Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Nisa 5)


__ADS_3

..." Apakah engkau meremehkan suatu doa kepada Allah, apakah engkau tahu keajaiban dan kemukjizatan doa? Ibarat panah dimalam hari, ia tidak akan meleset namun ia punya batas dan setiap batas ada saatnya untuk selesai."...


...sumber ; https://m.dream.co.id/your-story/50-kata-kata-bijak-islami-kehidupan-sehari-hari-menginspirasi-dan-penyejuk-hati-210331y.html...


Leon sudah bersiap hari ini untuk menjemput kepulangan Alex. Ia sudah siap dengan mobilnya tanpa membawa sopir, hati pertama kebebasannya, Leon ingin menjadi kan hari ini cukup berkesan walaupun dia belum bisa menemukan keberadaan Aisyah dan baby Kia.


Leon dengan cepat melajukan mobilnya, mobil itu berjalan melintasi jalanan yang cukup senggang karena mungkin hari ini hari Senin, jam-jam seperti ini adalah jamnya orang masih sibuk di kantor.


Hingga akhirnya mobilnya berhenti juga di depan bangunan besar yang tidak pernah dalam mimpi pun untuk berkunjung lagi.


Bibirnya melengkung ke atas saat ia melihat pria yang akan di jemput sudah berdiri di depan gerbang bersama penjaga.


Leon pun dengan cepat turun, ia segera berjalan cepat menghampiri Alex.


"Leon!"


"Maaf tuan saya terlambat!"


"Jangan panggil saya seperti itu lagi!"


"Ijinkan sehari ini saja saya melayanimu seperti dulu, hanya satu hari ini!"


"Terserah kamu!" ucap Alex menyerah dan Leon pun tersenyum. Ia sengaja melakukan itu karena ia merindukan hari-hari itu, hati-hari melayani seorang Alex.


l"Selamat atas kebebasan tuan!" pria dua puluh tujuh tahun itu sudah berdiri di samping mobilnya menunggu kebebasan pria yang biasa di panggil tuan itu.


"Terimakasih Leon!"


"Silahkan tuan!" Leon sudah membukakan pintu untuk Alex. Dan pria yang baru menghirup udara kebebasan itu pun segera masuk ke dalam mobil.


Leon segera menyusulnya dan duduk di balik kemudi.


Mobil mulai meninggalkan tempat itu.


"Kita ke mana dulu tuan?"


"Kita ke makam nenek ya!"


"Baik tuan!"


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, beberapa kali mobil terpaksa berhenti saat traffic light itu menyala merah.


"Apa sudah ada petunjuk di mana Aisyah?"


"Belum tuan!"


Sebenarnya ia sedang tidak yakin, ia tahu tapi ia sengaja tidak memberitahu dulu sebelum semuanya benar.


Mobil pun kembali berjalan, tidak ada percakapan lagi yang terjadi hingga mereka sampai juga di depan kompleks pemakaman dekat dengan rumahnya.


"Silahkan tuan!" seperti biara Leon masih mengerti tugasnya, ia membukakan pintu untuk tuannya itu.


"Terimakasih, kita beli bunga dulu ya!"


"Baik tuan!"


Alex tidak membawa uang sama sekali jadi Leon yang membelikan bunga untuknya. Setelah mendapatkan bunga akhirnya mereka menuju ke makan.


Berjejer empat makan yang saling berdekatan, ada ayah, kakak, nenek dan juga ibunya. Semua adalah orang yang begitu berarti dalam hidupnya.


Alex segera berjongkok di depan pusaran neneknya setelah menaburkan bunga ke seluruh makan keluarganya.


Sesekali terlihat pria itu mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Belum sempat ia membahagiakan neneknya tapi neneknya sudah lebih dulu di panggil oleh sang maha pencipta.


Leon sering mengjungi makan itu, ia bahkan sudah meminta seseorang yang khusus untuk membersihkan makam.


Setelah selesai, Alex pun mengajak Leon untuk meninggalkan pemakaman.


"Kita kemana lagi tuan?"


"Aku harus potong rambut!"

__ADS_1


Rambutnya memang terlihat gondrong, kumis dan jenggotnya juga sudah tumbuh liar di wajahnya.


"Baik tuan!"


Mereka segera menuju ke tempat potong rambut langganan Alex dulu.


Leon dengan begitu telaten menunggui Alex hingga selesia. Setelah merapikan rambutnya, mereka pun langsung pulang.


"Kamu yakin tidak tahu di mana Aisyah?" pertanyaan Alex membuat Leon terdiam, aku hanya bisa diam karena ia tidak mau memberi harapan palsu.


"Itu sudah memberi sedikit jawaban!" Alex seperti mengerti maksud diamnya Leon.


"Setelah ini kamu mau ke mana?"


"Sehari ini saya akan menemani tuan!"


"Benarkah? Tidakkah ingin melakukan sesuatu yang sudah lama kamu tunggu?"


Kali ini Leon menoleh dan mengerutkan keningnya.


"Kalau tidak salah dua tahun lalu ada yang menanyakan sesuatu tentangmu!"


Nisa ....


Leon sudah bisa menduga siapa yang di bicarakan Alex saat ini.


"Tidak akan terlambat jika Allah sudah menakdirkan dia untukku!" ucap Leon, kali ini Alex yang cukup terkejut.


"Kamu? Sejak kapan belajar agama Islam?"


"Sejak_, sejak ada nyonya Aisyah!" ucap Leon sambil tersenyum.


Tidak ada pembicaraan lagi hingga akhirnya mereka sampai di rumah besar, rumah yang sudah empat tahun di tinggalkan oleh Alex.


"Silahkan tuan!" ucap Leon sambil membukakan pintu.


"Ini berlebihan Lee!"


Mereka kembali berjalan masuk ke salah rumah, semua asisten rumah tangga sudah berkumpul menyambut kedatangannya mereka.


Alex terlihat memperhatikan rumah itu, masih terlihat sama seperti sebelnya, rumah itu sama sekali tidak berubah.


"Kita ke kamar Lee!" ucap Alex lagi dan Leon pun mengikutinya dan berjalan cepat saat sudah begitu dekat dengan pintu.


Leon pun membukakan pintu kamar yang sudah lama Alex tinggalkan, kamar yang banyak sekali menyimpan kenangannya dengan istri tercinta. Kamar itu masih sama, bersih dan rapi.


"Silahkan beristirahat tuan, saya akan menunggu di bawah jika tuan membutuhkan sesuatu!"


"Terimakasih ya Leon!"


"Iya tuan!"


Leon menepati janjinya, ia sama sekali tidak meninggalkan rumah itu seharian ini, ia sengaja terus di situ sambil mencari tahu keberadaan Aisyah. ia sudah menemukan satu titik makanya dia juga menempatkan pembangunan itu di sana. Tapi karena belum yakin, Leon sengaja tidak memberitahukannya pada Alex.


Di hati yang sama, Alex pun mengajak Leon untuk datang ke pesantren untuk mencari tahu tentang keberadaan Aisyah.


Ia yakin jika sahabat istrinya itu tahu sesuatu, setidaknya sedikit petunjuk.


Mereka sampai di pesantren Gus Fahmi, selagi Alex masuk ke dala. pesantren, Leon pun menunggu di mobil.


Leon duduk di cup depan mobil, cukup lama hingg seseorang membuat matanya begitu fokus menatapnya.


"Nisa!" gumamnya, sepertinya gadis yang tanpa sengaja ia panggil namanya itu sadar jika namanya tengah di panggil.


Gadis yang sedang berjalan dengan kakak perempuannya itu segera menghentikan langkahnya.


"Kak, kita ke sana dulu ya!"


"Dia siapa?" tanya wanita yang wajahnya mirip dengan Nisa itu hanya saja tubuhnya lebih berisi dari Nisa dan sepetinya juga sedang mengandung terlihat dari perutnya yang terlihat besar meskipun dress syar'i nya cukup longgar.


Nisa tersenyum menanggapi pertanyaan kakak perempuannya itu. Mereka berjalan menghampiri Leon, "Mas Leon!"

__ADS_1


Kali ini kakak perempuannya tahu, walaupun mereka jarang bertemu tapi melihat wajah bahagia Nisa, kakaknya tahu siapa pria yang sedang berdiri itu.


Nisa dan kakaknya berjalan mendekati Leon, Leon pun segera turu dan berdiri menyambut kedatangan Nisa dan kakaknya.


"Assalamualaikum mas Leon!"


"Waalaikum salam, Nisa!"


"Mas Leon ada apa ke sini?"


Leon tersenyum, "Saya sedang menunggu seseorang, tapi cukup senang ternyata Allah langsung ngasih jawaban atas penantianku ini!"


"Maksud mas Leon?"


"Ada kamu, walaupun aku tidak tahu ada maksud apa kamu ke sini! Semoga bukan karena seseorang yang akan bersaing dengan ku!"


Tiba-tiba wajah Nisa berubah muram, jika memang seperti itu kenyataannya. Nisa datang bersama kakaknya karena kakak iparnya sedang ada pertemuan dengan Gus Fahmi dan juga seorang putra pak kyai juga yang rencananya akan mengkhitbah Nisa.


"Ohh, jadi benar ya!?" ucap Leon dengan sedikit kecewa. Wajahnya menunjukkan kebenaran atas pertanyaannya.


"Tapi Nisa belum memberi jawaban mas, jika mas masih punya maksud baik sama Nisa, insyaallah ada jalan!"


"Amin! Insyaallah!"


Tatapan Leon pun beralih pada wanita hamil di samping Nisa, Leon tersenyum padanya.


"Terimakasih mengijinkan adik perempuan mbak bicara sama saya!" ucap Leon.


Kakak perempuan Nisa pun tersenyum, "Insyaallah saya mendukung niat baik kamu, semoga Allah melancarkannya!"


"Aminnn!"


Dan benar saja dari arah lain, seseorang berjalan menghampiri mereka. Sepetinya itu kakak ipar Nisa.


"Siapa bund?" tanyanya pada sang istri.


"Insyaallah saingannya Gus Raka!" ucap wanita itu sambil tersenyum menggandeng tangan suaminya.


Pria dengan pakaian khas pesantren dengan celana hitam longgar dan kemeja putih serta peci di kepalanya itu tersenyum menatap Leon, seolah sedang menilai penampilan Leon.


Tidak ada percakapan lagi hingga Nisa berpamitan pada Leon,


"Kami duluan ya mas!"


Leon pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, hingga terdengar salam dari Nisa.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Nisa dan kakaknya meninggalkan Leon masih terdiam di tempatnya.


Ia menatap punggung orang-orang itu hingga masuk ke dalam mobil.


Hehhhh


Terdengar helaan nafas dari Leon, ia seperti melihat tembok tinggi yang membentang di antara mereka, penampilannya dengan penampilan mereka begitu berbeda.


Apa aku terlalu tinggi berangan-angan hingga ingin mendapatkan gadis sebaik Nisa


Bersambung


..." Berpikirlah positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu." ...


...(Ali bin Abi Thalib)...


...Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya...


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2