Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Nisa & Leon 19)


__ADS_3

...Kamu tidak akan menyadarinya sampai hal itu benar-benar terjadi, tapi sebuah tamparan mungkin menjadi hal yang paling baik di dunia untukmu." - Walt Disney...


Mereka berdua segera beranjak dari pantai saat suara azan magrib berkumandang. Kali ini Nisa ikut ke toilet umum untuk membersihkan diri sedangkan Leon, setelah membersihkan diri ia bergegas ke masjid terdekat.


Sembari menunggu suaminya, Nisa memilih menunggu di salah satu kafe terbuka yang berada di dekat pantai sambil menikmati suasana pantai yang jarang ia temui di kota. Walaupun Surabaya juga berbatasan langsung dengan laut dan selat, tapi rumah mereka cukup jauh dari wilayah pantai.


Leon bergegas ke mushola, memang tidak begitu besar tapi cukup nyaman untuk melaksanakan sholat. Tidak seperti di kota-kota lainnya yang begitu gampang menemukan masjid besar di setiap kotanya, tapi yang begitu istimewa di Bali walaupun mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha tapi masjid dapat kita jumpai juga bersebelahan dengan pura atau wihara. Rasa toleransi beragama masyarakat di Bali sangat tinggi.


Tepat saat ia sampai di mushola, iqamah sudah berkumandang. Ia pun bergegas untuk bergabung dengan barisan yang hanya ada tiga baris pada jama'ah pria dan satu barisnya hanya terdiri dari lima orang, jadi perkiraan mushola itu hanya bisa menampung sekitar empat puluh satuan orang saja beserta imannya.


Setelah imam membaca takbiratul ihram, semua jama'ah terlihat begitu kompak mengikuti. Hingga duduk tasyahud akhir selesai, Leon bisa melihat masih ada tiga makmum masbu' yang berdiri kembali di barisan belakangnya.


Leon tidak memperhatikan kembali karena terdengar imam mulai membaca doa, semua orang terlihat mulai mengacungkan kedua tangan mengamini doa sang imam.


Alfatihah ....


Dan semua orang mulai membaca alfatihah dalam hati kecuali sang imam dan mereka pun mengamininya sendiri dengan menakupkan kedua tangan ke wajah.


Sang imam mengawali dengan membaca sholawat nabi, para jama'ah saling bersalaman dengan samping kiri kanan depan belakang. Tapi kemudian tangan Leon terhenti pada makmum masbu' yang sangat ia kenal.


"Raka!"


Dan pria itu pun sepertinya sama terkejut saat melihat Leon berada di tempat yang sama.


"Mas Leon!"


Ia menyambut tangan Leon dengan begitu bersemangat.


Setelah salaman yang tidak sengaja itu, ia menyempatkan diri untuk mengobrol sebentar dengan Gus Raka sebelum kembali menemui Nisa.


Mereka duduk di teras mushola, tepatnya di tangga paling bawah mushola itu sambil memakai sendalnya.


"Mas Leon di sini? Coba aku tebak, mas Leon pasti sedang bulan madu ya?"


"Insyaallah seperti itulah rencananya!"


"Maaf karena kemarin saya tidak bisa datang di acara pernikahannya mas Leon sama Nisa, tapi saya sudah mengatakan alasannya sama Nisa, jadi jangan merasa sungkan padaku!"


Leon tersenyum, memang itu yang sedang ia pikirkan saat ini. Kemarin saat mengetahui kalau Gus Raka tidak bisa hadir, ia sudah merasa tidak enak. Mungkin menurutnya lebih baik jika tidak usah datang karena akan menyanyat luka yang sebenarnya tidak perlu ada, kemudian ia menepisnya. Mungkin alasan Gus Raka benar, saudaranya ada yang sakit. Tapi siang tadi saat ia Gus Raka tertangkap kamera ponsel Nisa, pikiran itu kembali muncul. Mungkin benar, Gus Raka sengaja pergi ke Bali untuk menenangkan diri. Dan sekarang dia berhadapan langsung dengan orangnya, ingin rasanya segera bertanya mengenai kebenaran perasaannya saat ini.


Gus Raka terlihat menoleh beberapa kali ke arah pintu keluar jama'ah perempuan, tapi sampai habis pun ternyata yang di cari tidak ada,

__ADS_1


"Mas Leon sendiri?"


"Ada, Nisa di mobil! Dia sedang menstruasi!"


Gus Raka gantian tersenyum sekarang. Bukan bermaksud untuk menertawakan nasib pengantin baru itu, tapi entah kenapa rasanya hanya ingin tersenyum,


"Yang sabar ya mas Leon, ini ujian pengantin baru!"


Ujian apanya?


Leon malah terlihat bingung, katanya datang bulan memang wajar untuk setiap wanita tapi gua Raka malah mengatakan kalau itu ujian.


"Tidak pa pa ini sudah biasa, kata Nisa bukan masalah yang serius!" sungguh jawaban yang polos yang di lontarkan seorang Leon yang begitu banyak ilmunya tapi entah kenapa bisa sebegitu bodohnya soal hubungan percintaan.


"Oh iya, Gus Raka sendiri kenapa di sini? Sebenarnya saya belum sempat menanyakan alasannya pada Nisa! Sepertinya akan lebih baik kalau saya mendengar dari Gus Raka sendiri!"


Gus Raka pun menatap melayang ke depan, ke hamparan yang sangat luas. Bahkan dari mushola itu mereka bisa mendengar debut ombak pantai yang berhantaman dengan batu karang. Seperti sebuah beban yang ingin dia buang bersama kembali air laut ke samudra.


"Saya harus menjaga adik saya yang sakit!"


"Saudara Gus Raka tinggal di sini?"


"Bukan hanya saudara, bahkan orang tua kandung saya juga di makamkan di sini!"


"Sebuah keberuntungan karena saya di temukan oleh orang sebaik mereka hingga menganggap saya sebagai anak sendiri dan mendidik saya menjadi seperti ini!"


Leon mengganggukkan kepalanya pelan, mengerti apa yang di rasakan oleh Gus Raka karena dia pun merasakan hal yang sama.


"Semoga saudara Gus Raka cepat di beri kesembuhan, tapi maaf saya tidak bisa lama-lama, ada Nisa yang sedang menunggu!" walaupun tidak enak tapi Leon harus pergi, ia tidak mungkin meninggalkan istrinya seorang diri di tempat asing seperti ini.


"Oh iya, maaf saya jadi curhat!"


"Tidak masalah!" Leon dan Gus Raka akhirnya berdiri dari duduknya, "Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" Gus Raka terus menatap punggung Leon yang semakin menghilang di balik dinding-dinding pembatas.


Leon berjalan lebih cepat dari sebelumnya, ia harus segera menemui Nisa. Hingga langkahnya kembali melambat saat ia sudah bisa melihat wanita yang sering membuatnya cemas tanpa sebab, wanita yang apa bila dia jauh rasanya tidak begitu tenang.


Nisa sepertinya menyadari kedatangan Leon, ia pun tersenyum dan melambaikan tangannya seolah memberitahukan kalau dia di sana.


Leon kembali mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di samping meja Nisa.

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam mas, duduklah! Sebaiknya kita duduk sebentar di sini baru ke vila!"


Leon pun akhirnya menggeser kursi kosong yang ada di depan agar sedikit mendekat pada Nisa.


Sudah ada dua gelas coklat panas di depan mereka,


"Tadi Nisa pesan saja, soalnya Nisa nggak tahu apa kesukaan mas Leon!"


"Apapun, aku suka! Asal minumnya sama kamu!" Leon melancarkan gombalannya yang terdengar lucu dengan wajah super tampannya.


Nisa tersenyum dan menyeruput minumannya, "Mas Leon dari mana saja? Kenapa lama?"


"Tadi pas sholat nggak sengaja ketemu sama Gus Raka!"


Mata Nisa membelalak, "Jadi benar kan mas, itu mas Raka?"


"Iya!"


"Sudah ku duga!"


"Apa?"


"Mas Raka sengaja menghindari pernikahan kita dengan berlibur ke Bali!"


Walaupun sebenarnya Leon sempat berpikir yang sama, tapi ia berusaha untuk mengatakan yang ia tahu dari gus Raka.


"Jangan berprasangka buruk, yang di katakan soal saudaranya mungkin benar, dia juga mengatakan hal itu padaku!"


"Astaghfirullah halazim! Salah banget aku pasti mas sudah menuduh Gus Raka seperti itu!"


"Insyaallah Gus Raka juga mau memaafkan, jangan khawatir!" kali ini Leon berani mengusap punggung tangan istrinya.


...Kehidupan adalah sebuah misteri, jangan pernah menyesal dengan keputusan yang sudah kita ambil, bisa jadi menurut kita, kita salah mengambil keputusan tapi itu sebenarnya yang sedang kita butuhkan untuk membuat kita kuat...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2