
Tiga hari kemudian
"Bagaimana dok sekarang?" tanya Raka pada dokter yang sudah di menjadi dokter kandungan bagi Asan, Raka sengaja mencari dokter perempuan dengan tag nama di meja ya dr. Ratna.
"Alhamdulillah perkembangannya cukup bagus!"
"Mengenai itu?" Raka bingung harus bertanya bagaimana dengan sang dokter, tapi sepertinya dokter langsung memahami keluh kesah dari suami-suami seperti Raka ini.
"Masih belum ya pak, tunggu satu Minggu lagi, saya sudah memberi obat penguat kandungan, insyaallah satu Minggu lagi boleh tapi_!"
"Tapi apa dok?"
"Tetap harus di kontrol ya, tidak boleh keseringan! Satu Minggu sekali sudah cukup, dan hindari posisi-posisi yang membahayakan bayi ya pak!"
Asna tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya sesekali mencubit pinggang suaminya karena merasa begitu malu. Ia benar-benar tidak menyangka jika suaminya bahkan akan menanyakan hal itu pada dokter kandungannya.
"Maaf ya dok!" Asna merasa tidak enak dengan dokternya.
"Tidak pa pa Bu, itu hal yang wajar!"
Setelah menyelesaikan pemeriksaannya, seperti biasa Raka meminta salah satu karyawannya untuk mengantar mereka.
"Mas memang nggak bisa bawa mobil?"
"Bisa!"
"Kenapa nggak bawa sendiri? kan kasihan Ridwan nya harus antar jemput terus!"
"Ya nanti mas usahakan bawa sendiri ya!"
"Asna nggak maksa mas, cuma tanya tadi!"
"Sudah yuk, kasihan Ridwan nya!"
Walaupun sudah boleh berjalan sendiri, tapi tetap saja Raka tidak mengijinkan Asna berjalan terlalu jauh, ia membawa kursi roda untuk sang istri.
"Kita langsung ke rumah dulu ya Wan!"
"Iya mas!"
Mobil pun melaju menuju ke rumah mereka, sesampai di rumah Raka meminta Ridwan untuk pergi lebih dulu,
"Nanti aku nyusul pakek motor!"
"Iya mas, kalau begitu saya duluan ya, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Setelah mengantar Ridwan ke depan, Raka pun kembali menghampiri sang istri di kamarnya.
Asna sudah duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang diselonjorkan.
__ADS_1
"Mas nggak bareng Ridwan sekalian?"
"Mas nunggu mbak Rumi dulu datang! Sebelum mas pergi, kamu butuh sesuatu?"
"Ada sih, sebenarnya Asna pengen makan mie, tapi mas Raka pasti larang Asna buat makan!"
"Ya udah kalau dikit aja boleh deh, mas buatin dulu ya!" Raka pun segera meninggalkan kamar dan menuju ke dapur, ia dengan cekatan membuat mie instan.
Hanya butuh waktu sepuluh menit mie pun sudah jadi,
"Dek kamu kok jalan sendiri sih?"
"Asna bosan di kamar terus, Asna mau sambil nonton tv aja!"
Raka pun segera menyusul Asna yang sudah duduk di sofa depan tv,
"Lain kali panggil mas ya, jangan jalan-jalan sendiri!"
"Iya mas!"
"Biar mas suami, nanti sekalian sebagiannya mas yang makan!"
"Kok gitu, nanti Asna nggak kenyang!"
"Biar kenyang kan mas udah bawain buah satu baskom!"
Selain membawa semangkuk mie, Raka juga sudah menyiapkan potongan berbagai macam buah di dalam mangkuk besar.
"Adil sayang, sudah mau makan atau mau debat aja trus mas yang habisin?!"
Asna pun segera membuka mulutnya dan Raka siap untuk menyuapkan ke mulutnya, setelah sedikit hangat.
Benar saja, Asna hanya memakan sedikit mie itu sedangkan selebihnya yang makan Raka.
"Sekarang biar kenyang, makan ini biar anak kita sehat ya!"
Raka kembali menyuapkan potongan kecil-kecil buah itu, tapi tiba-tiba Raka gagal fokus saat melihat bibir Asna yang sedang mengunyah buah-buah itu, bibir Asna terlihat begitu seksi dengan sedikit berair dari buah yang ia kunyah.
Raka hanya bisa menelan Saliva nya begitu teringat dengan ucapan dokter, sudah satu Minggu lebih ia puasa hal itu cukup membuatnya tersiksa.
Seandainya saja boleh, sudah pasti aku akan melahap habis bibirnya ...
"Mas, lihatin Asna gitu banget sih?"
"Ahhh, tidak!" Raka segera mengalihkan tatapannya dan kembali menyuapkan potongan buah itu ke mulut Asna.
"Kalau mau cium boleh kok mas!" ucapan Asna yang tiba-tiba berhasil membuat semangat Raka kembali seperti mendapat asupan nutrisi seratus persen.
"Benarkah?"
"Semangat sekali!?"
__ADS_1
"Ayolah, jangan becanda! Kamu tahu, dia sudah minta di kandangin!"
"Kalau itu jangan dulu deh mas, tapi kalau sekedar ciuman boleh kok!" Asna yang memang basic nya orang kesehatan. Ia sedikit banyak tahu apa yang bisa di lakukan dan tidak bisa di lakukan dalam keadaan seperti yang ia alami saat ini.
Raka yang mendapatkan lampu hijau segera meletakkan mangkuknya dan mendekatkan tubuhnya pada Asna. Ia segera menarik tengkuk sang istri dan ******* dengan rakus bibir sang istri.
Asna yang memang begitu merindukan suaminya membalas ciuman sang suami, mereka sedang sama-sama saling merindukan.
Ciuman mereka semakin panas saja hingga kini tangan Raka tidak bisa di kontrol lagi, ia bahkan mengungkap baju atasan Asna dan mengabsen setiap jengkal tubuh sang istri, ia benar-benar merindukan aroma tubuh istrinya yang begitu menenangkan.
"Assalamualaikum!" hingga suara itu membuat mereka gelagapan, Raka dengan cepat merapikan kembali baju Asna dan jilbabnya juga. Itu suara mbak Rumi, dia punya kunci rumah mereka jadi besar kemungkinan mbak Rumi langsung masuk.
"Wa_ alaikum salam!"
Beruntung saat mbak Rumi sampai di ruang keluarga Asna sudah dalam keadaan rapi kembali,
"Eh mbak Rumi, ya udah karena mbak Rumi udah datang, mas mandi dulu ya!" Raka pun bergegas menuju ke kamar mandi yang ada di kamar mereka, sebenarnya bukan hanya untuk mandi tapi untuk menuntaskan hasratnya yang tertunda. Ia segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Setelah menyelesaikan aktifitasnya, Raka segera berganti baju dan berpamitan pada Asna dan mbak Rumi untuk berangkat. Kemungkinan akan pulang lebih malam, ia meminta mbak Rumi untuk menjaga Asna sampai ia kembali.
...****...
Walaupun sibuk, tapi Raka selalu menyempatkan pulang saat siang hari hanya untuk melihat keadaan sang istri lalu berangkat lagi.
Satu Minggu sudah akhirnya Raka bisa buka puasa juga, walaupun begitu ia tidak bisa sembarangan. Ia bahkan beratnya pada saudara kembarnya bagaimana dulu saat Nisa sedang hamil muda, bagaimana agar aman saat melakukannya.
Tentu hal itu menjadi bahan ledekan Leon, karena ia selalu merasa kalah dengan saudara kembarnya itu yang selalu berhasil meledeknya lebih dulu dan kini ia memiliki kesempatan untuk membalasnya.
"Makanya kalau berjajar jangan dari buku aja, belajar sama yang lebih berpengalaman! Aku anak kembar tapi aman-aman aja!"
"Awas aja ya kalau dekat, udah aku jitak tuh kepala!"
"Jadi pengen tahu kiat-kiatnya nggak?"
"Jangan jual mahal ya!"
"Terserah dong, kan kamu yang butuh!"
"Nggak jadi lupakan! Assalamualaikum!" tanpa menunggu jawaban dari Leon, Raka sudah lebih dulu menutup telponnya.
"Dia benar-benar sengaja membalas nih, awas aja kalau aku ada kesempatan!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1