
"Pakek helmnya!" pinta Gus Raka saat Abizar sudah keluar dari rumah.
"Bizar curang ih, harusnya aku juga bisa ikut di antar!" protes Aslan yang sudah duduk di atas motornya sendiri.
"Kak Aslan kan sudah boleh naik motor sendiri, masih aja iri!"
Gus Raka hanya tersenyum melihat perdebatan kakak beradik itu, ia membayangkan seandainya saja ia bisa berada di dalam satu masa dengan Leon saat sekolah, pasti akan sering berdebat seperti mereka.
Ahhh sekarang saja kalau ketemu masih suka berdebat, jadi kangen sama dia ....
"Sudah kak, ayo!" Gus Raka sampai tidak sadar jika Abizar sudah duduk di jok belakangnya dengan mengenakan helmnya.
"Sudah ya, baiklah kita berangkat! Bismillahirrahmanirrahim!"
Selagi Gus Raka mengantar Abizar, Asna pun mulai mengemasi barang-barangnya, Asna tidak terlalu banyak punya barang. Ia memang banyak meninggalkan barangnya di tempat kos. Walaupun tidak menempatinya lagi tapi papa Asna tetap membayar bulanan kos Asna karena barang-barang Asna masih lengkap di sana. Takut jika ada yang mengambilnya, hanya sesekali papa Asna melihatnya ke sama dan menanyai Asna apa yang ingin di ambil.
"Kak Raka bakal jarang ya datang ke rumah?" Abizar masih penasaran dengan perbincangan mereka di ruang makan.
"Kenapa?"
"Jawab dulu, baru bertanya kak!" Gus Raka tersenyum, Abizar kelihatannya lebih pendiam di banding Aslan tapi saat bicara berdua ternyata dia juga banyak bicara.
"Kalau kak Asna minta datang, kak Raka juga akan ikut! Nanti kalau misal kakak lama nggak datang, kalian kan bisa berkunjung dan menginap diri rumah kami!"
"Padahal satu Minggu lagi aku mau ada olimpiade MIPA antar SMP, pengen di temenin sama kakak!"
"Kak Raka atau kak Asna?"
"Jujur, kak Asna! Karena selama ini kak Asna yang paling seneng kalau liat Abizar lomba MiPA, katanya dia ingin liat aku jadi dokter!"
"Baiklah, nanti kami kasih tahu jadwalnya sama kakak, biar kakak coba bujuk kak Asna untuk melihat Abizar nanti!"
"Terimakasih ya kak!"
"Terimakasih kalau kakak sudah berhasil!"
Akhirnya mereka sampai juga di depan sekolah.
"Sampai sini aja kak!"
"Nggak Sampek dalam?"
"Nggak di sini saja, tuh ada tulisannya di gerbang, pengantar hanya sampai di sini!"
"Ah iya, nggak liat tadi!"
__ADS_1
Abizar pun turun dan melepas helmnya menyerahkan pada kakak iparnya.
"Belajar yang rajin ya!"
"Siap!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Abizar segera memasuki gerbang, Gus Raka menunggu hingga adik iparnya itu benar-benar masuk dan barulah meninggalkan tempat itu.
Ia ke rumah Asan sama sekali tidak membawa kendaraan, ia pun memilih untuk menghubungi salah satu karyawannya agar mengantarkan mobilnya ke rumah Asna karena kemungkinan Asna akan membawa banyak barang untuk pindah.
Ia tidak bisa mampir-mampir dulu ke tempat lain karena motor yang di bawa adalah motor milik bapak mertuanya. Ia pun segera kembali ke rumah Asna.
Setalah menyerahkan kembali kunci motor pada mertuanya, Gus Raka pun meminta ijin untuk menghampiri Asna di kamar. Ia ingin melihat berapa banyak persiapan yang sudah di lakukan Asna.
"Assalamualaikum, dek!" gua raka mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Waalaikum salam!" setelah mendapat sahutan dari dalam, Gus Raka pun segera masuk karena tahu pintu itu tidak di kunci.
Terlihat Asna sedang asik mengemasi barang-barangnya.
"Ada yang bisa mas bantu?"
"Beneran? Nih Pumpung mas lagi nggak ada kegiatan!"
"Nggak usah maksa deh!" Asna Tidka begitu suka apa yang ia lakukan di ganggu oleh orang lain.
"Baiklah, aku duduk saja dan kamu bisa minta bantuan ku saat butuh, okey!" Gus Raka pun memilih duduk di sofa, sofa itu sepertinya menjadi tempat favorit baginya.
Ia sengaja mengambil buku miliknya yang sering ia bawa kemana-mana, ia berniat untuk membaca buku itu tapi ternyata matanya malah beberapa kali fokus pada wanita yang sedang sibuk mondar-mandir di dalam kamar itu.
Sesekali bibir Gus Raka tersenyum saat melihat ada hal lucu yang tidak pernah bisa hilang dari gadis itu walaupun jiwanya sekarang sedang terluka.
Dia ngapain liatin aku?
Asna sedikit risih dengan apa yang di lakukan oleh Gus Raka, atau mungkin sedikit salah tingkah.
"Bisa tidak nggak usah liatin aku gitu!?" protes Asna saat merasa Gus Raka sudah keterlaluan.
"Apa salahnya, aku kan hanya mengagumi istriku!"
"Mengagumi atau menertawakan?"
__ADS_1
"Kok gitu sih mikirnya!?" Gus Raka merasa tidak suka dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya itu. Ia meletakkan bukunya dan berjalan menghampiri Asna.
"Ngapain ke sini?" Asna memundurkan tubuhnya. Ia tidak menyangka jika suaminya akan menghampiri dirinya.
"Aku cuma mau nunjukin sama seseorang bahwa tidak ada yang perlu di tertawakan dari dirinya!"
"Apaan?"
Tiba-tiba Gus Raka menggenggam kedua bahu Asna membuat Asna hampir saja meronta.
"Berhenti menolakku, kamu tidak percaya bahwa aku tidak akan berlaku jahat padamu?" kali ini wajah Gus Raka terlihat begitu serius.
Asna pun menggelengkan kepalanya, dalam hati kecilnya ia tahu pria yang telah menikahinya adalah pria yang baik dan tidak akan melakukan hal yang menyakiti dirinya.
"Jadi dengarkan aku, rasakan sentuhanku!"
Asna tidak lagi meronta, ia membiarkan bahunya di genggam oleh sang suami.
Setelah melihat Asna tenang, Gus Raka pun membalik tubuh Asna hingga asna bisa melihat pantulan dirinya dari cermin.
"Lihatlah dirimu di sana!" Gus Raka menunjuk pada cermin itu hingga Asna pun ikut menatap ke sana, mereka menatap pantulan Asna di sana.
"Lihatlah, dari sisi mananya aku atau siapapun akan menertawakan dirimu?"
"Kamu cantik, kamu pintar, kamu shalihah!"
"Tidak ada alasan bagiku untuk menertawakan kamu, yang ada aku merasa beruntung karena telah memilikimu sebagai istriku!"
Asna menatap dirinya sendiri, dirinya yang sekarang jauh berbeda dengan dirinya yang dulu. Saat ini tubuhnya tampak lebih kurus, tiba-tiba bahunya bergetar lagi. air matanya luluh, ia merasa kotor setiap kali menatap dirinya sendiri. Ini untuk pertama kalinya Asna melihat pantulan dirinya dari cermin begitu lama.
Srekkkkk
Tiba-tiba Asna membalik tubuhnya dan berhambur memeluk Gus Raka hingga air matanya jatuh mengenai kemeja Gus Raka.
Aku tahu kamu kuat Asna ....
Gus Raka tersenyum tipis, walaupun tidak dalam keadaan sadar setidaknya Asna sudah berani memeluknya itu tandanya dia percaya padanya.
Gus Raka menepuk-nepuk punggung Asna agar sedikit lebih tenang.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...