Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Syarat dari Rendi


__ADS_3

Pagi ini nenek Widya tiba-tiba saja berada di rumah Alex, ia menghebohkan rumah itu.


Alex terpaksa harus bangun pagi kali ini.


“Nenek …, ada apa pagi-pagi sudah di sini sih nek?” keluh Alex sambil menemani


neneknya sarapan, ia tidak biasa sarapan di rumah. Sarapan pun bisa di hitung


dengan jari.


“nenek ada hal yang penting yang harus nenek bicarakan sama kamu!”


“Apa?”


“Nenek mau kamu menikah!”


Alex begitu terkejut dengan ucapan neneknya, bagaimana ia bisa menikah sedangkan


calon saja ia tidak punya. Ia terlalu fokus sama Nadin dan El, ia sampai lupa jika suatu saat mereka akan kembali pada pemiliknya.


“Alex tidak punya pacar nek!”


“Usiamu sudah lebih dari tiga puluh, mau sampai kapan menikahnya. Soal calon jangan di pikirin. Nenek punya calon untukmu!”


“nenek ini apa-apaan sih, main ngambil keputusan tanpa tanya sama Alex!” keluh Alex.


“Ini nenek tanya sama kamu, tapi kamu harus setuju!”


“Tuh kan nenek maksa, terserah nenek saja, lakukan yang nenek mau. Alex berangkat


dulu!”


“jadi.kamu mau?”


‘Kita bicarakan lagi nanti setelah Alex pulang kerja!”


“Nenek tunggu!”


Alex memilih menghindar, ia berangkat kerja pagi-pagi sekali, ia tidak mau neneknya


terus mendesaknya untuk menikah.


Ia harus ke perusahaannya dulu sebelum datang ke proyeknya, sudah lama sekali ia


tidak berkunjung ke perusahannya.


Setelah pukul delapan, ia baru menuju ke tempat proyek. Ia harus menguatkan hati untuk bertemu dengan Rendi, ia harus bisa mengesampingkan urusan pribadinya.


Langkah.Alex terhenti saat melihat pria dingin itu masuk ke gedung itu, ia harus bisa


menghilangkan perasaan itu. Ia mengubah ekspresinya menjadi biasa saja. Ia teringat


kembali dengan ucapan Aisyah tempo hari, gadis itu lebih bijak darinya.


Ahhh kenapa juga aku mikirin dia ....


Mereka tidak saling bersapa selama bekerja,  akhirnya hari semakin petang saja, sudah hampir selesai sebagian. Alex tidak mampu


menahan ini terlalu lama lagi.


“Rendi!”


Alex menghentikan langkah Rendi yang sedikit berlari itu, mungkin ia sedang ingin segera cepat pulang. mendengarkan Alex memanggilnya, Rendi hentikan


langkahnya tanpa menoleh ke belakang, sepertinya Rendi  masih begitu kesal hanya untuk menatap wajah Alex.


Alex sedikit mendekat, “Aku tahu kamu pasti masih kesal sama saya!”

__ADS_1


“Hemm!”


jawab Rendi asal.


“Kita harus bicara!" Alex tak mau menyerah, " Bagaimana kalau kita bicara di sana? biar lebih nyaman!” Alex menunjuk sebuah kafe yang berada tepat di depan tempat mereka mengerjakan proyek bersama.


Rendi tak menjawab, tapi Rendi setuju


ia berjalan mendahuluinya menuju ke tempat yang di tunjuk oleh Alex. Mereka


duduk di salah satu bangku yang langsung menghadap ke luar.


Mereka hanya saling diam, mungkin dia juga masih bingung harus memulai semuanya dari


mana, mungkin seharusnya dia memulai dengan meminta maaf. Tapi Alex terlalu


arogan untuk mengakui kesalahannya.


“Hehhh …!” Alex menghela nafasnya begitu berat, Rendi seperti sedang menunggu-nunggu


sesuatu, “Maaf!”


Hah …, apa aku tidak salah dengar?


Pria arogan di depanku ini mengatakan kata sacral itu. Atau memang aku saja


yang masih asing dengan kata itu. Batin Rendi tidak percaya pria arrogant itu mengucapkan kata itu.


Alex kembali melanjutkan ucapannya,


“Maaf…., karena saya, kamu terpisah dari istrimu! Tapi inti dari pembicaraanku saat


ini bukan itu!” Alex berbicara dengan penuh penekanan.


Rendi hanya bisa mengerutkan keningnya tak mengerti, ia  kira kata maaf adalah kata yang paling sakti di antara percakapan mereka, ternyata ada yang lebih penting lagi. Apa?


“Nadin dan baby El adalah keluargaku, kami sudah sangat dekat. Aku sudah menganggap


Dekat? Maksud dari dekat? Bagaimana


pria di depanku ini mengatakan kalau itu bukan hal yang besar, apa dia mau


membuatku gila dengan membiarkan putraku membagi kasih sayangnya, aku hanya


ingin Elan menerimaku sebagai ayah satu-satunya tidak ada yang lain, dan dia


dengan entengnya mengatakan hal itu. Batin Rendi, ia sangat keberatan dengan keinginan Alex.


Rendi masih saja diam dengan tatapan dinginnya.


“bagaimana? Apa kau setuju?”


“Tidak!”


jawab Rendi dengan tegas. Memberi celah kecil pada orang lain sama saja dengan


memberikan lubang besar di kemudian hari, sudah cukup baginya ada Davina, tidak


untuk yang lainnya.


“Setidaknya …, berilah aku ijin untuk menemui mereka di beberapa kesempatan!”


“baiklah …, tapi ada syaratnya!”


Alex tersenyum lega, setidaknya ia bisa bertemu lagi dengan Nadin dan baby El


walaupun dengan syarat,  “Apa?”

__ADS_1


Rendi nampak berfikir, ia harus memikirkan bagaimana memberi syarat pad Alex,


akhirnya ia menemukan satu syarat yang tepat, “Menikahlah dulu, baru aku akan


mengijinkan!”


“Menikah?” Alex begitu kerkejut dengan syarat yang di ajukan oleh Rendi.


“Iya …! Sudah kan tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, saya permisi!”


Setelahpertemuannya dengan Rendi, Alex sangat terluka. Bagaimana ia bisa hidup jauh


dengan Nadin dan baby El, mereka sudah seperti bagian terbesar dalam hidupnya,


dan ada syarat untuk bisa menemuinya. Bagaimana bisa ia menikah sedangkan


menemukan wanita yang di cintai saja selalu gagal.


Cintanya selalu berlabuh di tempat yang salah. Alex menatap punggung pria dingin itu


dengan mata nanar, rasanya ingin sekali berteriak dan mengatakan jika ini tidak


adil, saat seseorang dengan mudah bisa mendapatkan cintanya, kenapa dengannya?


Kenapa begitu sulit?


“Aku harus melakukan apa?” gumam Alex sambil mengusap rambutnya kasar. Ia masih


terus terduduk di tempatnya, memandangi jalanan dengan lalu lalang kendaraan


yang saling berebut, udara malam semakin terasa menusuk kulit, dingin dan


menyakitkan saat ia hanya sendiri tanpa siapapun di sisinya, semuanya telah


pergi, orang-orang yang di cintainya, pergi tanpa memberi ampun padanya.


Keangkuhannya tak mampu menahan mereka untuk tetap bersamanya.


“Tuan!”


sapa seseorang yang sedari tiga jam tadi telah setia menunggunya di samping


mobil itu akhirnya mendekatinya, melihat karyawan kafe hendak menutup kafenya


pria itu bersiap untuk mendekati tuannya dan menunduk hormat di depannya,


menyadarkan lamunan tuannya yang sedari tadi trak beralih dari menatap


petangnya jalan raya.


“Tuan …, kita harus segera pulang, kafe ini mau tutup!”


“Baik!”


Alex berdiri dari duduknya dan meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan,


entah sudah habis berapa gelas kopi selama ia duduk, tapi uang itu sudah lebih


dari cukup untuk membayar semuanya.


Bersambung


Maaf ya untuk beberapa hari kedepan mungkin akan sedikit slow up date ya


Sebelumnya saya ucapkan


minal aidzin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin🙏🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak


Happy Reading 🥰😘


__ADS_2