Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (9)


__ADS_3

Ternyata Aslan masih sangat kepikiran dengan apa yang di bicarakan oleh kedua orang tuanya. Sepanjang malam ia terus memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan Gus Raka.


Abizar yang sudah tertidur pulas harus kembali terbangun karena sang kakak tidak mematikan lampunya,


"Kak, belum tidur?" remaja berusia lima belas tahun itu tampak mengucek matanya yang masih begitu berat untuk di buka.


"Aku belum ngantuk, tidur aja nggak usah ngurus kakak!"


"Gimana mau tidur nyeyak kalau kak Aslan aja nggak matiin lampunya!" keluh Abizar, ia pun merubah posisinya hingga duduk dan menatap sang kakak yang juga masih duduk dengan selimut yang menutupi kakinya sebatas pinggang.


"Ada apa sih kak?"


"Kamu ingat nggak, sahabat papa yang kemarin datang ke sini menceritakan sesuatu, apa gitu?"


Abizar tampak berpikir, otaknya sedikit lelet kalau bangun tidur.


"Tentang pesantren mungkin kak, sahabatnya papa kan pengelola pesantren!"


"Yang lainnya!" Aslan juga bingung harus menjelaskan bagaimana dengan adiknya itu, "Begini deh, alamat pesantrennya apa? Atau namanya? Kamu ingat nggak?"


"Kak, bangun tidur aku jangan di suruh mikir deh, pusing nih!" keluh Abizar sambil memegangi kepalanya. "Sebenarnya ada apa sih kak? Kepo banget!?"


"Ada yang penting, Bizar! Kakak butuh banget!"


"Kalau nggak salah pesantrennya di daerah xxx, itu kayaknya Deket sama mesjid besar yang waktu itu kita mampir habis pulang dari rumah buda Nensi!"


"Yang benar?"


"Iya kak!"


"Ahhhhh akhirnya!" Aslan pun langsung merebahkan tubuhnya dan mematikan lampunya.


"Kak, kenapa tidur?"


"Ngantuk!"


"Aku jadi nggak ngatuk kak, temenina aku!"


"Jangan begadang, ntar di ajak gedruwo penunggu pohon sawo, tau rasa entar!"


"Kakak.....!" Abizar terpaksa kembali tidur walaupun matanya sudah sulit di pejamkan gara-gara ulah kakaknya.


"Kak ...., kak ...., kak Aslan ...., udah tidur ya?" lama tidak ada sahutan hingga Abizar kembali menutup tubhnya dengan selimut hingga di atas kepala.


"Jangan begadang, besok kalau bangunnya ke siangan nggak aku bonceng naik motor ya!"


"Kak Aslan curang ya!"


"Tidur atau besok aku tinggal!"


"Iya!"


Akhirnya walaupun susah payah akhirnya Abizar berusaha untuk kembali tidur.


...***...


Seperti biasa, karena sekolah Abizar dan Aslan tidak sama. Aslan akan mengantar Abizar ke sekolahnya dulu baru dia menuju ke sekolahnya sendiri.


"Bizar!"


Langkah Abizar terpaksa berhenti saat sang kakak kembali memanggilnya.


"Apa?"


"Jangan cemberut terus, ilang tuh gantengnya!" goda Aslan pada adik bungsunya itu, Abizar marah pada Aslan karena hampir saja di tinggal.


"Kakak ya yang buat bizar bangun kesiangan! Siapa suruh ngajak bizar ngobrol malam-malam, bizar kan jadi nggak bisa tidur!"


"Iya maaf deh, mau nggak ini!" Aslan menunjukkan selembar uang dua puluh ribuan.


"Itu buat Bizar?" tanyanya ragu.


"Iya lah!"


"Kak Aslan baik banget!" Abizar sudah hampir bisa mengambil uang itu tapi segera di tarik kembali oleh Aslan.


"Tapi tidak semudah itu!"


"Apa lagi nih?" Abizar kembali menunjukan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Nanti pulangnya kamu pulang sendiri naik angkot ya!"


"Emang kakak mau ke nama?"


"Kakak ada urusan bentar, nanti kalau di tanya mama, bilang aja kakak ada tugas kelompok jadi pulangnya sedikit telat, gimana?"


"Nggak mau ah bohong sama mama!"


"Please ...., sekali aja! Lumayan loh Bi, angkot kan cuma lima ribu, sisanya bisa buat belik bakso dua mangkok nih di depan gang!"


Abizar tampak berpikir dan kemudian tersenyum.


"Baiklah!"


"Tapi janji dulu, ngomongnya sama mama apa?"


"Lagi ada tugas kelompok!"


"Sippp!" Aslan pun memberikan selembar uang dua puluh ribu itu pada sang adik.


"Baiklah, jangan tunggu kakak!"


Aslan pun kembali memakai helmnya dan menjalankan motornya meninggalkan sang adik yang masih berdiri di depan gerbang sekolah.


"Sering-sering aja kayak gini!"


...***...


Siang ini seperti yang di rencanakan, Aslan benar-benar mencari pesantren tempat tinggal Gus Raka.


Ia hanya berani memantau dari luar, untung sekolah hari ini pulangnya lebih awal. Hingga ia sampai di pesantren tepat pas waktu dhuhur.


Sambil menunggu bertemu dengan Gus Raka, Aslan pun memilih sholat di masjid yang di bicarakan adiknya semalam, masjid itu ternyata adalah masjid yang berada di lingkungan pesantren. Para santri biasa melaksanakan sholat di masjid itu.


Tapi hingga hampir habis jamaah, ia tidak bisa menemukan pria yang di carinya hingga ia memutuskan untuk bertanya pada salah satu jama'ah yang kebetulan keluar saat ia hendak memakai kembali sepatunya.


"Pak, maaf! Boleh tanya sebentar!?"


Pria seumuran dengan papanya itu segera berhenti dan memperhatikan penampilan Aslan yang masih memakai seragam sekolahnya hanya saja bagian atas ia memakai jaket dan baju putihnya sudah ia lepas dan di masukkan ke dalam tas, terlihat dari warna celananya saja semua orang juga sudah bisa menebak jika anak itu adalah anak sekolah.


"Ada apa dek?"


"Ohhhh, Gus Raka!" pria itu langsung bisa menebak siapa yang di tanyakan oleh Aslan, karena semua orang di sekitar pesantren itu juga tahu kalau ustadz Arif hanya memiliki satu putra bernama Raka. "Semua orang juga kenal sama Gus Raka!"


"Bisa nggak pak saya bertemu dengan Gus Raka?"


"Wahhh adek salah, kalau jam-jam segini nih Gus Raka ada di toko!"


"Toko?"


"Iya, beliau punya toko buku besar yang ada di dekat kampus!"


"Terimakasih atas informasinya pak!"


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi ya!"


"Iya pak, silahkan!"


Setelah pria itu pergi, Aslan pun segera melanjutkan kegiatannya memakai sepatu yang sempat terhenti karena ia harus bertanya.


Ia pun segera kembali menghampiri motornya yang terparkir di parkiran masjid, memakai kembali helmnya dan menjalankan motornya menuju ke alamat yang di tunjukkan oleh bapak tadi.


Kebetulan jarak toko buku dengan pesantren memanglah tidak begitu jauh hingga hanya dengan waktu sepuluh menit saja ia sudah sampai di tempat yang di tuju.


"Ini kayaknya, toko yang di maksud bapak tadi! Letaknya benar dekat dengan kampus!"


Aslan kembali memarkirkan motornya dan segera melangkahkan kakinya ke dalam toko setelah melepas helmnya juga.


Toko buku itu cukup besar dengan begitu banyak karyawan. Ia pikir saat masuk ke toko itu, ia bisa langsung bertemu dengan pria yang di cari. Ia berpikir seperti di toko-toko buku lainnya, pria itu akan berdiri di balik meja kasir, ternyata saat ia masuk yang berdiri di balik meja kasir ternyata orang lain bukan Gus Raka.


Bagaimana cara tanyanya ....


Aslan sedikit bingung, untung ada salah satu karyawan yang menghampirinya.


"Mau cari buku apa dek, biar saya bantu cari, mari_!"


"Enggak mas, sebenarnya saya nggak cari buku!"


Pria yang memakai seragam toko itu tampak mengerutkan keningnya, pasalnya di toko ini hanya menyediakan buku. Sudah pasti yang datang ke toko ini pasti mencari buku.

__ADS_1


"Saya mau cari mas Raka!" Aslan sengaja tidak menggunakan bahasa Gus karena bukan di wilayah pesantren.


"Ohhh mas Raka? Bentar ya dek, mas Raka nya sedang keluar sebentar, mau nunggu atau kembali lagi nanti?"


"Saya nunggu saja boleh nggak mas?"


"Boleh, tunggu di sana ya!" pria itu menunjukka sebuah ruang tunggu yang begitu nyaman, "Mari saya antar!"


Karyawan itu begitu sopan meskipun tidak mengenal siapa Aslan membuat Aslan begitu nyaman.


"Saya tidak pa pa mas menunggu di sini walaupun saya nggak beli buku? Apa saya nunggu di depan saja, di tempat parkir ya mas!"


"Jangan, mas Raka nanti malah marah! Di sini saja tidak pa pa!"


"Memang mas tahu siapa saya?"


"Tidak peduli siapa adek, adek adalah tamu di sini dan mas Raka sangat menghormati tamu, jadi nikmati saja!"


Aslan begitu merasa di istimewakan di tempat yang menurutnya masih begitu asing.


"Ini air mineralnya, silahkan sambil menunggu! Saya kembali kerja dulu ya, santai saja!"


"Terimakasih mas!"


Setalah karyawan itu pergi, Aslan kembali memperhatikan sekitar. Ternyata tidak hanya pada dirinya saja para karyawan itu sopan tapi pada pengunjung yang lain pun mereka begitu sopan.


Karyawannya saja sopan begitu, apalagi bosnya ....


Aslan memegangi tenggorokannya yang terasa kering, ia kembali melihat air mineral kemasan yang berada di atas meja.


Tadi katanya boleh ambil kan?


Aslan hari ini hanya membawa uang pas, hanya untuk beli bensin karena yang sakunya di berikan pada Abizar. Jadi hari ini dia tidak jajan. Perutnya sebenarnya juga begitu lapar, tapi ia harus menahannya sampai ia bertemu dengan orang yang ia cari.


Hingga hampir setengah jam, Aslan sampai merasa lehernya kebas karena terus menoleh ke pintu masuk. Akhirnya yang di tunggu datang juga, pria itu sedang membawa dua kantong plastik besar berwarna putih hingga Aslan bisa langsung tahu apa isi kresek itu. Kotak makanan.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" sahut seluruh karyawan yang berada di dekatnya dan mendengar salamnya, gus Raka meletakkan dua kantong besar itu di atas meja kasir.


Aslan memilih memperhatikan apa yang di lakukan oleh Gus Raka timbang menyapanya.


"Ini bagikan ke teman-teman ya buat makan siang, bergantian aja makan siangnya, biar tetap ada yang membantu pelanggan!"


"Baik mas!"


"Kamu makan dulu gih, biar kasir aku dulu yang jaga!"


Satu per satu karyawan mengambil jatah makannya, Gus Raka memang sering mentraktir semua karyawannya makan siang, satu kali dalam satu Minggu itu pasti.


"Jangan mas, soalnya mas Raka ada tamu!"


"Tamu?"


Pria yang tadi menyambut Aslan pun menunjuk ke arah Aslan. Aslan yang awalnya memperhatikan Gus Raka segera mengalihkan tatapannya dan kembali menatap dengan senyum datarnya. Seperti kebanyakan remaja yang masih sangat menggenggam ego dan harga dirinya. Tidak mau sampai orang lain berpikiran jika dia sedang begitu menunggunya.


Gus Raka, hanya dengan sekali tatap saja ia bisa tahu siapa tamunya itu.


"Ini masih sisa dua kan? Aku ambil ya?"


"Nggak kasih tukang parkir mas?"


"Hari ini tidak dulu ya, nanti biar aku kasih sendiri tukang parkirnya!"


"Iya mas!"


Gus Raka pun segera mengambil dua kotak nasi dan berjalan menghampiri Aslan.


Spesial visual Gus Raka



Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2