Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Nisa & Leon 6)


__ADS_3

...Pria memimpikan wanita yang sempurna dan wanita memimpikan pria yang sempurna dan mereka tidak tahu bahwa Allah menciptakan mereka untuk menyempurnakan satu sama lain." - Ahmad AlShugairi...


Pagi ini Leon sudah sangat rapi dengan jas dan peci, begitu tampan tidak seperti biasanya. Ternyata Alex pun memakai baju yang sama yang di kenakan oleh Leon, memang wajah mereka tidak mirip tapi jika bajunya sama mereka benar-benar seperti saudara.


Wajah Leon lebih bersih di banding wajah Alex tanpa kumis atau jenggot, tubuhnya juga lebih kecil dan lebih tinggi. Ternyata jarak usia tujuh tahun tetap menjadi pembeda mereka.


"Bagaimana sekarang, apa aku masih pantas pakai seperti ini?" Alex menatap pantulan dirinya di dalan cermin besar yang ada di ruang tengah. Ia berjejer dengan Leon.


Aisyah mengerutkan keningnya, "Maksudnya mau nikah lagi?"


Kali ini berhasil membuat wajah tegang Leon tersenyum, "Mana ada seperti itu, aku kan hanya bertanya!" Alex tidak mau di salahkan dengan ucapannya.


"Aku juga cuma bertanya, memang aku terlihat mengitrogasi!"


Ahh salah bicara kan. Alex pun menatap Leon berharap pria itu mau membantunya menjelaskan pada sang istri.


Leon hanya mengdikan bahunya. Ia tidak mau masuk ke permasalahan rumah tangga kakaknya.


Awas ya. Alex hanya bisa mengerang kesal dan kembali memasang senyum menatap istrinya yang juga sudah tampak begitu rapi dengan gaun panjangnya. Begitu cantik membalut tubuhnya.


"Sayang, apa kau ingin aku ganti baju?"


Aisyah tersenyum. Melihat wajah panik suaminya membuatnya merasa gemas, "Mas, aku cuma becanda!"


Hal itu membuat Alex tersenyum dan hendak menarik tubuh istrinya dalam pelukannya tapi segera terhenti karena terikan putra dan putrinya.


"Papa sama om Leon ganteng sekali!" tampak Kiandra dan Arsy mengagumi kekompakan Leon dan Alex.


"Jadi mama nggak cantik?" Aisyah mengerucutkan bibirnya berharap mendapat pujian dari putra putrinya juga.


"Mama yang paling cantik!"


"Uhhhhhh, mama jadi terharu!"


Percakapan mereka di pagi hari sedikit mengurani rasa gugup yang di alami Leon.


Tepat pukul tujuh mereka pun berangkat menuju ke masjid terdekat dari rumah Nisa. acara ijab Qabul kali ini di laksanakan di masjid dan di hadiri penghulu, tokoh masyarakat dan kerabat dekat saja agar lebih syakral.


Rombongan Leon hanya butuh waktu lima menit jika memakai mobil untuk ke sana tapi Leon lebih memilih jalan kaki yang membutuhkan waktu sepuluh menit.

__ADS_1


Hingga sampai di masjid, kedatangan mereka langsung di sambut oleh keluarga mempelai perempuan. Tapi Leon tidak bisa melihat Nisa di antara saudara-saudara laki-lakinya.


"Sabarnya, Nisa masih di umpeti sama papa nih di atas!" dokter Reza seperti sadar dengan maksud tatapan Leon.


Leon menoleh ke arah telunjuk dokter Reza dan benar, walaupun tidak jelas ia bisa tahu kalau itu Nisa. Senyum tipis mulai muncul di bibir Leon. Seperti sebuah semangat yang tiba-tiba tumbuh dan rasa gugupnya juag sedikit berkurang berganti dengan harapan baru yang akan segera mereka lewati selanjutnya.


"Mari nak Leon, pak penghulu dan papa Nisa dari mempelai wanita sudah menunggu!" seseorang seperti salah satu kerabat Nisa mengajak berjalan memasuki masjid.


Setelah berhasil melepas sepatunya, Leon segera berjalan beriringan menuju ke papa Nisa yang sudah duduk di depan meja kecil dengan mikrofon di atasnya.


Leon pun segera duduk dengan melipat kakinya ke belakang dan menyalami pak penghulu dan papa Nisa.


Kini leon sudah duduk di hadapan papa Nisa dan penghulu. Papa Nisa berencana untuk menikahkan putrinya sendiri tanpa menggunakan perwalian hakim.


“Sudah siap?” pak penghulu menatap Leon dengan tatapan pasti dengan mikrofon di depannya.


“Sudah!” Leon memantapkan hatinya sekarang, Alex yang duduk di belakangnya pun mengusap bahunya Leon. Aisyah bersama dengan Bianka duduk bersama para wanita dari keluarga Nisa.


Pak penghulu meminta papa Nisa untuk mengulurkan tangannya, tanpa ragu Leon menjabatnya. Sesekali tangan kirinya tampak menyeka keningnya, ini masih pagi tapi keringatnya seolah terus mengalir, entah kenapa ia merasakan jantungnya terus berdegup


kencang walaupun ia sudah berulang kali menenangkannya, terlihat sekali kalau kali ini sedang begitu tegang.


"Silahkan pak!" ucap pak penghulu mempersilahkan papa Nisa untuk memulainya.


“Leon Briyan Putra!”


Suara nyaring keluar dari pengeras suara yang menggema di seluruh ruang yang luas itu.


Nisa duduk di lantai dua dengan balutan busana yang begitu indah berwarna putih di temani kakak perempuannya dan juga kakak iparnya. Jantung Nisa semakin berpacu begitu mendengar nama calon suaminya di sebut oleh sang papa.


“Saya!” mungkin jika mikrofon itu di dekatkan dengan dadanya, semua orang yang ada di dalam masjid itu bisa mendengar detak jantung Leon.


“Saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri saya Aninda Nisa auliya binti Dimas Geraldi dengan mas kawin uang tunai sebesar dua ratus juta di bayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Aninda Nisa Auliya binti Dimas Geraldi dengan maskawin tersebut


dibayar tunai.” Dengan sekali tarikan nafas Leon dapat menyelesaikan Qobulnya.


"Bagaimana saksi, sah?" tanya pak penghulu dan semua saksi pun segera menyahutnya.

__ADS_1


“Saaaahhhhhh …!”


Seruan tamu yang hadir menjadikan Nisa sah menjadi istri Leon Briyan putra. Pria itu pun langsung mengatupkan kedua tangannya di wajah, ada kelegaan di dalamnya.


"Alhamdulillahi rabbil alamin, Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” pak penghulu mua membacakan doa dan langsung di Amini oleh seluruh penghulu.


Nisa pun langsung dia ajak turun oleh kakak-kakaknya, mereka berjalan menuruni tangga dan langsung mendapatkan tatapan penuh syukur dari Leon, bahkan terlihat dari sudut matanya menitikkan air mata bahagia, walaupun bibirnya menyengkung ke atas.


Setelah dekat langsung di sambut oleh Leon, semua yang hadir pun ikut berdiri. Fotografer sudah sedari tadi mengabadikan setiap moment.


"Jabat tangan suamimu!" ucap papa Nisa dan Nisa pun masih terlihat begitu ragu untuk menjabatnya.


Ini untuk kedua kalinya Nisa bersentuhan kulit dengan pria itu, Nisa pun mencium punggung tangan pria yang baru beberapa menit lalu telah resmi menjadi suaminya.


Leon pun terlihat memegang ubun-ubun istrinya sambil membaca doa,


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


Nisa cukup terkejut, walaupun tidak nyaring tapi Nisa tahu jika suaminya itu sedang membaca sebuah doa untuknya. Ia tidak menyangka jika suaminya juga sudah mempelajari hal itu. Pria yang terlihat biasa saja bagi orang lain ternyata begitu istimewa bagi Nisa.


Setelah acara ijab Qabul selesai, kini mereka pun lanjut ke rumah Nisa untuk resepsi.


Dari pihak Leon, hanya Leon sendiri yang ke rumah Nisa, karena Alex dan Aisyah juga keluarga lain sengaja pulang dulu dan akan kembali ba'dha dhuhur.


Kedatangan Leon ke rumah Nisa langsung di sambut beberapa kerabat Nisa, ada yang sengaja ingin melihat Leon ada juga yang menanyakan banyak hal.


Karena sepetinya Leon masih lama, Nisa pun memutuskan untuk masuk ke kamarnya lebih dulu. Ia harus segera istirahat sejenak sebelum melanjutkan acara selanjutnya.


...Menikah adalah ibadah terpanjang dan terlama, karena dengan menikah engkau akan menyempurnakan setengah perjalanan agama dan kehidupanmu....



Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2