
Setelah berbicara dengan Abi dan Uminya, Gus Fahmi segera ke kamarnya untuk mencari ponselnya. Ia sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar gembira itu pada Bianka.
Gus Fahmi mencari nomor yang tertera di ponselnya, mencari-cari nama Bianka. Setelah menemukannya, Gus Fahmi segera melakukan panggilan.
Tuttttt ..... tuuttttt ....., tuttt
Cukup lama berdering, setelah beberapa lali berdering akhirnya panggilannya terhubung juga.
"Assalamualaikum, Mas Fahmi! Maaf ya Bia angkatnya lama soalnya baru saja selesai membantu bi Santi!" ucap Bianka dengan begitu panjang lebar, terlihat sekali jika ia sangat menyesal membuat pria yang selalu ia idamkan itu menunggunya lama.
“Waalaikum salam, Bia! Maaf ya malam-malam ganggu kamu! Kalau masih ada pekerjaan lebih baik kamu lanjutkan dulu aja nggak pa pa. Nanti kalau sudah selesai kita bisa bicara lagi!" ucap gus Fahmi dengan nada bicara yang begitu santun membuat siapapun yang mendengarnya pasti tidak ingin melewatkan suara pria berwajah teduh itu.
"Nggak kok mas Fahmi ....! Maksudnya pekerjaannya sudah selesai, ada apa mas?" tanya Bianka yang sudah penasaran.
Gus Fahmi pun segera duduk di jendela menatap ke luar rumah berusaha menjangkau rumah Aisyah yang sekarang di tinggali wanita yang sedang bicara dengannya saat ini.
“Beneran nggak pa pa nih?" tanya gus Fahmi memastikan lagi. Ia terus memperhatikan rumah itu berharap bisa melihat wanita yang sedang bicara padanya.
"Beneran mas Fahmi!" ucap Bianka meyakinkan.
"Alhamdulillah deh kalau gitu, jadi gini Bia, aku baru saja bicarakan apa yang telah menjadi pembicaraan kita kemarin! Abi sama Umi menyambut baik usul Fahmi, bagaimana kamu siap kan tinggal di pesantren dengan segala peraturannya?"
“Beneran ini, mas? Bia bisa belajar di pesantren?" tanya Bianka lagi memastikan.
“Iya! Abi sama umi setuju kamu tinggal di pesantren! Mereka malah minta kalau bisa secepatnya saja karena sesuatu yang baik nggak boleh di tunda-tunda apalagi ini masalah menuntut ilmu!"
"Tapi bentar deh mas, mas Fahmi sudah katakan apa alasan Bia ke pesantren kan?" tanya Bianka memastikan, alasan utamanya bukan untuk menuntut ilmu tapi untuk terhindar dari bahaya.
"Iya ....! Alasan terhindar dari bahaya itu memang alasan utama seseorang ke pesantren, karena bukan cuma bahaya dari manusia tapi insyaallah pesantren juga menghindarkan kita dari bahaya api neraka, itu lebih dahsyat loh ....!"
"Alhamdulillah deh mas, insyaallah aku akan belajar dengan sungguh-sungguh selama di pesantren!"
"Niatkan semuanya karena Allah!"
"Insyaallah ...., doakan ya mas!"
"Pasti ....!" ucap gus Fahmi," Oh iya …, umi pengen ketemu sama kamu, besok bisa kan?”
“Insyaallah bisa, mas!” terdengar di seberang sana begitu senang dan yakin.
“Alhamdulillah! Ya sudah kalau gitu selamat beristirahat, Assalamualaikum ....”
"Waalaikum salam ...!"
Gus Fahmi segera mematikan sambungan telponnya setelah menadapat jawaban salam dari Bianka. Ia tersenyum penuh kelegaan, memandang langit yang begitu cerah dengan bintang-bintang yang saling memunculkan cahayanya. Menikmati malam sendiri berusaha menghapus nama yang terlanjur ia ukir di antara bintang dengan doanya di sepertiga malam. Berharap Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
***
Pagi ini Alex sudah mulai melatih otot-ototnya yang sudah sangat kaku karena tidak di gerakkan sama sekali, ia melakukan gerakan-gerakan ringan sambil berdiri di balkon kamar dan menghadap sinar matahari. Mencoba mengumpulkan sinar matahari pagi.
__ADS_1
Aisyah yang baru saja dari dapur masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir kopi untuk suaminya, sebenarnya Alex bukan penikmat kopi tapi semenjak menikah dengan Aisyah, Aisyah selalu membuatkannya kopi di pagi haru dan susu hangat di malam hari, hal itu membuatnya menjadi terbiasa minum kopi.
“Kopinya mas!” ucap Aisyah sambil meletakkan secangkir kopi itu di meja kecil yang ada di balkon kamarnya.
Alex yang mendengarkan suara Aisyah segera menoleh ke sumber suara, ia begitu terkejut saat melihat penampilan Aisyah, istrinya itu sudah sangat rapi.
“Sudah rapi aja, mau ke mana?” tanya Alex
“Aku mau ke kampus mas, sudah dua minggu nggak masuk kuliah! Takut banyak
ketinggalan pelajaran! Lagian kan mas Alex juga sudah lebih baik, Aisyah perginya juga nggak lama mas, paling cuma ngambil tugas aja, jadi jangan khawatir! ” ucap Aisyah. Selama Alex sakit, ia memang mengambil.perannya sebagai seorang istri, ia merawat Alex.
“Perasaan aku tanyanya pendek, kenapa jawabnya panjang banget?” ucap Alex sambil menggelengkan kepalanya tak percaya. Wanita yang terlihat pendiam itu bisa begitu cerewet kalau sedang bicara.
He …
Aisyah hanya menghela nafas, malas pagi-pagi harus berdebat dengan suami arrogantnya itu. Nggak akan menang juga.
"Sini!" ucap Alex sambil melambaikan tangannya meminta Aisyah untuk mendekat.
"Ada apa?" tanya Aisyah bingung tapi Alex tidak bicara lagi itu menandakan kalau dia tidak mau di bantah. Aisyah pun mendekat pada suaminya itu.
Srrreeekkkkk
Tiba-tiba saja tangan Alex melingkar di pinggang Aisyah hingga kini tubuh mereka begitu dekat hanya ada sekat pakaian mereka saja.
"Ada apa mas?" tanya Aisyah gugup, walaupun mereka sudah sering dekat seperti itu tapi ia masih saja merasa gugup.
tiba-tiba saja bibir Alex mendarat di pipi Aisyah, ini kali kedua Alex menciumnya. Aisyah tertegun bahkan ia tidak sadar jika tangan Alex sudah menyingkir dari pinggangnya.
“Biar aku antar! Tunggu sebentar!” ucap Alex yang sudah berlalu dari hadapannya.
"Mas Alex, dia cium aku!" gumam Aisyah sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Tanpa sadar bibirnya terus saja melengkung memperhatikan bagaimana pria itu terus saja mondar-mandir di dalam kamar mencari-cari sesuatu.
"Hah ...., mas Alex mau ngantar aku?!" gumamnya lagi setelah sadar apa yang baru saja di katakan oleh suaminya itu.
"Mas ....., mas ....!" Aisyah segera masuk ke dalam kamar dan menghampiri suaminya itu.
"Ada apa? Aku mau mandi!"
“Nggak usah ngantar aku mas! Biar aku berangkat sendiri, lagian ada Leon! Biasanya juga aku sama Leon!” ucap Aisyah panjang lebar membuat Alex begitu gemas, ia pun berbalik dan mendekatkan wajahnya lagi pada istrinya itu.
"Ahhhh ....!" Dengan reflek Aisyah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Alex tersenyum melihat tingkah Aisyah yang menurutnya cukup menggemaskan, tingkah khas gadis ABG yang baru jatuh cinta.
“Makanya nggak usah ngeyel!” ucap Alex dan dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
Tak berapa lama Alex Kembali keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar, sepertinya ia memang sengaja mempercepat mandinya agar Aisyah tidak menunggunya terlalu lama.
__ADS_1
Aisyah sudah siap dengan sepatu dan tasnya. Ia memainkan ponselnya sambil menunggu sang suami selesai memakai baju.
“Ayo!” ucap Alex yang sudah berada di depan Aisyah.
Aisyah begitu terkejut karena tidak biasanya ia begitu cepat melakukan semuanya, "Cepet banget mas siap-siapnya?”
“Ntar kalau terlambat kamu ngoceh!” ucap Alex sambil menarik tangan Aisyah. Mereka menuruni tangga dengan sedikit berlari.
"Kalian mau ke mana?" tanya nenek Widya yang melihat mereka terburu-buru.
"Alex nganter Aisyah ke kampus dulu ya, nek!" ucap Alex. Nenek Widya begitu senang melihat perubahan yang di alami cucunya itu. Wajahnya sekarang tidak murung seperti dulu, dia juga terlihat segar, sepertinya cukup tidur.
"Hati-hati ya!" ucap nenek Widya dengan senyumnya.
"Assalamualaikum nek!"
"Waalaikum salam ...!"
Leon sudah menunggu mereka di samping mobil, ia segera membukakan pintu untuk Alex dan Aisyah.
Setelah memastikan semuanya masuk, Leon segera berlari mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.
Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sudah sampai di depan kampus Aisyah.
“Makasih ya mas udah ngantar Aisyah!” ucap Aisyah sebelum turun dari mobil.
"hemmm!” jawab Alex dengan begitu malah.
"Gitu banget jawabnya! Assalamualaikum ....!" Ucap Aisyah lalu membuka pintu hendak keluar tapi lagi-lagi tangan Alex segera menahannya.
"Apa lagi sih mas? bukannya jawab salam!"
“Jangan keluar dari kampus kalau belum aku jemput! Jangan menyendiri dan jangan bicara
pada orang asing!” ucap Alex panjang lebar membuat Aisyah terkejut mendengarnya.
“Mas …, aku bukan anak SD, gitu banget pesen nya!” protes Aisyah.
“Aku serius!” ucap Alex sambil menajamkan matanya, seperti meminta Aisyah untuk melakukan apa yang di mintanya.
“Baiklah ....., aku masuk dulu!" ucap Aisyah dan Alex pun segera melepaskan tangan Aisyah.
“Waalaikum salam!” jawab Alex sebelum Aisyah benar-benar menutup pintu mobilnya. Aisyah tersenyum senang di buatnya.
...Alasan terhindar dari bahaya itu memang alasan utama seseorang ke pesantren, karena bukan cuma bahaya dari manusia tapi insyaallah pesantren juga menghindarkan kita dari bahaya api neraka~ Gus Fahmi...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰