
Ambulan sudah membawa tubuh Alex itu ke rumah sakit, Aisyah tidak membiarkan Alex sendiri. Ia terus menangis karena terlalu takut. Ia tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang lecet-lecet.
"Bertahan ya mas! Aku di sini!" ucap Aisyah sambil terus memegang tangan Alex yang sudah berlumuran darah itu.
Doa tidak pernah berhenti terucap dari bibirnya walaupun dengan gemetar dan air mata yang juga terus mengalir, dengan tubuh lemahnya ia terus berusaha menguatkan suaminya.
Leon yang tidak di ijinkan berada di ambulan, ia mengikuti di belakang ambulans itu dengan mobil Alex.
Aisyah terus menunggui Alex yang sedang di rawat di ruang IGD. Beberapa tulang Alex
patah sehingga perlu penanganan khusus. Darah juga merembes dari kening Alex
dan beberapa tubuh yang lainnya. Dokter sedang sibuk membersihkan darah-darah
itu dan membalutnya dengan perban.
“Sebaiknya nona istirahat, biar tuan saya yang jaga!” ucap leon yang juga mengikuti
mereka.
“Biar aku di sini, mas!”
“Luka nona juga harus di rawat!” ucap leon lagi, memang benar ada beberapa luka di
tubuh Alex terlihat dari darah yang merembes dari lengan bajunya dan juga jilbabnya yang bernoda darah, sepertinya keningnya juga tergores.
"Mari mbak, saya obati lukanya!" seorang perawat sudah menghampiri Aisyah, seperti Leon yang memanggilnya.
Akhirnya Aisyah pun melakukan apa yang di minta Leon. Ia di rawat oleh beberapa perawat untuk mengobati lukanya dan Menganti
bajunya dengan baju pasien yang bersih karena ia tidak membawa baju ganti. Gaunnya itu sudah banyak noda darah, selain dari
lukanya sendiri juga dari tubuh Alex saat Aisyah memeluk tubuh Alex tadi.
Kini sebuah kain kasa sudah melingkar di kepala Alex, lengan bawah hingga punggungnya juga sudah di lilit gips begitu juga dengan kaki kirinya. Aisyah tidak berhenti menangis melihat keadaan Alex itu walaupun dirinya sendiri juga penuh luka.
Alex sudah sadar, ia duduk menyandarkan punggungnya, Aisyah dengan sigap meletakkan
bantal di belakang punggung Alex agar lebih nyaman.
“Jangan menangis terus! Tidak akan semudah itu aku mati!” ucap Alex,
“Maaf! Ini gara-gara aku, coba kalau aku lebih hati-hati, pasti nggak akan kayak gini!”
“Sudah ku bilang, aku nggak akan mati kalau cuma patah tulang kayak gini!”
“Mas Alex kok ngomongnya kayak gitu sih …!”
‘Abis kamu nangisnya kayak aku udah mau mati aja …!”
“Aku udah cemas banget, tapi mas Alex malah ngomongnya kayak gitu …!”
“Takut jadi janda muda ya kamu?”
“Ya salah satunya, yang ke dua mas Alex jadi nggak bisa tebar pesona lagi kalau kakinya pincang kayak gini!"
Ha ha ha …
Melihat Alex malah tertawa membuat Aisyah mengerutkan keningnya, bukannya marah pria itu malah menertawakan ejekannya, “Kenapa tertawa?”
“Wajahmu lucu banget kalau sedang cemberut seperti itu, baru sadar ....!”
Alex terus terkekeh melihat wajah manyun Aisyah. lalu ia menghentikan tawanya saat
melihat beberapa perban yang menempel di tubuh istri kecilnya itu.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Alex, saat ini menunjukkan wajah seriusnya.
__ADS_1
Mudah sekali mengubah ekspresi nya ...., batin Aisyah. Ia jadi berpikir mungkin karena depresi yang di alami Alex. Jadi ia bisa tiba-tiba marah atau senang dalam waktu yang bersamaan.
“Aku baik, mas! cuma luka kecil!" ucap Aistah.
“Istirahatlah …!” perintah Alex.
“Aku nungguin mas Alex, mas alex aja yang istirahat!” bantah Aisyah.
“Terserah lah …, jangan kasih tahu apapun tentang hal ini sama nenek!”
“Iya mas!”
Alex pun merubah posisinya menjadi tidur sedangkan Aisyah memilih duduk di sofa
sambil terus mengamati Alex. Rasa penasarannya semakin menjadi aja, pria yang terkenal dengan arrogantnya itu bisa punya sisi yang berbeda seratus delapan puluh derajat.
Bagaimana bisa seperti itu, mana yang sifat aslinya ...., yang ini atau yang kemarin-kemarin ....
***
Pagi ini leon sudah datang kembali sambil membawakan sarapan dan baju ganti untuk
Aisyah. aisyah juga sudah memberi tahu Leon untuk tidak memberitahu nenek Widya
kalau mereka berada di rumah sakit.
“Ini nona baju gantinya! Dan ini sarapannya!” ucap Leon.
“Makasih ya mas Leon! Oh iya, nenek bagaimana? Mas Leon nggak cerita kan?”
“Tidak nona, saya bilang jika tuan sama nona sedang menginap di rumah tuan Alex!”
“Syukurlah …!”
Setelah leon meninggalkannya Aisyah segera mengganti bajunya yang di bawakan oleh Leon.
"Ahhhh ...., ternyata punggungku memar!" pekik Aisyah saat tangannya memegang punggung atasnya yang memar dan sedikit tergores, untung saja kemarin gaunnya tebal jadi tidak terlalu melukai kulitnya.
Aisyah kembali keluar, ia duduk di sofa kembali dan mengoleskan cream pada beberapa bagian kaki dan tangannya yang memar yang bisa di jangkau dengan tangannya.
Sedangkan Alex yang sudah bangun dari tadi sedang duduk bersandar di tempat tidurnya dan sibuk menatap Aisyah.
“Argh…!” pekik Aisyah. saat tanpa sengaja punggungnya terbentur sandaran sofa.
“Kenapa?”
Alex hampir saja lupa dengan keadaannya sekarang,
“Aughhh …!” Alex terpekik saat ia melupakan lukanya, ia hampir saja jatuh dari tempat tidur, untung saja Aisyah cepat berlari dan menahan tubuh Alex agar tidak jatuh.
“Mas …, mas nggak pa pa?” tanya Aisyah yang sudah menahan tubuh Alex, walaupun saat ini ia sedang menahan sakit karena tanpa sengaja tangan kiri Alex menekan punggungnya yang memarah sebagai pegangan.
“Nggak pa pa! lihat apa yang sakit!” ucap Alex saat ia sudah kembali duduk di tempat tidurnya.
“Nggak ada mas!”
“Ada yang luka di punggungmu!”
“Enggak mas!”
Srekkkkk
Tapi Alex tidak suka berbelit-belit, ia segera menarik tangan Aisyah dengan tangan
kirinya yang tidak cidera.
“Augh …!”
__ADS_1
“Mau kamu tunjukkin sendiri atau aku yang bukanya, jangan dikira jika aku terluka
seperti ini tidak bisa melakukan apa-apa sama kamu!”
“Iya mas …, iya …! Tapi lepasin dulu!” ucap Aisyah sambil menahan sakit karena Alex terus menekan punggungnya.
Alex pun segera melepas tangan dan punggung Aisyah, “Punggung Ay, memar mas!”
“Duduklah, biar aku olesi cream biar nggak sakit!”
Aisyah pun memberikan obat yang di pegangnya sedari tadi dan duduk di depan Alex.
“Buka jilbabmu!”
“Harus ya mas?”
“Memang tanganku bisa nembus kain, ada-ada aja kamu ini!”
Aisyah pun melakukan seperti apa yang di perintahkan oleh Alex, ia membuka jilbab
instannya dan meletakkannya di sebelah duduknya.
“Buka satu atau dua kancing baju kamu!”
“Untuk apa mas?” tanya Aisyah sambil memegangi kancing kemejanya.
‘”Bagaimana aku bisa mengoleskan creamnya kalau kamu nggak buka! Ayo cepetan pumpung dokter belum ada yang masuk!”
Aisyah pun menghela nafas dalam, ia membuka kancing bajunya satu persatu sambil
mengatur detak jantungnya yang sudah tidak beraturan itu. Entah kenapa ia sama
sekali tidak menolak apa-apa yang di perintahkan oleh pria itu.
Aisyah membuka tiga kancing atasnya dan menariknya ke atas sehingga punggung bagian
belakangnya terlihat. Ia bisa merasakan tangan Alex mulai menyentuh punggungnya ya memar membuat jantungnya berdetak semakin kencang saja.
“Sudah, mas?” tanya Aisyah dengan suara yang semakin bergetar saja saat ia merasakan
rabaan tangan Alex membuat tubuhnya semakin panas dingin saja.
Rasanya ingin segera menarik tubuhnya, tapi entah kenapa ia semakin terpaku saja.
Aisyah semakin mengerakkan tangannya di depan baju depannya dan matanya yang
tertutup.
“Kenapa kamu yang nutup mata?” pertanyaan Alex segera menyadarkan Aisyah. Ia tidak sanggup menahannya lagi, sentuhan itu bisa membuatnya gila.
‘Nggak mas, sudah?” ucap Aisyah, tanpa terasa suaranya lebih mirip seperti desahan.
Astagfirullah ...., Aisyah apa yang kamu lakukan ....., Ia mengutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan diri.
“Ini memarnya besar!” ucap Alex dengan tangan yang masih setiap di punggung Aisyah.
“Sudah aja ya mas!” ucap Aisyah dan hendak menarik bajunya tapi tangan Alex reflek menahannya agar tetap terbuka.
Tapi sepertinya Alex sengaja ingin berlama-lama menatap punggung itu. Bukannya ia tidak pernah melihat punggung
wanita, tapi entah kenapa melihat punggung Aisyah seperti ada magnet yang sengaja menariknya agar mendekapnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1