
"Perkenalkan pak, saya Raka dan ini teman saya Leon, sebenarnya kami ke sini untuk mencari pak Bejo karena ingin bertanya sesuatu." Gus Raka begitu ramah berbicara dengan pak Bejo. Pria dengan kisaran usia enam puluh tahun itu terlihat mengerutkan keningnya.
"Bertanya apa ya?"
Gus Raka pun terlihat merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah foto yang sempat di tunjukan. kepada Leon waktu itu, hanya itu yang ia punyai untuk mengetahui keberadaan saudara kembarnya.
"Ini pak, saya ingin menanyakan tentang anak ini."
Pak Bejo terlihat mengamati foto yang sudah mulai terlihat usam itu, mata tuanya terlihat beberapa kali mengerjap seperti sedang mengingat sesuatu,
"Iya kayaknya saya ingat." pak Bejo kembali mengamati foto itu, baik Gus Raka maupun Leon tidak berniat untuk bertanya dulu karena mereka tidak mau membuat pak Bejo kehilangan kembali memorinya.
Hingga cukup lama, pak Bejo kembali berucap,
"Yang kemeja biru muda ini kalau tidak Sahal waktu itu, sekitar dua puluh tahunan yang lalu sepertinya." belum selesai bicara, pak Bejo menoleh ke arah dalam tepat di pintu masuk, "Neng ...., neng ...., sini neng!" sepertinya pak Bejo memanggil putrinya dan benar saja dari dalam langsung mendapatkan sahutan.
"Ada apa pak?"
"Tolong ambilno kotak biskuit yang ada di kamar bapak, neng!"
"Iya pak."
Wanita yang tadi mempersilahkan mereka duduk itu pun kembali masuk dan tidak berapa lama membawa keluar sebuah kotak biskuit entah itu kotak keluaran tahun berapa sampai gambarnya pun sudah tidak terlihat jelas hanya ada warna mereka terlihat di sana. Mungkin itu kemasan K*ng G*an.
"Ini ya pak?"
"Iya."
"Neneng masuk lagi ya, pak!"
Pak Bejo hanya menganggukkan kepalanya setelah menerima kotak usam itu, ia pun segera membuka penutupnya yang di ganjal dengan plastik yang juga tidak kalah usamnya, sepertinya sengaja agar mudah saat membukanya lagi.
Pak Bejo pun mengeluarkan segulung kecil koran bekas yang bahkan kertasnya sudah tidak lagi putih.
"Ini yang aku punya." pak Bejo mengulurkan koran itu pada Leon dan Gus Raka.
Gus Raka pun mempersilahkan Leon untuk melihatnya lebih dulu dan di halaman depan terdapat berita utama tentang kecelakaan tunggal yang menewaskan sekitar enam belas orang penumpang sekaligus sopirnya, dia antara para korban ada seorang anak yang hingga kini belum bisa di temukan. Begitulah berita sekilas yang bisa Leon baca, tapi ada sesuatu yang tiba-tiba membuat dada Leon merasa sesak saat melihat gambar itu, kilatan masalalu berkali-kali muncul dalam ingatannya.
"Mas Leon tidak pa pa?" pertanyaan Gus Raka menyadarkannya. Leon pun segera menutup kembali surat kabar itu dan menyerahkannya pada Gus Raka, ia di sini tidak merasa berkepentingan jadi cukup baginya hanya untuk melihatnya saja.
"Saya tidak pa pa!" ucapnya kemudian meneguk teh hangat yang ada di depannya, walaupun tidak bisa menghilangkan rasa hausnya setidaknya sedikit memberi rasa rileks untuknya.
__ADS_1
Gus Raka pun membuka kembali surat kabar itu, sepertinya sama seperti yang di rasakan oleh Leon, Gus Raka pun seperti sedang mengumpulkan puing-puing ingatannya.
"Iya pak, ini adalah kecelakaan yang pernah saya alami dua puluh tahun silam!" ucap Gus Raka yang memang sudah mulai mengingat kejadian di masa lalunya.
Ada helaan nafas halus yang keluar dari bibir tua pak Bejo, seperti sedang mengingat sesuatu yang begitu berat, mungkin kecelakaan itu baginya adalah sebuah trauma tersendiri.
"Sebenarnya koran ini sengaja saya simpan karena tepat dua hari setelah kecelakaan itu aku sempat menemukan anak kecil yang ada di foto itu, anak kecil dengan kemeja biru muda berlumuran darah dalam keadaan tidak sadarkan diri di semak-semak, saat yang bersamaan segerombolan orang sedang berkelahi salah satu dari mereka seorang wanita, dia melihatku yang sedang kebingungan karena mau minta tolong juga tidak mungkin, bisa jadi aku menjadi sasaran mereka.
Wanita muda itu mendekatiku, dia bertanya padaku perlihat anak yang sedang pingsan, aku tahu akan itu sedang pingsan karena dia masih bernafas.
Mungkin karena kasihan, wanita itu pun menawarkan diri untuk membawanya ke rumah sakit, sebenarnya aku menolak karena aku tidak yakin dia orang baik, tapi melihat kondisi anak itu, aku malah tidak yakin bisa membawanya ke rumah sakit dengan cepat.
Kemudian dia menyerahkan sesuatu padaku, sebentar aku cari!"
Pak Bejo tampak kembali mencari sesuatu di dalam kotak biskuit itu,
"Ini dia!"
Sebuah kartu nama yang sebagian yang tinggal setengah bagiannya dan sebagiannya lagi mungkin dimakan oleh rayap karena terlalu lama di simpan.
"Boleh saya lihat pak?" akhirnya setelah sekian lama terdiam, Gus Raka pun mulai bertanya karena mungkin sudah tidak sabar ingin tahu siapa orang yang sudah membawa pergi saudara kembarnya.
Pak Bejo pun menyerahkan kartu yang tinggal separoh itu di serahkan pada Gus Raka, sebuah mana yang hampir saja terhapus di sana.
"Maaf, memang terlalu lama, aku menemukannya lagi juga baru-baru ini, untung saja tidak ikut terbakar sama kertas-kertas lama lainnya." ucap pak Bejo memberikan keterangan bagaimana ia kembali mengingat benda-benda itu, "Mungkin karena ini sampai aku tiba-tiba ingin menyimpannya, hanya sebuah harapan semoga anak itu selamat!"
"Bapak punya alamat wanita itu, tapi kenapa tidak memberitahukan pada polisi?"
"Saat itu sempat aku mau berikan ke polisi, tapi ternyata nasib berkata lain, aku harus pulang ke kampung karena istri sedang sakit, sempat aku membicarakan itu pada tetangga sampingku yang berjualan. Mungkin dia juga memberitahu polisi tapi sepertinya tidak ada yang berniat menemui ku ke sini!"
Mungkin ada orang yang sengaja agar semuanya orang tidak bisa menemukan anak itu, batin Leon. Ia sudah tahu bagaimana sistem kerja mereka yang memiliki pengaruh. Memang jika dilihat dari mudahnya mereka menemukan rumah pak Bejo, bukan tidak mungkin polisi juga sudah mencoba mencari keberadaannya tapi jika ada orang yang lebih kuat sengaja menghalangi agar tidak bertemu, bisa jadi.
Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat hanya untuk mencari satu anak saja.
Langit sudah mulai gelap saat mereka berpamitan, pak Bejo mengantar mereka, beberapa kali pria dengan keriput Benyak di wajahnya itu menawari mereka untuk menginap saja.
"Terimakasih pak atas tawarannya, sungguh sebenarnya kami ingin tapi maaf beribu maaf karena setelah ini ada urusan lain yang harus segera kami selesaikan!" Gus Raka benar-benar berhasil membuat Leon mengagumi tutur bahasanya yang begitu lembut.
"Hati-hati ya nak, semoga bisa menemukan saudara kalian, sungguh saya pikir kalian tadi adalah dua saudara yang ada di dalam foto itu!"
Leon dan Gus Raka hanya saling beradu pandang dan tersenyum,
__ADS_1
"Insyaallah kami juga saudara, pak!" ucap Leon menanggapi.
"Berhati-hatilah, senang bisa sedikit lega karena akhirnya ada yang mau mencari anak itu, semoga rasa bersalah karena meninggalkannya bisa terbayarkan dengan kalian menemukannya!"
"Aminnn!" Gus Raka dan Leon berucap bersamaan.
Akhirnya mereka pun benar-benar meninggalkan rumah itu, hanya berbekal kartu nama yang tinggal alamat saja yang bisa mereka jadikan patokan untuk mencari saudara kembar Gus Raka.
Seperti saat berangkat, Gus Raka yang mengemudikan motornya. Mereka sudah sepakat akan bergantian nanti di tengah perjalanan.
Tepat mereka keluar dari kecamatan itu, suara azan magrib berkumandang, mereka pun memilih sebuah mushola yang dekat dengan rumah makan, sengaja agar setelah sholat menyeka bisa mengisi perutnya yang sedari siang belum di isi.
Walaupun cukup ramai, tapi rumah makan itu berada di dekat persawahan yang luas, setelah melewati hutan Pinus akhirnya hamparan sawah luas menjadi daya tarik tersendiri, suara binatang yang menghuni sawah saling bersahutan membuat suasana syahdu di rumah makan itu.
Mereka sudah duduk di salah satu karpet yang bernuansa lesehan dengan meja berbetuk persegi yang berada di tengah, menu lalapan menjadi pilihan. Untung saja Leon sudah pernah merasakan makan dengan nuansa lesehan bersama Nisa waktu itu, sedikit pengalaman yang tidak akan membuatnya bingun lagi.
Ia tidak mungkin menolak permintaan Gus Raka dengan mencari rumah makan restauran yang di lengkapi dengan sendok dan garpu, setelah bercakap-cakap ringan akhirnya bebek goreng lengkap dengan sambal dan lalapan sudah di hidangkan, dua gelas es teh menjadi pendamping makan mereka.
Setelah membaca doa, mereka akhirnya memulai makannya, walaupun terlihat begitu kaku tapi Leon tetap berusaha untuk memakannya pakai tangan,
"Mas Leon belum terbiasa ya makan seperti ini?" tanya Gus Raka yang ternyata menyadarinya.
Leon pun tersenyum, tangan Gus Raka tiba-tiba terulur ke arah bebek goreng milik Leon, "Aku bantu ya!"
Leon menganggukkan kepalanya, terlihat Gus Raka dengan cekatan menyuwir-nyuwir bebek goreng milik Leon dengan memisahkan antara daging dan tulangnya,
"Sudah!"
Leon terpaku di buatnya, mereka seperti bersama sang kakak yang membatu adiknya yang tidak bisa memisahkan daging dan tulangnya saat makan, Leon lagi-lagi tersenyum,
"Terimakasih!"
Kini Leon bisa dengan mudah memakan makanannya tanpa repot memisahkan tulangnya.
...Sebuah ikatan batin itu tercipta lebih lama dari pada pertemuan dan perpisahan, jika dia orangnya maka hati kamu sendiri yang bicara tanpa kamu bertanya...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...