
Akhirnya hari ini Raka benar-benar memutuskan tidak pergi bekerja. Ia hanya memantau pekerjaan dari rumah sambil bermesraan dengan Asna.
Raka juga sudah menghubungi mbak Rumi untuk tidak datang. Saat ini Raka hanya duduk dan menyadarkan kepalanya di bahu sang istri sambil menikmati acara televisi.
"Mas, Asna masak dulu aja ya?"
"Nggak udah dek, mas udah pesan makanan tadi, sebentar lagi makanannya akan datang!" tangannya terus melingkar di pinggang Asna, entah sudah berapa kali mereka melakukannya lagi, Raka benar-benar buka puasa kali ini.
Bel rumah berbunyi, Asna sudah hampir berdiri tapi segera di cegah oleh Raka.
"Nggak usah sayang, biar mas aja yang lihat!"
Raka dengan cepat membuka pintu dan benar saja makanan pesanannya datang.
Raka segera menyiapkan makanan. dan meja makan dan tidak membiarkan istrinya melakukan apapun.
"Aku ngapain mas sekarang?"
"Tugas kamu hanya jadi istri yang baik, memberi cucu untuk kedua orang tau kita! Jadi duduk saja lalu kita makan dan mungkin kita bisa membuat cucu lagi untuk mereka!"
"Mas_, Asna lelah!"
"Duduklah kalau begitu sayang, kita bisa memulainya lagi nanti malam!"
"Mas minum apa sih?"
"Kenapa?"
"Tenaganya kok nggak habis-habis sih?"
"Karena mas nggak mau nyia-nyiain ibadah yang enak di dunia ini!"
"Issstttt!" Asna mencebirkan bibirnya kemudian menyantap makanannya yang sudah siap di atas piring.
"Mau aku suami sayang?"
"Nggak usah, aku bisa sendiri!"
...***...
Semakin hari hubungan Asna dan Raka semakin mesra saja, Raka meskipun begitu banyak pekerjaannya tapi selalu datang sebelum waktu sholat ashar karena dia punya tugas mengajar setelah sholat ashar dan setelah magrib.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam mas, sudah pulang!" Asna segera menyambut suaminya dan mencium punggung tangan suaminya itu.
"Mas sudah kangen sama istri mas!" Raka selalu saja memeluk dan menciumi wajah istrinya setiap kali pulang.
"Mandi dulu mas, tadi Asna sudah memasak!"
"Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu ya!" Raka segera menyerahkan tas kerjanya pada sang istri dan menuju ke kamar mandi.
Selesai mandi, Raka sudah memakai baju Koko dan sarung, dia terlihat sudah siap untuk ke pesantren.
__ADS_1
"Sayang, kalau capek nggak usah masak! Mas bisa bawakan makana buat kamu!" Raka merasa kasihan melihat begitu banyak makanan di atas meja. Ia khawatir istrinya akan kecapekan.
"Nggak pa pa mas, Asna bingung mau ngapain soalnya! Asna nggak kerja, trus kalau nggak nglakuin apa-apa trus mau apa lagi!"
"Kalau malam, cukup manjakan suami kamu, dek!"
"Mas ishhh, jatuhnya ke situ lagi!"
"Ya gimana lagi, istri mas ini sangat cantik jadi rasanya sayang banget kalau di lewatin!"
"Gombal deh!"
"Bukan gombal sayang, ini nyata!"
Setelah menyelesaikan makannya, Raka pun berpamitan untuk sholat jama'ah ashar di pesantren. Ia tidak mungkin melewatkan sholat jama'ah di masjid.
"Mas berangkat dulu ya! Kamu beneran berani kan sendiri di rumah?"
"Iya mas, aku sudah biasa sekarang!" Asna sekarang terlihat lebih segar, tidak lagi murung karena merasa tertekan.
"Ya udah, kunci pintunya ya! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Asna kembali menutup pintunya saat Raka sudah pergi dengan sepeda motornya. Ia segera menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat ashar di rumah.
Saat ia selesai melaksanakan sholat ashar tiba-tiba ia mendengar ponselnya berdering.
Asna segera melipat mukena yang baru saja ia lepaskan dan ia letakkan di atas meja lengkap dengan sajadahnya. Ia lupa di mana meletakkan ponselnya hingga ia harus mencarinya terlebih dulu.
"Tidak ada!"
Kemudian Asna pun mencarinya di ruangan lainnya dan benar ternyata ponsel itu ada di atas meja yang ada di depan tv.
"Perasaan volumenya nggak terlalu keras, kok Sampek kamar sih!" Asna mengecek ponselnya, panggilan sudah berhenti semenjak tadi dan tidak ada panggilan masuk. Lalu matanya menangkap ponsel yang juga tergeletak di situ.
"Oh, mungkin ponsel mas Raka! Dia kebiasaan nggak pernah bawa ponsel kalau ke masjid!"
Asna memilih untuk tidak mengeceknya karena mau bagaimanapun tetap saja suaminya memiliki privasi yang harus ia hargai.
Tapi saat ia hendak melangkahkan kakinya meninggalkan meja itu, ponsel Raka kembali berdering.
Asna yang awalnya ingin mengabaikan saja tapi kemudian jadi tertarik untuk melihat karena ponsel itu terus berdering.
"Mas Leon? Ada apa ya? Kenapa telponnya terus menerus? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Nisa! Bukankah ini sudah waktunya Nisa melahirkan?"
Asna pun memilih untuk mengambil ponsel itu dan menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum mas Leon!"
"Waalaikum salam, Asna!"
"Iya mas, ini aku! Mas Raka sedang ke masjid mungkin pulangnya nanti sehabis isya', kalau boleh tahu ada apa ya mas?"
__ADS_1
"Sebenarnya ini, saya cuma mau memberitahukan kalau Nisa melahirkan hari ini!" terdengar suara Leon bergetar sepertinya begitu deg-degan menunggu kelahiran bayi kembarnya.
"Benarkah mas, Asna boleh ke sana kan?"
"Kamu bisa?"
"bisa mas!"
"Baiklah!"
Setelah menutup telponnya, Asna pun bersiap-siap. Ia benar-benar tidak sabar untuk menemui Nisa di sana. Setelah kejadian di kedai es krim itu, mereka belum pernah bertemu lagi.
Asna mengambil kunci motor miliknya,
"Bagaimana ya cara menghubungi mas Raka?" Asna begitu gundah karena ponsel raka juga di rumah. Akhirnya ia pun menghubungi mbak Rumi dan memintanya datang ke rumah dan saat Raka kembali Agara ada yang memberitahunya.
Setelah mbak Rumi menyanggupinya, Asna pun segera memakai helmnya dan mengendari motornya sendiri menuju ke rumah sakit tempat Nisa melahirkan, di tempat itu juga, Asna pernah bekerja.
Tapi ia sekarang sedang tidak memikirkan hal itu, ia hanya memikirkan bagaimana keadaan Nisa sekarang, Nisa pasti sangat senang saat melihat kedatangannya.
Asna memarkirkan motornya saat sampai di rumah sakit, kakinya melangkah begitu cepat untuk menuju ke ruang bersalin.
"Mas Leon, assalamualaikum!" pria yang begitu mirip dengan suaminya itu segera menoleh dan tersenyum saat melihat kedatangan Asna.
"Waalaikum salam, Asna! Kamu datang sendiri?"
"Iya, mas Raka masih di pesantren! Boleh aku lihat Nisa sebentar?"
"Biar aku meminta ijin pada dokter, sebelum Nisa di operasi!"
Leon pun kembali masuk ke dalam ruangan dan meminta ijin pada dokter yang akan menangani Nisa. Dan beruntung dokter mengijinkannya dengan memakai baju steril.
Asna segera masuk begitu di ijinkan, ia melihat Nisa yang yang sudah berada di atas tempat tidurnya bersiap untuk melakukan operasi.
"Asna!" Nisa menatap haru melihat kedatangan Asna.
"Nisa!" Asna segera berjalan dan memeluk Nisa, ia mengusap punggung Nisa.
"Nisa, maafkan aku! Aku sungguh sangat terlambat sekarang!"
"Tidak, aku senang kamu datang! Keponakanmu pasti juga senang sekarang!"
"Semangat ya, aku akan menunggumu dan para keponakanku di luar!"
"Semangat!"
Asna segera melepaskan tangan Nisa dan keluar dari ruangan saat dokter sudah memberi isyarat untuk keluar.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...