
...Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, kapan, atau dari mana. Yang aku tahu, aku mencintaimu secara sederhana, tanpa kata puitis atau kemewahan, aku mencintaimu dengan segala yang ada padamu, sedih dan bahagia, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu ~ Leon...
...🌺Selamat membaca🌺...
Suara azan subuh sudah berkumandang beberapa menit lalu, tapi pria yang baru saja melangsungkan pernikahan kemarin itu masih terlihat lelap di balik selimut tebalnya.
Nisa yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat suaminya masih di atas tempat tidur pun memilih untuk menghampiri sang suami.
Ia duduk di sisi lain dari tempat tidur dan mulai menggoyang tubuh suaminya itu.
"Mas, mas Leon_, sudah subuh, bangun yukkk!"
Walaupun lembut, tapi suara itu bisa membangunkan pria itu. Matanya mulai mengedip seperti sedang menyesuaikan cahaya lampu yang ada di dalam kamar itu.
"Nisa!"
Kelihatannya Leon sedang mengingat-ingat sesuatu.
Dia istriku sekarang.
Leon tersenyum, ia tidak menyangka bisa seperti ini. Bangun pagi langsung bisa melihat wajah Nisa, apalagi saat ini Nisa sedang tidak memakai hijabnya, ia mengikat rambutnya dan menekuk dua kali di belakang, walaupun tidak kelihatan seberapa panjang rambut itu, Leon bisa mengira-ngira jika rambut sang istri sebatas punggung, hitam legam dan lurus tebal.
"Kok malah senyum sih mas? Azan sudah berlalu loh mas!" mendengarkan ucapan Nisa, Leon tampak begitu terkejut. Ia sampai bangun dari tidurnya.
"Azan?"
"Iya mas!"
Leon pun dengan cepat menyibakkan selimutnya, turun lalu berlari menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Sembari menunggu sang suami, Nisa pun memakai kembali jilbabnya dan duduk di depan cermin. Ia sengaja tidak mandi, ia hanya bersih-bersih dan memakai skin care karena hari ini dia masih cuti, masih ada tiga hari masa cutinya.
Ceklek
Nisa menoleh ke arah pintu kamar mandi, sang suami terlihat terburu-buru keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut yang sudah basah. Ia dengan cepat mencari sarung dan baju kokonya. Mencari peci yang ia letakkan di meja dan mengenakannya di kepalanya, sedikit menyibakkan rambutnya yang basah.
Nisa terpaku di buatnya, matanya terus mengawasi gerak suaminya tanpa bergerak dari tempatnya. Melihat sang suami dengan rambutnya yang basah sungguh membuatnya terpesona.
"Kamu nggak sholat?" pertanyaan itu menyadarkan Nisa.
Hmmmm, Nisa mencoba menormalkan suaranya agar tidak terlihat kalau dia sedang mengagumi pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Mas Leon lupa lagi ya? Nisa kan lagi menstruasi!"
Ahhh, kenapa dia mengingatkan lagi, alamat jadi bulan-bulanan dokter Reza nih. Leon terdiam, ia hampir melupakan tragedi semalam tapi istrinya malah mengingatkannya lagi.
"Mas? Kenapa bengong? Sudah mau iqomah tuh!"
__ADS_1
"Ahh, tidak! Ya sudah aku ke masjid dulu ya! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Leon pun sudah mencapai pintu, tapi ia kembali berhenti dan menoleh ke arah Nisa.
"Apa dokter Reza masih di sini?" mendengar pertanyaan Leon, Nisa pun mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi di luar kamarnya setelah semalam mereka masuk ke dalam kamar.
"Mungkin. sudah pulang, kan kak Reza sudah punya rumah sendiri sekarang!"
Leon menghela nafas lega, setidaknya ia tidak akan menjadi bahan tertawaan nanti.
"Aku berangkat! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Nisa masih terus menatap ke arah pintu, jaga-jaga siapa tahu jika suaminya kembali masuk.
"Ada apa sih sama mas Leon?" Nisa menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Setelah selesai dengan ke kegiatannya, ia pun keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan untuk keluarga. Walaupun di rumahnya masih banyak orang, tapi Nisa suka jika libur mambantu mama nya di dapur
Beberapa perlengkapan dekorasi masih belum di lepas, makanan dan kue masih banyak sisa dan belum sempat di bagikan kepada para tetangga.
Nisa pun membantu orang-orang untuk mengemas makanan dan kue yang akan di bagikan lagi agar cepat bersih kembali rumahnya.
Di tempat lain, Leon berangkat ke masjid sendiri karena ayah mertuanya juga sudah berangkat. Ayah mertuanya tidak berani membangunkan Leon karena tidak mau menggangu pengantin baru.
Dua rokaat berakhir dan imam pun mulai membacakan doa.
Selang beberapa menit akhirnya dia berakhir dan para jama'ah satu per satu meninggalkan masjid begitu juga dengan Leon. Ia ingin segera pulang saja dan berharap tidak bertemu dengan sang papa mertua.
Setelah berhasil memakai sendalnya, Leon pun dengan cepat berjalan meninggalkan masjid, bahkan jalannya lebih mirip seperti berlari. Tapi suara seseorang memanggil namanya beberapa kali membuat Leon terpaksa menghentikan langkahnya.
Mati aku, Ia hafal suara siapa yang sedang memanggilnya saat ini.
"Kenapa buru-buru sekali sih?"
"Tidak pa pa!" pria seumuran dengannya sudah berdiri.di depannya saat ini, dokter Reza ternyata masih di rumah Nisa.
"Aku kira mau sholat di rumah, makanya aku sama papa tinggal!"
Leon hanya tersenyum masam, sepertinya kakak iparnya itu akan memulai serangannya.
"Itu papa!"
Leon terpancing untuk melihat ke arah telunjuk dokter Reza, dan benar saja papa mertuanya berjalan di belakang mereka. Terpaksa mereka pun menghentikan langkahnya.
"Kalian bisa barengan? Papa kira kasih ngributin tamu bulanan!" mendengar perkataan papa mertuanya, Leon segera menoleh ke arah dokter Reza dan pria itu hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Bukan salahku, papa yang pengen tahu!" dokter Reza benar-benar tidak ingin di salahkan. Papa Nisa hanya tersenyum dan berjalan mengiringi langkah mereka.
Kalaupun bisa, kali ini Leon hanya ingin menenggelamkan wajahnya ke dasar bumi agar siapapun tidak bisa melihat wajahnya.
Sepanjang jalan papa dan dokter Reza terus saja membicarakan tentang tamu bulanan dan Leon hanya bisa diam pura-pura tidak mengerti dengan yang mereka bicarakan.
Hingga mereka pun sampai juga di rumah,
"Sambil nunggu para wanita selesai masak, kita duduk dulu ngobrol-ngobrol!" ajak papa mertuanya. Dan Leon pun tidak bisa menolak karena ia masih baru di rumah itu.
Akhirnya mereka pun duduk di teras rumah sambil melihat orang-orang dekorasi mulai membongkar tendanya.
Tidak berapa lama. seseorang mengantarkan tiga cangkir kopi untuk mereka, sepertinya salah satu asisten rumah tangga di rumah itu.
"Maaf ya mas Leon, saya tidak tahu mas Leon minumnya apa jadi saya buatkan kopi sama seperti punya bapak dan mas Reza!"
"Iya nggak pa pa buk, saya juga suka sama kopi! terimakasih!"
"Sama-sama, Monggo di minum! Saya permisi kembali ke dalam!"
"Silahkan!"
Mereka pun mulai menyesap kopinya, suasana sudah mulai tenang hingga mama mertua dan saudara ipar lainnya menghampiri mereka.
Hal yang semakin membuat Leon tercengang ternyata mereka semua tahu tentang kekonyolannya semalam dan alhasil kembali menjadi bahan tertawaan.
"Stop stop, kasihan leonnya! Tapi memang itu polos sekali, mama sampai nggak bisa tidur semalam dan terus tertawa!" lagi-lagi perkataan mama mertuanya membuat Leon semakin ingin menyembunyikan wajahnya saja. Nisa yang mendengar perbincangan di teras begitu heboh pun tertarik untuk menghampiri.
"Ada apa sih ma, pa, kak, mas?" Nisa berusaha mengabsen semua orang yang ada di tempat itu.
"Tidak pa pa, mama hanya salut banget sama suami kamu!" mama Nisa tampak memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.
"Kenapa ma?" Nisa menatap ke arah mamanya lalu beralih ke arah sang suami.
"Suami kamu terbukti kalau nggak pernah dekat sama wanita manapun, mama salut, dua jempol deh pokoknya untuk Leon! Nggak seperti kakak kamu yang pernah jadi mantan play boy!" mama Nisa mengacungkan dua jempolnya ke arah Leon lalu beralih ke arah dokter Reza yang hanya bisa nyengir kuda karena mendapat tatapan tajam dari sang istri.
Dan kali ini Leon bisa sedikit tertawa karena akhirnya dokter Reza mendapat serangan balik dari mama mertuanya.
...Devinisi cinta menurut mas Leon: Cinta itu bukan perasaan yang datang lalu pergi dengan berjalannya waktu tapi Cinta itu malah tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Meskipun cinta tidak ditanam, tapi cinta tumbuh dengan sendirinya....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...