
Leon segera berdiri di depan mobil dan menantang,
"Siapa kalian, kalau berani turun dan kita berduel satu lawan satu!" Leon yang memang sudah terbiasa dengan keadaan ini jelas tanpa gentar untuk menantang mereka yang mungkin jumlahnya bisa lima kali lipat dari dirinya.
Seseorang yang duduk di mobil yang menghadangnya di depan segera turun dari mobil, seseorang yang memang beberapa kali sering di jumpai oleh Leon.
"Kamu?" Leon begitu terkejut, wajah polosnya ternyata sudah menipu. Dia adalah asisten pribadinya selama dua tahun ini, selama bekerja dengannya, pria yang sekarang berdiri di depannya itu begitu rajin dan tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
Leon pun kembali mengumpulkan kepingan-kepingan memori sebelum mereka berangkat ke Bali, asistennya yang sudah mengantarkan ke bandara. Mungkin pria bernama Adi ini telah mendengarkan pembicaraan antara Leon dan Alex.
Bahkan Adi juga mengantar mereka sampai di bandara dan menunggu sampai pewasat berangkat.
Beberapa kali rumahnya juga kecolongan, ada penyusup dan membuat onar di rumahnya dengan begitu rapi, karena ada orang dalam.
"Hei tuan Leon, keluarlah! Aku tidak mungkin kan kamu suruh untuk melawan pria yang hobinya mengaji ini!"
Sial ....
Leon baru sadar jika sekarang ia sedang berpenampilan sebagai Gus Raka.
"Kamu bahkan tidak mengenaliku!" ucap Leon sambil memicingkan senyumnya.
"Buat apa saya harus mengenal orang yang tahunya cuma mengaji, sekali sentil saja pasti sudah Keos!"
"Baiklah, kalau menurutmu begitu, ayo jangan keroyokan, kita duel satu lawan satu!" Leon tahu seberapa kemampuan anak buahnya itu, tapi ia tidak tahu dengan orang-orang yang ada di belakangnya.
Gus Raka masih tetap di dalam, mengamati apa yang terjadi di luar. Ia ingin tahu siapa pria itu, setelah di ingat-ingat memeng ia beberapa kali melihat pria itu bersama Leon sebagai asistennya.
"Baiklah, saya tahu sekarang!" gumamnya lirih.
"Bagaimana ini bli?" Gus Raka sedari tadi menahan agar mobilnya tidak berjalan dulu sebelum dia turun, "Baiklah, aku akan turun! Saat ada kesempatan segeralah pergi dari sini, cukup bahaya bila membawa mobil, lebih baik pergilah diam-diam, dan cari bantuan!"
"Baik bli!"
Pemuda sopir itu segera keluar melalui pintu kanan, ia menyusup di antara rerumputan hingga tidak ada yang menyadarinya.
Leon sekarang sudah berduel dengan pria bernama Adi itu, beberapa kali Leon berhasil melumpuhkan Adi, hingga kini ada darah segar yang mengucur dari sudut bibirnya, tangannya dengan sigap mengusap dengan jari jempolnya,
"Hebat juga kamu, anak pesantren!"
"Bagaimana bos, kita ringkus sekarang?" tanya pria-pria berbadan tegap yang berdiri di belakang Adi.
"Bukan dia incaran kita, lemahkan saja jangan sampai mati!"
"Baik bos!"
__ADS_1
Keempat pria di belakangnya itu pun segera maju dan melawan Leon satu persatu, melihat Leon di keroyok Gus Raka pun segera turun dari dalam mobil.
"Berhenti!" teriak Adi saat melihat Gus Raka turun dari dalam mobil, di belakang mobil mereka sudah ada dua mobil siap mengepung mereka. Tidak ada cara lain selain menyarang atau menyerahkan diri.
"Akhirnya kamu turun juga tuan Leon, tipis sekali nyalimu hingga membiarkan saudara kembar kamu melawan seorang diri!" ejeknya dengan senyum penuh kemenangan.
Leon yang melihat Gus Raka turun membuatnya begitu khawatir apalagi sekarang saudaranya itu sedang berpenampilan dirinya,
"Sudah ku katakan, pergilah! Kenapa turun?"
"Memang ada jaminan kalau aku kabur mereka tidak akan mengejar ku, lihat penampilan kita!"
Syytttt ...
Lagi-lagi Leon kembali menyadari sesuatu, sekarang mereka bertukar posisi. Tangan Leon bersiap untuk melepas kopyahnya dan baju kokonya tapi segera di tahan oleh Gus Raka.
"Ada apa lagi?"
"Kamu sudah berjanji menjadi aku sampai di bandara Surabaya! Jadi tepati janji kamu!"
Leon pun hanya bisa pasrah, ia sungguh menyesali keputusannya untuk berjanji tadi, seandainya saja ia bertanya dulu kenapa dia harus berjanji pastilah keadaannya tidak akan seperti ini.
Hehhhh
Terdengar hembusan nafas kasar dari bibirnya hingga memecah dinginnya malam yang berubah menjadi sebuah rasa panas.
Gus Raka pun segera bersikap seperti Leon, "Apa motifmu melakukan ini? Sejak kapan berkhianat dariku?"
"Banyak, bukan urusanmu juga kan! Sudahlah jangan banyak bicara, kalau berani ayo lawan aku!" Adi tampak menantang.
"Baiklah, ayo!"
Gus Raka menyiapkan kuda-kuda, bersiap untuk melawan pria yang bernama Adi.
Ternyata Gus Raka tidak kalah hebatnya dengan Leon, ia bahkan bisa menumbangkan pria bernama Adi Hanau dalam beberapa pukulan.
"Hebat juga kamu!" gumam Leon yang memilih menyaksikan perkelahian antara Gus Raka dan asisten nya yang telah berkhianat.
"Kamu tidak pa pa bos?" tanya anak buahnya yang berusaha untuk membangunkannya.
"Sudah saya bilang, hentikan pertikaian ini, kalian tidak akan mendapatkan manfaat dari semua ini, hanya akan menimbulkan kerugian!" ucap Gus Raka sambil mengusap pipinya yang sedikit lebam.
"Pintar sekali sekarang berceramqh setelah berteman dengan tukang ngaji!" pria yang sudah babak belur itu masih bisa berdiri kembali, di bagian depan dan belakang Leon dan Gus Raka orang-orang itu mengepung, sekitar lima belas orang yang siap untuk menyerang Leon dan Gus Raka.
"Habisi salah satunya!" ucapnya kemudian memberi aba-aba.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" Leon pun segera berteriak sebelum mereka semua menyerang, jelas kalau hanya dua orang mereka akan kalah melawan semuanya, jika ada yang harus mati dari mereka, dia pikir dirinya lebih pantas.
Hal itu membuat para pria bertubuh gempal itu menghentikan langkahnya,
"Saya yang kalian incar, saya Leon!"
Gus Raka segera menarik tangan Leon, "Salah, dia berbohong! Dia hanya ingin menyelamatkan saya!"
"Tidak, saya Leon yang asli!"
"Saya yang asli!"
"Saya!"
"Saya!"
Perdebatan mereka benar-benar membuat para lawan itu terlihat kebingungan.
"Kalian apa-apaan sih!" gerutu Adi, "Bigini saja kalau kalian ingin mati bersama-sama, baiklah kami akan mengabulkan, bunuh mereka berdua!"
Akhirnya setelah mendapat aba-aba dari Adi, orang-orang yang berjumlah sekitar lima belas orang itu pun mengeroyok Leon dan Gus Raka.
Dua orang itu ternyata tidak mudah untuk di kalahkan, dengan kerja sama mereka mampu membuat lawan-lawannya tumbang.
Tapi karena melihat lawan mereka sulit untuk di kalahkan, beberapa dari mereka mengeluarkan senjatanya, ada yang membawa pisau dan rantai.
"Apa kamu punya sesuatu?" tanya Leon pada Gus Kara, mereka saat ini sedang saling berpunggungan agar mereka bisa tahu serangan selanjutnya.
Terdengar gelak tawa dari mereka karena berhasil membuat dua orang itu terkepun dalam lingkaran mereka.
"Mana aku punya, memang aku punya apa?"
"Baiklah, setelah ini aku akan mengambil salah satu senjata dari mereka, bantu aku untuk lari jika sudah berhasil!"
"Hmm!"
Kali ini Leon berlagak sebagai kapten, walaupun Gus Raka juga termasuk lulusan pencak silat terbaik, tetap saja pengalaman untuk perkelahi jauh lebih banyak Leon.
...Persahabatan bukanlah tentang siapa yang kau kenal paling lama. Tetapi tentang ia yang datang ke kehidupanmu dan berkata, aku ada di sini untukmu, lalu membuktikannya....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...