
Pagi ini nenek Widya tiba-tiba saja berada di rumah Alex, ia menghebohkan rumah itu.
Alex terpaksa harus bangun pagi kali ini.
“Nenek …, ada apa pagi-pagi sudah di sini sih nek?” keluh Alex sambil menemani
neneknya sarapan, ia tidak biasa sarapan di rumah. Sarapan pun bisa di hitung
dengan jari.
“nenek ada hal yang penting yang harus nenek bicarakan sama kamu!”
“Apa?”
“Nenek mau kamu menikah!”
Alex begitu terkejut dengan ucapan neneknya, bagaimana ia bisa menikah sedangkan
calon saja ia tidak punya. Ia terlalu fokus sama Nadin dan El, ia sampai lupa jika suatu saat mereka akan kembali pada pemiliknya.
“Alex tidak punya pacar nek!”
“Usiamu sudah lebih dari tiga puluh, mau sampai kapan menikahnya. Soal calon jangan di pikirin. Nenek punya calon untukmu!”
“nenek ini apa-apaan sih, main ngambil keputusan tanpa tanya sama Alex!” keluh Alex.
“Ini nenek tanya sama kamu, tapi kamu harus setuju!”
“Tuh kan nenek maksa, terserah nenek saja, lakukan yang nenek mau. Alex berangkat
dulu!”
“jadi.kamu mau?”
‘Kita bicarakan lagi nanti setelah Alex pulang kerja!”
“Nenek tunggu!”
Alex memilih menghindar, ia berangkat kerja pagi-pagi sekali, ia tidak mau neneknya
terus mendesaknya untuk menikah.
Ia harus ke perusahaannya dulu sebelum datang ke proyeknya, sudah lama sekali ia
tidak berkunjung ke perusahannya.
Setelah pukul delapan, ia baru menuju ke tempat proyek. Ia harus menguatkan hati untuk bertemu dengan Rendi, ia harus bisa mengesampingkan urusan pribadinya.
Langkah.Alex terhenti saat melihat pria dingin itu masuk ke gedung itu, ia harus bisa
menghilangkan perasaan itu. Ia mengubah ekspresinya menjadi biasa saja. Ia teringat
kembali dengan ucapan Aisyah tempo hari, gadis itu lebih bijak darinya.
Ahhh kenapa juga aku mikirin dia ....
Mereka tidak saling bersapa selama bekerja, akhirnya hari semakin petang saja, sudah hampir selesai sebagian. Alex tidak mampu
menahan ini terlalu lama lagi.
“Rendi!”
Alex menghentikan langkah Rendi yang sedikit berlari itu, mungkin ia sedang ingin segera cepat pulang. mendengarkan Alex memanggilnya, Rendi hentikan
langkahnya tanpa menoleh ke belakang, sepertinya Rendi masih begitu kesal hanya untuk menatap wajah Alex.
Alex sedikit mendekat, “Aku tahu kamu pasti masih kesal sama saya!”
__ADS_1
“Hemm!”
jawab Rendi asal.
“Kita harus bicara!" Alex tak mau menyerah, " Bagaimana kalau kita bicara di sana? biar lebih nyaman!” Alex menunjuk sebuah kafe yang berada tepat di depan tempat mereka mengerjakan proyek bersama.
Rendi tak menjawab, tapi Rendi setuju
ia berjalan mendahuluinya menuju ke tempat yang di tunjuk oleh Alex. Mereka
duduk di salah satu bangku yang langsung menghadap ke luar.
Mereka hanya saling diam, mungkin dia juga masih bingung harus memulai semuanya dari
mana, mungkin seharusnya dia memulai dengan meminta maaf. Tapi Alex terlalu
arogan untuk mengakui kesalahannya.
“Hehhh …!” Alex menghela nafasnya begitu berat, Rendi seperti sedang menunggu-nunggu
sesuatu, “Maaf!”
Hah …, apa aku tidak salah dengar?
Pria arogan di depanku ini mengatakan kata sacral itu. Atau memang aku saja
yang masih asing dengan kata itu. Batin Rendi tidak percaya pria arrogant itu mengucapkan kata itu.
Alex kembali melanjutkan ucapannya,
“Maaf…., karena saya, kamu terpisah dari istrimu! Tapi inti dari pembicaraanku saat
ini bukan itu!” Alex berbicara dengan penuh penekanan.
Rendi hanya bisa mengerutkan keningnya tak mengerti, ia kira kata maaf adalah kata yang paling sakti di antara percakapan mereka, ternyata ada yang lebih penting lagi. Apa?
“Nadin dan baby El adalah keluargaku, kami sudah sangat dekat. Aku sudah menganggap
Dekat? Maksud dari dekat? Bagaimana
pria di depanku ini mengatakan kalau itu bukan hal yang besar, apa dia mau
membuatku gila dengan membiarkan putraku membagi kasih sayangnya, aku hanya
ingin Elan menerimaku sebagai ayah satu-satunya tidak ada yang lain, dan dia
dengan entengnya mengatakan hal itu. Batin Rendi, ia sangat keberatan dengan keinginan Alex.
Rendi masih saja diam dengan tatapan dinginnya.
“bagaimana? Apa kau setuju?”
“Tidak!”
jawab Rendi dengan tegas. Memberi celah kecil pada orang lain sama saja dengan
memberikan lubang besar di kemudian hari, sudah cukup baginya ada Davina, tidak
untuk yang lainnya.
“Setidaknya …, berilah aku ijin untuk menemui mereka di beberapa kesempatan!”
“baiklah …, tapi ada syaratnya!”
Alex tersenyum lega, setidaknya ia bisa bertemu lagi dengan Nadin dan baby El
walaupun dengan syarat, “Apa?”
__ADS_1
Rendi nampak berfikir, ia harus memikirkan bagaimana memberi syarat pad Alex,
akhirnya ia menemukan satu syarat yang tepat, “Menikahlah dulu, baru aku akan
mengijinkan!”
“Menikah?” Alex begitu kerkejut dengan syarat yang di ajukan oleh Rendi.
“Iya …! Sudah kan tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, saya permisi!”
Setelahpertemuannya dengan Rendi, Alex sangat terluka. Bagaimana ia bisa hidup jauh
dengan Nadin dan baby El, mereka sudah seperti bagian terbesar dalam hidupnya,
dan ada syarat untuk bisa menemuinya. Bagaimana bisa ia menikah sedangkan
menemukan wanita yang di cintai saja selalu gagal.
Cintanya selalu berlabuh di tempat yang salah. Alex menatap punggung pria dingin itu
dengan mata nanar, rasanya ingin sekali berteriak dan mengatakan jika ini tidak
adil, saat seseorang dengan mudah bisa mendapatkan cintanya, kenapa dengannya?
Kenapa begitu sulit?
“Aku harus melakukan apa?” gumam Alex sambil mengusap rambutnya kasar. Ia masih
terus terduduk di tempatnya, memandangi jalanan dengan lalu lalang kendaraan
yang saling berebut, udara malam semakin terasa menusuk kulit, dingin dan
menyakitkan saat ia hanya sendiri tanpa siapapun di sisinya, semuanya telah
pergi, orang-orang yang di cintainya, pergi tanpa memberi ampun padanya.
Keangkuhannya tak mampu menahan mereka untuk tetap bersamanya.
“Tuan!”
sapa seseorang yang sedari tiga jam tadi telah setia menunggunya di samping
mobil itu akhirnya mendekatinya, melihat karyawan kafe hendak menutup kafenya
pria itu bersiap untuk mendekati tuannya dan menunduk hormat di depannya,
menyadarkan lamunan tuannya yang sedari tadi trak beralih dari menatap
petangnya jalan raya.
“Tuan …, kita harus segera pulang, kafe ini mau tutup!”
“Baik!”
Alex berdiri dari duduknya dan meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan,
entah sudah habis berapa gelas kopi selama ia duduk, tapi uang itu sudah lebih
dari cukup untuk membayar semuanya.
Bersambung
Maaf ya untuk beberapa hari kedepan mungkin akan sedikit slow up date ya
Sebelumnya saya ucapkan
minal aidzin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak
Happy Reading 🥰😘