Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (PoV Nisa 5)


__ADS_3

Hal polos yang di lontarkan di rumah makan oleh mas Leon berhasil membuat mama dan papa tertawa. Sepanjang makan, tatapan mama terus menggodaku.


Hingga selesai makan pun mama tidak berhenti menggodaku bahkan mama melarang mas Leon untuk menemani papa nonton bola, bohongnya mama benar-benar tidak di kondisikan, jelas-jelas mas Leon tahu jadwal permainan bola tapi mama tetap mengatakan tidak ada.


Untunglah mas Leon percaya saja, entahlah itu percaya atau menghormati keputusan mama.


Aku tetap melanjutkan pekerjaanku di dapur,s sebenarnya sambil mengulur waktu agar tidak cepat-cepat ke kamar. Mama mengekoriku di dapur selepas mas Leon meninggalkan kami.


"Suami kamu lucu banget sih, mama jadi gemes! Andai papa kamu dulu gitu pasti udah mama terkam!" mama senyum-senyum sendiri dan hanya mendapatkan tatapan sebal dariku.


"Kamu harus pinter-pinter Nisa, mama punya ramuan buat malam pertama!"


Kali ini aku tidak setuju dengan keinginan mama, mama selalu saja membuatku tidak habis pikir. Kali ini aku menghentikan pekerjaanku dan menoleh menatap mama.


"Ma, nggak ada ya kayak gitu! Mama lihat sendiri kan kalau mas Leon polos banget, jangan buat Nisa malu deh ma!" protesku.


"Justru karena suami kamu sangat polos makanya ibu nyuruh kamu buatin jamu kuat buat suami kamu, papa kamu aja nggak pernah nolak kalau mama bikinin!"


"Ma_!" protesku tapi mama tetap saja tidak mengindahkan, tangannya begitu cekatan mengambil bungkusan dari lemari dapur dan mengambil gelas, menyedu ramuan dalam bungkusan itu dengan air panas,


"Ini, kasih sama suami kamu, awas ya kalau tidak maka sendiri nanti yang ke kamar kamu buat ngasih ini ke suami kamu, suami kamu tidak akan nolak."


"Ma!"


"Mama nggak mau tahu, mama temenin papa kamu dulu, bawa ke kamar kamu!"


"Iya ma, Nisa swlwaiqkan pekerjaan Nisa dulu!" aku mencoba mengulur waktu agar mama meninggalkan aku.


Setelah mencuci tangan mama pun menyusul papa yang menonton bola di ruang keluarga, dan masalahnya saat akan ke kamar kami melewati ruang keluarga, jika aku tidak membawanya mama pasti akan menyusukku ke kamar.


Aku mondar-mandir di dapur cukup lama agar aku bisa terhindar dari minnuman berwarna coklat itu.


Coklat?


Mengingat coklat, tiba-tiba aku teringat dengan sesuatu, segera ku ambil bubuk coklat yang ada di lemari dan ku buat coklat panas dengan gelas yang sama persis seperti ramuan yang di buatkan oleh mama.


"Benar-benar sama!"


Sebelum aku membawa coklat panas itu ke atas, aku pun mengambil tutup yang sama, agar nanti saat aku lewat di depan mama, aromanya tidak tercium oleh mama.


Aku pun mencuci tangan sebentar dan mengambil air putih agar nanti tidak perlu turun lagi, ku letakka. air putih di atas nampan dan ku ambil salah satu dari gelas yang berjejer di atas meja dapur, sedikit ragu tapi kayaknya aku benar mengambilnya.


Ku lewati mama dengan sengaja menunjukkan nampan yang aku bawa, sepertinya mama percaya karena dia tersenyum padaku.


Aku pun segera menaiki tangga, pintunya tidak tertutup sempurna sehingga aku dapat dengan mudah mendorong dengan kakiku, ku lihat mas Leon sedang duduk di sofa sambil memainkan gawainya, aku tahu dia tidak sedang bermain media sosial sepertiku saat memegang hp, dia pasti sedang bekerja, dia benar-benar gila bekerja.


"Mas, aku bawakan coklat panas untukmu!" ucapku sambil meletakkannya di meja kecil yang ada di samping sofa tempatnya duduk, ahhh melihat sofa ini aku jadi ingin menggantinya, pasti mas Leon sangat tidak nyaman dengan warna merah jambu.


Di rumahnya saja tidak ada warna lain selain abu-abu, hitam dan putih.


"Duduklah!"


Mas Leon memintaku untuk duduk di sampingnya duduk, di tempat yang kosong. Aku tersenyum, senang rasanya bisa duduk bersebalahan dengan mas Leon. Begini ternyata rasanya pacaran setelah menikah.


Aku sudah duduk di sampingnya, tapi aku tidak menyadari sejak kapan wajahnya begitu dekat dengan kepalaku,


"Samponya mahal ya?" tanyanya, membuat aku mengerutkan keningku tidak mengerti, aku memakai sampo yang sama, bahkan harganya satu botol tidak sampai dua puluh ribu.


Sepertinya mas Leon mengerti maksud tatapanku,


"Aromanya wangi sekali, aku suka!"


Blush


Pasti wajahku sekarang sudah seperti tomat, merah merona. Bibir ini tentu tidak mampu aku tahan agar tidak tersenyum.


Ahhhh gampang sekali hati ini terprovokasi ...


"Sebenarnya rambut Nisa masih basah!" aku mencoba mencari alasan agar tidak terlalu terlihat tersipu, "tidak pa pa ya kalau aku lepas sekarang?" tanyaku kemudian.

__ADS_1


Tapi malah sebuah pertanyaan untuk menjawab pertanyaanku,


"Aku suamimu kan?"


Aku pun mengganggukkan kepalaku atas pertanyaannya.


"Berarti aku boleh dong melihat rambutmu?"


Lagi-lagi aku hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum,


"Lebih dari itu mas!" ucapku kemudian. Berani sekali aku, ah mas bodoh lah lagi pula juga sudah halal, pikirku.


"Boleh aku bantu membukanya?" tanya mas Leon lagi dan mampu membuatku tersenyum,


Mas Leon terlihat meletakkan benda pipihnya di samping gelas yang berisi coklat yang masih mengepulkan asapnya walaupun tidak sebanyak tadi.


Mas Leon mengarahkan tangannya ke bawah daguku dan melepas peniti yang mengaitkan jilbab segi empat milikku hingga jilbab yang menutupi kepalaku terlepas.


Kini rambutku yang terurai sedikit berantakan tidak tertutup lagi, tiba-tiba tangan mas Leon terulur kembali dan mengusap rambutku yang berantakan, menyelipkannya di balik daun telingaku.


"Kamu cantik!" lagi-lagi pernyataan lugas dari mas Leon selalu berhasil membuat hatiku berbunga-bunga.


Apalagi matanya terus menatap ke arahku membuatku salah tingkah di buatnya.


"Mas Leon sengaja menggoda ya?"


"Tidak, aku sungguh serius!" ucapnya sambil mengusap daguku, entah apa yang sedang dia pikirkan saat menatap wajahku hingga membuatnya tiba-tiba grogi dan berbalik mengambil coklat panas yang masih panas tentunya.


"Hah hah hah ....!"


Terlihat sekali mas Leon kepanasan, aku begitu panik hingga aku berdiri dan mengambil air putih yang tadi sudah aku ambil dari dapur dan menyerahkan pada mas Leon.


"Ini mas minumlah!" mas Leon segera menarik gelas yang ada di tanganku dan meneguknya hingga habis.


"Ceroboh sekali sih mas, sudah tahu panas masih di minum, tunggu dingin dulu!" keluhku tapi sungguh jawaban mas Leon malah membuatku salah tingkah kembali.


"Kamu yang membuat seorang pria teliti menjadi ceroboh!" ucapnya sambil mengipasi lidahnya.


"Bagaimana?"


"Siniin!"


Cup


Entah dapat keberanian dari mana hingga aku mengecup lidah mas Leon yang terjulur ke luar. Rasanya malu sendiri memikirkan hal yang baru saja terjadi.


"Sembuh kan sekarang?" tanyaku seolah-olah aku tidak sedang menahan dadaku yang begitu ingin meloncat-loncat.


Bukannya menjawab pertanyaanku, mas Leon malah menarik tubuhku hingga kini aku berada di bawahnya di atas sofa yang sama.


"Kamu yang menggodaku, jadi tanggung akibatnya!" bisiknya membuat bulu kudukku berdiri tapi aku harus melakukannya malam ini juga, entah dapat keberanian dari mana hingga aku menimpali ucapannya.


"Siapa takut!" aku sebenarnya begitu tegang tapi aku tidak mau membuat mas Leon kembali salah faham dengan menganggapku belum siap melakukannya.


"Mas, Nisa sudah siap!" ucapku dengan pasti, "Mas aku punya kejutan untuk mas Leon."


"Apa?"


Aku pun segera berdiri saat mas Leon berpindah dari atas tubuhku.


"Tunggu aku di tempat tidur ya mas!" aku malam ini benar-benar ingin jadi penggoda suamiku.


"Baiklah!" aku pun segera mengambil sesuatu baju yang sempat aku beli kemarin atas arahan kak Anya, semoga ini berhasil.


Aku segera menuju ke kamar mandi dan mengganti pakaianku dengan sebuah lingerie berwarna merah maroon. Aku melihat pantulan diriku sendiri di dalam cermin menjadi begitu malu.


"Yakin aku akan memakainya?" aku bertanya pada diriku sendiri, tapi lagi-lagi aku berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri semua akan baik-baik saja.


Aku pun memutuskan untuk keluar, tapi belum berani membukanya, aku mengenakan handuk mandi untuk menutupi kain transparan yang membungkus tubuhku.

__ADS_1


Ku lihat mas Leon masih duduk di tempatnya sambil memegang gelas yang sudah tinggal setengah isinya, dia tersenyum menatapku dengan tatapan yang berbeda, wajahnya terlihat memerah.


"Ada apa mas?" tanyaku heran.


"Tidak pa pa, apa kejutannya?"


"Aku tidak yakin untuk menunjukkannya mas!"


"Kenapa?"


"Ya tidak yakin aja!"


"Sayang sekali, oh iya ini coklat panasnya kenapa rasanya berbeda ya, tubuhku tiba-tiba terasa panas?"


Pertanyaan mas Leon mengingatkanku pada sesuatu, aku pun segera mendekat dan mengambil gelas yang isinya tinggal setengah itu dan ku cium aroma minuman itu.


"Ya Allah, aku salah ambil mas!" mas Leon terlihat bingung dengan ucapanku.


"Maksudnya!"


Ahhh, aku harus mengatakan apa sekarang. Aku menunduk dan memilih tali pengikat baju handuk yang aku kenakan.


"Sebenarnya tadi mama memberiku ramuan kuat, tapi aku mengelabuhi mama dengan membuatkan coklat hangat untuk mas Leon biar mama tidak curiga, tapi aku malah salah ambil!"


Belum juga selesai aku bicara, tangan mas Leon sudah mulai beraksi, bibirnya juga sudah ia susupkan ke ceruk leherku membuatku merinding.


"Massss!" entah dapat suara dari mana hingga aku mengeluarkan suara yang, ahhh tahu sendiri bagaimana sekarang.


Tiba-tiba tali yang mengikat baju mandiku terlepas dan menunjukkan lingerie warna merahku.


"Jadi ini kejutannya, aku suka!" mas Leon sepertinya sudah terpengaruh obat.


"Masss, jangan begitu mas!"


"Bantu aku, rasanya tubuhku benar-benar panas sekarang!"


Aku pun akhirnya pasrah, sebenarnya ingin melakukan ini atas dasar kerelaaan tapi melihat mas Leon begitu tersiksa sungguh ku tidak tega. Mas Leon sudah mengangkat tubuhku dan membawa ke tempat tidur. Ia mematikan lampu utama dan Mengantinya dengan Taram lampu tidur, di suasana yang syahdu ini kami habiskan malam yang panjang berdua dengan penuh ke hangatan, walaupun dalam pengaruh ramuan, tapi tetap saja mas Leon memperlakukan aku dengan begitu lembut, terlihat sekali jika dia tidak mau menyakitiku.


Entah berapa jam hingga kami tertidur bermandikan keringat dan saling berpelukan.


Jam tiga pagi ku lihat mas Leon mulai bangun dari tidurnya, sepertinya ia enggan membangunkan ku. Ia meninggalkanku dan menuju ke kamar mandi, ku dengar dia sedang mandi.


Hingga beberapa menit mas leon keluar dari kamar mandi, aku hanya meliriknya dari tempat tidur tanpa berkeinginan untuk bangun. Tubuhku rasanya sepeti Barus aja bergulat dengan puluhan penggulat, sakit semua apalagi bagian pangkal pahaku.


Mas Leon sepertinya Tidka berniat untuk menyalakan lampu walaupun terlihat sekali dia kesulitan untuk mencari baju gantinya.


Setelah menemukannya, dia pun segera memakai dan melaksanakan sholat malam masih dengan di terangi lampu tidur saja.


Aku kembali tertidur karena masih sangat mengantuk hingga tepukan halus mendarat di pipiku,


"Nisa_, sudah subuh, bangun yuk!"


Aku pun perlahan membuka mataku menyesuaikan dengan cahaya kamar yang sekarang sudah menyala lampu utamanya,


"Mas!"


"Aku mau ke masjid dulu, kamu bangun gih trus mandi! Nanti keburu habis shubuhnya!"


"Iya mas!"


"Aku berangkat dulu ya!"


Aku hanya menganggukkan kepalaku dan mas Leon mengecup keningku sebelum pergi meninggalkan kamar.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2