
Setelah merasa lebih baik dan bisa bergabung dengan keluarga, akhirnya Nisa dan Leon pun memutuskan untuk makan malam bersama keluarga, kabar kembalinya Leon sudah sampai ke saudara-saudara Nisa.
Makan malam ini lengkap semua keluarga Nisa, ada kakak-kakak Nisa bersama istri dan anak-anaknya, kakak perempuan Nisa bersama suami dan anak-anak nya juga.
Leon pun menceritakan semua kronologi kejadiannya, hingga kisah pilu yang menimpa Asna dan Nisa.
"Nisa kalau gitu untuk beberapa hari ke depan kalian tinggal di sini saja, kalau di tinggal-tinggal Leon masih ada yang ngawasi!"
"Nisa kan masih harus kerja!" mendengar hal itu, Leon pun segera menetap sang istri.
"Siapa bilang kamu boleh kerja, kamu harus di rumah!"
"Hahhh, kenapa?"
"Kamu nggak liat perut kamu, apa mau kamu kerja aku itutin?"
Nisa menatap Leon tidak percaya, ia sampai mengerutkan keningnya.
"Ngapain ikut Nisa?"
"Jagain Nisa, biar mas aja yang cuti hamil dan melahirkan kamu enggak!"
Semua orang yang ada di ruang makan itu seketika tertawa, suasana tegang tadi kini berubah menjadi cair kembali, ternyata sikap polos dan apa adanya Leon tetap saja masih sama.
"Iya sekalian saja kamu nanti ya nyusui!" ledek dokter Reza.
Tawa kembali pecah, suasana hangat yang sudah lama tidak terasa itu kembali terasa. Kesedihan Nisa telah menjadi kesedihan seluruh keluarga selama ini.
...***...
"Kamu bahagia?" tanya Leon, pria itu saat ini sedang memijat kaki sang istri. Ia memulai kebisaan lamanya, ia memijat kaki istrinya sebelum tidur.
"Lebih dari bahagia mas, Nisa benar-benar bersyukur karena Allah selalu memberikan kebahagiaan yang lengkap pada Nisa!"
Leon tersenyum, tangannya masih setia memujiku kaki Nisa.
"Kamu tidak ingin sesuatu?"
"Memang mas Leon pengen aku ingin apa?"
"Ya terserah kamu, kan kamu yang ingin!"
"Aku lagi malah ingin!"
"Beneran nggak ingin apa gitu, misalnya ingin ini!" Leon menunjuk pada bibirnya sendiri.
"Bibir? Maksudnya Nisa pengen makan bibir?"
"Iya, siapa tahu kamu ingin, aku siap nih bibirnya kamu makan!"
"Modus ah mas Leon!"
__ADS_1
"Modus sama istri sendiri nggak dosa!"
Nisa kembali tersenyum, senyum Nisa ini yang selalu di rindukan oleh seorang Leon. Senyum ini yang selalu menguatkan langkahnya.
"Doakan aku ya, agar selalu bisa menyebutmu dalam doaku!" ucap Leon tiba-tiba.
"Memang mas Leon mau menyebut nama siapa lagi di doa mas Leon?"
"Kama dan Kalila!"
Nisa sampai menarik kakinya dan menatap tajam pada suaminya,
"Siapa mas, Kama dan Kalila?"
"Anak-anak kita, lucu kan kalau di kasih nama Kama dan Kalila, artinya yang di cintai, biar semua mencintai mereka!"
"Memang mas sudah yakin anak kita akan kembar cowok cewek?"
"Perasaanku pengakankan seperti itu, biar mereka cowok sama cewek biar nanti kamu tidak perlu hamil lagi!"
"Memang kenapa kalau aku hamil, aku nyusahin ya mas?"
"Enggak, hanya saja aku tidak mah melihat kamu menderita! Pasti capek kan setiap hari berjalan dengan perut besar seperti ini, belum lagi nanti kalau melahirkan, iya kalau nggak kembar lagi, aku nggak bisa bayangin betapa sakitnya kamu!"
"Aku nggak pa pa mas, itu sudah menjadi kodratku sebagai seorang wanita, aku sangat menikmatinya!"
"Nggak pa pa, biar ini saja! Kalau aku suruh milih kamu atau anak-anak aku sudah pasti akan pilih kamu walaupun aku sangat menginginkan banyak anak!"
"Tidak pa pa tidak banyak, cukup selalu kamu sebut namaku dalam sujudmu, dan aku sudah bahagia! pasti Allah nanti yang akan jaga cinta kita!"
Nisa semakin mengeratkan pelukannya. Hingga deringan panjang dari ponsel Leon menandakan ada sebuah panggilan.
"Bentar ya sayang!" Nisa merenggangkan pelukannya dan membiarkan suaminya mengambil ponselnya.
"Dari Bu Merry, aku angkat dulu ya!" Nisa menganggukkan. kepalanya dan Leon pun segera turun dari tempat tidur ia berjalan menuju ke balkon kamar.
Menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih. itu ke daun telinganya.
"Walaikum salam!" jawabnya setelah mendapat sapaan salam dari yang ada di seberang sana.
Ternyata hijrah leon dan Alex bisa menular juga pada bi Merry, walaupun tidak banyak yang bisa di lakukan oleh wanita itu setidaknya ia sudah mulai menjalankan sholat lima waktu. dan terkadang mengikuti pengajian walaupun secara online, karena BI Merry masih malu mengaku kalau dia sedang memulai untuk belajar.
"......"
Wajah Leon terlihat sumringah mendengarkan kabar dari Bi Merry. Sepertinya bi Merry memberikan kabar bagus untuk Leon,
"Baiklah, besok aku akan ke sana!"
".....!"
"Waalaikum salam!"
__ADS_1
Leon segera menutup kembali sambungan telponnya, ia kembali menghampiri sang istri dengan wajah yang begitu bahagia.
"Ada apa mas?"
"Raka sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupannya, ia sudah mulai menggerakkan tangan dan kakinya!"
"Alhamdulillah!"
"Alhamdulillah, sepertinya Allah masih ingin Raka melakukan kebaikan untuk orang lain!"
Nisa tersenyum mendengar ucapan suaminya, memang sepertinya seluruh hidup pria itu hanya untuk kebaikan orang-orang terdekatnya.
Ia jadi kembali teringat dengan bungkusan yang di berikan Gus Raka waktu itu di hari pernikahannya.
"Mas, aku mau ambil sesuatu di lemari!"
"Apa? Biar aku ambilkan saja!"
"Ada kotak yang di bungkus dengan kertas bungkus warna merah!"
Leon pun mencari apa yang di katakan oleh sang istri dan tidak butuh waktu lama karena ia sudah bisa menemukannya di lemari paling atas bersebelahan dengan selimut dan seprei.
Leon pun kembali menutup lemarinya setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia kembali menghampiri sang istri,
"Ini kan?"
"Iya mas, sebenarnya waktu itu Nisa lupa kalau mas Raka kasih ini untuk hadiah pernikahan kita!"
"Boleh aku buka?"
Nisa menganggukkan kepalanya dan Leon pun segera membuka bingkisan itu.
setelah merobek kertas kado, ada sebuah kartok dan di dalamnya ternyata adalah sebuah mukena, sarung, baju Koko dan dua sajadah. dan ada secarik kertas yang menyertainya.
Leon pun segera membaca kertas itu.
Assalamualaikum, mas Leon , Nisa
...Maaf ya saya hanya bisa memberikan ini pada kalian, semoga apa yang saya beri ini tidak menjadi masalah buat kalian di kemudian hari, pertemuan kita yang tidak terduga memberikan banyak sekali pelajaran dalam hidup saya, jika nanti Allah masih mengijinkan kita untuk bertemu, aku ingin kita di pertemukan dalam sebuah ikatan yang lebih indah sebagai saudara, amiin...
...Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kalian erdua pada kebaikan....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1