
..."Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, kau harus bersabar dengan apa yang kamu benci."...
...-Imam Ghazali...
Hehhhh
Terdengar helaan nafas dari Leon, ia seperti melihat tembok tinggi yang membentang di antara mereka, penampilannya dengan penampilan mereka begitu berbeda.
Apa aku terlalu tinggi berangan-angan hingga ingin mendapatkan gadis sebaik Nisa
Beberapa kali Leon terus meragukan dirinya sendiri atas Nisa yang jelas-jelas gadis yang begitu berharga. Dia bukan gadis yang mudah untuk di dapatkan.
Tapi sudah menjadi lampu hijau karena gadis itu mau menerimanya, sekarang tinggal bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan restu keluarga gadis itu.
Lagi-lagi bayangan mendapatkan penolakan dari keluarga Nisa membuat nyalinya ciut.
Hingga pria yang sedang ia tunggu keluar dari dalam pesantren.
"Bagaimana tuan?" tanya Leon saat melihat Alex keluar dan Alex hanya menggelengkan kepalanya hingga seseorang kembali memanggilnya.
"Pak Alex, tunggu!"
Wanita yang dulunya biasa saja kini menjadi begitu kalem dengan penampilan barunya yang lebih tertutup.
Alex pun menoleh pada wanita yang sudah di pinang oleh Gus Fahmi itu.
"Kita bisa bicara sebentar?" tanyanya.
"Baiklah, kita bicara di sana!" ucap Alex sambil menunjuk bangku yang ada di bawah pohon dekat dengan pos satpam.
Leon pun mengikuti mereka, dan Bianka pun mulai memberitahu keberadaan Aisyah.
"Saya tidak tahu di mana letak pasnya, tapi insyaallah dia sekarang ada di Blitar!"
Leon tersenyum mendengarkan penuturan Bianka, ia sudah menemukannya sejak awal tapi seperti kehilangan jejak dan dia juga tidak mau menemukan jika memang Aisyah sendiri tidak mau di temukan.
Hingga pembicaraan Alex dan Bianca berakhir, Leon masih tetap mendengarkan pembicaraan mereka.
Setelah menyelesaikannya, Alex dan Leon pun bergegas kembali ke dalam mobil.
"Saya akan ke Blitar!" ucap Alex.
Leon tersenyum dan mengambil sebuah berkas yang sengaja ia bawa di dalam dasbord mobilnya,
"Saya sudah menyiapkan ini tuan, kebetulan ada proyek di sana!"
Alex mengerutkan keningnya, "Kamu sudah tahu?"
Leon menggelengkan kepalanya, "Saya hanya menduga-duga nya saja!"
"Baiklah, siapkan semuanya, saya akan berangkat hari ini juga!"
"Baik tuan!"
Leon pun kembali memacu mobilnya, sudah begitu senja saat mereka kembali pulang, tapi lagi saat ini Alex tidak pulang ke rumahnya. Leon sudah menyiapkan jet pribadi miliknya dan meminta seseorang untuk menyiapkan segala keperluan Alex dan mengiriminya ke tempat mereka.
...🍂🍂🍂...
Kini mereka sudah berada di lapangan landas, jet itu sudah siap untuk melesat.
"Semoga berhasil tuan!"
"Kamu juga!" ucap Alex sambil mengusap bahu Leon. "Jangan biarkan keraguanmu menghancurkan hidupmu, jika sudah yakin maka mintalah petunjuk dari Allah, insyaallah semua akan baik-baik saja!"
Leon menganggukkan kepalanya, mereka baru belajar agama dan Alex lebih dulu mempelajarinya.
__ADS_1
Bagi mereka kehadiran wanita-wanita itu menguatkan hatinya saat ini.
Alex pun mulai memasuki jet pribadi miliknya menuju ke tempat di mana ia bisa bernafas dengan udara yang sama bersama sang istri.
Leon terus menatap jet yang semakin menghilang itu,
Jika Alex yang belum benar-benar tahu keberadaan Aisyah dan putrinya saja di kejar lalu bagaimana dengan dirinya yang jelas-jelas tahu di mana alamat rumah wanita yang selalu ia sebut dalam doanya itu.
Ting
Tiba-tiba sebuah notif pesan masuk mengalihkan tatapannya pada langit yang semakin berwarna orange.
Ia segera mengambil ponselnya, dan bibirnya tersenyum saat melihat siapa yang sedang mengirimkan pesan padanya.
//Assalamualaikum mas Leon, ini Nisa, maaf mengirim pesan lebih dulu sama mas Leon, jika mas Leon tidak suka maaf ya//
Ini untuk pertama kalinya gadis itu mengiriminya pesan setelah nomornya tersimpan di ponselnya selama dua tahun ini.
Selama ini mereka hanya saling mengintip status masing-masing di WhatsApp, di media sosial lainnya juga. Tapi tidak ada salah satu dari mereka yang berani memberi komentar.
Mereka selalu bertemu dengan tidak sengaja, bahkan di pertemuan terakhir mereka di kafe itu, mereka hanya mengirimkan pesan melalui HRD rumah sakit tempat Nisa bekerja.
Leon pun dengan cepat mengirimkan balasannya, ia tidak mau gadis itu beranggapan kalau dirinya tidak suka.
//Waalaikum salam Nisa, saya senang kamu mau mengirim pesan. Seharusnya saya yang minta maaf, tidak seharusnya kamu yang mengirim pesan lebih dulu//
Walaupun sebenarnya suka dengan pesan itu, tapi ia tidak mau gadis itu terlalu merendahkan dirinya sendiri untuk dirinya.
//Maaf, semoga setelah ini mas Leon yang lebih dulu mengirimiku pesan//
Leon terus membaca berulang pesan dari Nisa, ia tidak mau menyinggung perasaan gadis itu.
//*Nisa, jika besok aku ke rumah kamu, apa papa dan mama kamu ada?//
Di tempat lain, gadis yang sedang menerima pesan darinya sedang berguling-guling di atas tempat tidurnya sambil memeluk ponselnya.
Ia begitu senang hingga tidak mampu untuk menutupi rasa senangnya itu.
Setelah tadi sempat terluka, tapi ia tahu maksudnya baik. Dia seorang wanita dan tidak pantas untuk mengirim pesan lebih dulu pada seorang pria kalau tidak benar-benar penting.
"Aku jawab bagaimana ya?" gumamnya sambil membaca ulang pesan itu.
Nisa pun dengan cepat memakai kembali jilbab instannya dan keluar dari kamar. Ia bisa melihat di bawah papa dan mamanya sedang bersantai di depan tv, sebentar lagi magrib papanya sudah bersiap untuk pergi ke mushola terdekat.
Nisa pun berjalan cepat menuruni tangga,
"Pa ...., ma ....!" ucapnya sambil duduk di samping papa dan mamanya itu.
"Ada apa nih putri papa, seneng banget kayaknya?"
Nisa pun terdiam dan menatap mamanya,
"Ada apa?" tanya mamanya.
"Besok papa sama Mama ada acara nggak?"
"Ada apa?" tanya mamanya lagi.
"Nggak, cuma mau nanya aja!"
"Kalau mama sih dari pagi di rumah, kalau papa nggak tahu!" ucap mamanya sambil mengangkat kedua bahunya.
"Papa pagi ada jadwal, tapi setelah ashar baru deh papa di rumah, kan ada Raka juga mau ke sini sama abinya!"
Seketika wajah Nisa berubah muram, ia lupa jika memang ada janji yang lain.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya papanya lagi.
"Bagaimana kalau ada orang lain yang juga datang ke sini pa?" tanya Nisa dan papa nya tampak mengerutkan keningnya.
"Mas Leon mau datang ke sini!"
Kali ini papa dan mamanya saling memandang. Ia tidak menyangka akan datang dua lamaran sekaligus pada putrinya.
"Kamu yakin nak?" tanya papanya.
Nisa menganggukkan kepalanya lalu menunjukkan ponselnya.
"Mas Leon baru aja kirim pesan sama Nisa!"
"Ya sudah, kita lihat saja besok! Semoga besok dia benar-benar datang ke sini!"
"Jadi papa setuju?"
"Kan papa bilangnya kita lihat saja dulu, belum bilang kalau setuju! Bagaimana kalau ternyata Raka lebih baik?!"
Nisa mengerucutkan bibirnya, "Papa nggak demokratis!"
"Justru papa demokratis, kalau papa langsung milih salah satu tanpa tahu orangnya berarti papa memaksakan kehendak papa dong!"
"Jadi maksudnya papa lebih suka sama mas Raka dari pada mas Leon?"
"Bisa jadi!"
"Papa!" protes Nisa.
"Makanya biarkan papa sama Mama lihat mereka dulu, nanti kalau sudah lihat baru papa sama Mama bisa memilih!"
"Kok jadi papa sama Mama sih yang milih, yang mau nikah kan Nisa!" protes Nisa lagi.
Belum juga perdebatan mereka selesai, suara azan berkumandang.
"Nah itu sudah azan, papa ke mushola dulu!" ucap papanya sambil berdiri dari duduk.
"Pa!?" protes Nisa.
"Sholat dulu!" ucap papa sambil berbalik sejenak dan kembali melanjutkan langkahnya.
Mama Nisa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat wajah cemberut dari putrinya itu.
"Sudah sholat dulu, siapkan mukena kita sholat jama'ah berdua!"
"Iya ma!"
Nisa pun menyerah, ia pun kembali ke atas mengurungkan niatnya untuk membalas pesan dari Leon.
"Nanti saja setelah sholat!" gumam ya lalu meletakkan benda pipinya itu di atas tempat tidur lalu mengambil mukenanya dan membawanya ke ruang sholat yang ada di lantai bawah.
Bersambung
..."**Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Tapi kalau kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu."...
...(Ibnu Qayyim Al Jauziyyah**)...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1