Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (40)


__ADS_3

Selepas makan bersama, Raka segera mengajak istrinya menuju masjid karena memang datang bulan Asna sudah selesai jadi ia bisa mengajaknya mengikuti pengajian yang ada di masjid.


Mereka berjalan di belakang ustadz Arif dan istrinya, sepertinya Asna sedikit pendiam jika membahas tentang pesantren membuat Raka ingin segera tahu apa yang terjadi dengan istrinya. Momen ini bisa id jadikannya untuk mencari tahu karena ia tidak mungkin menanyakan langsung pada Asna. Asna pasti tidak akan mengaku.


"Kenapa jalannya jauh-jauh an?" Raka menghentikan langkahnya saat menyadari sang istri seperti sengaja menghindarinya.


"Enggak, emang enak gini aja!" Asna memilih untuk memperhatikan tempat lain dari pada menatap suaminya.


Di belakang mereka memang sedang berjalan beberapa gerombolan santri yang juga menuju ke masjid.


Samar-samar Raka bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Kayaknya memang gus Raka terpaksa yang menikah! Lihat mereka aja tampak kaku gitu!"


Santri lainnya pun ikut menanggapi,


"Kasihan ya Gus Raka, seharusnya beliau bisa mendapatkan uang lebih baik!!"


Raka sekarang tahu, mungkin itu yang membuat istrinya seperti sengaja menjauhinya.


Srekkkk,


Tiba-tiba Raka menarik pinggang Asna, hingga mengikis jarak di antara mereka.


"Mas apa-apaan sih, lepasin!"


"Nggak mau, aku cuma ingin mereka tahu bahwa aku yang menginginkan pernikahan ini, aku yang mencintaimu dan sedang menunggu cinta darimu!"


Blushhhh


Seketika seperti hawa dingin yang menerpa wajah Asna, setelah apa yang ia pikirkan begitu buruk tentang suaminya kini seketika menghilang karena kata-kata suaminya.


Asna tidak lagi menolak pelukan dari suaminya membuat wanita-wanita yang iri di belakang mereka semakin iri, karena iri hati memang sudah sifatnya manusia.


"Kamu nggak pa pa kan ke tempatnya para santriwati, ada umi juga di sana!"


"Nggak pa pa!"


"Nanti kita bertemu lagi di sini ya!"


"Hmmm!" Asna menganggukkan kepalanya kemudian berlalu meninggalkan suaminya menuju ke forum para wanita, walaupun sebagian besar santriwati tapi ada juga masyarakat sekitar yang ikut juga.


Asna memilih tempat di pojok karena memang ia tidak mempunyai kenalan di sini selain uminya. Terlihat sang ibu mertua sedang sibuk berbincang dengan wanita seumurannya, sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang begitu serius.


Beberapa kali Asna menjadi pusat perhatian, walaupun tidak begitu banyak yang tahu tentang Asna tapi pembicaraan tentang dirinya sudah menyebar luar si seluruh isi pesantren.


Sepertinya tatapan-tatapan menghujat itu sekarang sudah tidak begitu memicu trauma Asna, entah sejak kapan tapi ini tidak seperti pertama kali Asna keluar rumah. Tatapan ramah dari beberapa orang sedikit menenangkan hatinya dan lagi sentuhan lembut dari suaminya masih terasa membekas hingga membuatnya yakin tidak semua orang membencinya, mencemoohnya. Ada Abi dan umi juga, mereka orang-orang baik yang ikut memberi dorongan positif untuknya.


Hingga semua jemaah diam saat seseorang mulai melantunkan ayat suci Al Qur'an, suaranya begitu merdu hingga mampu menyihir semua yang hadir.


Sepertinya itu suara mas Raka, bagus juga suaranya! ada ras kagum yang menjalar dalam dirinya.

__ADS_1


Tapi kemudian tatapannya tertuju pada gadis-gadis yang begitu mengagumi pria yang sudah mempersuntingnya itu.


Mereka tidak malu apa mengagumi suami orang!?


Asna begitu kesal saat mengetahui suaminya di sanjung-sanjung oleh wanita lain.


Hingga Gus Raka menyelesaikan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an, para santri itu tampak begitu mendamba pria sudah beristri itu.


"Mau deh kalau kayak gini jadi istri kedua ...!"


Asna hanya menyebirkan bibirnya. "Memang siapa yang mau punya madu kalian!" gumamnya lirih, Asna memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya. Sedikit-sedikit ia sudah mulai bersahabat kembali dengan ponselnya, seiring berjalannya waktu pembicaraan tentang dirinya juga mulai surut, Asna sengaja keluar dari group WhatsApp apapun. Termasuk group nya di rumah sakit.


//Hai Na, lagi apa//


//Na, balas dong pesan aku//


//Kita ketemuan yuk, ada yang mau aku bahas sama kamu//


//Kamu baik-baik aja kan Na?//


//Na, tolong di balas ya pesan aku, please//


Masih ada begitu banyak pesan dari orang yang sama, itu adalah pesan dari Zaki semenjak satu Minggu yang lalu, Asna baru sempat untuk membacanya.


"Aku balas nggak ya?"


"Lagian ngapain juga dia kirim pesan?"


"Dari cara bicaranya sih kayaknya belum!" Asna terus berbicara sendiri mencari jawaban atas semua pertanyaannya sendiri.


Selain melihat pesona dari Zaki, ia mulai melihat pesan dari Nisa. Begitu banyak pesan Nisa yang masuk ke kotak pesannya yang sebagian besar tentang permintaan maaf Nisa padanya. Rasa khawatirnya juga.


Hingga pengajian pun selesai, Asna bahkan tidak mendengarkan apa yang di bahas dalam pengajian. Ia hanya sibuk dengan ponselnya saja, saat semua orang mulai meninggalkan masjid, Asna memilih menunggu di urutan paling belakang.


Terlihat Gus Raka sudah menunggunya sedari tadi di tempat mereka janji bertemu kembali. Melihat Asna keluar dalam keadaan baik-baik saja, Gus Raka cukup merasa lega.


Sepanjang pengajian, Asna juga tidak menemui ibu mertuanya.


"Bagaimana?" tanya Raka setelah Asna mengenakan sendalnya kembali, Raka segera menggandeng tangan Asna.


"Apanya?"


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Memang aku setan yang tidak akan baik-baik saja saat keluar dari pengajian!?"


"Bukan itu sayang!" Raka mencubit hidung Asna dengan lembut.


"Mas, jangan gitu! nggak enak kalau di liati orang!"


"Apa salahnya! Ya sudah, sudah malam. Mau langsung pulang atau kita menginap di rumah Abi?"

__ADS_1


"Kenapa menginap?"


"Aku kan cuma tanya!"


"Ya siapa tahu kamu kesenengan deket-deket sama santriwati yang ganjen-ganjen itu!"


"Memang ada santriwati yang ganjen?"


"Kalau suka mengagumi suami orang, apa namanya kalau bukan ganjen?"


"Ohhh, ceritanya ada yang sudah melaju mengakui sebagai suami ya!"


"Apaan sih, nggak gitu! Mas Raka suka gitu ah!" Asna memilih menatap ke arah lain dari pada ketahuan kalau dirinya saat ini sedang tersipu di buatnya.


Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, mereka pun pulang dengan naik motor.


Hanya butuh waktu lima menit kalau naik motor sudah sampai di rumah. Asna segera membukakan pintu dan melihat rumahnya yang tampak lebih bersih dari biasanya.


"Mas, kok rumah kita bersih?"


"Iya, hari ini sudah ada mbak yang bantu kita bersih-bersih, jadi mulai besok kalau aku tinggal kamu sudah ada yang nemenin di rumah!"


"Ohhhh, baguslah!"


"Ya bagus dong!"


Mereka segera menuju ke kamar karena memang sudah sangat malam, Asna segera mengganti bajunya dengan baju tidur tanpa jilbab dan membersihkan wajahnya. Begitupun dengan Raka.


Raka masih memilih duduk di sofa dan mengecek pekerjaannya, dan mengecek kiriman email dari Gus Fahmi tentang data karyawan.


Asna yang sudah bersiap untuk tidur, ia menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.


"Mas!"


"Hmm?" Raka mendongakkan kepalanya, mengalihkan perhatiannya dari benda pipih di tangannya.


"Lusa kita ke acara olimpiade MIPA, Abizar ya!?"


Raka tersenyum lebar, ia tidak menyangka secepat ini, "Iya pasti, besok mas langsung bicara sama Abizar ya!"


"Iya!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2