
...Cinta itu laksana lembah yang dalam nan misteri, begitulah pernikahan. Pernikahan laksana pelaut di atas samudera penuh dengan gelombang.Pernikahan bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur. Selalu berubah dan makin indah. ...
(sumber ; https://m-brilio-net.)
"Mas, mandi dulu gih, habis sholat magrib kita pulang!" aku menatap istriku, sebenarnya tidak masalah kami akan tinggal di mana setelah ini, tapi Nisa malah mengingatkanku untuk pulang.
"Tidak pa pa pulang? Atau tidak sebaiknya kita tinggal di sini, sepertinya papa sama Mama kamu masih merindukanmu?"
Dari kata yang di lontarkan oleh papa Nisa, aku merasakan kekecewaan apa yang di rasakannya.
"Nggak pa pa mas, nanti biar Nisa yang bicara sama mereka!"
Nisa hendak beranjak dari duduknya tapi tangan ini segera meraihnya,
"Jangan, kita di sini saja, nanti seseorang akan mengantarkan bajuku!"
"Kamu yakin mas?"
"Menurut kamu?" Nisa tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Aku siapkan air hangat!" aku segera melepaskan tangannya membuat Nisa berlalu ke kamar mandi, aku paling suka melihat wajah Nisa yang tersipu seperti itu, benar-benar menggemaskan.
Segera ku lepas kemeja dan menunggu Nisa kembali ke luar. Sedikit menggodanya sepertinya menyenangkan, aku sengaja berdiri di depan pintu kamar mandi dengan telanjang dada.
Tidak berapa lama Nisa keluar, wajahnya tepat di depan dadaku. Ia hampir saja terlonjak kebelakang tapi dengan cepat ku raih pinggangnya hingga tubuh kami kembali begitu dekat. Mata kita saring bertemu sekarang saat Nisa mendongakkan kepalanya.
"Mas!" panggilnya lembut.
"Mau mandi denganku?" tanyaku dengan sedikit menggoda, dia mengerutkan keningnya.
"Mas, belajar menggoda dari mana?" pertanyaan Nisa mengingatkanku pada beberapa hari lalu saat di Bali, sepulang dari pantai aku pun memikirkan bagaimana agar aku tidak canggung saat dekat dengan Nisa.
Hingga sebuah akun membimbingku untuk menonton drama Korea romantis, aku habiskan malam itu untuk menonton drama romantis setelah memastikan Nisa tertidur, bahkan aku tidak berani memperbesar volume agar Nisa tidak terganggu.
Sekarang, aku mulai mempraktekkan satu per satu adegan dalam drama, ternyata aku malah ketagihan mempraktekannya. Debat jantung ini semakin nyata saja saat bersamanya, aku yakin Nisa juga.
"Nanti aku kasih bocoran!" bisikku padanya lalu berlalu menuju ke kamar mandi, walaupun tidak yakin tapi sepertinya aku melihat Nisa tersipu karena kata-kata.
Aku sengaja ingin kembali dekat dengan papanya Nisa. Aku ikut dengannya sholat berjamaah di masjid dekat rumah, awalnya sikapnya masih dingin tapi lambat laut aku tahu dia orang yang bijaksana.
"Kamu nggak ajak Nisa pulang?" itu pertanyaan pribadi pertama yang papa Nisa lontarkan sedari tadi. Dan ternyata keluar pas kita berjalan pulang.
"Insyaallah kami akan tinggal di rumah papa sama Mama, kalau papa sama Mama nggak keberatan!?" aku sengaja memancingnya, aku tahu walaupun tidak terlalu jelas tapi papa Nisa menarik sudut bibirnya.
"Kenapa nggak pulang?" tanya papa Nisa lagi, nada nya masih di buat sama. Dingin dan tegas.
"Karena di rumah papa sama Mama, Leon bisa merasakan kehangatan keluarga, Leon punya keluarga utuh yang sudah lama sekali Leon dambakan!" itu bukan cuma alasan untuk membuat hati papa Nisa senang saja, memang benar seperti itu kenyataannya. Aku bukan orang yang hidup di keluarga lengkap. Beruntung karena aku bisa mendapatkannya lalu kenapa harus di sia-sia kan.
__ADS_1
Tiba-tiba papa Nisa menghentikan langkahnya, aku tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajahnya karena kami berada di bawah temaram lampu.
"Maaf ya atas kejadian tadi sore!" sekarang aku bisa melihat wajah menyesal dari papa Nisa. Aku tidak menyalahkannya atas apa yang dia katakan, walaupun Nisa sekarang istriku tapi jauh hari, banyak hari sudah dia lewati bersama keluarganya, aku yang awalnya hanya orang luar dan tiba-tiba meminta putrinya, aku jadi punya kekhawatiran nanti saat punya seorang putri pasti aku akan merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh papa Nisa sekarang saat putriku beranjak dewasa dan menikah.
"Bukan salah papa, leon tahu apa yang di rasakan papa saat ini. Jadi tidak ada yang perlu minta maaf, mungkin malah Leon yang harus minta maaf jika ada sesuatu pada diri Leon yang kurang berkenan di hati papa dan mama, insyaallah nanti Leon akan berusaha untuk memperbaikinya."
Papa Nisa tidak menanggapinya kembali, kami kembali berjalan menyusuri jalan yang sudah sepi. Kami tadi memang sengaja menunggu hingga habis Isha' agar tidak bolak-balik pulang.
Sesampai di rumah, ku lihat hanya ada mama Nisa yang menyiapkan untuk makan malam. Setelah mengucapkan salam, segera aku tanya mama untuk menanyakan keberadaan Nisa.
"Nisa nggak sama mama?" tanyaku sambil mengedarkan pandanganku ke arah dapur yang terlihat sepi. Walaupun ada beberapa asisten rumah tangga sepertinya mama Nisa sengaja membatasi jam kerja mereka, setelah jam empat sore sudah tidak ada yang bekerja.
"Belum turun dari tadi, coba kamu panggil Lee, kita makan malam bersama!"
"Baiklah ma, Leon ke atas dulu ya!" mama mengangguk dan aku pun segera menaiki tangga menuju ke kamar Nisa.
Papa Nisa masih berhenti di depan, berbincang dengan sopir yang bekerja di rumah itu, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan berbincang sebentar sebelum masuk ke dalam rumah.
Aku melihat pintu kamar Nisa terbuka sebagian. Aku sengaja tidak mengetuk lebih dulu, saat tangan ini mendorong pintu sama-sama aku bisa mendengarkan seseorang dengan membaca Kalamullah dengan begitu merdu,
Siapa?
Suara lembut itu milik Nisa, aku segera terpaku saat melihat sosok yang duduk di atas sajadahnya dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya dengan sebuah Alqur'an di tangannya.
"Shadaqallahul-'adzim'!" Nisa mengakhiri bacaannya karena menyadari keberadaanku yang sudah duduk di depannya. Ia menutup mushafnya dan menciumnya sebelum meletakkannya di atas meja.
"Mas!"
Nisa tersenyum lalu mengulurkan tangannya, aku pun menyambutnya. Dia mencium punggung tanganku lama, segera ku usap puncak kepalanya dan sebuah doa sengaja aku lantunkan,
"Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.”
Setelah aku selesai membaca doa, Nisa melepaskan tanganku lalu kembali tersenyum,
"Mas, aku sudah selesai haid nya!"
Deg
Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, jujur aku belum mempersiapkan hari ini. Tiba-tiba aku blank nggak tahu harus jawab apa, atau mungkin karena aku terlalu bahagia atau apa.
"Maaaas! Mas Leon nggak pa pa kan?" pertanyaan Nisa menyadarkanku. Aku segera menarik bibirku untuk tersenyum.
"Mama minta kita buat turun makan malam!"
"Baiklah, tunggu sebentar ya mas, aku lepas mukenanya dulu!"
Aku sengaja mengalihkan pembicaraan, aku tidak tahu harus menjawab apa tadi.
__ADS_1
Setelah merapikan kembali alat sholatnya kami pun turun, tidak ada pembicaraan lagi di antara kami.
"Kalian kenapa?" tanya mama Nisa, sepetinya beliau menyadari rasa canggung yang sedang kami alami saat ini. Aku dan Nisa kompak mendongakkan kepala setelah hanya fokus mengaduk makanan dari tadi, "Makanannya nggak enak?" tanya mama Nisa lagi.
"Enggak ma, enak kok ma!" ucap Nisa sambil tersenyum.
Mama Nisa beralih menatapku, aku pun segera meneguk air putih yang ada di samping piringku,
"Enak ma, sungguh!"
Papa sepertinya terpancing untuk ikut ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, wajahnya menyelidiki kami berdua,
"Kalian bertengkar?"
"Tidak pa, sungguh! Hanya saja tadi mungkin mas Leon sedang memikirkan sesuatu makanya nggak konsentrasi!" Nisa menyampaikan alibinya.
"Lalu kamu sendiri?"
"Aku?" Nisa terlihat bingung harus menjawab apa, sepertinya bukan hanya aku yang belum siap Nisa pun sama, jika memang begitu aku tidak berhak memaksanya.
"Nisa baru saja selesai menstruasi!" ucapku lantang, entah apa yang salah dengan ucapanku hingga membuat mereka terdiam menatapku.
"Aughhh!" pekikku pelan saat tiba-tiba tangan Nisa mencubit pinggangku. Reflek aku menoleh padanya dan mengerutkan keningku tidak mengerti. Baru saja aku ingin bertanya tiba-tiba kedua orang tua Nisa tertawa.
Mungkin sekarang wajahku terlihat bodoh, tapi sungguh aku tidak tahu apa yang salah dengan ucapanku.
Mama terlihat mengakhiri tawanya,
"Sudah sudah, cepetan makan dan sepertinya kalian butuh cepat-cepat istirahat!"
"Maaaaa!" protes Nisa atas ucapan mamanya.
"Suami kamu harus cepat di ajak istirahat, iya kan pa?" mama meminta pendapat papa Nisa.
"Hmm!" papa Nisa sepertinya sama, masih mencoba menahan tawanya.
...Aku beruntung memilikimu yang menerima segala kelemahan dan kelebihanku...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1