
"Stop!"
Alex menakup kedua pipi Kia dan mendekatkan wajahnya, mata Alex mulai berkaca, sudut matanya sudah basah karena air mata yang tertahan, ia tidak mau terlihat cengeng di depan putri kecilnya itu.
Alex meraih tangan Kia dan ia letakkan di wajahnya, "Kamu boleh memegang sepuasnya wajah papa sekarang!"
Kia mulai menggerakkan tangan nya, matanya tidak beralih dari wajah pria yang mengaku papanya. Walaupun masih empat tahun setidaknya ia tahu arti menikah dan punya anak.
Jika mamanya menikah dengan pria di depannya lalu ada dirinya berarti itu tandanya pria itu adalah papanya.
"Pa_ pa_!"
Suara Kia tertahan, ia bingung harus mengungkapkan bagaimana antara pengen nangis sekaligus pengen berlarian dan teriak-teriak mengatakan kalau itu adalah papanya.
Ia tidak perlu minder lagi saat teman-teman nya menceritakan tetang papanya.
"Sekali lagi sayang, papa ingin mendengarnya!"
"Papa ...., papa ...., papa ....!"
Alex dengan cepat merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Alex terlihat mengusap sudut matanya yang mulai berair.
Terimakasih ya Allah ...., terimakasih atas semua ini .....
Setelah cukup lama, Alex kembali melepas pelukan putrinya itu.
"Sayang, kita harus mewarna sekarang!"
"Iya papa benar, Kia harus menang sekarang karena ada papa di samping Kia!"
Alex pun mengambilkan Alex pewarna yang sengaja ia siapkan untuk Kia.
"Ini untukmu sayang!"
"Pewarna baru?" Alex pun mengangguk kan kepalanya, sebuah krayon dengan warna tiga puluh enam warna yang sudah sangat Kia dambakan, akhirnya menjadi miliknya.
"Kia suka pa, Kia suka!"
Alex mengusap kepala Kia, persis seperti mamanya. Cerewet dan keras kepala.
"Bagus! Sekarang kita mulai mewarnanya sayang!"
Alex pun membantu Kia memilih beberapa warna untuk mewarna gambar yang sudah di sediakan sekolah dan Kia yang mewarnainya. Sesekali Alex membantu merapikan warnanya.
"Kia sayang!"
Kia pun kembali menoleh pada papanya.
"Kenapa Kia tidak mau di temani mama ke sekolah?"
__ADS_1
Kia terdiam, ia menatap pria yang beberapa menit lalu mengungkapkan jati dirinya jika dia papanya.
Mungkin sudah tidak pa pa jika dia mengatakannya sekarang, lagi pula papanya sudah kembali.
"Sebenarnya Kia tidak mau mama sedih!"
"Sedih kenapa sayang?"
"Saat Kia di sekolah, teman-teman Kia banyak yang menanyakan tetang papa Kia, mereka bilang Kia tidak punya papa dan mereka akan meledek Kia, mama pasti sedih kalau melihatnya!"
Deg
Seketika hati Alex terasa di banting, di hujam dengan belati, sakit bahkan sangat sakit. Alex tidak menyangka jika putrinya akan mengalami hal seperti ini, dia kira jika berada jauh dari orang-orang yang di kenal, mereka akan hidup bahagia tapi ternyata Kia masih harus menderita karena di cap sebagai anak yang tidak punya papa.
"Maafkan papa sayang, maafkan papa!"
Alex kembali memeluk Kia dengan begitu erat, seakan ia ingin menunjukkan jika hal itu tidak akan terjadi lagi dan tidak akan membiarkan putrinya sampai terluka lagi.
"Papa janji ya sama Kia, papa tidak akan pernah meninggalkan Kia lagi!"
"Iya sayang, papa janji!"
Kia begitu senang dengan papa nya, ia pun segera berdiri menatap teman-temannya yang juga sedang sibuk mewarna dengan papa mereka.
"Teman-teman ....! Perhatikan aku ....!" teriak Kia dengan suara lantang nya.
Seketika teman-teman Kia pun menoleh padanya begitu juga dengan papa mereka, mereka penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Kia.
"Kia sekarang punya papa, kalian lihat ini papa Kia!" teriak Kia sambil menunjuk ke arah Alex.
Mengetahui betapa bangganya Kia memperkenalkannya sebagai papa, Alex pun ikut berdiri.
"Hai teman-teman Kia, kenalkan saya papa Alex, papanya Kia!"
Papa Alex pun segera mengangkat tubuh mungil Kia dan menciumi wajah cantik putrinya itu.
"Papa merindukan mu sayang!"
"Kia juga!"
Teman-teman Kia pun bertepuk tangan mereka ikut senang melihat kegembiraan Kia dan papanya, begitupun dengan bu guru Kinan.
Alex dan Kia kembali melanjutkan mewarnanya, teman-teman Kia sudah banyak yang selesai karena terlalu terharu membuat Kia mengumpulkan hasil mewarnanya paling belakang.
Hingga tiba saat pengumuman, bu guru Kinan berdiri di depan dengan tiga buah piala.
"Terimakasih saya ucapkan kepada para ayah yang sangat antusias menemani putra putrinya mewarna, semoga dengan di adakan acara ini akan mempererat hubungan antara ayah dan anak!"
"Untuk selanjutnya ibu guru akan mengumumkan hasil mewarna kalian!"
__ADS_1
"Untuk yang belum mendapatkan juara, tidak papa sayang, mewarna kalian juga bagus, dan untuk yang terpilih, sekolah akan memberikan hadiah!"
"Baiklah ibu guru akan memanggil satu persatu ya, untuk yang ibu panggil silahkan maju dan mengambil pialanya!"
"Juara tiga lomba mewarna anak dan ayah jatuh pada Raiden!"
Seorang anak laki-laki naik ke atas panggung dan menyampaikan beberapa kata kepada ayahnya atas permintaan bu guru Kinan.
"Juara ke dua lomba mewarna anak dan ayah jatuh pada Deva!"
Seorang anak perempuan melakukan hal yang sama, Kia dan Alex masih duduk di pojok. Kia biasanya mendapat juara dua tapi hari ini posisinya itu di gantikan oleh orang lain.
"Seharusnya Kia pa yang mendapat piala itu!"
"Tidak pa pa sayang, kita bisa belajar lagi besok, supaya nanti mewarna Kia lebih bagus lagi!"
Alex mencoba menghibur Kia, Kia memang anak yang cerdas. Tapi dia juga tidak mau putrinya tumbuh menjadi pribadi yang sombong dengan kelebihannya.
Bu guru Kinan melanjutkan pengumumannya saat anak perempuan bernama Deva itu sudah turun dari panggung.
"Juara pertama lomba mewarna ayah dan anak jatuh pada Kiandra!"
Kia terpaku, ia menoleh pada papanya.
"Iya sayang itu tadi nama kamu!"
"Ayo Kia, silahkan ke depan untuk mengambil pialanya!" bu guru Kinan kembali memanggil Kia.
"Ayo sayang, papa akan menunggumu di sini!"
Kia pun tersenyum, ia segera bangun dari pangkuan papanya dan berlari ke depan dan berdiri di samping Bu guru, bu guru menyerahkan pialanya dan meminta Kia untuk menyampaikan terimakasih kepada papanya.
"Aku Kia, Kiandra Alexandra! Kata mama namaku di ambil dari nama papa aku, dia Kevin Alexander.
Dulu aku sempat protes sama mama, kenapa nggak ada nama mama di nama Kia?
Kata mama, papa Kia adalah papa terbaik! Kia tidak percaya karena Kia tidak pernah melihat papa, tapi hari ini mama benar, karena papa Kia bisa juara satu, terimakasih papa, Kia menyayangimu!"
Alex terpaku dengan kata-kata Kia, ia tidak menyangka istrinya masih tetap membanggakan dirinya di depan anaknya walaupun kenyataannya ia punya masalalu yang sangat kelam.
Bersambung
...Saat seorang putri merasa sedih, terluka dan kehilangan jati diri, makan ayah lah yang akan merasakan sakitnya...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰