Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (71)


__ADS_3

Papa Tedi begitu terluka, hingga ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi tunggu dan memegangi kepalanya yang mulai nyeri. Asna berjalan cepat menghampiri orang tuanya.


"Papa, Asna sungguh tidak pa pa! Mas Raka sadar saja sudah anugrah terbesar bagi Asna! Asal Asna bisa lebih sabar lagi, aku yakin mas Raka akan segera mengingat Asna!"


Papa Tedi segera bangun dan memeluk putrinya itu. Ia benar-benar tidak tahu sudah sedewasa itu sang putri.


"Papa yang sabar ya!"


"Ya Allah, aku tidak tahu jika putriku sudah sangat dewasa sekarang!"


Semua yang ada di sana ikut terharu.


Setelah menyelesaikan perdebatan itu, mereka pun akhirnya berdiskusi untuk langkah selanjutnya.


"Jadi bagaimana? Apa Raka harus kembali ke rumah kami?" tanya ustadz Arif karena Raka masih merasa belum menjadi suami siapapun.


"Maaf Abi, tapi Asna tidak setuju! Asna tidak pa pa tinggal satu rumah dengan mas Raka walaupun tidak di anggap sebagai istri dari pada tinggal terpisah, sekali lagi Asna mohon maaf!" Asna begitu merasa keberatan dengan usulan ustadz Arif.


"Leon juga setuju dengan apa yang di katakan Asna pak, bagaimana pun mereka tetaplah suami istri, walaupun mereka tinggal dalam satu rumah tetap tidak akan menimbulkan fitnah!" Leon yang sedari tadi diam akhirnya ikut berpendapat.


"Lalu bagaimana?" ustadz Arif meminta pendapat lagi pada Leon. Ia tahu walaupun Leon lebih muda tapi dia cukup bijak.


"Asna tidak pa pa kan kalau sementara waktu berperan sebagai asisten rumah tangga menemani mbak Rumi? Jadi kemungkinan kalian akan tidur terpisah!"


"Tapi kamar di rumah kami hanya ada satu!"


"Ada ruang kerja kan, kita bisa menyulapnya kembali sebagai kamar tidur, Raka tidak akan ingat kalau itu adalah ruang kerja karena dia belum ingat kalau itu rumahnya!" Leon yang sudah tahu seluk beluk rumah saudara kembarnya langsung bisa memperkirakan apa yang akan di pikirkan oleh Asna.


"Iya aku setuju!"


"Masalah perombakan jangan khawatir, karena besok orang-orang saya sudah langsung melakukan tugasnya, saat Raka pulang rumah sudah siap!"


"Lalu bagaimana dengan Shahia?"


"Katakan kalau dia putri kamu, saya yakin Shahia yang akan membantu mengembalikan ingatan Raka!"


Setelah selesai berdiskusi Leon pun kembali menemui dokter dan menanyakan kemungkinan kapan Raka akan di perbolehkan pulang. Ternyata dokter masih melakukan observasi dan kemungkinan butuh satu Minggu atau lebih hingga Raka benar-benar di perbolehkan pulang.


Selama ini, Asna masih melakukan hal yang sama, ia selalu datang di pagi hari sebelum berangkat ke toko, dan akan mampir lagi pada sore hari sebelum pulang.


Asna sudah mulai menggunakan sepeda motornya untuk beraktifitas, ia mulai tidak sabar jika harus menunggu taksi datang sedangkan ia harus ke mana-mana dulu, dari toko satu ke toko satunya, bertemu klien dan juga ke rumah sakit.


Hal yang sama selalu di tanyakan oleh Raka saat Asna datang.


"Assalamualaikum mas, bagaimana keadaannya sekarang?"


"Waalaikum salam! Asna, kenapa kamu selalu repot datang ke sini? Apa kamu tidak punya pekerjaan lain?"


Asna segera duduk di samping Raka, tapi dengan cepat Raka menghindarkan tangannya saat Asna akan menyentuh,


"Jangan sentuh, bukan muhrim!"

__ADS_1


Asna hanya tersenyum, ia kembali teringat saat-saat mereka belum menikah dulu. Saat sesekali Raka datang untuk menanyakan tentang Nisa, walaupun itu cukup menyakitkan tapi sekaligus menyenangkan setidaknya ia punya kenangan indah bersama sang suami sebelum menikah, walaupun bukan pacaran. Tapi lambat laut ia tahu kalau ternyata suaminya juga menyimpan rasa padanya dan mungkin sekarang pun sama rasanya seperti saat ia belum menikah. Dari tatapan matanya, Asna masih bisa menemukan cinta dari suaminya.


"Dikit aja mas, masak pegang dikit nggak boleh, pelit ihhhh!"


"Na, lebih baik kamu pergi deh, nggak enak kalau nanti Abi dan umi datang, mereka pasti mengira yang tidak-tidak!"


"Nggak mungkin lah, yang nyuruh Asna ke sini Abi sama umi!"


"Kok bisa?"


"Ya bisa lah, mas lupa aku asisten kamu di toko dan di rumah!"


"Di rumah?"


"Iya, di rumah!"


"Di rumah umi sudah banyak asisten, nggak perlu lagi kamu!"


"Siapa bilang di rumah umi, di rumah kita lah!"


"Kita?"


"Maksudnya rumahnya mas Raka, aku kan di sana cuma numpang!"


"Aku punya rumah!"


"Iya mas!" Asna mengulurkan tangannya hingga menyentuh tangan Raka dan lagi-lagi Raka segera menarik tangannya.


"Maaf mas, kelepasan!"


"Kamu ini ya ...!" tangan Raka sudah terulur hampir menjitak kepala Asna tapi kembali ia urungkan.


"Kenapa nggak jadi mas?"


"Nggak pa pa, sudah sana pulang! Aku mau istirahat!"


"Masih pengen di sini!"


"Ngapain, bentar lagi Leon datang!"


"Aku bisa nyuruh agar nggak datang!"


"Emang siapa kamu nyuruh-nyuruh?"


"Ada deh!" Asna tersenyum begitu manis membuat Raka terpaku di buatnya, tapi dengan cepat ia mengalihkan pandangannya setelah beristigfar.


"Ya Allah mas, kalau mau liatin Asna nggak usah Sampek istighfar gitu, Asna ikhlas kok di liatin mas Raka!"


Raka tidak mau menanggapi ucapan Asna, ia merasa tidak begitu nyaman saat begitu akrab dengan wanita di depannya itu. Tapi ia belum bisa memahami perasaan apa itu, ia hanya takut jika setan akan menariknya dan membuatnya terjerumus karena ia tidak mengingat jika wanita di depannya adalah istri sah nya.


"Kalau aku istri mas Raka gimana?" mendengar pertanyaan yang tiba-tiba dari Asna berhasil membuat Raka kembali berbalik.

__ADS_1


"Na, jodoh itu yang menentukan Allah, kalau memang kita di takdirkan berjodoh Allah pasti akan mempertemukan kita dalam ikatkan pernikahan tapi semua itu ada prosesnya!"


Allah sudah mempertemukan kita dalam ikatan itu mas ..., Asna terdiam dan menatap makanan yang hendak di siapkan pada Raka.


"Na, kamu nggak pa pa kan?"


"Tidak mas, hanya sedang terharu saja dengan ucapan mas Raka! Asna selalu berharap bisa berjodoh dengan mas Raka, selamanya!"


Raka memilih mengalihkan pembicaraan dari pada membicarakan hal itu, "Itu buat aku kan, biar aku makan sendiri!" Raka segera mengambil piring yang ada di tangan Asna.


"Biar Asna suapin mas!"


"Aku bisa sendiri, kalah kamu mau pulang, pulang aja!"


"Nggak, nanti dulu aja, aku nunggu mas Raka selesai makan!"


"Nanti kemalaman loh! Nggak baik wanita pulang malam-malam!"


"Ya udah kalau gitu Asna pulang dulu ya mas, jaga diri mas Raka baik-baik, semoga cepet sembuh dan bisa segera pulang!"


"Terimakasih!"


Asna pun segera berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya yang sedari tadi ia letakkan di atas nakas yang ada di samping tempat tidur Raka.


"Mas tangannya!"


"Buat apa?"


"Minta tangannya dikit!"


"Nggak usah, assalamualaikum!"


Asna mencebirkan bibirnya kesal karena suaminya tidak mau mengulurkan tangan,


"Aku pulang!"


"Jawab salam dulu!"


"Waalaikum salam!" Asna dengan kesal keluar dari kamar Raka.


"Awas aja nanti kalau udah inget, nggak usah ya minta sentuh-sentuh Asna, bukan muhrim!" Asna terus saja menggerutu sepanjang jalan hingga ia tidak menyadari ada Leon yang sedari tadi memperhatikannya.


Bersambung


...Selamat hari raya idul Fitri minal aidzin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2