
Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, Gus Raka pun segera berpamitan. Ia juga harus menemui seseorang untuk membicarakan maksudnya tadi.
Orang itu adalah kedua orang tuanya. Ia segera pulang dan menemui mereka.
"Jadi kamu memaksa Asna?" umi Gus Raka begitu terkejut dengan apa yang di lakukan putranya.
"Iya umi!"
"Kamu benar-benar serius dengan keputusanmu?"
"Insyaallah umi, Raka tidak pernah main-main dengan apa yang sudah Raka putuskan!"
"Tapi Asna_!" terlihat sekali umi begitu ragu untuk mengatakannya, ia harus mencari kata yang lebih pantas untuk mengungkapkan pendapatnya, "Nak, kamu bisa mendapatkan wanita Sholehah dan pastinya lebih baik yang kamu inginkan!"
Gus Raka tampak tersenyum dan menampakkan lesung pipinya,
"Umi, Asna adalah wanita yang Raka inginkan, Asna adalah wanita insyaallah shalihah yang Raka inginkan!"
"Iya umi, Abi juga setuju sama Raka! Mungkin dengan cara ini Allah meminta Raka untuk menjaga Asna, terlepas dari Asna adalah putri Tedi. Putri siapapun dia, jika berada di posisi seperti Asna kita sebagai sesama hambaNya harus saling merangkul bukan malam menjauhinya!"
Gus Raka bisa bernafas lega karena Abinya juga sependapat dengannya mengenai Asna. Terlepas ia cinta atau tidak, jika dia melakukannya dengan tulus pasti Allah akan membukakan jalan untuk mereka nantinya.
"Terimakasih Abi, insyaallah dalam waktu dekat aku akan menikahi Asna, tapi Abi jangan khawatir. Insyaallah Raka yang akan memikirkan semuanya, Abi sama umi tinggal datang saja nanti jika hari itu tiba!"
Setelah berbicara dengan kedua orang tuanya, akhirnya perasaan Gus Raka bisa sedikit lega.
...***...
Hari ini Gus Raka sengaja datang ke toko lebih awal, ia tidak akan pergi kemana-mana sebelum Asna datang. Ia begitu yakin jika gadis itu sudah pasti akan datang.
Sepanjang hari ia hanya menyibukkan diri di toko, jika ada keperluan di luar ia memilih meminta karyawan kepercayaannya untuk pergi.
"Maaf ya merepotkan kamu!"
"Nggak pa pa mas, aku malah senang sekalian menghirup udara segar di jalan!"
"Tapi jangan jalan-jalan ya, nanti lupa kembali!" ucap Gus Raka sambil becanda.
__ADS_1
"Siap bos!" ucap karyawan itu sambil memberi hormat, "Kalau begitu kami pergi dulu ya mas, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, hati-hati!"
Gus Raka mengantar kepergian anak buahnya itu di pintu depan hingga motor yang di kendarai mereka menghilang di ujung jalan.
Saat Gus Raka hendak berbalik tiba-tiba manik matanya menangkap pantulan sosok yang ia kenal sedang berjalan di trotoar tidak jauh dari tokonya.
Senyum mulai merekah di bibir Gus Raka. Ia kembali berbalik dan menunggu sosok itu hingga mendekatinya.
"Aku tahu kamu pasti datang!" gumamnya sebelum mendengar salam dari gadis itu.
"Assalamualaikum!" ucap gadis itu dengan nada ketus atau mungkin nada datarnya.
Tapi sepertinya itu tidak berpengaruh pada Gus Raka, ia tetap tersenyum dengan senyum termanisnya.
"Waalaikum salam, Asna!" kedatangan gadis itu sudah menjadi hal paling melegakan hari ini setelah hampir setengah hari ini merasa begitu cemas.
Asna tampak memperhatikan ke dalam toko, rasanya begitu tidak nyaman harus bertemu dengan orang yang banyak. Ia terlihat beberapa kali menunduk setiap kali ada yang memperhatikannya.
Gus Raka mulai faham dengan apa yang di rasakan Asna,
"Baiklah, tunggu sebentar ya! Aku ambil dompet dan ponselku dulu!" Asna hanya mengangguk dan Gus Raka segera berlalu meninggalkannya.
Asna memilih menunggu di luar meskipun ada pilihan untuk masuk dan duduk di tempat yang nyaman di dalam tanpa sengatan matahari yang begitu panas.
Asna terus memandangi sepatunya selagi menunggu gus Raka, ia menggoyang-goyangkan kakinya yang terlapisi sepatu berwarna putih tampak begitu pas berpadu dengan rok coklat tua dan atasnya kemeja warna coklat muda dengan notif kotak-kotak dan jilbab segi empat yang berwarna senada dengan bajunya. Sebuah tas kecil menggantung di bahunya, mungkin hanya berisi dompet dan ponsel, ia tampak tidak membawa mobil atau motor. Mungkin tadi memakai jasa angkutan umum atau ojek untuk sampai ke tempat itu.
Lima menit kemudian Gus Raka kembali keluar, ia sudah membawa kunci mobil dan dompet serta ponsel di tangannya.
"Kita pakek mobil nggak pa pa ya?" Asna tampak mengerutkan keningnya. "Maksudku jika kamu tidak nyaman di tempat yang ramai, kita bisa bicara di taman, ramai tapi tidak berdekatan! Masih ada orang lain antara kita!"
Asna sepertinya menyetujui pendapat Gus Raka. Ia tidak mungkin mengajak ke restauran atau kafe, sudah pasti banyak pasang mata yang akan memperhatikannya. Kalau di taman, walaupun ramai tapi taman adalah tempat yang begitu luas jadi kecil kemungkinan untuk saling memperhatikannya, lagi pula taman jarang menimbulkan fitnah.
"Baik!"
Gus Raka pun segera berjalan menghampiri mobilnya yang jarang ia kendarai sendiri, mobil itu sengaja ia tinggal di toko agar memudahkannya untuk kemana-mana saat hujan dan mengantar buku yang jumlahnya cukup banyak.
__ADS_1
"Silahkan!" Gus Raka membukakan pintu mobil untuk Asna. Asna pun berjalan begitu saja melewati Gus Raka tanpa menyapanya. Setelah memastikan Asna benar-benar masuk ke dalam mobil, Gus Raka pun segera berlari mengitari mobil dan masuk melalui pintu lainnya dan duduk di bangku kemudi.
"Bisa pakek seat belt nya?" Asna baru sadar jika dia belum memakai sabuk pengamannya, tanpa menunggu perintah dua kali ia pun segera memakainya. Gus Raka pun melakukan hal yang sama dan segera menjalankan mobilnya.
Sepanjang jalan mereka hanya saling diam seperti dua orang yang tidak saling kenal, terlihat sekali kalau Asna begitu cemas. Ia terus memilih ujung jilbab segitiganya dan tidak berani menatap ke arah Gus Raka, ia lebih memilih untuk menatap ke arah luar cendela.
Hingga mobil berhenti tapi Asna masih berjibaku dengan pikirannya sendiri membuat Gus Raka terpaksa memegang bahunya.
"Na!"
Asna begitu terkejut karena sentuhan pelan dari Gus Raka, ia sampai terlonjak dan menempelkan dirinya ke kaca yang ada di sampingnya.
"Jangan sentuh Asna!" wajah Asna berubah pucat dengan keringat dingin yang keluar dari pelipisnya.
Gus Raka menyadari apa yang terjadi pada Asna pun segera menjauhkan tubuhnya juga,
"Maafkan aku Asna, sungguh aku tidak bermaksud_, aku hanya ingin mengingatkanmu kalau kita sudah sampai!"
Tidak ada jawaban dari Asna, terlihat nafas Asna memburu, membuat Gus Raka semakin cemas, untung ia menyimpan air mineral di dalam mobilnya. Dengan cepat ia mengambilnya dan meletakkan di depan Asna,
"Minumlah, tenangkan dirimu aku tidak akan berbuat apa apa yang melampaui batas!"
Asna yang sudah mulai tenang pun segera meraih botol air mineral itu dan meminumnya.
Spesial visual Gus Raka
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1