
...Seperti inilah cara Allah mempertemukan kita, aku bersyukur dengan apapun yang terjadi di masa lalu karena insyaallah kamu adalah masa depanku...
...🌺Selamat membaca🌺...
Leon berjalan cepat memasuki gedung, tapi langkah kakinya terhenti karena seseorang menghampirinya.
"Pak Leon!"
"Iya?"
"Ada seseorang yang mencari anda!"
"Di mana?"
"Di ruang tunggu pak!"
"Baiklah, saya akan menemuinya!"
Leon pun mengurungkan niatnya untuk menuju ke ruangannya, ia berbalik arah menuju ke ruang tunggu.
Ruang yang cukup luas dengan sofa yang memenuhi ruangan itu, sofa berwarna hitam itu hampir melingkar di sisi dinding dengan meja segi empat lebar.
Seorang pria dengan gaya pakaian santai tapi rapi itu sedang duduk membelakangi Leon.
"Anda mencari saya?" tanya Leon membuat pria itu berdiri dan berbalik cepat.
"Dokter Reza?" pekik Leon dan berjalan mendekat ke arah dokter Reza, dokter Reza melengkungkan senyumnya.
"Selamat pagi mas Leon!"
"Duduklah dok!"
"Saya tidak akan lama, jadi tidak perlu repot-repot!" ucap dokter Reza sambil duduk, sungguh kadang tingkahnya tidak sesuai dengan wajahnya yang serius.
Leon hanya tersenyum lalu ikut duduk di sofa yang sama. Lelang sofa itu berbentuk U panjang tanpa ada putusan.
"Apa yang membuat dokter pagi-pagi datang kemari?"
Dokter Reza pun merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan benda berwarna merah jambu.
"Jangan di lihat warnanya ya, lihat isinya saja!" ucap dokter Reza kemudian sambil menyerahkannya pada Leon.
Leon menerimanya dengan begitu ragu, bukan ini yang ia inginkan. Ia berharap Nisa yang datang dan mengatakan sendiri apa keputusannya.
"Ini maksudnya?"
"Itu surat balasan dari Nisa!"
"Nisa nya?"
"Dia sedang menyelesaikan sesuatu yang belum sempat di mulai!"
Leon kembali mengamati amplop berwarna merah jambu itu, ini bukan style nya.
Memang tidak ada warna lainnya apa?
"Bukalah, saya juga ingin tahu apa yang di tuliskan oleh adik saya!"
Tidak di pungkiri dokter Reza memang sangat penasaran.
"Di buka sekarang?" Leon malah balik bertanya, semacam meminta pendapat.
"Ya, kalau mas Leon tidak keberatan!"
"Baiklah!"
Leon pun perlahan membuka perekatnya, ia sepeti tidak akan membiarkan benda berwarna merah muda itu rusak meskipun ia tidak suka dengan warnanya.
__ADS_1
*Assalamualaikum mas Leon
Nisa sengaja mengirimkan surat ini, mungkin sekarang mas Leon sedang bertanya-tanya kenapa harus surat? Kenapa bukan saya sendiri yang datang? Karena saya ingin menepati satu janji saya, saya akan mendatangkan surat sebagai jawabannya.
Semoga mas Leon tidak kecewa karena hari ini saya harus menemui seseorang, saya harus menyelesaikan sesuatu yang belum sempat di mulai, saya hanya takut jika sudah menyakiti hati seseorang.
Mas Leon, kata papa kemarin mas Leon sudah ketemu sama papa, Nisa senang. Terimakasih ya mas ikannya , Nisa suka. Kata papa rasanya lebih enak.
Mas ...., insyaallah Nisa rela dan ikhlas di pinang mas Leon kapanpun, papa pun sudah memberikan restunya.
Jika benar mas Leon yakin menjadikan Nisa pasangan hidupnya mas Leon, Nisa tunggu kedatangan mas Leon lagi, insyaallah Nisa sabar menunggu sampai mas Leon siap
Sudah dulu ya mas, itu saja yang ingin Nisa sampaikan, apabila ada salah kata, Nisa minta maaf.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokhatu*
Terlihat Leon terus tersenyum saat membaca surat itu.
"Bagaimana?" tanya dokter Reza yang sedang menunggu jawabannya juga.
"Iya, dok!" jawab Leon sambil terus tersenyum.
"Alhamdulillah!" ucap dokter Reza sambil mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya, "Saya adalah pendukung kalian sejak awal!"
Leon menoleh dan menatap pria yang duduk di sampingnya, ini untuk pertama kalinya ia bertemu dengan pria sesantai dokter Reza, Leon mengerutkan keningnya.
"Sungguh, nggak percaya?" tanya dokter Reza saat melihat ekspresi tidak percaya Leon.
"Bukan seperti itu! Hanya saja saya tidak pernah bertemu dengan pria seperti dokter!"
Ha ha ha
Dokter Reza tertawa mendengarkan ucapan Leon,
"Sepertinya kita akan jadi teman ngobrol yang pas nanti! Salaman dulu deh!"
"Anggap saja kita mulai berteman hari ini, kenalkan saya Reza!"
"Saya Leon!" ucap Leon ragu.
"Ingat, Leon dan Reza! Jangan dokter dan mas!" ucap dokter Reza memperingatkan.
"Apa itu tidak terlalu_! Maksudnya saya akan menjadi adik ipar dokter!"
"Bukan masalah! Sampai jumpa lain waktu, kita bisa ngobrol di kafe sambil minum kopi, sekarang saya harus pergi dulu, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Dokter Reza pun melepaskan tangan Leon dan berlalu meninggalkan Leon yang masih bengong di buatnya.
"Pria yang unik!" gumam Leon sambil terus menatap kepergian dokter Reza.
...🌺🌺🌺...
Di tempat lain, terlihat gadis berhijab lebar itu turun dari taksi, ia menunduk terlebih dulu sebelum taksi itu pergi. Memberi hormat pada sopir taksi.
Di bahunya tersemat tali tas kecil, ada tas kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Dress yang ia pakai begitu pas di tubuhnya dengan warna pastel dan jilbab hitamnya.
perlahan langkahnya menyusuri jalan berpaving menuju ke toko buku, toko yang cukup besar dengan plang nama 'Toko buku Nurul Jannah'.
Nisa mulai mendorong pintu kaca dengan tulisan dorong di dekat pegangan pintu. Kedatangannya langsung di sambut oleh karyawan.
"Selamat datang!"
"Terimakasih!" jawab Nisa sambil tersenyum, "Apa mas Raka nya ada?" tanya Nisa kemudian.
"Mas Raka di dalam ruangannya!"
__ADS_1
"Bisa panggilkan saja, biar saya menunggu di sana!" ucap Nisa sambil menunggu sebuah bangku. Bangku yang sama yang pernah di duduki Leon.
"Baiklah, silahkan duduk dulu biar saya panggilkan mas Raka nya!"
Nisa pun segera duduk di tempat yang sudah di tunjuk tadi, saat ini bahkan tangannya sedang sibuk memilin ujung jilbab panjangnya. Ia harus menyiapkan kata-katanya sebaik mungkin biar tidak membuat Raka sakit hati oleh kata-katanya.
Beberapa menit hingga Raka benar-benar datang.
"Assalamualaikum, Nisa!" sapa Gus Raka dari arah belakang membuat Nisa segera berdiri dan berbalik menghadap Gus Raka.
"Waalaikum salam, mas Raka!"
Gus Raka tersenyum, "Duduklah!"
Setelah memastikan Nisa duduk kembali, Gus Raka pun ikut duduk.
"Saya kira sebuah surat yang akan datang, tapi ternyata ini lebih istimewa, walaupun bukan saya pilihannya!" ucap Gus Raka seolah-olah tahu maksud kedatangan Nisa.
"Maafkan saya!" ucap Nisa sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap pria di depannya.
"Dari awal sudah saya katakan, saya siap menerima segala keputusannya! Saya tahu mas Leon adalah pilihan yang tepat, saya tidak pa pa! Mungkin sejenak saya tidak akan baik-baik saja, tapi insyaallah setelah itu saya akan kembali baik karena Allah!"
Bahkan Nisa tidak sampai mengatakan apapun, tapi Gus Raka benar-benar pria yang mempunyai hati yang sangat lapang. Bahkan senyum tidak pernah lepas dari bibirnya sepanjang Nisa meminta maaf.
"Terimakasih ya mas Raka, saya tidak tahu jika ini bukan mas Raka, pasti akan lebih sulit dari ini!"
"Sama-sama, semoga kalian nanti menjadi pasangan yang sakinah mawadah warohmah!"
"Aminnn!"
...🌺🌺🌺...
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Gus Raka, kini Nisa segera kembali pulang. Ia ingin memanfaatkan hari liburnya dengan beristirahat dan berharap semua akan baik-baik saja meskipun ada hati yang sedang begitu sakit.
Teringat sekali bagaimana Gus Kara menatapnya dengan tatapan terluka, kecewa dengan jawaban yang ia berikan.
Nisa turun dari taksinya dan membuka pagar rumahnya yang hanya sebatas dada.
"Mobil siapa ya?" gumamnya saat melihat ada mobil lain selain mobil papa atau kakaknya.
"Ada tamu mungkin papa!"
Tapi tidak seperti kebiasaan papanya, papanya jarang menerima tamu di rumah apalagi hari minggu.
Langkah Nisa terhenti di depan pintu saat tangannya sudah mampu mendorong pintu itu, seseorang sudah duduk di sofa bersama papa dan mamanya.
Nisa sampai menutup mulutnya karena tidak percaya.
"Assalamualaikum!" sapa pria itu sambil berdiri dan berbalik menatap Nisa.
"Waalaikum salam!" suara Nisa bahkan seperti tertahan di tenggorokan.
Bukan kedatang pria itu yang menjadi masalah, tapi beberapa orang yang ada di sampingnya yang sekarang menjadi masalah dan barang-barang yang di bawanya saat ini.
...Cinta kita adalah yang terbaik karena imanku bertambah. Kau membantuku di dunia, dan karena itu aku ingin kembali bertemu denganmu di surga....
Sumber ; https://m.bola.com/ragam/read/4331602/30-kata-kata-bijak-cinta-islami-menenangkan-dan-menyejukan-hati?
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1