
Butuh waktu lebih lama untuk sampai di kampus, ia membutuhkan waktu hampir satu jam dari rumah nenek widya. Tidak ada yang istimewa di kampus, hari ini Bianka juga
tidak masuk, ingin menghubunginya tapi ponselnya rusak karena terkena air
hujan.
Setelah selesai dengan kuliahnya, Aisyah memilih untuk menuju ke suatu tempat. Gadis
cantik berjilbab abu-abu muda polos dengan kemeja polkadot kecil warna hitam
putih juga rok plisket warna putih itu berjalan di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Tujuannya adalah untuk mencari ponsel agar ia mudah berkomunikasi dengan siapapun termasuk ibunya.
Ia masuk ke salah satu toko yang menyediakan berbagai merk smartphone. Ia memilih
yang tidak terlalu malah, yang terpenting baginya bisa untuk berkomunikasi.
Walaupun ia membawa kartu dari Alex, tapi ia memilih mengeluarkan kartu
miliknya sendiri. Memeng tidak terlalu banyak tapi cukup untuk membeli smartphone baru.
Usai mendapatkan ponsel dan SIM card baru, Aisyah memilih menuju ke sebuah taman
yang berada di luar pusat perbelanjaan itu. Uangnya sudah menipis ia tidak
mungkin menggunakannya lagi untuk hal-hal lain. Ia harus menghubungi orang yang
ia kenal, untuk ia selalu mencadangkan nomor-nomor itu ke pancadangan on-line
dan langsung tersimpan saat ponselnya baru.
Orang yang pertama ia harus hubungi adalah ibunya, ia menanyakan bagaiman keadaan ibu
dan Nino. Ia cukup bersyukur karena ternyata Nino sudah lebih baik sekarang.
Perawatan untuk Nino juga tetap berlanjut.
Ia begitu malas untuk kembali ke rumah besar itu, ia masih begitu kesal dengan
pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Huuuuuft
Aisyah menghela nafas, ia meneguk air minumnya yang sengaja ia bawa dari rumah. Ia
berusaha beberapa kali menghubungi Bianka, tapi sahabatnya itu tetap saja tidak
bisa di hubungi.
“Ada apa sebenarnya dengan Bianka!” gumam Aisyah, ia melihat ke langit sudah mulai
menyemburkan rona jingga. Aisyah pun memutuskan untuk segera pulang saja, ia
belum berencana untuk kembali bekerja sebelum meminta ijin kepada nenek Widya.
Mau bagaimanapun saat ini ia tinggal di rumah nenek Widya, jadi ia harus menghormati
nenek widya sebagai tuan rumah.
__ADS_1
Aisyah kembali memesan taksi on line. Sore ini cukup macet jadi ia membutuhkan waktu
yang lebih lama lagi untuk sampai di rumah.
Setelah menyerahkan senilai uang, Aisyah bergegas masuk ke halaman rumah. Ia mendapati mobil Alex sudah terparkir di sana.
"Tidak biasanya ia pulang se sore ini!”
Aisyah pun segera masuk ke dalam rumah,
“Assalamualaikum!”
sapa-nya sambil memasuki rumah,
“Waalaikum salam!”
Langkah Aisyah terhenti ketika melihat nenek widya dan Alex sedang duduk di ruang
keluarga.
“Duduklah nak!” Aisyah hanya menurut, ia tidak tahu apa yang penting yang sedang mereka
bicarakan, terlihat sekali wajah mereka begitu tegang.
“Ini ada apa nek?” tanya Aisyah.
“Sore ini juga kita harus pergi ke jakarta!” ucap Alex dengan sangat arrogant nya.
“ke Jakarta?” Aisyah begitu terkejut dengan keputusan Alex, “Ada apa?”
"Apa tidak bisa menunggu besok pagi saja?”
“Maaf nek, tapi besok pagi Alex harus sudah meeting!”
"Ya sudah nenek ijinkan, tapi jangan lama-lama di sana. Biar nenek yang akan menjaga ibu dan adikmu!” ucap nenek widya pada Aisyah.
Sedangkan Aisyah masih terus terdiam, ia belum bisa mencerna situasi ini. Ia belum siap
melakukan apapun itu, tapi jelas tertulis dalam surat perjanjian itu ia akan mengikuti kemanapun suaminya itu pergi. Tapi ke Jakarta, itu terlalu jauh untuknya.
“Saya ke kamar dulu nek!” aisyah tidak tahu harus melakukan apa, ia memilih menuju ke
kamar, meletakkan tas ranselnya begitu saja dan duduk di atas tempat tidur
itu.
Ternyata Alex menyusulnya, “Kita berangkat jam lima, masih ada waktu satu setengah jam
lagi, jadi segeralah bersiap-siap!”
“Bisakah saya tidak ikut?”
“Apa kau melupakan surat perjanjian itu?”
‘Lalu kuliahku?”
“Aku sudah ke kampusmu dan meminta ijin untuk satu bulan ke depan?”
__ADS_1
“Satu bulan?” Aisyah begitu terkejut, akan sangat lama ia di sana, lalu apa yang akan
ia lakukan di sana, “Bagaimana dengan pekerjaanku?”
Sebenarnya bukan cuma itu yang menjadi permasalahannya saat ini, ia tidak mungkin meninggalkan ibu dan adiknya begitu lama.
“Aku sudah bilang pada bos mu jika kamu mengundurkan diri!”
“Hah …, aku harus bekerja!”
"Apa uang yang aku berikan padamu masih kurang, aku akan menambahnya lagi jika masih
kurang!”
“Tidak …, bukan itu!”
“Seingat ku jika semua keputusan suami adalah perintah untuk istri, iya kan?”
Kali ini Aisyah benar-benar tidak bisa
membantah lagi.
***
Aisyah dan Alex sudah berada di ruang tunggu Bandar udara juanda,- Surabaya. Menunggu
kedatangan pesawat yang akan mengantar mereka ke Jakarta.
Mereka hanya terus saling diam, aisyah masih begitu kesal dengan keputusan sepihak
yang di lakukan oleh alex. Alex selalu sibuk dengan ponselnya, entah apa yang
di lakukan pria itu dengan ponselnya.
Setelah menunggu sepuluh menit akhirnya mereka mendengar pengumuman dengan nomer pesawat dan rute penerbangan yang akan di tumpangi mereka.
Alex segera berdiri dari duduknya, tanpa menunggu Aisyah ia berjalan lebih dulu,
Aisyah yang belum pernah sekalipun naik pesawat hanya bisa berjalan di belakang
alex.
Alex masuk ke dalam antrian, menunggu petugas yang akan memeriksa boarding
tiketnya. Setelah petugas memeriksanya, mereka pun segera masuk ke dalam
pesawat.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘❤️❤️
__ADS_1