Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Kejutan yang tak terduga


__ADS_3

Mereka sudah berada di dalam mobil yang sama, Leon di depan sebagai sopirnya. Aisyah


masih menerka-nerka sebenarnya apa pekerjaan Alex di Jakarta, kenapa ia tidak


berangkat kerja di jam-jam orang sedang sibuk bekerja, kenapa ia berbohong pada


nenek Widya jika ia punya meeting penting padahal tidak melakukan apa-apa.


Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam akhirnya mobil mereka sampai di depan sebuah rumah, yang sebenarnya tidak terlalui besar tapi banyak penjaga di luar


rumah.


“Bawa ini!” ucap Alex sambil menyerahkan paper bag yang ia bawa tadi.


“Ini apa?”


“Oleh-oleh …!”


“Untuk siapa?”


“nanti.kamu juga tahu!”


Alex pun segera turun dari mobil, ia sudah memastikan jika pemilik rumah itu ada di


rumah semuanya.


Aisyah pun ikut turun sedangkan Leon tetap menunggu di dalam mobil, tiba-tiba tangan


Alex melingkar di pinggang Aisyah membuat Aisyah terkejut, saat ia hendak


menolaknya Alex segera berbisik padanya.


“Lakukan apa saja yang aku suruh, jangan menolaknya!”


Kali ini Aisyah benar-benar terjebak dengan perjanjiannya sendiri. Ia hanya bisa


mengikuti semua perintah pria itu tanpa berani berdebat.


“Ijinkan kami masuk!” ucap Alex kepada salah satu penjaga rumah itu sambil menunjukkan


tanda pengenalnya. Sepertinya penjaga itu melaporkan dulu kedatangan mereka pada


pemilik rumah. Setelah melakukan panggilan, penjaga itu mengijinkan mereka


masuk.


Alex tetap dengan tangan yang melingkar di pinggang Aisyah, mereka masuk atas ijin


penjaga. Seseorang sudah menyambut mereka dengan tatapan dingin.


Rumah kak Nadin, batin Aisyah. ia tidak menyangka jika suaminya itu akan mengajaknya ke rumah Nadin.


Rendi suami Nadin sudah berdiri di depan pintu.


“Selamat pagi Rend!” sapa Alex.


“Assalamualaikum, pak Rendi!” sapa Nadin, barulah Rendi menjawabnya.


“Waalaikum salam, kalian di Jakarta?


Kenapa?”


“Kebetulan sekali saya ada proyek di Jakarta, jadi kami akan tinggal di sini selama satu


bulan. Iya kan Ais?”


Aisyah yang belum menyiapkan jawaban atas pertanyaan suaminya jadi merasa bingung


sendiri, “I-iya ….!”


“Kami juga akan sering ke Jakarta, karena saya membuka cabang di sini!”


Rendi si pria dingin itu masih terdiam, sepertinya ia masih terlalu terkejut dengan


kedatangan mereka.

__ADS_1


“Mas …, siapa yang datang?” tanya seseorang dari dalam rumah, tapi karena terlalu


penasaran dengan siapa tamunya Nadin pun keluar.


“Aisyah …..! alex …..! kalian di sini?” sambut Nadin begitu senang dan segera memeluk


Aisyah. “Aku merindukanmu!”


“Ais juga kak!”


***


Mereka pun sudah berada di ruang tamu.


“Ini oleh-oleh untuk kalian!” ucap Alex sambil mengambil paper bag yang ada di


tangan Aisyah dan menyerahkannya pada Nadin.


“Makasih …, kalian repot-repot sekali …!”


“Tidak pa pa …, mana Elan?”tanya Alex sambil mengedarkan pandangannya, ia tidak bisa


menemukan baby menggemaskan itu.


“Sayang sekali …, Elan sedang di rumah kakeknya!” jawab Nadin, sedangkan Rendi


tersenyum tipis.


Baguslah …, untung saja Elan tidak di rumah …., batin rendi.


“Sayang sekali …, padahal aku sangat merindukannya!” ucap Alex terlihat kecewa,


kedatangannya ke tempat itu karena begitu merindukan Elan. Padahal sebelum ke


tempat itu Alex sudah menyuruh anak buahnya untuk mengecek semua penghuninya


tapi ia lupa tidak menanyakan keberadaan Elan.


“ya udah kalian ngobrol dulu ya, biar aku buatkan minum buat kalian!” ucap Nadin


“Iya kak …!” aisyah pun segera mengikuti langkah Nadin. Ia tahu pasti ada sesuatu


yang ingin Nadin bicarakan secara pribadi dengannya.


Mereka pun akhirnya sampai di dapur, Nadin sudah mengambil air dan merebusnya di ats


kompor.


“Ais …, bisa memotong semangka kan?”


“Bisa kak …, mana semangkanya?”


“ambil di dalam lemari es!”


“Iya kak!”


Aisyah pun membuka lemari pendingin yang ukurannya begitu besar itu seukuran dengan


lemari pakaian dan mengeluarkan sebuah semangka yang cukup besar. Ia mencari


pisau yang ada di atas meja dan mulai mengupasnya. Sedangkan Nadin sedang sibuk


meracik kopi untuk dua pria dengan karakter yang berbeda itu.


“Ais …!”


“Iya?" Aisyah mendongakkan kepalanya, menghentikan sejenak kegiatannya mengupas


semangka.


“Boleh aku tanya sesuatu?”


“Silahkan kak, mau tanya apa?”


“Kenapa bisa kamu menikah dengan alex?”

__ADS_1


“Jodoh kali kak!” jawab Aisyah dengan senyum santainya, walaupun sebenarnya ia belum


terlalu iklhas berjodoh dengan pria arrogant itu. Aisyah kembali melanjutkan mengupas


semangka.


"Ais …., aku tahu bagaimana tipe pria yang kami inginkan, bukan seperti Alex!” Nadin


tahu jika Aisyah menyukai anak pak Kyai yang juga mengajar di pesantrennya.


“Kak …, apa yang aku inginkan belum tentu sama Allah di kasih, mungkin Allah lebih


tahu dengan apa yang aku butuhkan dari pada yang aku inginkan!”


“Kamu ini ya …, bisa aja jawabnya! Alex bukan orang yang mengerti soal agama, apa kau


sudah benar-benar yakin?”


"Kalau nggak yakin mana mungkin Ais nikah sama dia kak! Kak Nadin ini ada-ada aja!


Karena aku selalu berdoa kepada Allah, jika ia memang baik untuk ku maka dekatkanlah,


tapi jika ia tidak baik untuk ku maka baik kan lah! Iya kan kak?”


“Sabar bener ….!” Nadin merasa salut dengan Aisyah, walaupun masih muda tapi pemikirannya selalu lapang.


“Bukan sabar kak, tapi belajar untuk ikhlas. Karena Allah maha membolak balikan hati


hambaNya!”


“Amiiiiiiin ….! Aku berdoa moga Allah melunakkan hati yang keras sekeras batu seperti Alex!”


“Amiiiin …..!”


***


Dua pria yangs edang duduk berdua di ruang tamu itu masih saja saling diam. Mereka sepertinya terlalu bingung harus memulainya dari mana. Hingga akhirnya Alex yang memulai


lebih dulu.


“Maaf jika kami datang dadakan!”


“Tidak pa pa …, Cuma apa tujuanmu ke sini?”


“Mengunjungi Elan!” ucap Alex tanpa basa-basi.


“Dia putraku!”


“Tapi dia sudah menjadi bagian dari hidupku”


“Baiklah …., saya mengijinkan kamu ke sini asal bersama istrimu! Jangan pernah berani-berani


datang ke sini sendiri atau saya tidak akan pernah mengijinkan kamu datang lagi ke


sini!”


“Tentu …, saya bukan orang yang tidak tahu cara menghormati tuan rumah, saya cukup


bersyukur jika kamu mengijinkan saya ke sini untuk mengunjungi Elan, itu saja …!”


Pembicaraan mereka terhenti saat dua wanita itu keluar dengan membawa minuman dan buah yang sudah di potong.


“Ada apa nih? Kayaknya serius sekali ….!” Tanya Nadin yang melihat dua pria itu


tiba-tiba saja diam saat mereka datang.


Spesial visual Aisyah



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2