
Sepanjang perjalanan, tangan Leon sebelah kiri terus menggenggam tangan sang istri.
Sebuah kecupan di punggung tangan Nisa, memulainya untuk kembali bertanya,
"Selama ini, kalau begini kamu bagaimana caranya?" Nisa mengerutkan keningnya, begini? yang di maksud oleh sang suami itu yang tidak ia mengerti.
"Begini apanya?"
"Ya kalau pengen sesuatu, kan kamu selalu menolak kalau aku tanya pengen apa!"
Nisa barulah tersenyum mengerti maksud pertanyaan sang suami, "Ohhhh itu, ya seperti tadi mas! aku akan liatin orang makan atau melakukan sesuatu yang aku pengen!"
"Kasihan sekali istriku, maafkan aku ya!" Leon kembali mengusap kepala Nisa.
"Mas, kadang kalau kayak gini aku masih suka canggung!" ucap Nisa sambil melepaskan tangan Leon yang berada di atas kepalanya membuat Leon mengerutkan keningnya, "Ini wajah orang lain mas, bukan wajah suami aku!"
"Maaf ya, semua akan segera berakhir! Kamu yang sabar ya, oh iya tidurlah dulu, nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkanmu!"
Nisa memang sudah terlihat begitu mengantuk, tapi sepertinya rasa inginnya membuatnya tidak berniat untuk segera tidur.
Leon segera menghentikan mobilnya saat sudah menepi, lalu mengatur kursi Nisa agar lebih nyaman untuk tidur, ia juga melepas jaketnya dan menutupkannya ke tubuh sang istri agar lebih nyaman.
Setelah memastikan Nisa nyaman dalam tidurnya, Leon kembali melajukan mobilnya. Malam semakin larut, mobil yang melintas pun tidak terlalu banyak.
Hingga jam sebelas tepat, mereka sampai juga di depan rumah oma Widya, rumah itu dulu di jaga bi Merry, tapi beberapa bulan ini bi merry tidak kembali jadi rumah itu hanya di jaga oleh anak buah Alex yang lainnya.
Lon menghentikan mobilnya tepat di depa pintu gerbang, ia keluar perlahan agar tidak membangunkan Nisa yang baru saja tertidur.
Benar apa yang di katakan sopir di rumahnya mereka tidak mengenalinya.
"Saya saudara kembar Leon, saya ke sini mau mengantar istri Leon, dia sedang ngidam makan kedondong dari pohonnya langsung, kata orang di rumah Leon di kebun yang ada di sini ada pohon kedondongnya!"
Pria yang menjaga gerbang itu tidak percaya begitu saja, ia menengok ke arah mobil dan benar di dalam mobil itu ada wanita yang sedang hamil.
"Baiklah silahkan masuk!"
"Bisakah jaga dia sebentar, saya ingin memastikan kalau benar-benar ada, kasihan kalau dia di bangunkan!"
"Baiklah silahkan!"
Leon pun akhirnya masuk di temani oleh salah satu dari mereka, dan yang satunya menjaga Nisa yang sedang tidur di dalam mobil.
Mereka pergi ke kebun belakang, karena gelap Leon pun mengambil ponselnya dan menggunakan senter dalam ponselnya untuk penerangan.
Begitu banyak pohon buah di sana, mulai dari sawo, mangga, rambutan, belimbing, jambu, buah naga, pisang, hingga di tengah-tengah kebun ia bisa menemukan pohon yang ia cari.
"Hanya ini mas?" tanya Leon saat melihat pohon kedondong yang terlihat tanpa daun dan buah itu.
"Iya mas, soalnya kemarin baru di potong jadi belum tumbuh lagi daunnya! Tapi kalau mau di dalam ada buahnya, sebelum di potong kemarin di panen dulu buahnya!"
Leon hanya bisa diam menatap pohon kedondong yang seakan tidak ada tanda kehidupannya itu,
"Dia maunya yang petik langsung dari pohonnya!"
"Sebenarnya ada lagi sih mas!" pria yang mengantarnya tampak ragu untuk mengatakannya, sepertinya dia tidak yakin dengan penampilan Leon yang tampak begitu alim.
"Di mana mas?"
"Di rumahnya tuan Alex, tapi orangnya galak, nggak sembarangan orang bisa masuk rumah itu!"
"Yakin mas, di sana ada?"
"Iya mas!"
Leon pun segera berlari meninggalkan pria itu, ia segera menghampiri mobilnya dan mendapati Nisa masih terlelap tidur di dalam mobil.
"Terimakasih ya mas sudah jaga istri saya!" ucapnya lagi dan segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan kebingungan penjaga gerbang rumah besar itu.
__ADS_1
Hingga mobil melaju pun pria itu masih terbengong, saat temannya yang di tinggalkan Leon di kebun sudah kembali pria itu masih penasaran dengan apa yang ia dengar tadi.
"Kenapa bengong? Kesambet ya?"
"Kamu yakin nggak yang di dalam mobil tadi istrinya mas Leon?"
"Ya yakin lah, wong aku pernah lihat dia di rumah tuan Alex! Ada apa memangnya?"
"pria itu tadi mengatakan kalau yang di dalam istrinya!"
"Salah nyebut mungkin dia!"
"Masak sih, aku kok jadi curiga!"
"Udah jangan kebanyakan mikir!"
Saat mereka sedang berdebat, Nisa yang baru saja bangun di buat terkejut karena saat ini mereka sedang berada di depan rumah Alex,
"Mas, kenapa kita di sini? Tadi katanya ke rumah almarhum oma Widya?"
Leon tersenyum menanggapi kebingungan Nisa, ia memilih membetulkan tempat duduk Nisa agar lebih nyaman untuk duduk,
"Tadi sudah sampai di sana, tapi ternyata pohonnya sudah terlanjur di tebang, kalau buahnya ada di dapur, tapi di pohon nggak ada!"
"Seharusnya kita pulang aja mas, kan mas leon juga pasti capek banget!" Nisa kemudian melihat jam yang ada di mobil, "Sudah jam dua belas mas, pak Alex sama mbak aisyah juga pasti sudah tidur!"
"Tidak pa pa, mereka pasti tidak akan keberatan! lagi pula mbak Aisyah juga pernah hamil dia pasti lebih memahami!"
"Tapi mas_!"
"Tidak pa pa ayo turun!" Leon pun segera membuka pintu mobilnya turn dan berlari memutari mobil, dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Nisa.
"Aku turun sendiri aja mas, nanti ada yang curiga!" ucapnya saat tangan leon sudah terulur, hal itu membuat Leon otomatis mundur dan memberi jalan untuk Nisa agar turun.
Leon segera menuju ke penjaga, sebagian dari mereka sudah mengenal gus Raka, jadi tidak sulit baginya untuk masuk ke rumah itu, ia mengatakan hal yang sama pada penjaga rumah itu.
Mereka langsung di tunjukkan pada pohon kedondong yang masih sangat pendek dan di tanam di dalam pot besar walaupun tidak tinggi untungnya pohon itu berbuah lebat.
Senyum sumringah langsung di tunjukkan oleh Nisa,
"Ini nggak pa pa mas, aku langsung metik saja?"
"Insyaallah mereka tidak akan keberatan, besok aku akan mengatakannya pada mas Alex!"
"Jika kalian ragu tuan Alex masih belum tidur, beliau masih di ruang kerjanya!" ucap seseorang yang mengantarnya menuju ke pohon itu.
Nisa pun menatap suaminya, ia jelas ragu akan kehalalan makanan yang masuk ke dalam perutnya, apalagi ada anak yang berada di dalam kandungannya.
"Baiklah, aku akan bertanya dulu sama mas Alex! Kamu_!"
"Aku di sini saja!"
"Baiklah, jangan ke mana-mana!"
Setelah Nisa memberikan anggukan, Leon pun segera berjalan menuju ke ruang kerja Alex. tampak dari luar walaupun jendelanya tertutup tirai, tapi masih terlihat jika lampunya menyala.
leon pun segera mengetuk pintu dan tidak berapa lama pintu terbuka,
"Kamu?" Alex begitu terkejut mendapati leon berada di rumah di jam malam seperti ini, Alex pun melihat ke dinding yang tergantung jam dinding besar di sana dan benar sudah jam dua belas lebih. "Apa ada masalah?"
"Tidak mas, sebenarnya Nisa sedang ngidam ....!" Leon pun menceritakan semuanya pada Alex.
"Ohh jadi ceritanya begitu, baiklah kalian boleh memetiknya!"
"Terimakasih mas!"
Akhirnya Alex pun ikut ke kebun belakang, di sana sudah ada Nisa yang menunggu mereka. Melihat Leon datang bersama Alex, pria yang menemani mereka pun segera pergi.
__ADS_1
"Pak Alex, Nisa minta maaf ya,, sudah mengganggu istirahat pak Alex!"
"Tidak, kebetulan saya belum tidur, ya sudah silahkan petik sebanyak kamu mau!"
"Terimakasih pak!"
Seelah mengucap basmallah, Nisa pun segera memetik buah kedondong segar, tampak masih hijau tapi memang itu yang dia suka. Saat Nisa hampir menggigitnya, Leon segera mencegah dengan tangannya.
"Ada apa mas?" tanya Nisa sambil memberi isyarat kalau di sana ada Alex, Leon yang baru sadar jika di sana ada Alex, ia pun segera melepas tangan Nisa.
"Itu maksudku, di cuci dulu. Itu pasti masih kotor dan berdebu!"
"Iya Nisa, cucilah dulu!" Alex ikut memberikan pendapatnya.
"Biar aku cuci, sini kan!" pintu leon dan Nisa dengan pasrah memetik beberapa buah dan memberikannya pada Leon.
Leon pun segera membawanya ke dapur, ia seolah seperti berada di rumahnya sendiri saking hafalnya tempat itu.
"Sambil nunggu Raka kembali, duduklah dulu di dalam, di sini sangat dingin!"
"Tidak pa pa, pak! Sungguh!"
"Ini perintah, setelah ini saya juga ada perlu sama dia,, tadi siang kami tidak sempat bicara!"
Karena Alex memaksa, Nisa pun akhirnya bersedia untuk masuk. Tepat saat dia masuk, terlihat Aisyah baru saja keluar dari kamar anak-anaknya dan hendak ke dapur, ia cukup terkejut karena Nisa malam-malam di rumahnya.
"Nisa?"
Nisa dan Alex sama-sama menatap ke arah Aisyah yang berjalan cepat menuruni tangga. Melihat apa yang di lakukan istrinya, alex pun segera berjalan menghampiri sang istri dan mejaganya agar tidak sampai jatuh,
"jangan cepat-cepat!"
"Aku tidak pa pa mas!"
Aisyah pun segera memeluk Nisa, dan memastikan jika wanita yang sedang hamil besar itu baik-baik saja,
"Kamu baik-baik saja kan?"
"Baik mbak, Nisa sungguh tidak pa pa!"
"Lalu malam-malam_!" belum sampai Aisyah menyelesaikan ucapannya ia sudah bisa melihat Leon yang menyamar sebagai Gus Raka sedang berjalan ke arah mereka.
Leon bahkan sudah mengupaskannya sekalian dan beberapa sudah ia potong dan di letakkan di piring. Karena Leon tidak pernah melakukan hal itu, walaupun tidak rapi tapi sudah lumayan terpotong.
"Sebenarnya Nisa tadi ngidam pengen makan buah kedondong dari pohonnya langsung!"
"Ya Allah, aku sudah begitu khawatir tadi!" Aisyah mengelus dadanya merasa lega.
"Nisa, kamu sama Aisyah dulu nggak pa pa kan? Aku mau pinjam Raka nya bentar!"
"Iya pak!"
"Oh iya sayang minta bibi buat nyiapin kamar untuk mereka! aku tidak akan membiarkan mereka pulang malam-malam seperti ini!"
"Baik mas!"
Leon tahu dia tidak akan pernah bisa membantah ucapan Alex, ia hanya bisa pasrah dan mengikuti Alex di belakangnya. Mereka kembali menuju ke ruang kerja.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1