Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Aku tanpamu (Aisyah)


__ADS_3

PoV Aisyah


Meninggalkan tempat itu seperti meninggalkan hidupku, aku hidup tanpa tanpa nya.


Aku tidak menyangka di hari itu adalah hari di mana aku dan mas Alex harus berpisah.


Aku sudah terlanjur berjanji padanya untuk menjaga putrinya dengan mengasingkan diri. Menutup rapat identitas kami di tempat yang baru dan juga kehidupan baruku.


"Mas Leon ...., sampai di sini saja, berjanjilah mas Leon, jangan pernah melacak keberadaan kami ataupun mencari kami, berjanjilah seperti mas Alex meminta janjinya padaku!" ucapku pada mas Leon di stasiun itu di mana kami akan berpisah, aku tidak mau mas Leon sampai mengetahui tujuan kami.


"Tapi nona ...., bagiamana kalian hidup nantinya?"


"Biarkan Allah yang menjaga kami, seperti itu juga Allah akan menjaga hubunganku dengan mas Alex!"


"Tolong biarkan saya mengetahui keberadaan nona dan nona Kia!"


"Maaf tidak bisa, sebaiknya mas Leon pergi sekarang, assalamualaikum!" ucapku pada mas Leon saat itu.


"Waalaikum salam!"


Aku tahu dia begitu berat melepaskan kami, tapi demi janjiku pada mas Alex aku siap melepaskan semuanya. Mudah-mudahan Allah mencatat ini sebagai salah satu bakti ku untuk suamiku.


Setelah memastikan mas Leon sudah benar-benar meninggalkan kami, aku, ibu, baby Kia dan Nino segera meninggalkan stasiun.


Kami naik taksi menuju ke terminal kota. Jika aku tetap menggunakan kereta api pasti mas Leon dapat dengan mudah melacak tujuan kami dengan memeriksa daftar pembeli tiket kereta.


Kami memilih menaiki bus antar kota, tujuan kami adalah daerah yang mungkin tidak akan pernah terpikirkan oleh mas Alex.


Kami tinggal di sebuah kota kecil, bukan di jawa tengah seperti yang kami rencanakan. Kami tinggal di Blitar, tidak begitu jauh sebenarnya dari Surabaya.


Tapi kota kecil ini cukup aman bagi kami, karena di sini tidak ada seorang pun yang mengenali kami, dari uang yang aku bawa dari mas Alex kami bisa membeli sebuah rumah sederhana dan juga menyewa sebuah ruko.


Aku dan ibu membuka rumah makan di sana dengan menu khas Surabaya. Nino juga sudah mulai mendaftar di sebuah sekolah SMA di sana, memang tidak sebesar sekolah Nino di Surabaya, tapi sekolah itu lumayan lengkap fasilitasnya, Nino juga bisa menyalurkan hobi lokomotif nya di sana.


Hoeks hoeks hoeks


Beberapa hari ini aku berada kurang enak badan, aku kira aku sedang kecapekan karena beberapa hari dan minggu ini kami banyak persiapan.


Selain membantu ibu di warung makan, aku juga masih harus menjaga baby Kia yang sedang aktif-aktifnya.


"Kamu kenapa nduk ...?" tanya ibu yang melihat wajah ku yang pucat.


"Nggak ngerti bu, rasanya mual banget!"


"Minta Nino buat nganter kamu ke klinik, biar warung dan Kia ibu yang jaga ...!"

__ADS_1


"Baiklah bu ...., Aisyah tinggal dulu ya!"


Aku pun meminta antar Nino, kami punya dua motor, satu untukmu dan satu lagi untuk Nino. Tapi karena aku kurang enak badan jadi aku meminta di antar Nino.


"Nino tunggu di sini aja ya mbak, malu kalai ikut masuk!" ucap Nino, Nino memang sedikit pemalu mungkin efek waktu kecil Nino lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah karena gangguan kesehatannya di waktu kecil.


"Baiklah, mbak nggak akan lama ..., jadi jangan kemana-mana!"


"Iya mbak ...!"


Aku pun segera mengambil antrian, dan hanya setengah jam saja sudah datang giliran ku.


"Nyonya Aisyah Ratna!"


Setelah namaku di panggil, aku pun segera masuk, seorang dokter perempuan sudah menunggu di dalam.


"Keluhannya apa bu?" tanya dokter itu.


"Badanku tiba-tiba lemas dok, mual ...., dan sering pusing!"


"Baiklah Silahkan naik ke sana dulu ya, biar saya periksa!" ucap dokter itu sambil menunjuk sebuah tempat tidur pasien.


Aku melewati berbagai macam proses pemeriksaan. Setelah selesai melakukan pemeriksaan dokter pun mengajakku kembali duduk di tempat pertama aku duduk.


"Bagaimana dok?"


Aku hanya bisa tercengang mendengar pertanyaannya.


"Maksud dokter?"


"Bu Aisyah hamil, kalau berdasarkan perhitungan saya, bu Aisyah sudah hamil delapan Minggu!"


"Delapan minggu?"


"Iya bu ...!"


Aku belum bisa percaya dengan apa yang terjadi denganku, bagaimana aku bisa hamil sedangkan kami berjauhan.


Kami hanya melakukannya dua kali, tapi kenapa bisa hamil? Bagaimana nanti, apa mas Alex akan percaya kalau anak ini anaknya?


"Mbak, sudah? Cepet banget? Sakit apa mbak? Nggak serius kan?"


Aku belum punya kekuatan untuk menjawab semua pertanyaan dari Nino.


Sampai di rumah pun aku belum punya keberanian untuk bicara. Ibu sudah menyambut ku meja makan, ibu sudah menyiapkan makanan untuk kami.

__ADS_1


"Sakit apa?" tanya ibu dan aku hanya memilih untuk diam, ia mengambilkan segelas air untukku.


"Minumlah ...!"


Aku pun segera meminum air putih itu.


"Mbak kamu kenapa No?" tanya ibu pada Nino.


"Nggak ngerti aku bu, di tanya dari tadi nggak mau jawab ...!"


Ibu segera mendekat padaku dan mengusap punggung ku, aku tahu ibu pasti sangat khawatir, tapi aku juga tidak tahu harus bagaimana, Kia baru berusia empat bulan dan aku sudah hamil lagi.


"Enek opo to nduk, omong karo ibuk .... (Ada apa sih nduk, bicara sama ibu), jangan diam saja, kalau kamu diam bagaimana ibu bisa tahu ...!"


"Aku hamil bu ..., bagaimana ini?" tanyaku pada ibu.


Ibu malah tersenyum mendengar ucapan ku.


"Kenapa kamu khawatir ....? Kamu percaya kan sama Allah?"


"Iya .... bu!"


"Kalau kamu percaya, lalu kenapa khawatir dengan rejeki yang di berikan oleh Allah langsung padamu ....!"


"Astagfirullah ...., Aisyah hampir saja melupakan Allah bu! Aisyah melupakan jika ini salah satu kasih sayang Allah pada Aisyah bu ...!"


"Iya nak ..., ya legowo, manungso mung iso berencana nduk, gusti Allah seng nentokne ...! (manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan)!"


Kali ini aku harus melewati masa kehamilanku tanpa mas Alex, aku dan Kia tanpa mas Alex begitupun dengan kehamilanku.


Sepertinya anak yang ada dalam kandunganku mengerti kalau papa nya sedang tidak bersamanya, aku tidak mengalami masalah dalam kehamilanku kali ini.


Rumah makan juga cukup ramai dan akhirnya aku meminta ibu untuk mencari karyawan untuk membantu ibu.


Setelah lima bulan, kami punya tiga karyawan, sekarang ibu hanya datang untuk mengawasi pekerjaan karyawan dan menjaga Kia.


Perutku besar jadi ibu melarang ku untuk melakukan hal-hal berat, Nino sepulang sekolah juga membantu ibu di warung.


Mas Alex, aku merindukanmu tapi apa kamu tahu, aku terlalu egois kerena membawa dua kehidupanmu bersamaku sedangkan kamu sendiri di sana ...., apa nanti kau akan marah padaku karena tidak membagi kebahagiaan ini pada mu, mas ....


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2