
Asna segera kembali ke kamarnya setelah menemukan baju yang cocok untuk suaminya. Sesampai di kamar ia tidak mendapati suaminya di dalam kamar tapi telinganya mendengar gemericik air dari kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Belum selesai ternyata mandinya!" Asna pun memilih meletakkan bajunya di atas tempat tidur, baru saj berbalik suara pintu kamar mandi terbuka.
Cklek
Asna sampai tidak bisa mengedipkan matanya karena baru menyadari ada malaikat tampan yang setiap malam menemani tidurnya.
Ya Allah kemana aja aku selama ini, sungguh aku sudah menyia-nyiakan nya selama ini ....
Tampan Asna sadari ternyata saat ini suaminya itu sudah berada di depannya, begitu dekat hingga ia begitu susah untuk bernafas,
Masyaallah....
"Kenapa, kagum ya? Ini ciptaan Allah paling seksi!" ucapan Raka berhasil membuat Asna tersadar hingga ia harus menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Enggak_!"
Srekkkkk
Tiba-tiba tangan Raka menarik pinggang Asna hingga mereka begitu dekat.
"Bagaimana sekarang?" ucap Raka lembut hingga nafasnya mampu menyapu bulu halus di wajah Asna membuat aliran darah Asna terasa mengalir lebih cepat.
"Mas, itu bajunya!" ucap Asna saat menyadari kini tubuhnya menempel di tubuh Raka yang tidak ada sehelai benang pun.
"Aku lebih suka seperti ini!" Raka semakin mengeratkan pelukannya, bibir Raka juga semakin mendekat.
"Mas, rasanya sulit bernafas!"
"Kenapa dada kamu sesak ya, deg degan? Atau apa?" kini bibir Raka begitu dekat dengan telinga Asna hingga Asna semakin mencondongkan tubuhnya ke belakang.
Asna tidak mampu berkata-kata lagi, ia hanya menganggukkan kepalanya, saat ini tangannya mencengkeram erat pinggang Raka yang polos itu.
Tiba-tiba bibir Raka membungkam bibir Asna dengan penuh kelembutan, Asna yang awalnya terdiam kini mulai menikmati sentuhan yang di berikan sang suami.
Tanpa terasa tubuh Asna saat ini sudah berada di atas tempat tidur dengan Raka di atasnya, bibir Raka terus tertaut pada bibir Asna. Untuk pertama kalinya bagi seorang raka, tapi naluri lelakinya sudah lebih dulu membimbingnya.
Tangan Raka pun sudah mulai menjelajahi tubuh Asna hingga membuat Asna tidak mampu menahan suaranya agar tidak mendesah.
Kini bahkan baju Asna sudah tidak pada tempatnya, bibir Raka juga sudah mulai menjelajahi setiap inci tubuh Asna, kehangatan yang di berikan Raka membuat Asna tidak mampu menolak lagi.
Saat ini Asna sudah tidak memakai apa-apa lagi, tinggal Raka melakukan penyerangan.
"Dek, boleh ya sekarang?" Raka yang sudah tidak tahan lagi pun akhirnya memberanikan diri bertanya pada sang istri.
Asna yang tidak tahu harus menjawab apa karena ia juga menginginkan lebih dari ini pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Raka yang sudah mendapat lampu hijau pun segera menyiapkan diri, dengan percobaan beberapa kali akhirnya berhasil juga.
__ADS_1
Malam itu menjadi malam yang panjang untuk pasangan pengantin baru itu, Asna sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuk sang suami.
"Terimakasih ya sayang!" Raka mengecup kening Asna dan menyelimuti tubuh polos sang istri.
"Aku yang harusnya terimakasih mas, aku terimakasih karena setiap malam ada yang mengusap kepalaku dan membacakan doa untukku!"
"Kamu tahu?" Raka terlihat terkejut mendengarkan ucapan Asna karena selama ini saat ia bangun tengah malam untuk sholat tahajud dan mendoakan istrinya, Asna tidak pernah bangun.
"Aku melihatnya mas!"
"Kok nggak ikut bangun?"
"Soalnya mas Raka juga nggak banguni Asna!"
Raka tersenyum dan mengecup kening Asna, "Lain kali aku bangunkan ya! Sekarang tidurlah!"
Raka menjadikan lengannya sebagai bantal sang istri, Asna akhir-akhir ini begitu suka tidur sambil memeluk suaminya dan sekarang dengan sangat sadar.
...****...
"Wajah kalian sumringah sekali pagi-pagi?" terlihat mama Ayu sudah duduk di meja makan bersama papa Tedi. Asna dan Raka yang baru saja turun langsung menjadi perhatian mereka.
"Tidak pa pa ma, hari ini semoga menjadi awal yang bahagia ya mas?" Asna menggandeng lengan Raka.
"Insyaallah!"
Mereka pun ikut duduk bersama dengan kedua orang tuanya, dan kemudian di susul kakak beradik Aslan dan Abizar.
"Pagi sayang!" sebelumnya memang seperti itu, mereka adalah keluarga yang cukup hangat. Hingga sebuah musibah menguji keharmonisan keluarga itu.
"Ayo makan-makan!" papa Tedi segera mengajak semuanya untuk makan.
Beberapa kali mereka terlihat bercanda, kebahagiaan yang sudah lama hilang kini kembali lagi.
"Kak, itu apa di leher kakak?" tanya Aslan saat memperhatikan Raka.
Raka yang tidak tahu segera menoleh pada Asna, dan dengan cepat mata Asna melotot melihatnya.
Astaghfirullah hal azim ...., tangan Asna dengan cepat menutupi leher Raka yang tidak tertutup oleh kerah bajunya.
Tapi sayang semua terlanjut menatap ke arah Raka.
"Aslan, ini tadi mas Raka di gigit serangga, kan kamar kak Asna sudah lama nggak di tiduri!"
"Semacam tomket ya kak?" Abizar yang juga tidak faham ikut bertanya.
"Iya, seperti itu!" jawab Asna dengan wajah pucatnya karena malu.
Sedangkan papa Tedi dan mama Ayu hanya saling tersenyum mengetahui bekas apa yang hinggap di leher menantunya itu.
__ADS_1
Sepanjang makan, Raka jadi salah tingkah dan terus menutupi lehernya.
Ternyata dia ganas juga, aku harus cek lagi seberapa banyak bekas gigitannya ...
Selesai makan, Raka pun pamit untuk ke kamar lagi dan di susul Asna.
Raka yang sudah sampai di kamar lebih dulu segera berdiri di depan cermin. Dia seperti pria pada umumnya yang jarang bercermin, dan senyumnya mengembang saat melihat jejak yang di tinggalkan sang istri di malam pertamanya.
"Lumayan!"
Ceklek
"Massss!" suara pintu di buka itu bersahutan dengan teriakan Asna yang juga berdiri di depannya.
"Ada apa sayang?"
"Mas sengaja ya?"
"Enggak, tapi sekarang sengaja!" Raka kembali membuka bajunya dan melihat bagaimana penampakan tubuhnya saat ini dan benar saja tubuhnya penuh dengan jejak yang di tinggalkan oleh Asna.
Asna segera menutup wajahnya kerena malu mengingat bagaimana dia semalam.
Raka segera menghampiri sang istri dan memeluknya.
"Sayang aku suka ini, nanti malam lagi ya!"
"Mas!!!" Asna melepas pelukan Raka dan memukul dada Raka beberapa kali, "Aku malu mas!"
"Kenapa harus malu? Sama suami sendiri, lagian aku sudah melihat luar dalamnya kamu, kamu juga, bahkan sekarang kalau mau lihat lagi, aku dengan senang hati membukakannya untukmu, bagaimana? Apa kamu setuju?"
"Mas, kita harus segera pulang!"
"Ya sepertinya itu ide bagus, bagaimana kalau aku tidak usah kerja hari ini?"
"Mas!?" Asna tersenyum malu.
"Kita pulang dan lanjutkan di rumah!" Raka menjauh dari Asna dan mengambil kembali bajunya yang berada di sandara kursi dan segera memakainya, tidak lupa memakai jaketnya juga.
"Aku harus telpon mbak agar nggak usah datang hari ini!"
Asna hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...