Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Wasiat Terakhir)


__ADS_3

Nisa dan Alex pun segera masuk, ia bisa melihat di dalam ruangan itu sudah ada seseorang yang duduk membelakangi mereka.


Deg


Degup jantung Nisa berjalan lebih cepat, ingin segera melihat pria yang sedang duduk sendiri di dalam itu.


Alih-alih ingin segera melihat siapa pria itu, kakinya malah begitu sulit untuk di gerakkan.


Alex menatap Nisa, Bu nyai sudah menuntun langkah Nisa agar segera sampai.


Pria yang sedari tadi duduk itu perlahan berdiri, jantung Nisa semakin bertalu saja, seandainya ada pengeras suara yang dekat dengan letak jantungnya mungkin saat ini detaknya melebihi orang yang sedang lari maraton.


Seluruh tubuhnya seperti tidak bertulang saat pria itu mulai membalik badannya. Bibirnya tercekat, tidak bisa di gerakkan. Air matanya bahkan sekarang sudah mengenang di pelupuk mata.


"Assalamualaikum, Nisa!"


"Waalaikum salam!" mata Nisa sekarang sedang mencari sosok lain yang seharusnya bersama dengan pria itu, tapi ia tidak menemukan sosok yang sangat ia rindukan kan itu, sosok yang tubuhnya sudah halal untuk ia peluk.


"Mas Leon?"


"Duduklah Nisa, biar Raka menjelaskannya padamu!"


Nisa masih terpaku, tapi pria yang mirip dengan suaminya itu memilih menunduk. Seperti takut bersitatap dengan Nisa, jelas mereka bukan muhrim yang halal untuk saling berpandangan.


Semuanya duduk di satu ruangan yang cukup luas dengan sofa yang melingkar di setiap sisi serta meja yang berjumlah dua di tengah dengan beberapa toples camilan dan air dalam kemasan gelas.


Nisa kini duduk berdampingan dengan Bu nyai, Alex berdampingan dengan pak kyai, sedangkan Gus Raka duduk sendiri.


Gus Raka pun menceritakan kejadian yang terjadi malam itu, hingga mereka jatuh ke jurang.


"Maaf jika saya tidak bisa menyelamatkan Leon!" ada luka yang besar yang sedang di tahan oleh gus Raka saat mengucapkan nama saudara kembarnya. "Seandainya saja boleh memilih, saya siap untuk menggantikannya!"


Kata yang keluar dari bibir Gus Raka seperti belati yang menghujam jantung Nisa, tangisnya pecah dan langsung di tenangkan oleh Bu nyai, punggungnya tampak bergetar hebat saat ini.


"Sabar ya nak, hidup mati seseorang, Allah yang menentukan! Jangan sampai kita terlarut dalam kesedihan hingga membuat kita khufur terhadap nikmat yang di berikan oleh Allah! Biarlah suami nak Nisa tenang di sana, doakan dia!"


Nisa hanya terus menangis, tidak peduli sebanyak apa orang yang berada di sana.


Gus Raka hanya bisa menatap penuh iba,

__ADS_1


Seandainya saja aku bisa memelukmu sekarang, aku akan memelukmu


Mereka hanya bisa saling diam hingga menunggu Nisa tenang kembali kecuali Bu nyai yang memang sesekali mengusap dan menenangkannya dengan kata-kata bijak.


"Jangan terlalu sedih nak, kasihan anak-anak dalam kandungan kamu! Biarkan Raka melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan!"


Setelah cukup lama, akhirnya Nisa bisa sedikit tenang walaupun sesekali masih terdengar sesenggukannya.


"Mas Raka, aku sudah siap mendengarkan selanjutnya!" ucap Nisa sambil menghapus sisa-sisa air matanya walaupun masih tidak mau berhenti.


Gus Raka menatap perlahan lalu kembali mengalihkan tatapannya, ia tidak mau berlama-lama menatap Nisa walaupun sebenarnya ingin.


"Ada pesan dari Leon!" Gus Raka menyerahkan secarik kertas yang sudah di lipat. Dan menyodorkannya pada Nisa.


Nisa perlahan membukanya dan benar itu tulisan tangan dari Leon, suaminya.


mata Nisa seketika terbelalak sempurna lalu menatap kembali pada Gus Raka.


"Ini tidak mungkin!"


Alex yang penasaran pun mengambil kertas dari tangan Nisa dan ikut membacanya.


"Kami tidak mungkin tinggal bersama sedangkan kami bukan suami istri!" ucap Nisa dengan berapi-api.


"Tapi saya juga tidak bisa mengabaikan wasiat dari Leon untuk menjaga Nisa!" Gus Raka merasa tidak enek dengan apa yang terjadi tapi dia juga tidak bisa mengabaikannya.


"Bagaimana kalau kalian menikah saja?" usul dari pak kyai.


Gus Raka menelan Salivanya, "Saya bisa tinggal di rumah bawah selama menjaga Nisa, tidak perlu menikah Abi!"


Dia tahu rumah bawah? Alex cukup terkejut dengan ucapan Gus Raka, karena setahu dia rumah bawah itu hanya di ketahui dirinya dan Leon saja.


"Tapi tetap saja Raka, bila dua orang yang bukan suami istri hidup dalam satu atap pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan, Abi tidak mau timbul fitnah!"


"Tapi Abi, masa iddah Nisa belum berakhir, lagi pula dia juga sedang hamil, masa iddah baru akan selesai setelah melahirkan!"


Apa yang di katakan Gus Raka memang benar, Nisa tidak bisa melangsungkan pernikahan selama masa kehamilannya.


Nisa yang saat ini menjadi pusat perdebatan hanya bisa pasrah, bahkan otaknya sekarang masih belum bisa dia gunakan untuk berpikir. Rasa kehilangan masih sangat menyelimuti dirinya.

__ADS_1


"Aku akan bersikap layaknya penjaga yang lain!" Gus Raka terus meyakinkan keluarganya agar tidak terjadi pernikahan lagi, lagi pula ini hanya untuk beberapa bulan saja.


Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya di ambil keputusan, Gus Raka akan tinggal di rumah Leon dan Nisa tapi dengan penjaga dan asisten rumah tangga lainnya.


"Besok saya akan mengantar kalian ke makan Leon!" ucap Gus Raka sebelum semuanya pergi.


***


Seperti yang di janjikan, hari ini Gus Raka mengajak Nisa dan yang lainnya untuk ziarah ke makam Leon.


"Jadi Leon di makamkan di Surabaya juga?" tanya Alex yang terkejut karena mereka tidak perlu pergi ke Bali, jarak yang begitu dekat kenapa sampai tidak tahu? Seperti ada yang sengaja Gus Raka sembunyikan.


Ini terlalu aneh!


"Iya maaf, Leon sendiri yang meminta untuk tidak mengatakan pada siapapun, ia tidak mau membuat semuanya sedih!" pria dengan peci yang sekarang lebih sering memakai kaca mata itu berusaha menjelaskan.


Nisa sudah duduk di samping pusaran sang suami, makamnya terlihat masih baru, sepertinya masih satu atau dua mingguan, padahal jika di hitung semenjak mereka tidak bisa di hubungi, itu sudah satu bulan lebih.


Nisa tidak mau lagi menangis di samping pusaran sang suami, ia hanya ingin berdoa. Walaupun air matanya yang begitu keras ia tahan seperti mengaburkan penglihatannya.


Maafkan aku, saudaraku, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk semua yang kamu lakukan untukmu, semoga Allah menempatkan-Mu di surga-Nya, amiin


Tampak Gus Raka mengusap sudut matanya, meskipun tertutup oleh kaca mata, tetap saja terlihat kalau dia sedang menangis sekarang.


Alex tidak kalah terlukanya, ia tahu semua ini terjadi karena orang yang sebenarnya mengincar dirinya.


Maafkan aku, aku tidak bisa melindungi mu di saat-saat terakhirmu, semoga Allah mempertemukan kita nanti di jannahNya, amiin


Nisa menaburkan bunga segar di pusaran suaminya setelah membacakan doa,


Mas, Nisa masih sangat berharap kamu kembali, tapi aku tahu itu bukanlah hal yang mungkin, Allah mungkin lebih sayang sama kamu, dari pada sayang Nisa sama mas, tunggu aku di surgaNya, mas.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2