
Mereka sudah berada di dalam mobil yang sama, Leon di depan sebagai sopirnya. Aisyah
masih menerka-nerka sebenarnya apa pekerjaan Alex di Jakarta, kenapa ia tidak
berangkat kerja di jam-jam orang sedang sibuk bekerja, kenapa ia berbohong pada
nenek Widya jika ia punya meeting penting padahal tidak melakukan apa-apa.
Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam akhirnya mobil mereka sampai di depan sebuah rumah, yang sebenarnya tidak terlalui besar tapi banyak penjaga di luar
rumah.
“Bawa ini!” ucap Alex sambil menyerahkan paper bag yang ia bawa tadi.
“Ini apa?”
“Oleh-oleh …!”
“Untuk siapa?”
“nanti.kamu juga tahu!”
Alex pun segera turun dari mobil, ia sudah memastikan jika pemilik rumah itu ada di
rumah semuanya.
Aisyah pun ikut turun sedangkan Leon tetap menunggu di dalam mobil, tiba-tiba tangan
Alex melingkar di pinggang Aisyah membuat Aisyah terkejut, saat ia hendak
menolaknya Alex segera berbisik padanya.
“Lakukan apa saja yang aku suruh, jangan menolaknya!”
Kali ini Aisyah benar-benar terjebak dengan perjanjiannya sendiri. Ia hanya bisa
mengikuti semua perintah pria itu tanpa berani berdebat.
“Ijinkan kami masuk!” ucap Alex kepada salah satu penjaga rumah itu sambil menunjukkan
tanda pengenalnya. Sepertinya penjaga itu melaporkan dulu kedatangan mereka pada
pemilik rumah. Setelah melakukan panggilan, penjaga itu mengijinkan mereka
masuk.
Alex tetap dengan tangan yang melingkar di pinggang Aisyah, mereka masuk atas ijin
penjaga. Seseorang sudah menyambut mereka dengan tatapan dingin.
Rumah kak Nadin, batin Aisyah. ia tidak menyangka jika suaminya itu akan mengajaknya ke rumah Nadin.
Rendi suami Nadin sudah berdiri di depan pintu.
“Selamat pagi Rend!” sapa Alex.
“Assalamualaikum, pak Rendi!” sapa Nadin, barulah Rendi menjawabnya.
“Waalaikum salam, kalian di Jakarta?
Kenapa?”
“Kebetulan sekali saya ada proyek di Jakarta, jadi kami akan tinggal di sini selama satu
bulan. Iya kan Ais?”
Aisyah yang belum menyiapkan jawaban atas pertanyaan suaminya jadi merasa bingung
sendiri, “I-iya ….!”
“Kami juga akan sering ke Jakarta, karena saya membuka cabang di sini!”
Rendi si pria dingin itu masih terdiam, sepertinya ia masih terlalu terkejut dengan
kedatangan mereka.
__ADS_1
“Mas …, siapa yang datang?” tanya seseorang dari dalam rumah, tapi karena terlalu
penasaran dengan siapa tamunya Nadin pun keluar.
“Aisyah …..! alex …..! kalian di sini?” sambut Nadin begitu senang dan segera memeluk
Aisyah. “Aku merindukanmu!”
“Ais juga kak!”
***
Mereka pun sudah berada di ruang tamu.
“Ini oleh-oleh untuk kalian!” ucap Alex sambil mengambil paper bag yang ada di
tangan Aisyah dan menyerahkannya pada Nadin.
“Makasih …, kalian repot-repot sekali …!”
“Tidak pa pa …, mana Elan?”tanya Alex sambil mengedarkan pandangannya, ia tidak bisa
menemukan baby menggemaskan itu.
“Sayang sekali …, Elan sedang di rumah kakeknya!” jawab Nadin, sedangkan Rendi
tersenyum tipis.
Baguslah …, untung saja Elan tidak di rumah …., batin rendi.
“Sayang sekali …, padahal aku sangat merindukannya!” ucap Alex terlihat kecewa,
kedatangannya ke tempat itu karena begitu merindukan Elan. Padahal sebelum ke
tempat itu Alex sudah menyuruh anak buahnya untuk mengecek semua penghuninya
tapi ia lupa tidak menanyakan keberadaan Elan.
“ya udah kalian ngobrol dulu ya, biar aku buatkan minum buat kalian!” ucap Nadin
“Iya kak …!” aisyah pun segera mengikuti langkah Nadin. Ia tahu pasti ada sesuatu
yang ingin Nadin bicarakan secara pribadi dengannya.
Mereka pun akhirnya sampai di dapur, Nadin sudah mengambil air dan merebusnya di ats
kompor.
“Ais …, bisa memotong semangka kan?”
“Bisa kak …, mana semangkanya?”
“ambil di dalam lemari es!”
“Iya kak!”
Aisyah pun membuka lemari pendingin yang ukurannya begitu besar itu seukuran dengan
lemari pakaian dan mengeluarkan sebuah semangka yang cukup besar. Ia mencari
pisau yang ada di atas meja dan mulai mengupasnya. Sedangkan Nadin sedang sibuk
meracik kopi untuk dua pria dengan karakter yang berbeda itu.
“Ais …!”
“Iya?" Aisyah mendongakkan kepalanya, menghentikan sejenak kegiatannya mengupas
semangka.
“Boleh aku tanya sesuatu?”
“Silahkan kak, mau tanya apa?”
“Kenapa bisa kamu menikah dengan alex?”
__ADS_1
“Jodoh kali kak!” jawab Aisyah dengan senyum santainya, walaupun sebenarnya ia belum
terlalu iklhas berjodoh dengan pria arrogant itu. Aisyah kembali melanjutkan mengupas
semangka.
"Ais …., aku tahu bagaimana tipe pria yang kami inginkan, bukan seperti Alex!” Nadin
tahu jika Aisyah menyukai anak pak Kyai yang juga mengajar di pesantrennya.
“Kak …, apa yang aku inginkan belum tentu sama Allah di kasih, mungkin Allah lebih
tahu dengan apa yang aku butuhkan dari pada yang aku inginkan!”
“Kamu ini ya …, bisa aja jawabnya! Alex bukan orang yang mengerti soal agama, apa kau
sudah benar-benar yakin?”
"Kalau nggak yakin mana mungkin Ais nikah sama dia kak! Kak Nadin ini ada-ada aja!
Karena aku selalu berdoa kepada Allah, jika ia memang baik untuk ku maka dekatkanlah,
tapi jika ia tidak baik untuk ku maka baik kan lah! Iya kan kak?”
“Sabar bener ….!” Nadin merasa salut dengan Aisyah, walaupun masih muda tapi pemikirannya selalu lapang.
“Bukan sabar kak, tapi belajar untuk ikhlas. Karena Allah maha membolak balikan hati
hambaNya!”
“Amiiiiiiin ….! Aku berdoa moga Allah melunakkan hati yang keras sekeras batu seperti Alex!”
“Amiiiin …..!”
***
Dua pria yangs edang duduk berdua di ruang tamu itu masih saja saling diam. Mereka sepertinya terlalu bingung harus memulainya dari mana. Hingga akhirnya Alex yang memulai
lebih dulu.
“Maaf jika kami datang dadakan!”
“Tidak pa pa …, Cuma apa tujuanmu ke sini?”
“Mengunjungi Elan!” ucap Alex tanpa basa-basi.
“Dia putraku!”
“Tapi dia sudah menjadi bagian dari hidupku”
“Baiklah …., saya mengijinkan kamu ke sini asal bersama istrimu! Jangan pernah berani-berani
datang ke sini sendiri atau saya tidak akan pernah mengijinkan kamu datang lagi ke
sini!”
“Tentu …, saya bukan orang yang tidak tahu cara menghormati tuan rumah, saya cukup
bersyukur jika kamu mengijinkan saya ke sini untuk mengunjungi Elan, itu saja …!”
Pembicaraan mereka terhenti saat dua wanita itu keluar dengan membawa minuman dan buah yang sudah di potong.
“Ada apa nih? Kayaknya serius sekali ….!” Tanya Nadin yang melihat dua pria itu
tiba-tiba saja diam saat mereka datang.
Spesial visual Aisyah
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1