
...Jangan melibatkan hatimu dalam kesedihan atas masa lalu atau kamu tidak akan siap untuk apa yang akan datang ~ Ali bin Abi Thalib...
Leon yang juga terkejut sampai membuka lebar matanya. Mereka terdiam hingga beberapa detik hingga Leon segera bangun dari tubuh Nisa.
Kini suasana menjadi sangat kikuk, Leon yang kembali duduk di tempatnya dan Nisa yang segera bangun dan ikut duduk.
"Aku sepertinya harus_, harus_!" Leon beberapa kali menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, terlihat sekali kalau dia sedang salah tingkah.
Leon segera bangun dari duduknya,
"Kami tidurlah dulu, aku akan cari angin baru tidur!"
Dengan cepat Leon keluar dari kamarnya, ia sedikit berlari dan duduk di bangku yang tidak jauh dari kamarnya, di depan kolam renang itu. Ia terus memegangi letak jantungnya yang berdetak hebat saat ini. Bibirnya terus tersenyum sambil beberapa kali menepuk pipinya.
"Aku harus bagaimana?"
Bahkan sebelumnya adegan seperti ini tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya, sebelum menikah ia hanya merasa Nisa adalah teman hidup dan jodohnya, ia tidak pernah berpikir akan merasakan sensasi seperti ini saat menyentuh wanita itu.
Di dalam kamar, Nisa juga terlihat tersenyum dan memegangi bibirnya, walaupun bukan yang pertama mereka berciuman tapi tetap saja rasanya seperti ada yang meletup-letup di sana.
"Kenapa nggak di lanjut?" Nisa sedikit kecewa, walaupun hanya sebuah ciuman tapi rasa ingin terus membuatnya serakah.
"Aaaaaa!" Nisa malu sendiri mengingat bagaimana terlihat dia sangat menginginkannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan segera naik ke atas tempat tidur, menutup tubuhnya dengan selimut,
"Mas Leon ternyata lebih polos dari yang aku kira!"
Lagi-lagi Nisa memikirkan bagaimana polosnya sang suami, dia kembali bangun.
"Kalau setiap kali akan menyentuhku dia kabur, trus bagaimana dong!?" entah kenapa tiba-tiba rasa khawatir menyelimuti pikirannya. Apalagi datang bulannya satu atau dua hari lagi juga sudah habis.
"Apa aku tanya mbak Anya aja ya!?" Anya adalah istri dari dokter Ardan, dokter Ardan sifatnya hampir sama dengan Leon kalau dokter Reza, Nisa sudah yakin kalau kakaknya itu pasti jago mendekati istrinya.
Nisa pun mengambil gawai yang tergeletak begitu saja di atas nakas dan mencari kontak nomor yang sedang ia cari.
Deringan pertama sudah langsung di angkat, mungkin di sana juga belum tidur. Kakak dan kakak iparnya dua orang yang sibuk, langka bagi mereka tidur lebih awal.
"Assalamualaikum, mbak Anya!"
"Waalaikum salam, Nisa! Ada apa malam-malam telpon? Nggak sedang terjadi apa-apa kan? Kalian baik-baik saja kak?"
"Iya mbak, Nisa sama mas Leon baik-baik aja di sini, besok juga udah pulang!"
"Cepet banget?"
"Kan ijinnya cuma tiga hari, lagian mas Leon juga tidak mau kalau suruh nambah bolosnya!"
"Sayang banget, padahal Pumpung di Bali, apalagi kamu lagi haid, pasti nggak bisa begituan!"
"Mbak!!!" walaupun protes memang seperti itu kenyataannya, mungkin walaupun tidak sedang datang bulan juga nggak akan begituan karena suaminya sangat polos.
Cukup lama Nisa terdiam membuat seseorang yang ada di seberang sana kembali bertanya,
"Kamu yakin nggak pa pa? Cerita dong sama mbak, siapa tahu mbak bisa bantu!"
"Sebenarnya_!" Nisa kembali ragu untuk mengatakannya, jari-jarinya terlihat memilih selimut yang menutupi kakinya, "Sebenarnya Nisa bingung kak!"
"Bingung kenapa?"
"Nisa dosa nggak ya cerita ini?"
"Kamu jangan tambah buat mbak bingung deh, mbak jadi tambah penasaran nanti, Leon nggak baik sama kamu? Dia suka mukul? Atau kasar sama kamu?"
__ADS_1
"Mbak, apaan sih, nggak gitu, mas Leon baik banget sama Nisa, bahkan sangat baik, tapi mas Leon terlalu polos!"
"Maksudnya?"
"Mas Leon setiap habis nyentuh aku langsung kabur mbak, cuma ciuman padahal!"
"Yang benar?" di seberang sana terdengar sedang tertawa sekarang.
Ahhhh, maaf mas Leon, kamu jadi bahan tertawaan deh gara-gara aku, Nisa jadi ngerasa bersalah.
"Ehhh maaf maaf!" sepertinya di seberang sana sadar jika saat ini Nisa sedang tidak enak hati, "Mbak bukannya mau tertawaan suami kamu, mbak cuma lagi ingat pas awal-awal aku dan mas Ardan nikah, juga kayak gitu!
Sebelum nikah dia ngebet banget pengen cepet-cepet nikah, eh pas udah nikah malah main kabur-kaburan!"
Sepertinya aku bicara sama orang yang tepat nih, baguslah, Nisa tersenyum lega. Ternyata dia punya pengalaman yang sama.
"Nis, kamu masih di situ kan?" tanya di seberang sana pas tidak ada jawaban lagi dari lawan bicaranya.
"Iya mbak, lanjutkan mbak, cara ngatasinnya bagaimana?"
"Ya kamu yang harus agresif!"
"Maksudnya?"
"Pakai baju tidur yang seksi, saat dia sedang bekerja atau santai nonton tv, duduk aja di sebelahnya, sedikit sentuhan di tangan atau apa bisa membuat seorang pria tergoda!
Eh tunggu-tunggu, emang kamu sudah selesai haidnya?"
"Belum mbak, kan lagi-lagi bikin persiapan!"
"Ohhh, aku kira udah selesai! Sayang banget padahal, momentnya nggak tepat banget sih bulan madu!"
"Ya kan ini hadiah dari pak Alex, mas Leon mana bisa nolak, lagi pula aku juga tetep suka!"
"Nisa mas!" sahut wanita yang sedang berbicara dengan Nisa itu.
"Kenapa malam-malam telpon, ada masalah?" tanya pria itu lagi.
"Mbak, jangan kasih tahu kak Ardan ya!" ucap Nisa pelan.
"Beres!"
"Aku tutup dulu ya mbak, mas Leon kayaknya juga akan kembali! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Nisa segera mengakhiri percakapannya saat salamnya sudah dijawab. Ia kembali meletakkan ponselnya dia atas nakas dan segera merebahkan tubuhnya kembali,
"Kayaknya saran mbak Anya patut di coba!"
...🍂🍂🍂...
Pagi ini Nisa dan Leon terlihat sudah siap, bukan untuk pulang karena mereka berencana pulang nanti sore. Mereka harus mencari oleh-oleh untuk keluarga di pusat perbelanjaan yang ada di Bali.
Mereka kali ini memakai jasa sopir karena Leon terlihat sedang sibuk mempersiapkan pekerjaan untuk esok hari menggunakan layar datarnya yang selalu di bawa ke mana-mana.
Dia sibuk sekali ...
Sesekali Nisa hanya melirik, sebenarnya kesal tapi mau bagaimana suami polosnya itu memang tidak tahu cara memanjakan wanita.
Awas aja kalau aku sudah beraksi, jangan harap bisa jauh-jauh dari aku, entah kenapa akhir-akhir Nisa malah yang sering berpikir mesum.
__ADS_1
Nisa tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Leon membuat pria itu menghentikan pekerjaannya.
"Kamu kenapa? Sakit ya?" Leon segera meletakkan punggung tangannya di kening Nisa yang tidak tertutup jilbab dan memastikan kalau istrinya tidak sedang sakit.
"Tidak, aku hanya ingin saja begini, boleh kan?"
Mendengarkan pertanyaan Nisa, Leon pun menepuk-nepuk pelan kepala istrinya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dasar tidak peka ....
Nisa hanya bisa mengeluh dalam hati, ingin rasanya bangkit dan mencium pipi putih bersih milik suaminya agar menatap ke arahnya tapi ada sopir, rasanya malu.
Nisa memejamkan matanya dari pada bosan, lebih baik ia tidur di sandaran ternyaman ya saat ini. Matahari begitu cerah hari ini, sinar matahari masuk melalui kaca mobil, tapi walaupun begitu Nisa tidak merasa silau sama sekali meskipun wajahnya menghadap ke kaca jendela mobil.
Perlahan Nisa membuka matanya dan dia langsung bisa melihat telapak tangan suaminya berada di atas wajahnya sedang menghalangi sinar matahari yang angin menyentuh wajahnya.
Aku salah kali ini ..., Nisa tersenyum dan kembali memejamkan matanya.
Cinta tidak hanya soal ciuman atau hal-hal romantis, tapi hal-hal sederhana yang kamu berikan sudah bisa menunjukkan seberapa besar cinta yang kau berikan untukku dan aku suka itu
"Bli, sudah sampai!" ucap sopir saat mobil sudah berhenti, Leon menoleh ke arah sang istri yang ternyata sedang tertidur pulas di bahunya.
"Tunggu sebentar, istri saya sedang tidur!"
"Baik bli, saya tinggal keluar dulu ya, saya mau ke ATM!"
"Silahkan!"
Setelah sopir itu pergi, Leon kembali memperhatikan istrinya yang tertidur pulas. Bukan berniat membangunkannya, Leon malah mengusap kepala Nisa agar Nisa merasa nyaman saat tidur.
Leon menatap wajah istrinya yang terlelap, kemudian tatapannya berhenti di bibir sang istri, entah dorongan dari mana hingga tangan Leon tertarik untuk menyentuh bibir tipis berwarna merah jambu dengan polesan lipstik tipis, ia kembali membayangkan bagaimana semalam bibirnya telah menyentuh bibir itu.
Aku tidak tahu sehebat ini rasanya ...., bibir Leon tersenyum dan perlahan mendekatkan kembali wajahnya pada Nisa, memberi kecupan pada bibir itu sebentar lalu kembali ke posisinya agar istrinya tidak terbangun.
Hingga hampir sepuluh menit barulah Nisa terbangun, bahkan sopir pun sudah kembali tapi sopir memilih untuk menunggu di luar mobil, sepertinya sopir sengaja membiarkan penumpangnya berdua saja.
"Mas, sudah sampai ya, kok nggak bangunin sih?"
"Kamu tidurnya pulas sekali!"
Nisa tersenyum lalu menatap suaminya, "Soalnya Nisa mimpi indah banget tadi!"
Apa dia tahu kalau aku sudah menciumnya diam-diam?
"Mimpi apa?" Leon terlihat begitu penasaran.
"Rahasia!" Nisa tersenyum manja, "Ayo mas turun, keburu siang nanti!"
Nisa turun lebih dulu dan di ikuti Leon di belakangnya. Sepanjang jalan Nisa terus tersenyum.
Walaupun tadi cuma mimpi, tapi rasanya begitu nyata. Mas Leon berinisiatif mencium aku , aku suka ....
...Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu. ~Ali bin Abi Thalib...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...