Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (31)


__ADS_3

Di tempat lain, Asna masih betah mengurung diri di rumah, ia sengaja akan keluar setelah agak sore. Agar nanti tidak terlalu lama di luar dan suaminya juga akan segera pulang.


Ba'dha dhuhur, Asna mulai bersiap-siap. Saat ini ia sudah mulai memberanikan diri untuk keluar rumah tanpa di teman,


"Ya Allah, aku pasti bisa! Aku harus bisa agar lusa bisa menemani Abizar ya Allah!" dia berusaha untuk melawan ketakutannya sendiri.


Dengan langkah pasti ia keluar dari rumah, lengkap dengan memakai masker agar orang-orang tidak akan mengenalinya, ia berencana untuk pergi tidak terlalu jauh karena seingatnya, kemarin pas pulang ada supermarket yang tidak begitu jauh dari kompleks rumahnya.


"Trus aku sekarang berangkatnya pakek apa? Aku tidak mungkin bawa motor sendiri!" rasa traumanya saat bawa motor sendiri masih kerasa sampai sekarang.


"Apa aku pesan taksi aja ya!" Asna pun akhirnya memutuskan untuk mengambil benda pipihnya yang sudah lama sekali tidak dia perhatikan, ia membuka aplikasi online untuk memesan taksi.


Sembari menunggu ia pun mengiring pesan pada suaminya, karena mau bagaimanapun suaminya berhak tahu saat ini dia di mana, selain itu dia juga harus jaga-jaga takut jika terjadi sesuatu.


//Assalamualaikum mas, aku sudah mau pergi ke supermarket yang dekat dengan komplek perumahan kita//


Tanpa menunggu lama, ponsel Nisa kembali bergetar lama. Rupanya Gus Raka menelponnya.


"Assalamualaikum dek, kamu yakin mau pergi sendiri? Mas pulang deh kalau begitu!" terdengar suara Gus Raka begitu panik saat ini padahal tadi pagi ia sudah tahu kalau istrinya akan pergi keluar rumah.


"Waalaikum salam mas, kan tadi aku sudah bilang mas, nggak pa pa aku mau pergi sendiri, lagi pula aku kan sudah ngasih tahu tempatnya!"


"Tapi dek, mas khawatir!"


"Jangan lebay deh mas!?"


"Dek, mas nggak lebay! Kamu tuh selalu gitu kalau di bilangin mas! Tunggu mas pulang ya, nanti mas antar!"


"Nggak usah mas Raka, aku akan pergi sendiri, udah dulu ya mas taksi ya udah datang, assalamualaikum!" Asna pun segera mematikan sambungan telponnya saat melihat taksi pesanannya datang.


Gus Raka yang sedang mengawasi pekerjaan editing hanya bisa menghela nafas dan menyakukan kembali ponselnya.


"Apa ini masih lama?"


"Sekitar setengah jam lagi mas!"


Setengah jam ....


"Baiklah, aku akan membantu!" Gus Raka ingin pekerjaannya selesai lebih cepat, karena besok pemilik buku sudah ingin setidaknya selesai sepuluh persennya.


Asna terlihat begitu tegang, ia terus menatap ke arah kaca depan. Ia terus berdoa di dalam hati agar orang yang sedang duduk di balik kemudi itu bukan orang jahat, walaupun jarak antara rumah dengan supermarket tidak terlalu jauh tetap saja, Asna merasa perjalanan kali ini begitu lama.


"Mbak, mbak, mbak!" Asna menutup kedua telinganya saat sopir taksi itu memanggilnya, "Mbak, sudah sampai! Mbak nggak pa pa kan?"

__ADS_1


Asna mengintip keluar dan ternyata benar, taksi sudah berhenti dan berada di depan supermarket.


"Maaf pak, saya tidak pa pa! Lain kali kalau panggil nggak usah pegang ya pak!"


"Iya mbak, tapi tadi mbak sendiri di panggil berkali-kali nggak jawab makanya saya pegang!" sopir taksi memberi alasan, tapi memang seperti itu kebenarannya. Asna terus menutup kedua telinganya, ia seperti kembali merasakan saat berada di dalam mobil waktu itu, saat orang-orang itu menyekapnya. Ia sadar beberapa bulan belakangan ia tidak pernah naik mobil.


Asna pun segera menyerahkan uang senilai yang di minta sopir taksi, untung di tasnya masih ad uang tunai. Walaupun tidak banyak.


Asna segera keluar dari taksi, menatap orang-orang hilir mudik masuk ke dalam super market membuat langkah Asna terasa begitu berat, ia bahkan hanya berdiri mematung di tempatnya. Tidak berani berpindah seinci pun.


Tiba-tiba pandangannya semakin kabur, suara bising orang-orang seperti suara orang-orang yang sedang menertawakannya, orang-orang yang berlalu lalang itu seperti sedang menghakiminya.


"Tidak, tidak, tidak!" Asna menutup mata dan telinganya, rasanya begitu tidak tahan dengan suara-suara itu, suara orang-orang yang sedang mengejeknya saat ini.


"Tidak aku tidak bersalah! Jangan sentuh aku, aku tidak bersalah!" rancau Asna hingga ada suara yang memanggilnya berkali-kali.


"Asna, Na! Asna, kamu dengar aku kan? Asna!"


Brukkkkk


Tiba-tiba tubuh Asna ambruk, untung pria itu tepat menangkap tubuh Asna hingga tidak sampai jatuh ke tanah.


"Na, Na, bangun Na, kamu kenapa Na, bangun!" pria itu terus menepuk pipi Asna.


Seorang scurity datang, dia membantu pria itu ke klinik yang ada di super market.


"Terimakasih ya pak sudah membantu saya!"


"Sama-sama mas!"


Selagi pria itu berbicara dengan scurity, dokter jaga sedang memeriksa keadaan Asna.


Setelah scurity pergi, pria itu kembali masuk dan melihat keadaan Asna.


"Bagaimana dok?"


"Saya tidak yakin, tapi sepertinya dia memiliki trauma, atau semacam ketakutan terhadap sesuatu!"


Pria itu sekarang tahu keadaan Asan yang seperti apa yang sedang di alami oleh Asna.


"Kalau dia siuman, tolong ini di berikan olehnya ya!"


"Baik dok!"

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu!"


"Terimakasih dok!"


"Sama-sama!"


Setelah dokter pergi, pria itu pun menggeser kursi plastik di samping tempat tidur Asna agar lebih dekat, ia pun duduk dan menatap wajah Asna yang pucat. Sekarang sudah tidak memakai masker, jadi ia bisa melihat dengan jelas wajah Asna.


Beberapa kali ponsel Asna berdering, pria itu sebenarnya berniat untuk melihat siapa yang sebenarnya menelpon Asna tapi kembali ia urungkan, karena berada di dalam tas.


"Ahhh tidak sopan kalau mengambilnya di dalam tas! Tapi kalau itu orang tua Asna? Tapi kalau aku kasih tahu Asna pingsan, pasti malah membuat mereka pingsan!"


Entah berapa kali ponsel itu berdering tapi ia tetap tidak berniat untuk menjawabnya.


...***...


Gus Raka yang merasa tidak tenang akhirnya memilih untuk pergi,


"Maaf aku pergi dulu nggak pa pa ya, insyaallah nanti aku kembali!"


"Tidak pa pa mas!"


Gus Raka pun segera mengucapkan salam lalu pergi. Ia naik motor jadi Tidka butuh waktu lama untuk sampai di supermarket itu.


Hingga akhirnya ia sampai juga di supermarket, dengan cepat ia memarkirkan sepeda motornya dan masuk ke dalam super market, beberapa kali ia menghubungi Asna tapi istrinya itu tidak menjawabnya, ia mengelilingi supermarket yang lumayan besar itu berharap bisa segera menemukan istrinya.


"Maaf mbak, tempat kosmetik, atau peralatan wanita di mana ya?" akhirnya ia bertanya pada salah satu SPG.


"Mas bisa jalan terus ke pojok sana, lalu belok kiri mas, semua kebutuhan wanita ada di sana!"


"Terimakasih mbak!"


"Sama-sama!"


Gus Raka pun segera berlari ke tempat yang di tunjuk oleh SPG itu, ia akhirnya menjelajahi tempat itu dari ujung ke ujung sambil terus melakukan panggilan berharap Asna akan segera mengangkatnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2