Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Permintaan Alex)


__ADS_3

Pagi ini Gus Raka sengaja habiskan waktunya untuk bekerja di toko buku. Ia tidak melakoni perannya sebagai cleaning service tapi tetap memonitornya dari jauh, konektor nya dengan penyadap yang ia pasang di ruangan itu masih terus aktif.


Beberapa rekaman sudah ia dapat tinggal mencari tahu siapa orang yang sedang menyusup di rumah mereka.


Berkas yang sudah sempat ia dapatkan waktu itu sudah ia simpan dan siap untuk di jadikan bukti kecurangan atas perusahaan Extensio.


Sempat ia bisa mengenali salah satu suara yang tidak asing di telinganya, sayangnya camera pengintainya bermasalah hingga hanya bisa mendapatkan rekaman suara ya saja.


"Siapa sebenarnya pria ini? Ada wanitanya juga!" berkali-kali ia memutar rekaman suara itu, tapi berkali-kali ia kembali gagal.


"Mungkin saat weekend aku akan menghabiskan banyak waktu di rumah, aku harus lebih cepat mengenali siapa orangnya!"


Setelah melihat jam yang menggantung di dinding, ia baru ingat kalau hari ini ada jadwal yang sangat penting.


Sebelum mengantarkan Nisa, atau lebih tepatnya menemani Nisa periksa kehamilan, ia harus menemui Alex.


"Aku sudah kesiangan!" gumamnya pelan sambil meraih jaketnya yang sengaja dia gantungkan di sandaran kursi, sebuah dompet dan ponsel tidak pernah absen ia bawa.


Itu adalah benda penting yang wajib di bawa, ia untuk sementara menonaktifkan koneksi penyadap dengan ponselnya agar tidak membuat Alex curiga saat bertemu dengannya.


Gus Raka pun segera berpamitan kepada karyawannya untuk pergi.


"Akbar!" panggilnya pada salah satu karyawan yang sedang tidak menemani pelanggan.


"Iya mas?" pria yang di panggil Akbar itu segera mendekat.


"Maaf, hari ini aku pergi lagi ya, tapi nanti aku nggak kembali ke toko, kalau kalian pulang langsung di kunci saja, kuncinya kamu bawa seperti biasa, aku akan bawa mobil!"


"Baik mas!" ucap pemuda itu sopan. Usianya terlihat begitu muda, Akbar adalah salah satu mahasiswa Gus Raka di universitas tempatnya mengajar dulu.


Setelah berpamitan pada karyawannya, Gus Raka pun segera pergi.


Hanya dalam waktu lima belas menit saja, mobilnya sudah sampai di depan perusahaan Alex.


Kedatangannya langsung disambut ramah oleh pria bertato itu, ia menyebutnya seperti menyambut Leon yang pulang. Rasa rindunya membuatnya menganggap pria di depannya sama seperti Leon.


"Ayo masuklah!"


"Mari mas Alex!" Gus Raka meminta Alex untuk berjalan lebih dulu.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ke ruangan Alex, setelah sampai di dalam ruangan Alex pun segera mempersilahkan Gus Raka untuk duduk.


"Duduklah!" Alex segera berjalan mengitari meja kerjanya setelah mempersilahkan Gus Raka untuk duduk.


Gus Raka tidak begitu penasaran dengan ruangan itu, walaupun ini kali kedua ia ke tempat itu.


"Mau minum apa? Biar asistenku yang buatkan untukmu!"


Gus Raka tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu mas!"


"Sungguh aku serius menawari!"


"Kalau begitu apa saja yang ada di sini!"


"Apa kau suka kopi?"


"Saya sangat suka!"


"Leon juga menyukai kopi!"


Lagi-lagi kata-kata sensitif yang keluar dari bibir Alex, gus Raka terdiam.

__ADS_1


"Maaf, seharusnya aku tidak membahas ini!" Alex menyadari kata-kata membuka kembali luka yang sudah mulai tertutup.


"Tidak pa pa mas, insyaallah saya akan baik-baik saja!"


Alex pun segera memanggil sekretarisnya dan memintanya untuk membuatkan dua cangkir kopi.


Mereka untuk sementara melakukan obrolan ringan sambil menunggu kopi mereka datang, menanyakan kabar dan segala hal yang sifatnya ringan.


Hingga tidak berapa lama seorang wanita datang dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi.


"Silahkan pak!"


"Terimakasih ya!"


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi!" wanita dengan pakaian rapi itu segera meninggalkan ruangan itu.


"Minumlah!"


"Terimakasih!" Gus Raka segera mengambil cangkir yang berisi racikan kopi itu dan menyeruputnya sedikit lalu mengembalikan ke atas meja.


"Sebenarnya ada hal serius yang ingin saya bicarakan!" ucap Alex setelah Gus Raka mengembalikan cangkirnya di atas meja.


Gus Raka menatap sejenak ke arah Alex lalu kembali menatap ke tempat lain.


"Ada sesuatu yang penting yang ingin tanyakan pada kamu!"


"Ada apa mas Alex?" Gus Raka terdiam lalu melanjutkan ucapannya, "Hingga mas Alex meminta saya datang ke kantor?"


Gus Raka tahu pria di depannya itu selalu mengatakan hal yang bersifat rahasia tidak pernah di rumahnya.


"Sebenarnya bukan sesuatu yang saya sendiri yakin dan saya sendiri juga tidak tahu apakah ini sebuah pertanyaan atau hanya ingin m mengejar sesuatu dalam pikiranku saja!"


Mungkin ada kebenaran dalam pikiran mas Alex, tapi maaf saya belum bisa mengatakan sekarang


"katakan saja! jika saya bisa menjawabnya maka saya akan menjawabnya!"


"Jika kamu bukan Leon, kamu pasti akan terkejut dengan apa yang aku lakukan saat ini! Sungguh beberapa sering membuatku menangis! Hatiku begitu sensitif."


Tampak sekali jika saat ini alex sedang menahan gejolak dalam dadanya.


"Ada beberapa hal yang membuat aku merasakan, melihat, mengamati beberapa kesamaan antara kamu dengan Leon dan hal itu sangatlah menggangu pikiranku!" tampak saat ini mata Alex memerah karena menahan air matanya agar tidak sampai menetes di depan pria yang belum tentu Leon.


Jika pria di depannya itu Leon, tentulah ia akan menangis seperti anak kecil.


Gus Raka pun terdiam ada sesuatu yang sedang ia ingin sembunyikan untuk sementara waktu.


Setelah menghela nafas begitu dalam, ia mencoba menghilangkan beberapa keraguan dalam dirinya.


gus Raka pun mulai membalas ucapan alex.


"Mungkin sekarang belum waktunya tapi insya Allah dalam waktu dekat akan aku katakan semuanya! Semuanya! Saya mohon Mas Alex bisa bersabar,!" ucapnya dengan suara serak.


"Baiklah aku tidak bisa memaksamu aku akan menunggu hingga waktu itu datang!" walaupun belum puas dengan jawaban Gus Raka, tapi sepetinya Alex sengaja tidak mempersalahkannya lagi, ia ingin memberi waktu pada Gus Raka hingga pria itu mau mengatakan yang sebenarnya.


Ada hal yang masih sangat janggal karena sejauh ini dia belum bisa menemui Merry, wanita itu seakan ikut menghilang dengan menghilangnya Raka dan Leon saat itu.


"Sebenarnya selain itu ada hal yang ingin aku katakan padamu mengenai perusahaan!"


"Ada apa dengan perusahaan?" Gus Raka tampak terkejut seolah-olah ia punya nyawa di perusahaan ini.


"Masalah internal!"

__ADS_1


Gus Raka cukup tahu dengan maksud internal, apalagi setelah kepergian Leon ada beberapa di perusahaan tapi Gus Raka tidak bisa membantu banyak untuk sementara waktu ini.


"Jika saya bisa membantu saya akan membantu!" walaupun tidak begitu yakin tapi Gus Raka akhirnya mengatakan hal itu.


"Ada beberapa hal yang membuat saya bertekad untuk melepaskan perusahaan ini!"


Wajah Gus Raka terlihat tegang sekaligus terkejut sehingga menunjukkan kerutan di keningnya. "Apa maksud dari ucapan mas Alex?" sungguh Gus Raka tidak mengerti maksud dari pria di depannya itu.


"kebahagiaan saya adalah keluarga saya, jika ternyata keluarga saya tidak bahagia dengan adanya saya disini maka saya harus mencari kebahagiaan untuk mereka!"


" Saya kurang mengerti dengan ucapan mas Alex?"


"Masa lalu saya!"


"Ada apa dengan masa lalu mas Alex?"


"Masa Lalu saya yang kelam ternyata mempengaruhi kehidupan keluarga saya! Masa lalu saya berdampak buruk pada kehidupan anak-anak saya! Maaf jika saya mengatakan hal ini pada padamu!" kali ini wajah Alex tampak begitu tidak enak, "sungguh saya tidak tahu lagi kepada siapa saya harus mengatakannya!"


Sekarang Gus Raka tahu arah pembicaraan dari pria di depannya itu, ia bisa merasakan luka yang di miliki oleh pria itu. "Saya mengerti mas, saya akan menjadi pendengar yang baik untuk mas Alex!"


"Terimakasih!"


"Lalu bagaimana langkah mas Alex selanjutnya?"


"Saya ingin mengajak keluarga saya meninggalkan kota ini, tinggal di tempat kecil yang jauh dari kota Ini, jauh dari orang-orang yang mengenalku! masa laluku!"


"Luar negri?"


"Bukan, kota kecil saja, atau kota besar yang ada daerah kecilnya yang pasti bukan di sini!"


" Lalu bagaimana dengan perusahaan ini?"


"sebenarnya jauh sebelum kejadian ini aku ataupun Aisyah sudah merencanakan untuk menyerahkan tanggung jawab memimpin perusahaan ini pada Leon tapi ternyata Allah berkehendak lain!"


Cukup lama mereka saling terdiam berselancar dengan pikirannya masing-masing hingga Alex memulai bicara kembali.


"Bisakah kamu membantuku jikapun kamu bukan Leon?"


"Saya harus apa?" Gus Raka tahu jika dia tidak punya wewenang apapun di perusahaan itu.


"kamu memiliki sifat yang sama dengan Leon, kalian saudara kembar!"


"Apa yang bisa saya bantu?"


"belajarlah memimpin perusahaan ini, mulai dari hari ini!"


Gus Raka kembali terdiam, banyak hal yang masih harus ia lakukan sebelum memutuskan semuanya,


"Bagaimana jika saya meminta waktu 2 minggu dari sekarang? Insyaallah saya akan memberikan keputusan dan mungkin keputusan mas Alex yang ini juga akan berubah!"


"Insyaallah, apapun yang terjadi nanti keputusanku tidak akan berubah!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2