Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Ingin Seperti ini dulu)


__ADS_3

Akhirnya Gus Raka dan Alex pun memutuskan untuk pergi.


Kali ini Gus Raka memilih untuk pergi sendiri di banding di antar kembali oleh Alex.


"Biarlah saya antar, saya tidak ada acara setelah ini!" Alex merasa tidak enak karena mereka pergi bersama-sama.


"Tidak pa pa pak Alex, saya akan mampir dulu ke suatu tempat, kalau anda merasa tidak enak bagaimana kalau anda antar saya sampai di halte saja!"


"Baiklah kalau begitu!"


Seperti yang Gus Raka minta, Alex pun menghentikan mobilnya di halte paling dekat dengan rumah Oma widya.


"Terimakasih atas tumpangannya!" ucap Gus Raka saat turun dari mobil.


"Sama-sama, semoga setelah ini kita bisa menjalin hubungan keluarga yang baik. Mau bagaimanapun Leon adalah adik saya!"


"Saya mengerti pak Alex, sekali lagi terimakasih!"


Setelah mengucapkan salam, Gus Raka pun segera mundur, dan mobil itu perlahan melaju meninggalkannya.


Gus Raka menunggu hingga bus datang, hanya lima menit dari saat ia duduk akhirnya bus datang dan membawa tubuhnya ke suatu tempat.


Tempat kali ini yang sedang ia kunjungi adalah rumah sakit tempat Nisa di rawat. Rasanya tidak sabar menunggu hingga esok hari.


Biarlah, hari ini ia menikmati rasa sendiri dengan menatap saudara kembarnya.


Gus Raka mampir ke sebuah toko buah, membeli beberapa buah segar dan memasukkannya ke dalam kantong plastik transparan.


Langkahnya begitu pasti menapaki lantai rumah sakit, hingga langkah itu harus terhenti di depan sebuah ruangan.


Dari luar ia bisa melihat canda tawa yang ada dari dalam ruangan itu, terlihat sekali Nisa dan Leon begitu bahagia saat ini, bibirnya tidak hentinya melengkung.


Tiba-tiba sudut mata Gus Raka kembali menitikkan air mata dan dengan sigap ia mengusap sudut matanya. Ia bukan menangis karena melihat bagaimana keluarga itu bahagia dan meninggalkannya sendiri tapi air matanya keluar karena setelah sekian tahun ia bisa melihat kembali saudara kembarnya.


Dua puluh tahu terpisah dan akhirnya bertemu lagi dengan cara yang tidak terduga.


"Mas_, mau jenguk pasien ya?" pertanyaan seorang perawat yang akan mengantarkan obat pada Pasien yang ada di dalam ruangan itu.


"Oh iya sus!"


Percakapan yang terjadi di luar ruangan itu membuat kedua orang yang ada di dalam menjadi tertarik melihat orang yang sedang berdiri di depan ruangan mereka.

__ADS_1


Gus Raka pun tersenyum, dan mengucapkan salam. Berjalan di belakang perawat yang akan memeriksa keadaan Nisa.


"Duduklah!" Leon mengajak gue Raka untuk duduk di sofa sambil menunggu Nisa selesai di periksa.


"Terimakasih! Maaf jika aku datang tanpa memberitahu terlebih dahulu, tadi kebetulan lewat jadi sekalian mampir!"


"Tidak pa pa Gus, saya senang malahan Gus Raka mau datang ke sini, Nisa pasti juga seneng!"


Mereka kembali saling diam, cukup lama. Memang Gus Raka sengaja ingin mengamati saudara kembarnya itu. Rasanya begitu sayang melewatkan dua puluh tahun tanpa dirinya.


"Oh iya, saya hanya membawakan ini untuk Nisa!" ucap Gus Raka sambil menyerahkan sekantong plastik buah segar yang ia beli dari toko yang ada di bawah.


"Seharusnya tidak perlu repot-repot, kami sudah cukup senang Gus Raka mau ke sini!"


Selanjutnya mereka hanya mengobrol santai, Gus Raka tidak menyinggung sama sekali apa yang ia ketahui tadi pagi. Ia memilih moment yang pas untuk itu, walaupun sekarang di dalam tasnya sudah ada bukti yang menguatkan.


Hingga Gus Raka pun memutuskan untuk sholat dhuhur di rumah sakit itu bersama Leon.


Setelah selesai sholat duhur, Leon mengajak Gus Raka untuk ke kantin rumah sakit untuk makan siang.


Ia sudah menitipkan nisa pada temannya selama ia tinggal.


"Seperti sudah lama sekali kita tidak melakukan hal ini!" ucap Gus Raka lirih tapi masih bisa di dengar oleh Leon.


"Ya, seperti itulah!" sebenarnya berat baginya untuk menyimpan semuanya sendiri. Tapi mengatakan hal ini pada Leon saat ini juga bukan ide yang bagus. Ia harus memberitahukan hal ini kepada orang tua angkatnya terlebih dulu, karena mereka juga berhak tahu jika dirinya memiliki seorang saudara kembar.


"Apa ada yang ingin Gus Raka katakan? Maksud saya, sesuatu yang penting?" Leon menatap Gus Raka. Ia melihat pria yang ada di depannya itu terlihat menyembunyikan sesuatu. Walaupun tidak yakin tapi sepertinya seperti itu.


"Bagaimana kalau aku katakan besok saja?"


Leon mengerutkan keningnya, ia heran pada pria di depannya..Jika apa yang ingin dia katakan adalah menyangkut dirinya kenapa harus besok? Bukankah kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita esok hari, kita hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan umur yang panjang pada kita.


"Insyaallah, besok akan aku katakan semuanya! Biarlah sekarang seperti ini saja, aku sedang ingin menikmati masa-masa seperti ini, bersama mas Leon!"


"Baiklah, itu hak Gus Raka untuk mengatakan atau tidak, jika ini bersangkutan denganku, insyaallah aku akan menunggu sampai Gus Raka siap untuk mengatakannya.


Setelah makan siang itu, Gus Raka pun akhirnya berpamitan untuk pulang.


Dan kali ini ia benar-benar pulang, ia bahkan tidak berniat untuk mengambil motornya di toko. Ia memilih menaiki taksi untuk sampai di rumah.


Kedatangannya langsung di sambut sang umi dengan begitu heran.

__ADS_1


"Motor kamu di mana Ka?"


"Masih di toko mi, Abi mana mi?"


"Masih di pesantren, bentar lagi juga pulang!"


Benar saja tidak berapa lama ia mendengar pintu rumah di ketuk dan abu Gus Raka masuk setelah terdengar suara salam.


Gus Raka yang sebelumnya berniat untuk segera pergi ke kamar ia urungkan karena masih ada yang ingin ia katakan pada kedua orang yang telah begitu berjasa membesarkannya.


"Kebetulan sekali kalau Abi sama umi ada, Raka ingin membicarakan sesuatu pada Abi dan umi!"


Karena ucapan Gus Raka, dua orang itu pun akhirnya duduk di sofa yang sama.


"Ada apa? Sepertinya penting sekali?" tanya Abi dari Gus Raka itu dengan wajah tenang nya.


Gus Raka pun mengeluarkan foto usam itu dan juga kemeja kecil milik anak usia lima tahunan yang sebenarnya tidak kalah usamnya, bahkan terlihat ada beberapa sobekan yang sudah di jahit di sana dan lagi sebuah gantungan kunci.


"Abi sama umi masih ingat kan sama anak ini?" kedua orang tuanya mengamati Foto itu dan salah satu anak itu sama persis seperti foto anak kecil yang ada di dalam ruang baca.


"Ini foto kamu, Raka!"


"Iya, dan satunya adalah kembaran Raka, namanya Dika! Raka sudah pernah kan bercerita tentang Dika?"


"Alhamdulillah, Jadi saudara kembar kamu sudah ketemu? Dia masih hidup?" umi Gus Raka terlihat begitu senang menatap sang putra.


"Iya umi, dia sekarang bukan Beran Dika, tapi bernama Leon!"


"Leon_, Leon!" umi Gus Raka terlihat sedang mengingat sesuatu, nyatanya memang nama itu tidak asing baginya, "Apa Leon yang menikahi Nisa, gadis yang sudah pernah kamu khitbah?" tanyanya lagi setelah ingat semuanya.


"Iya umi, dia saudara kembar Raka!"


"Ya Allah, dunia ini ternyata begitu sempit, hingga dengan cara begitu indah Engkau mempertemukan mereka!" ucap Abi Gus Raka.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2