : Jangan pernah ada niat untuk memperkenalkan aku dengan teman-teman kamu, aku tidak akan mau kamu ajak pergi-pergi dalam acara apapun. Termasuk bertemu dengan Nisa.
***
__ADS_1
Poin 8 :
Terlihat di poin delapan masih kosong,
"Ini kenapa poin delapannya masih kosong?"
"Aku masih memikirkannya, mungkin nanti aku akan menemukannya dan mengisinya dan kamu harus setuju!"
"Baiklah!" Gus Raka pun ikut menuliskan sesuatu di kertas itu dan kembali menyerahkan pada Asna.
Asna tampak bingung dan mengerutkan keningnya, "Kamu tidak menuliskan apapun?"
"Menulis, aku menulis namaku dan namamu di atas kertas itu!"
"Maksudku sebuah syarat untukku?"
"Bagiku syarat terpenting dalam pernikahan ini adalah kamu dan aku, yang lain tidak berarti, cukuplah aku menulis nama kamu dan nama aku lalu aku akan melafalkan dalam setiap doaku! Insyaallah suatu saat Allah pasti akan membantuku meluluhkan hati kamu, karena Allah maha membolak-balikkan hati manusia!"
Asna hanya menghela nafas dan ikut membubuhkan tanda tangan di sana persis seperti yang di lakukan oleh Gus Raka, tidak lupa Gus Raka menyerahkan secuil kertas , sebuah materai.
"Tempelkan ini juga, agar nanti saat aku melakukan kesalahan kamu bisa menuntutku!"
Asna pun melakukan apa yang di perintahkan dan membubuhkan tanggal juga di atas kertas itu.
"Simpanlah itu untukmu dan keluarkan saat di butuhkan, atau keluarkan saat aku hampir lupa!" perintah Gus Raka.
"Tapi syarat pertama?" menurutnya syarat pertama memang sedikit berlebihan tapi ia tidak bisa jika harus tinggal bersama orang tua mereka.
"Jangan khawatir, aku akan memenuhinya!" Gus Raka begitu yakin. "Aku akan menikah denganmu besok!"
"Besok?" Asna begitu terkejut, "Secepat itu?"
"Aku tidak mau menunda hanya untuk memberi kesempatan untuk seseorang berubah pikiran!"
Dia selalu menyindirku, memang semudah itu aku berubah, Asna menatap kesal pada pria yang perkataannya seperti pisau yang siap mengulitinya setiap saat.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...