Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Perjuangan gus Fahmi


__ADS_3

Alex tersenyum melihat kepolosan istrinya itu.


"Apa semutnya besar?"


"Semut?"


"A ..., iya ....!" ucap Aisyah yang terlihat begitu gugup.


"Apa seperti ini?" tanya Alex sambil mendekatkan wajahnya pada Aisyah.


Cup


Alex segera mendaratkan bibirnya di atas bibir Aisyah membuat Aisyah kembali terdiam dengan mata yang melebar sempurna.


"Mas ... !" ucap Aisyah dengan masih mengenakan bajunya.


"Aku hanya memberi contoh saja, Ay ....!" ucap Alex sambil tersenyum. Ia pun kembali bangun dan menuju ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka.


Setelah Alex masuk ke kamar mandi, Aisyah segera bangun dari tidurnya dan memegangi letak jantungnya yang serasa mau copot.


"Ya Allah ...., kenapa dia suka sekali membuat jantungku seperti ini ...., benar-benar om om yang genit ....!" ucapnya dengan bibir yang tidak ada hentinya tersenyum.


...***...


Bianka terus saja mondar mandir di depan kamarnya saat semua teman satu kamarnya sudah terlelap tidur.


"Apa aku tanya kan langsung aja ya sama mas Fahmi .....!?" gumam Bianka, ia masih belum bisa tidur.


"Tapi ini sudah sangat malam, apa akan sopan kalau aku menanyakan sekarang?" gumamnya lagi, ia terus memikirkan kejadian tadi sore.


Bagaimana rasanya saat tiba-tiba seseorang yang tidak pernah terpikirkan olehmu, mengajukan lamaran nya saat itu juga.


Bahkan rasanya minum pun airnya seperti tidak sampai di tenggorokan. Ia sebenarnya sudah ingin bertanya semenjak ba'dha Ishak, tapi pria yang melamarnya tadi sore tidak kelihatan batang hidungnya, bahkan ia tidak ikut sholat berjamaah di masjid.


Hehhhhh ....., terdengar sekali helak an nafas yang begitu dalam keluar dari mulut Bianka, ia pun memilih duduk di bangku yang ada di bawah bunga kertas itu.


Ting


Tiba-tiba notif pesan masuk ke dalam ponselnya, Bianka segera menyambar ponsel yang sedari tadi ia letakkan begitu saja di kursi itu. Ia takut jika fi pegang, tidak akan mampu menguasai dirinya untuk menelpon atau mengirim pesan pada gus Fahmi.


//assalamualaikum, Bia, maaf menggangu istirahatnya Bia//


Bianka tersenyum senang membaca pesan itu, ternyata itu dari orang yang sedari tadi ingin ia hubungi. Bianka cuma membacanya dan bingung harus menjawab apa.


//Kita bicara besok pagi ya, maaf menggangu istirahat mu, selamat istirahat ....//


Tiba-tiba pesan kedua kembali masuk membuat Bianka terkejut.


"Ah enggak aku belum tidur!" ucap Bianka cukup nyaring, tiba-tiba saja jari-jari nya begitu lincah mengetikkan pesan dan mengirimnya.


//Waalaikum salam, mas! Aku belum tidur//


Pesan itu terkirim begitu saja, kemudian Bianka kembali memeriksa pesan itu, ia segera menepuk kepalanya saat menyadari jika pesannya terdengar begitu berharap.


"Ahhhh bodoh bodoh ....., kenapa aku bisa menjawab seperti itu ....! Ah terlanjur di baca lagi ....!" ucap Bianka menyesal, saat ia hendak menghapus pesan yang terlanjur ia kirim ternyata gus Fahmi sudah membacanya dan tidak bisa di hapus lagi.


//Bia ...., maaf ya tadi, aku tiba-tiba melamar kamu tanpa bertanya dulu kamu mau atau tidak .....!//


Bianka segera membaca pesan itu sambil tersenyum, "Ya mau lah jelas, ini seperti mimpi, jika kelihatan pasti di atas kepalaku bakal muncul bunga-bunga .....!"


//mas apa yang mas katakan tadi apakah itu benar? Apa Bia nggak sedang bermimpi??//


Bianka pun memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya.


Bianka kembali menunggu balasan dari pria yang tiba-tiba melamarnya itu. Tak berapa lama pesannya sudah di baca. Jantung Bianka bergetar begitu cepat saat mengingat ucapan pria berwajah teduh itu.

__ADS_1


Ting


Sebuah notif pesan masuk, Bianka segera menggeser layar ponselnya dan melihat bagaimana jawab yang sangat ia tunggu-tinggu itu.


//maaf sekali lagi ya sudah membuat Bia terkejut, aku juga tidak bertanya dulu padamu apa kamu mau menikah denganku, tapi aku langsung mengatakan hal itu. Tapi kamu bisa menolaknya kalau kamu keberatan//


Bianka begitu senang, "Hah menolak, mana mungkin aku menolaknya, sejak pertama melihat mas Fahmi waktu itu, nama mas Fahmi yang selalu masuk dalam daftar doa ku!"


"Aku jawab apa ya ....? Masak aku jawab gitu tadi ...., ah enggak lah, kesannya aku berharap banget, tapi memeng iya sih ....!"


Bianka segera mengetik kan jawaban nya,


//Bukan begitu, aku senang jika mas Fahmi melamar ku! Tapi tentang uang seratus juta itu?//


Itu alasan paling masuk akal yang Bianka utarakan. Memang ia sangat senang dengan lamaran itu, tapi uang seratus juta dalam dua minggu, dari mana?


//aku akan berusaha keras untuk mendapatkannya, doakan ya, semoga kita bertemu lagi dalam ikatan halal ya//


"Iya lah mas , pasti ...., aku juga sangat berharap mas Fahmi lah satu-satunya jodoh yang Bia punya sampai ke surga ....!" ucap Bianka, tanpa terasa air matanya sudah runtuh.


Bianka kembali mengetikkan pesan jawabannya.


//pasti mas …, doa Bia untuk kesuksesan mas Fahmi, tapi mas ...., biarkan Bia ikut membantu, beri tahu Bia, apa yang bisa Bia bantu untuk itu?//


Bianka terus menatap layar ponselnya. Tidak sabar ingin tahu apa jawabannya.


//Cukup dengan doa biarkan aku yang berusaha, anggap saja ini sebagai perjuangan pertamaku untuk menjadikanmu halal bagiku dan rindui aku dalam doa mu, agar dipercepat langkah kita untuk saling merindukan dengan halal//


Kata-kata gus Fahmi benar-benar membuat Bianka merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.


//Makasih ya mas, salam rindu ku aku titipkan sama Allah//


Bianka tidak bisa berkata, apa-apa lagi. Cuma air mata bahagia yang sedari tadi sibuk ia seka dari pipinya.


//Istirahatlah …, assalamualaikum//


Walaupun dengan berat, Bianka pun harus mengakhirinya.


//Waalaikum salam//


...***...


Pagi ini gus Fahmi sudah siap untuk berangkat, ini lebih pagi dari ia berangkat ke kampus untuk mengajar.


“Nak …, apa rencanamu hari ini?" tanya Kyai Hamid saat di meja makan.


“hari ini Fahmi akan ke toko, Abi! Sudah lama sekali Fahmi tidak ke sana, Fahmi mau mengecek saldo di toko  ada beberapa yang harus Fahmi tambah di sana agar toko itu kembali ramai!”


“Kamu yakin dalam dua minggu bisa dapat uang sebanyak itu? Atau biar abi bantu ya, abi punya uangnya!”


“Nggak perlu abi, biarkan Fahmi yang usaha sendiri, Insyaallah Fahmi bisa, Fahmi masih punya beberapa tabungan, Fahmi tinggal cari setengahnya lagi!”


“syukurlah kalau begitu! Tapi jika butuh bantuan beri tahu Abi, abi pasti akan membantu!”


“Insyaallah Fahmi bisa, doakan ya abi!”


Gus Fahmi kali ini menggunakan motornya untuk bepergian, ia harus memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Gus Fahmi menuju ke toko yang tidak jauh dari kampus.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam ..., mas Fahmi!"


Fahmi pun segera masuk ke toko yang sudah lima tahun ini menjadi miliknya, toko itu dulu ia beli dari seorang janda yang sudah hampir bangkrut. Ia membeli toko itu dari hasilnya berceramah.


“Mas …, nggak biasanya mas fahmi ke sini, ada apa?” tanya orang yang sudah menjadi kepercayaan gus Fahmi untuk menjaga tokonya.

__ADS_1


“Maaf ya sudah menggangu, tapi ini sangat penting!"


"Iya mas nggak pa pa!"


"Aku butuh banget data keuangan toko ini?”


“Iya mas …, biar aku cek dulu mas, duduklah ....!"


Pria itu sibuk mengotak-atik layar komputernya.


"Ini mas, silahkan di lihat sendiri!"


"Makasih ya mas ...!"


Gus Fahmi pun segera duduk di depan layar komputer itu dan mengeceknya.


"Mas fahmi ada masalah ya?” tanya pria itu sambil terus memperhatikan wajah gus Fahmi.


"Sedikit mas, oh iya mas, mas Hendra masih ingat beberapa waktu lalu ada sebuah perusahaan yang menawari toko ini untuk melakukan percetakan nggak?’


“Iya mas …, aku masih nyimpen datanya!”


“Kira-kira pemasukan toko ini cukup nggak buat nerima percetakan?”


"kalau sebanyak itu kayaknya nggak mampu deh mas!”


“kurangnya banyak nggak?”


“Kurang lima puluh persennya sih mas!”


“ya udah, kita terima saja, mas Hendra yang desain covernya ya!”


“Baik mas!”


“aku akan ke kantor itu untuk melanjutkan kontrak, mesin kita masih bisa terpakai kan?”


"Insyaallah bisa, setiap hari selalu aku cek, dan semuanya masih normal, hanya perlu di bersihkan saja karena sudah sangat lama tidak di pakek!”


“Ya sudah aku berangkat ya mas, biar urusannya cepat selesai!"


Gus Fahmi pun segera bangun dari duduknya dan menyambar tasnya kembali, mengaitkannya di salah satu bahunya.


" assalamualaikum!”


“Waalaikum salam mas Fahmi, hati-hati ....!”


Bianka yang kebetulan baru saja sampai di kampus terkejut saat melihat gus Fahmi keluar dari toko tempatnya selama dua bulan ini bekerja.


"Mas Fahmi kenapa ke situ, apa dia kenal sama mas Hendra?" gumamnya.


Tapi saat Bianka henda menghampirinya, gus Fahmi sudah lebih dulu berlalu dengan motornya.


"Buru-buru sekali ....!"


Gus Fahmi menuju ke perusahaan penerbit buku dan menerima tawaran dari perusahaan itu.


"Terimakasih atas kerjasamanya pak, kita bisa mulai bekerja besok!" ucap gus Fahmi setelah menandatangani kontrak kerjanya itu.


...Cukup dengan doa biarkan aku yang berusaha, anggap saja ini sebagai perjuangan pertamaku untuk menjadikanmu halal bagiku dan rindui aku dalam doa mu, agar dipercepat langkah kita untuk saling merindukan dengan halal~ Gus Fahmi...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2