
...Dia hanya pria biasa yang merindukan wanita surga. Dia hanya pria pendosa yang merindukan wanita berhati mulia. Dia hanya pria sederhana dengan permintaan yang sederhana. Mendapatkan wanita yang karena mencintainya ia ingin mencium harumnya taman syurga....
...🌺Selamat Membaca🌺...
Hari ke enam semenjak hari itu, seharusnya besok adalah hari di mana dia akan menerima keputusan. Tapi lagi-lagi hal yang masih membuatnya berat adalah dia belum yakin jika Alex sudah benar-benar menemukan keluarganya.
Beberapa hari yang lalu ia sudah menerima pesan dari salah satu anak buahnya jika ada titik terang mengenai keberadaaan Aisyah dan keluarganya.
Leon masih duduk di ruang makan sambil membaca surat kabar hari ini, matanya sedang fokus karena hasil kerjasamanya kemarin dengan Gus Raka sudah masuk ke dalam surat kabar hari ini.
"Ternyata secepat ini pencari berita, belum juga tersalurkan, surat kabarnya sudah rilis!" gumamnya sambil sesekali meneguk coklat hangatnya. Kemarin dia memang sudah banyak di hampiri para pencari berita, tapi ia tidak menyangka jika beritanya akan keluar hari ini.
Padahal baru shubuh tadi ia mendapat berita dari anak buahnya bahwa buku baru saja tersalurkan kepada yang berhak dan memberitahukan ke anak buahnya yang ada bersama Alex agar sebagian dapat di salurkan ke sana juga.
"Ternyata Gus Raka ada juga gambarnya!" gumamnya lagi saat menyadari sesuatu. ia segera membuka sebuah laman berita di situs pencarian, mencari berita beberapa tahun yang lalu.
Jauh sebelum hari ini, dulu pernah bertemu dengan Gus Raka di sebuah jamuan makan dan pria itu menjadi motivatornya.
"Dia sudah luar bias dari awal!"
Entah kenapa rasanya tidak mau mengakui kekalahannya, tapi Leon sadar jika jelas Gus Raka punya kelebihan saat dia bahkan belum jadi apa-apa.
Leon seakan mencocokkan berita yang ada di surat kabar pagi ini dengan berita empat tahun lalu di laman berita online.
Bretttttt bretttttt bretttttt
Tiba-tiba ponselnya berdering membuat Leon meletakkan surat kabarnya dengan segera.
Dengan cepat Leon menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.
"Assalamualaikum, Leon!"
Seberang sana sudah menyapa lebih dulu sebelum Leon membuka mulutnya, Leon pun tersenyum. Walaupun selalu memantau keadaan Alex, tapi tetap saja berbeda dengan saat mendengar suara Alex langsung.
"Waalaikum salam!" jawab Leon dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya.
"Lee, ada kabar gembira! Saya sudah menemukan keberadaan Aisyah dan Kiandra!" ucap Alex yang terdengar begitu bahagia.
__ADS_1
"Saya ikut senang!" ini adalah berita paling menggembirakan melebihi berita yang baru saja ia baca dari surat kabar. Sepertinya hatinya terasa plong dengan beban yang entah sejak kapan ia genggam.
"Ada yang lebih membuat saya senang lagi, semoga ini benar!" ucap Alex lagi, tapi terlihat tidak yakin.
"Apa?" tanya Leon penasaran.
"Sepertinya ada anak lain, tapi saya sedang menyelidiki! Dia putraku!"
Leon mengerutkan keningnya, "Seorang putra?"
Ia juga tidak tahu jika ternyata Aisyah hamil saat itu.
"Iya!"
"Saya ikut senang, saya berharap anda segera membawa Aisyah pulang!"
"Amin, saya hanya ingin mengabarkan hal itu, dan lagi kalau kamu sudah menemukan yang benar-benar cocok segera bawa dan kenalkan pada saya dan Aisyah saat pulang nanti!"
"Pasti!" ucap Leon lirih.
"Saya tidak bisa janji!"
"Kamu harus menepati janji, kalau saya sudah bahagia makan kamu akan mencari kebahagiaanmu sendiri untuk hidup kamu sendiri!"
Leon terdiam, memang itu janjinya saat Alex mengusirnya di rumah binaan pemasyarakatan waktu itu, saat Alex memaksa Leon untuk pergi dan Leon mengatakan hal yang sama seperti yang di katakan oleh Alex saat ini. Seharusnya jika kabar yang di katakan Alex benar, Leon sudah waktunya untuk memikirkan dirinya sendiri.
"Say usahakan, tapi tetap Allah yang menentukan! Semoga harapan anda jadi kenyataan !"
"Amiin, saya harus pergi, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Leon meletakkan perlahan ponselnya kembali di meja, ia seperti sedang berpikir keras. Dalam hatinya sebenarnya ada rasa lega tapi di sisi lain ia tidak yakin Nisa akan memilihnya.
"Apa ini jalan dari Allah?"
"Iya mungkin, aku tidak akan pernah tahu kalau aku tidak mengatakannya pada Nisa!"
__ADS_1
Leon pun kembali mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan pada Nisa.
//Assalamualaikum Nisa! Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah, aku mungkin tidak sepandai mengungkapkan kata seperti Gus Raka atau pria yang mencintai Allah lebih sepertinya//
Leon kembali mengetikkan pesan setelah mengirim pesan pertamanya.
//Aku hanya bisa berharap pada Allah j**ika aku jatuh cinta, semoga Allah mencintakan aku pada seseorang yang mencintai Allah melebihi cintanya padaku, dan semoga itu kamu, agar bertambah kekuatanku untuk lebih mencintaimu, Nisa! //
Lagi-lagi Leon mengakhiri pesan singkatnya dan mengetikkan kembali pesan ke tiganya. Sesekali terlihat Leon menghapus beberapa kata yang kurang pas, walaupun memang menurutnya tidak pernah pas.
//Aku bukan pria naif, aku sangat ingin mendapatkan cintamu karena kamu wanita yang mencintai Allah. Semoga kabar yang aku berikan hari ini bisa menjadi pertimbangan untukmu tetap memilihku//
Dan lagi Leon mengakhirinya untuk yang ketiga dan sekarang adalah intinya.
//Insyaallah saya sudah yakin untuk menikah kapanpun jika kamu menjatuhkan pilihan padaku, aku tahu ini terlalu memaksa, tapi ijinkan aku memaksa untuk kali ini, aku sudah menepati janjiku hingga hari ini, apa yang aku ucapkan padamu dua tahun lalu ingin aku wujudkan jika kamu mau//
Hehhhh
Leon menghela nafas, ternyata begitu panjang yang ingin ia ungkapkan hingga menjadi beberapa pesan. Dan ini benar-benar yang terakhir.
//Jangan membalas pesanku hari ini, tanyakan saja pada Allah dan jawab besok sebagai balasannya, wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokhatu//
Rasanya begitu lega setelah mengirimkan semua yang ia ingin utarakan. Ia tidak punya kata-kata yang ambigu seperti Gus Raka, dia juga tidak belajar cara berkata lembut dan membuat orang terpesona dengan kata-kata nya.
Dia hanya pria biasa yang merindukan wanita surga. Dia hanya pria pendosa yang merindukan wanita berhati mulia. Dia hanya pria sederhana dengan permintaan yang sederhana. Mendapatkan wanita yang karena mencintainya ia ingin mencium harumnya taman syurga.
...Aku tahu kata orang, Allah menguji kita dengan sesuatu yang kita cintai, maka janganlah berlebihan mencintainya, agar saat sedih tidak berlebihan. Tapi aku takut jika cintaku ini tidak lebih padamu, doaku pun tidak sungguh-sungguh untuk bisa menyebutmu dalam setiap sujudku pada-Nya, padahal aku inginkan dirimu karena cintamu pada Allah...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1