
Asna terus menggoda Raka hingga suaminya itu terjerambak di atas tempat tidur.
"Berhenti Asna, jangan macam-macam ya!"
Ya Allah mas Raka imut sekali kalau panik kayak gini, jadi pengen gigit ....
"Asna, jangan berpikir kotor ya! Kenapa senyum-senyum seperti itu?" Raka merasa curiga dengan senyum yang di keluarkan dari bibir Asna kali ini.
"Kayaknya aku akan memakanmu deh kali ini mas_!" Asna tersenyum yang menurut Raka begitu menyeramkan, Asna semakin mendekatkan dirinya pada Raka yang sudah hampir dalam posisi terlentang.
Ting tong ting tong
Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi membuat Asna menghentikan tindakannya,
Siapa sih yang menggangu malam-malam, keluh Asna dalam hati. Tapi bel tidak kembali berbunyi Asna berencana untuk melanjutkan kegiatannya menggoda suaminya.
"Mau apa lagi?" Raka yang sudah mulai bernafas lega kembali di buat terkejut dengan Asna yang kembali fokus menatapnya.
"Mau melanjutkan yang tadi!"
"Kamu tidak dengar ada tamu?!"
"Sudah nggak pencet bel lagi, jadi kita lanjutkan sayang!"
"Astaghfirullah, kamu benar-benar menakutkan!"
"Tidak peduli!" Asna benar-benar mendekatkan bibirnya pada bibir Raka, Raka yang begitu menolak apa yang di lakukan oleh Asna saat bibir Asna begitu dekat dengan bibirnya tiba-tiba ia tidak mampu menolaknya lagi, ia bahkan hanya terdiam menunggu apa yang akan di lakukan oleh Asna.
Tinggal beberapa inci lagi hingga bibir mereka saling menempel, tapi lagi-lagi bel berbunyi.
Ting tong ting tong
Astaghfirullah ...., aku benar-benar kesal kali ini ....
Asna mendengus kesal dan mengepalkan tangannya memukul tempat tidur di samping Raka lalu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Raka.
"Baiklah kali ini kamu selamat mas, tapi tidak lain kali!" Asna dengan kesal berlalu meninggalkan Raka yang bernafas lega.
"Hahhhh, rasanya dadaku mau meledak tadi! Dia benar-benar seperti penyihir, bisa-bisanya melakukan hal itu padaku!" Raka memegangi dadanya yang berdetak lebih kuat dari biasanya, rasanya melebihi saat dia berlari maraton keliling lapangan sepak bola.
Asna yang merapikan kembali baju dan jilbab instannya.
Sebelum menghampiri pintu, Asna terlebih dulu melihat Shahia yang tadi ia tinggalkan begitu saja di depan tv, ternyata bayi mungil itu sudah tertidur bersama mainan bonekanya di atas kasur lipat di depan tv.
"Ya Allah, maafkan mama ya sayang!" Asna mencium pipi gembil putrinya dan membenarkan tidur sang putri.
Ia segera meninggalkan putrinya dan membuka pintu, ia sebenarnya merasa bersalah karena membiarkan tamu nya menunggu di luar terlalu lama, tapi mau bagaimana lagi ia juga merasa gemas dengan suaminya.
Ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka dan di depan pintu itu telah berdiri seorang pria yang beberapa waktu lalu sudah melakukan tanda tangan kontrak dengannya.
"Zaki!?"
"Assalamualaikum, Asna!"
"Waalaikum salam!" Asna mengedarkan pandangannya mencari-cari seseorang yang mungkin bersama dengan pria itu.
"Maaf ya Asna, aku datang malam-malam, jadi ganggu istirahat kamu!"
"Duduklah!" Asna mempersilahkan Zaki duduk di kursi depan dan dia pun ikut duduk di sana.
"Ada apa?"
"Sebenarnya aku besok ada acara di luar kota, kalau harus nunggu aku pulang takutnya bakal menunda proses percetakannya, nggak pa pa kan kalau kita kerjakan sekarang?"
"Baiklah, bentar ya aku ambil laptop dulu, kamu bawa flashdisk nya kan?"
"Bawa!"
Asna pun segera masuk kembali ke dalam rumah, saat akan masuk ke dalam kamarnya, ternyata Raka sudah berdiri di depan pintu sambil memperhatikannya.
"Siapa tamu nya?"
"Zaki, dia minta edit file malam ini soalnya besok harus pergi ke luar kota!"
"Mas, ikut keluar yuk temenin Asna, nggak enak kalau di lihat tetangga nggak ada mas Raka juga!"
"Kan itu tamu kamu, aku di dalam saja!"
"Tapi mas_!"
"Aku ngantuk!" Raka berlalu begitu saja masuk kembali ke dalam kamarnya.
Asna tidak punya pilihan lain selain kembali menemui Zaki dan melanjutkan pekerjaannya.
Raka yang sudah hampir masuk ke dalam kamar teringat dengan bayi mungil yang tertidur di depan tv, ia pun kembali keluar dan menghampiri bayi itu.
"Mama kamu tega sekali biarin ku tidur di sini!"
Raka dengan hati-hati mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam kamar ibunya. Menyelimutinya dan tidak lupa meninggalkan kecupan di kening bayi mungil itu.
"Kamu cantik sekali, seperti siapa ya? Apa seperti Leon ya? Jadi ingat dia!"
"Hehhhh, dia sudah punya istri! Tidak baik menggangunya malam-malam!"
Raka pun perlahan meninggalkan kamar itu dan duduk di depan meja tv, kakinya belum bisa untuk berjalan normal, ia masih harus menggunakan tongkat penyanggah atau kursi roda untuk membantunya berjalan.
Ia menselonjorkan kakinya yang terasa nyeri karena baru saja mengendong Shahia. Butuh tenaga ekstra untuk melakukan hal itu.
__ADS_1
Ia masih bisa mendengar gelak tawa di depan, mungkin ada hal yang lucu karena sesekali mereka terdengar tertawa dan kembali serius.
"Mereka akrab sekali, tidak mungkin hanya sekedar klien toko!"
"Kenapa aku tidak ikutan ya? Itu kan toko ku!"
Raka semakin merasa gelisah saat beberapa kali memperhatikan mereka dari balik kaca jendela yang transparan hingga terlihat dari ruang tv yang memang langsung terhubung dengan ruang tamu dan teras.
"Bisa-bisanya mereka tertawa seperti itu, sudah malam lagi!"
"Memang mereka tidak takut dengan tanggapan orang!"
Raka pura-pura kembali fokus pada siaran tv yang sebenarnya sedari tadi tidak ia lihat saat Asna terlihat mulai masuk ke dalam rumah dengan membawa toples kosong.
"Mas, kamu belum tidur?"
"Belum ngantuk, berisik soalnya di luar!"
"Maaf ya mas, nanti aku kecilin d eh suara Asna!" Asna kembali memperhatikan kasur lipat yang ada di depan sofa ya g di duduki Raka.
"Mas,. Shahia ke mana?"
"Aku pindahin, lagian punya mama nggak perhatian sekali!"
"Maaf mas, aku tadi soalnya nggak sempat mindahin! Terimakasih ya mas!"
Raka hanya menatap malas, "Buat apa toples kosong?"
"Ini mas, camilan! Kalau kerja nggak sambil ngemil nanti ngantuk!"
"Sudah tahu malam, masih juga ngajak orang bekerja, nggak tahu waktu!" gumam Raka lirih.
"Apa mas?"
"Memang aku ngajak bicara kamu, ya sudah sana kalau mau ambil camilan sekalian masakin biar nggak kelaparan!" ucap Raka dengan kesal.
"Iya ya mas, kasihan juga! Aku lupa nggak nanya, Zaki sudah makan apa belum!"
Sekalian aja suruh nginep di sini ...., gerutu Raka dalam hati. Entah kenapa begitu merasa kesal dengan kehadiran pria yang bernama Zaki itu walaupun ia merasa belum mengenal pria itu tapi alam bawah sadarnya mungkin masih menyimpan cemburu pada pria yang bernama Zaki.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1