
Aisyah terus berjalan meninggalkan gus Fahmi di tengah guyuran air hujan, ia bahkan
tidak mampu lagi berbalik menatap pria yang telah ia simpan namanya dengan
sangat dalam itu. Seandainya saja waktu untuk bisa bersamanya dan kesempatan
berpihak padanya, ia ingin mengatakan sejuta cinta untuk pria itu dan bersatu
dalam ikatan suci karena Allah.
“Aisyah …..!” teriak bu Santi saat melihat putrinya berjalan di tengah hujan, bu Santi
berjalan dengan membawa payung, ia sedikit berlari menghampiri putrinya itu.
“Sya …., kenapa hujan-hujanan? Ibu sudah bilang jangan pergi lama-lama, bu Widya
sudah menunggumu dari tadi, kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi?” tanya bu
Santi begitu banyak pada putrinya itu setelah berada di bawah payung yang sama.
“Ponsel?”
Aisyah sampai melupakan ponselnya yang masih terus ia genggam di sebelah
tangannya, ia mencoba menghidupkan ponselnya tapi ternyata tidak bisa,
ponselnya terkena air sepertinya.
“Ponsel Ais mati, bu. Kena air hujan!”
“Ceroboh sekali kamu, kalau mati gini bagaimana ibu bisa menghubungimu nanti!”
“Maaf bu …!”
“Ya sudah lah ayo kita pulang!”
Aisyah hanya bisa mengikuti langkah ibunya di bawah payung yang sama, tapi hatinya
sedang tertinggal di belakang bersama pria yang tengah terguyur air hujan itu.
Gus …, semoga kelak kita di
pertemukan di surga yang sama….
Langkah mereka melambat saat sampai di depan rumahnya, di sana ada banyak sekali mobil yang berjejer, membuat hati Aisyah menjadi was-was.
“Bu …!”
“Iya?”
“Nino?”
Pikirannya sudah sangat buruk tentang Nino, ia berharap tidak terjadi apa-apa dengan Nino
di dalam rumah.
“Nino tidak pa pa Sya, itu mobilnya bu Widya!”
“Bu Widya?”
“Iya …, ibu tadi sudah bilang kan sama kamu, ayo …, kasihan bu Widya menunggu
terlalu lama!”
Aisyah pun mengikuti langkah ibunya memasuki pagar rumahnya melewati berjajar mobil yang memenuhi gang rumah mereka.
“Assalamualaikum!”
sapa bu Santi.
__ADS_1
“Waalaikum salam!” terdengar sahutan dari dalam, Aisyah yakin itu adalah suara bu Widya. Mereka
memasuki rumah, Aisyah bertambah terkejut saat melihat betapa penuhnya rumah
kecilnya saat ini dengan banyaknya barang.
“Bu …, apa semua ini?”
“Bu Widya yang membawakannya untuk kita!”
“tapi kenapa?” Aisyah sangat keberatan dengan benda-benda itu, benda-benda yang
terbungkus rapi itu terlihat baru semua, ada lemari es, tv, peralatan dapur,
dan masih banyak lagi.
“Aisyah …!”
“Nenek!”
nenek Widya keluar dari dalam kamar Nino bersama Nino yang sudah sangat rapi.
“Nenek …, apa yang nenek lakukan dengan barang-barang ini?”
‘Ini tidak ada apa-apanya sayang, di bandingkan dengan apa yang akan kamu berikan untuk
nenek!”
“Tapi ini berlebihan nek!”
“Tapi sudah nenek bilang, ini tidak sebanding dengan apa yang akan kamu berikan untuk
nenek dan cucu nenek!”
“tapi aku tidak memberikan apapun nek!”
“Mungkin sekarang kamu belum merasa, tapi nanti. Itu pasti!”
Widya!”
“Ikut?”
“Iya.…, bu Widya akan membawamu mulai hari ini!”
Mau tidak mau Aisyah harus mau, siap tidak siap ia juga harus siap. Aisyah pun
segera masuk ke dalam kamarnya, mandi dan melaksanakan sholat ashar. Ia juga
memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besar. Ada satu barang yang begitu
membuatnya bimbang.
“Aku lupa mengembalikannya ke gus Fahmi!” Aisyah menciumi kembali cincin itu, cincin pemberian gus Fahmi, ia menyeka kembali air matanya yang lagi-lagi harus menetes.
“Ya Allah …, kuatkan hatiku, hati hamba terlalu rapuh dengan semua ini!”
Aisyah kemudian mengingat salah satu tausiyah yang pernah ia dengar dari gus Fahmi di kampusnya.
“Tanda Allah mencintai dan membenci
hambanya yaitu, ‘Jika Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memperbanyak
kesedihannya, sedangkan jika Dia akan meluaskan dunianya untuk keburukannya’ jadi
jangan pernah menyalahkan Allah atas semua kesedihan yang kita alami, anggap
saja sebagai investasi di surga.”
Aisyah memasukkan kembali cincin itu ke dalam wadahnya kotak bludru warna merah itu. Ia memasukkan ke dalam tas besarnya, menatap kembali kamar yang entah kapan ia
__ADS_1
bisa kembali ke rumah sederhananya itu, rumah yang memiliki banyak kenangan
dengan almarhum ayahnya, dengan ibu dan adiknya.
Tok tok tok
“Sya …, kenapa lama sekali?”
“Iya bu …, sebentar!”
Aisyah harus benar-benar harus meninggalkan rumah itu, kamar itu. Aisyah keluar dari
kamar, terlihat bus anti juga sudah bersiap-siap.
“Bu…, ibu mau ke mana sama Nino?”
“Kami akan berangkat ke rumah sakit, Sya!”
“Sekarang?”
“Iya.…, jika keadaan semuanya baik, Nino nanti malam sudah harus puasa!”
Aisyah menatap adiknya itu, mengelus rambut adiknya. Mencoba menguatkan adiknya jika
semua akan baik-baik saja. Jika saja Alex tidak memberikan syarat itu, dia pasti lebih memilih untuk menemani adiknya menjalani operasi.
“Nino …, jangan takut ya, kamu pasti sembuh setelah ini. Kakak yakin Nino anak yang
kuat, doa kakak selalu untukmu!”
“Apa kakak tidak akan ikut dengan Nino, menemani Nino?” tampak mata Nino sudah
berkaca-kaca.
“Tidak pa pa Nino, kakak tidak di sana, tapi hati kakak selalu di hati kamu, di sini!”
ucap Aisyah sambil menyentuh letak jantung Nino, mencoba mengatakan jika
dimana pun ia berada, doanya selalu untuk adik semata wayangnya itu.
“Memang kakak mau ke mana?”
“Kan kakak mau
nikah, jadi nggak bisa nemenin Nino!”
“Tapi janji ya kak, kalau Nino sudah selesai operasi, kakak temui Nino!”
“InsyaAllah …!”
Ia tidak tahu apa Alex, si pria Arrogant itu akan mengijinkannya mengunjungi keluarganya lagi nanti setelah menikah, ingin rasanya menangis saat ini juga, tapi ia harus menguatkan Nino.
Bu Santi dan Nino pun berangkat lebih dulu, di luar hujan sudah reda, mereka masuk ke dalam mobil yang berbeda. Bu Santi dan Nino pergi bersama asisten nenek Widya sedangkan Aisyah bersama nenek Widya.
Sepanjang jalan Aisyah hanya diam, nenek Widya terus menggenggam calon cucu menantunya itu.
Setelah cukup lama akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi, tertulis hotel and ballroom di depan gedung itu.
"Biarkan meeka yang membawa barang-barang kamu!" ucap nenek Widya pada aisyah setelah mereka turun dari mobil, seseorang sudah menyambut mereka, sepertinya itu salah satu staf hotel dan juga wedding organizer.
"Mari ikut kami nyonya!"
"Baiklah ...., ayo sayang ....!"
Aisyah pun hanya bisa mengikuti langkah nenek Widya tanpa berani bertanya, mungkin mereka akan membawa aisyah ke gedung yang akan menjadi tempat pernikahan atau apa, Aisyah tidak terlalu memikirkannya asal tidak bertemu dengan pria arrogant itu, ia belum siap menghadapi pria angkuh dan arrogant itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak
__ADS_1
Segini dulu ya, ....., mak lagi kejar setoran nih .....
Happy Reading 🥰😘❤️❤️