Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Pria dingin itu


__ADS_3

Siang ini Aisyah sepulang dari rumah sakit segera mengajak Nino masuk ke dalan rumah,


Nino begitu lemah karena pengaruh cuci darah. Aisyah meninggalkan gus Fahmi di


depan.setelah memastikan Nino istirahat, Aisyah kembali ke luar menghampiri gus


Fahmi, bu Santi sudah kembali masuk.


“terimakasih yang gus, untuk hari ini!” ucap Aisyah setelah meletakkan segelas teh dingin di atas meja, “Minumlah!”


“Maaf saya puasa!”


“maaf, saya tidak tahu!” Aisyah segera mengambilnya kembali dan meletakkannya di dalam dan segera kembali menghampiri gus Fahmi, Aisyah sampai lupa kalau hari ini


hari kamis.


“Kalau begitu saya pulang dulu ya, salam buat ibu!” ucap Gus fahmi yang sudah berdiri.


“sekali lagi terimakasih untuk hari ini, sampaikan salam ku juga untuk Bu Nyai dan pak Kyai ya, maaf hari ini nggak bisa belajar di pesantren!”


“Iya, pasti akan aku sampaikan!” lagi-lagi gus fahmi tersenyum, “Assalamualaikum!”


“Waalaikumsalam!”


Gus Fahmi berlalu dari hadapan Aisyah, Aisyah hanya bisa menatap punggung pria


itu, ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka.


Gus Fahmi kembali menghentikan langkahnya tepat sebelum membuka pintu mobil.


“Ais!”


“Ya?”


“Jika kamu sudah yakin, lusa aku akan datang bersama Abi!”


Aisyah terpaku, hatinya menghangat. Senyum Aisyah mengembang, ia tidak mampu


menolaknya lagi, Allah yang akan menjaganya dan keluarganya dengan rahmat yang


selalu Dia berikan.


“saya yakin!” ucap Aisyah lembut dengan senyum malunya. Gus Fahmi tersenyum senang mendengarkan ucapan Aisyah.


“Sampai jumpa lusa, assalamualaikum!”


“Waalaikum salam!”


Gus Fahmi dengan wajah sumringahnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah


Aisyah. aisyah terus memperhatikan mobil itu hingga menghilang di makan jarak.


Senyum juga tidak bisa memudar dari bibir Aisyah, seperti ada kupu-kupu yang


sedang menarik di sekelilingnya hingga membuatnya hampir lupa jika ia harus


segera ke mini market.


Aisyah pun segera masuk ke dalam rumah dan menganti bajunya, ia sedang haid jadi hari


ini ia tidak puasa sunnah, biasanya ia juga tidak pernah meninggalkan puasa


sunah.


“Bu..., Aisyah berangkat dulu ya!”


“Iya…, hati-hati ya, jangan terlalu malam pulangnya!”


“Iya! Assalamualaikum!”


“Waalaikum salam!”


Aisyah menutup kembali rumahnya, walaupun ibu dan adiknya di dalam, ia tidak pernah


membiarkan rumah itu terbuka, karena setelah ini ibunya pasti juga tidur.


Aisyah pun  melangkahkan kakinya dengan begitu ringan, ia sesekali menyapukan kakinya ke udara dengan senyum yang tak pernah


pudar. Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat ada sebuah mobil yang terparkir


di depan rumah Nadin.


“Mbak Nadin kan sedang tidak di rumah, trus itu mobil siapa?”


Tak jauh dari mobil itu ia bisa melihat ada seorang pria dengan wajah dingin sedang

__ADS_1


mengawasi rumah itu.


“Dia siapa?”


Aisyah berencana menghampiri pria itu, tapi segera ia urungkan saat melihat jam tangan


yang melingkar indah di tangannya.


“Astagfirullah …, aku terlambat!”


Aisyah segera mempercepat langkahnya melewati mobil dan pemiliknya itu begitu saja.


Tapi saat sudah berlalu, Aisyah kembali melihat ke belakang. Ia melihat pria itu melompati pagar yang tertutup itu.


“Apa-apaan tuh orang!” hampir saja Aisyah berbalik, tapi ia teringat kembali dnegan


pekerjaannya, bosnya sudah sangat baik memberinya pekerjaan walau hanya paruh


waktu, Aisyah pun menghilangkan prasangka buruknya sendiri,


“Ah …, itu mungkin hanya orang asuransi atau apa!” Aisyah pun segera meninggalkan


tempat itu. Walaupun sebenarnya perasaannya tidak tenang karena dialah yang di


beri tanggung jawab menjaga rumah itu selama di tinggal penghuninya.


“Assalamualaikum!”


sapa Aisyah pada pria tua yang sedang menunggu di meja kasir mini market itu.


“Waalaikum salam!”


“Maaf koh, saya terlambat!”


“Nggak pa pa, akoh juga sedang tidak sibuk, ya sudah kalau begitu akoh tinggal ya!”


“Iya koh!”


Pemilik


mini market itu adalah muslim keturunan Tionghoa, dia begitu baik. Istrinya


sudah meninggalkan sedangkan anak-anaknya tinggal jauh.


Setelah akoh Wan pergi, Aisyah menggantikannya di kasir, di mini market itu hanya ada dua karyawan. Mini market itu memang tidak terlalu besar tapi sangat ramai


Aisyah tidak punya kesempatan untuk duduk jika jam-jam seperti ini, karena jam pulang


biasa di manfaatkan orang untuk berbelanja hingga menjelang isha’,


Aisyah begitu lihai menotal seluruh belanjaan dengan mesin kasir itu. Ia mengisi waktu


luangnya dengan membaca buku, membaca buku adalah kegiatan favoritnya.


Hingga menjelang magrib barulah toko sepi, aisyah meregangkan otot-ototnya yang terasa


begitu kaku. Ia kembali duduk dan melanjutkan bacaannya.


Ting


Lonceng berbunyi setiap kali ada  yang masuk,


Aisyah segera bangun dari duduknya dan menyapa yang datang dengan menundukkan


kepalanya.


“Selamat datang, selamat berbelanja di toko kami!”


Tak ada sahutan dari orang yang masuk, sepertinya pelanggannya itu berlalu begitu


saja menuju ke rak belanjaan, Aisyah tidak peduli, itu sudah biasa jarang sekali orang yang mau menjawab sapaannya. Ia kembali duduk dan melanjutkan membaca.


Lima menit kemudian, seseorang sudah berdiri kembali di depan meja kasirnya dan


sepertinya menatap Aisyah begitu tajam.


“Niat kerja nggak?!” ucap pria itu sambil meletakkan sekaleng minuman di atas meja kasirnya. Aisyah segera meletakkan bukunya dan mendongakkan kepalanya.


Aisyah mengenali pria arrogant itu, “Tuan Alex!”


“Jika tidak niat bekerja, jangan buka toko!’


‘Maaf!”


aisyah segera mendekatkan kaleng itu ke mesin kasir. Ada dua kaleng di atas

__ADS_1


meja itu.


“semua tiga puluh ribu!”


Pria arrogant itu adalah Alex, ia baru saja memantau rumah Nadin dan ternyata di


sana masih ada Rendi. Ia segera meninggalkan rumah Nadin dan mampir ke


minimarket yang kebetulan menjadi tempat kerja Aisyah. alex menyerahkan selembar


uang seratus ribuan.


“Ambil saja kembaliannya!”


“Tapi….!”


Ucapan Aisyah terhenti karena langkah Alex lebih cepat dari ucapannya, pria itu sudah


berada di dalam mobilnya saja. Aisyah hanya mendengus kesal.


“Tapi ini terlalu banyak! Cepat sekali dia jalannya!” gumam Aisyah.


Kini Aisyah harus menunggu hingga jam Sembilan, setelah tepat jam sembilan ia segera


menutup toko itu dan mengembalikan kuncinya pada koh wan dan menyerahkan hasil


jualan hari ini, ia tidak di gaji satu bulan sekali, tapi setiap kali ia datang


ia akan langsung di beri gaji, tidak seberapa memang tapi lumayan untuk makan


satu hari.


Aisyah segera pulang, saat hampir sampai di rumahnya ia masih bisa melihat mobil yangs


ama masih terparkir di depan rumah Nadin, kali ini Aisyah memberanikan diri untuk menghampirinya.


Ia mengintip pria itu di dalam mobilnya, “Dia tidur ya?” gumam Aisyah. aisyah pun


meninggalkan mobil itu dan menuju ke pagar rumah nadin, ia membuka gembok pagar


itu.


Sepertinya pria dingin itu terbangun karena suara gembok Aisyah. saat hendak membuka pagar tiba-tiba tangannya di genggam erat oleh seseorang.


 “Nadin!” Ucap pria dingin itu dengan tangan


yang menggenggam erat tangan Aisyah hingga membuat Aisyah berbalik padanya.


“Maaf anda siapa?” Aisyah menajamkan matanya. Ia begitu kesal karena pria yang bukan mahramnya telah berani menyentuh tangannya.


“maaf …, maaf saya salah orang!” ucap pria dingin itu sambil melepaskan genggaman


tangannya.


Aisyah memundurkan langkahnya memberi jarak dari pria itu, “Anda siapa?”


“Apa ini rumahmu?” pria itu malah balik bertanya pada Aisyah membuat Aisyah


bertambah kesal. Jika pria itu malas untuk menjawab pertanyaannya makan Aisyah


pun juga tidak akan menjawab pertanyaan pria itu.


“Kenapa anda menanyakan rumah ini?”


“Saya hanya ingin tahu, di mana pemilik rumah ini!” pria itu sepertinya marah membuat


Aisyah sedikit takut apalagi dengan tatapan dinginnya itu membuatnya begitu


merinding.


‘Ini rumah kakak saya, jadi anda jangan macam-macam ya di sini, silahkan anda pergi


dari sini, jika tidak saya akan melaporkan ada pada aparat keamanan jika anda


mengganggu kenyamanan warga di sini!” Aisyah menggunakan senjata terakhirnya


dnegan mengancam pria yang ada di depannya itu.


 “Baiklah!” pria itu sepertinya tidak mau ada


keributan, ia memilih berlalu meninggalkan Aisyah,


Beberapa hari yang lalu Nadin menghubunginya karena ia tidak bisa pulang, Alex memintanya untuk menginap. Nadin meminta Aisyah untuk menyalakan lampu rumahnya dan memeriksa keadaan rumahnya. Tapi saat bertemu dengan Alex, Aisyah malah lupa menanyakan soal Nadin.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰😘❤️


__ADS_2