Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Leon 3)


__ADS_3

...**Sukses bukan sesuatu yang akan datang dengan tiba-tiba dan kau akan mendapatkannya jika Tuhan menakdirkanmu untuk sukses. Sukses itu sesuatu yang harus di usahakan, karena Tuhan juga menyukai bagaimana cara kamu berusaha...


...🌺Selamat membaca🌺**...


Cukup lama, sudah hampir dua jam dan dokter Ardan tidak juga kembali ke ruangannya. Sebenarnya ada keinginan untuk pulang lebih dulu tapi sepertinya rasa penasarannya sedari tadi sudah menahannya. Baru kali ini ia mengalami hal yang cukup heroik seperti ini dan dia tidak mungkin memotong kisahnya hanya sampai di sini, jiwa penulisnya sedikit meronta ingin melanjutkan konflik luar biasa yang baru saja terjadi dan konflik itu pasti ada sesuatu yang memicunya.


Resah, itulah yang sedang di rasakan Nisa sekarang, jari-jari lentiknya terus ia ketukkan di atas meja berwarna coklat dengan papan nama dokter Ardan itu, sedikit menimbulkan melodi yang menyatu dengan suara gemericik air hujan yang membentur balkon ruangan dokter Ardan.


Ceklek


Suara itu yang sedari tadi ia tunggu, bibirnya tersenyum dan segera menoleh ke arah pintu hingga membuat jilbab panjang berwarna biru muda yang menutupi dadanya itu sedikit berkibar karena hembusan angin,


"Kak!"


Hanya di ruang pribadi dokter Ardan dia berani memanggil kak pada dokter Arda, kakak keduanya. Dokter Ardan sudah memiliki dua anak tapi masih tetap terlihat tampan dengan penampilannya yang modis dan rapi.


Dokter Ardan menghampiri Nisa dan meletakkan satu cup kopi hitam di atas meja dan satu lagi ia letakkan di dekat tempat duduknya.


"Minumlah keburu dingin!"


"Terimakasih kak!"


Nisa segera mengambil cup itu dan menenguk kopi yang masih terlihat ada asap yang mengepul di atasnya, tapi mungkin karena udara yang dingin membuatnya tidak terasa panas, udara panas di Surabaya tiba-tiba hilang dengan hujan yang terus mengguyur sepanjang hari ini hingga malam.


"Gimana kak keadaannya?" tanya Nisa tiba-tiba saat mengingat tujuannya menunggu sang kakak hingga dua jam ini.


"Siapa?"


"Pria itu?"


"Kamu kenal?"


Nisa dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak!"


"Kenapa penasaran sekali? Lukamu sudah kamu obati?" tanya dokter Ardan lagi sambil mengangkat dagunya beberapa kali menunjuk ke arah siku Nisa.


"Sudah!"


"Lihat!"


Nisa pun terpaksa menyingkap lengannya hingga siku, ada memar di lengan bawah Nisa, mungkin tangannya terbentur sesuatu saat tubuhnya berguling tadi.


"Tadi sudah aku obati kak, di bantu sama dokter Veni!"


"Baguslah! Bagaimana tadi bisa berurusan dengan pria itu?"


"Nggak sengaja kak!"


"Iya, nggak sengajanya bagaimana?"


Nisa pun menjelaskan hal yang sama persis seperti yang dia jelaskan pada polisi.


"Nih!"


Dokter Ardan mengulurkan ponselnya saat Nisa selesai bercerita.


"Ada apa kak?"


"Ini, mama dari tadi nanyain kamu!"


Hahhh,


Nisa terkejut, selama dia bicara ternyata kakaknya itu menghubungkan langsung kepada mamanya.


"Ayo ambil!"


Nisa pun langsung mengambil ponsel dokter Ardan dan menempelkan di daun telinganya yang tertutup jilbab,


"Assalamualaikum ma!"


"Waalaikum salam, nak! ya Allah nak, mama khawatir! Kamu baik-baik saja kan? Ada yang luka nggak?"


"Nggak ada ma, jangan khawatir!"


"Gimana mama nggak khawatir, kamu nggak bisa di hubungi sedari tadi!"


"Ponsel Nisa rusak ma, tadi ikut kehujanan trus jatuh, sudah nggak berwujud ma!"


"Ya udah kamu nggak usah pulang sendiri, pulang sama kakak kamu!"


"Tapi tujuan kita kan beda, ma!"

__ADS_1


"Nggak pa pa, mama sudah telpon mbakmu, dia nggak keberatan kalau kakak kamu ngantar kamu pulang dulu!"


"Iya ma!"


"Ya sudah hati-hati ya, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Sambungan telpon terputus, jika pulangnya bareng dengan dokter Ardan itu berarti dia akan pulang jam empat pagi.


hehhh, untung besok libur ....,


"Jadi ponselmu rusak?"


Pertanyaan dokter Arda menyadarkannya, Nisa pun segera mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.


"Iya kak, aku bahkan lupa menjatuhkannya di mana tadi, mungkin ikut meledak bersama mobil itu!"


"Parah sekali!"


Nisa yang mendengar kata parah menjadi begitu penasaran, ia pun melipat tangannya di atas meja dan menjorokkan punggungnya ke depan hingga begitu dekat dengan kakaknya.


"Gimana kak keadaannya?"


"Ternyata namanya Leon! Dia adalah CEO perusahaan perangkat lunak yang cukup besar di Surabaya!"


"Trus lukanya?"


Nisa masih penasaran dengan luka yang di miliki oleh Pria itu, bukan jabatannya di perusahaan.


"Lukanya bukan luka karena kecelakaan, ada beberapa luka sobekan di tubuhnya karena benda tajam, sepetinya sebelum kecelakaan itu ada perkelahian, bukan bukan ....!"


Dokter Ardan meralat ucapannya lagi, "Bukan perkelahian tapi pengeroyokan!"


Nisa jadi punya banyak spekulasi yang ingin ia simpulkan sendiri dari kejadian ini. Tapi sepertinya bertanya sedikit membantu menjawab segala keraguannya.


"Dia orang jahat ya kak?"


"Belum tentu Nisa!"


"Tapi biasanya kalau punya musuh itu berarti orang jahat kan kak, mana ada orang baik-baik yang punya musuh! Musuh itu datang pasti gara-gara sebelumnya ada masalah yang membuat mereka saling bertikai dan membunuh! Serem ihhhh!"


Nisa sampai bergidik ngeri sendiri membayangkan bagaimana orang-orang itu pasti ingin membutuh pria yang baru saja dia tolong.


"Tapi asal kita tidak berbuat jahat sama orang, orang lain juga nggak mungkin kan buat jahat sama kita kak!"


"Ngeyel kamu kalau di beri tahu!"


"Di Wei tempe aja kak, tahu nggak enak!"


Dokter Ardan berdiri dan mengusap kepala Nisa kasar, gemas dengan kelakuan adiknya itu.


"Kakkkk ...., Jilbab Nisa berantakan!"


"Makanya kalau di kasih tahu jangan ngeyel!"


...🍂🍂🍂...


Di ruang yang sepi itu, hanya beberapa slang yang masih menempel di pria itu.


Matanya sedikit demi sedikit mulai ia buka, walaupun masih sangat berat.


Setelah berhasil membuka matanya, tatapannya melayang, entah sudah berapa lama dia terbaring di tempat itu, tubuhnya begitu sakit untuk di gerakkan.


"Eghhh!" keluhnya saat ingin berusaha untuk menggerakkan tubuhnya.


Sama-sama ia mendengar suara pintu di buka, dan suara langkah kaki mendekat padanya.


Ia merasakan seseorang memegang lengannya, mengerakkan slang infus yang menempel di pergelangan tangannya.


Pria itu segera mengerakkan tangannya agar orang itu bisa melihat kalau dirinya sudah sadar.


"Tuan ...., tuan sudah sadar?"


Suara seorang perempuan, dan perempuan itu mendekat ke arah wajahnya hingga ia bisa melihat perempuan itu. Perempuan yang memakai pakaian yang sama dengan perempuan yang terakhir kali ia temui hingga ia tidak sadarkan diri.


Pria itu memberi isyarat pada wanita itu agar membuka slang oksigen yang bertengger di atas hidung dan mulutnya, ia ingin bicara. Tenggorokannya begitu kering saat ini.


"Sebentar ya saya panggil dokter dulu!"


Wanita itu berlari kecap ke luar ruangan dan hanya lima menit ia kembali lagi dengan membawa seorang pria, sepertinya dia adalah dokter yang sedang berjaga.

__ADS_1


"Saya periksa dulu ya mas!"


Dokter itu pun memeriksa denyut nadi, dan beberapa syaraf pria itu.


"Aman suster, sudah bisa di buka!"


"Baik dokter!"


Perawat itu melepas slang oksigen yang ada di tubuh pria itu dan hanya menyisakan satu slang infus di pergelangan tangannya.


"Saya haus dok!" ucap pria itu.


"Sebentar ya mas Leon, saya periksa dulu.


Setelah memastikan tidak pa pa untuk di berikan makanan atau minuman, dokter pun membantu Leon untuk setengah duduk dan perawat memberi minuman.


"Bagaimana mas perasaannya sekarang?"


"Sudah lebih baik dok!"


"Apa ada keluarga yang bisa saya hubungi untuk anda mas Leon?"


Sebenarnya dia punya bi Merry, tapi rasanya tidak enak merepotkan dia. Alex masih di penjara, jika bi Merry mengurusinya di rumah sakit ia khawatir orang-orang itu akan memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan sesuatu di rumah Alex.


"Saya pinjam ponselnya sebentar dok, ada yang harus saya hubungi!"


"Baiklah!"


Dokter itu mengeluarkan sebuah ponsel dan mengulurkan pada Leon,


"Maaf dok, saya tidak bisa mengetik!"


"Oh iya maaf!"


"Biar saya dekte saja dok!"


"Ya silahkan!"


"Bisa nggak hanya kita berdua saja!" ucap Leon sambil menatap ke arah suster yang juga ada di tempat itu.


"Baik dok!" suster itu seperti sudah otomatis mengerti dan meninggalkan mereka berdua.


"Silahkan!" ucap dokter saat sudah hanya mereka berdua.


"0857 8367 xxxx!"


Setelah berhasil mengetikkan nomor itu, dokter pun men- loundspeaker ponselnya hingga telpon itu tersambung.


"Hallo, ini siapa ya?"


"Bi Merr, ini aku Leon!"


"Leon, ya ampun aku sudah khawatir sekali sama kamu, kamu sekarang di mana?"


"Aku di rumah sakit bi!"


"Di rumah sakit mana? Aku ke sana?"


"Jangan bi, sekarang bibi ke rumah kak Alex saja ya! Bibi jaga di sana jangan sampai orang-orang yang menyerang saya memanfaatkan hal ini dan mengambil berkas-berkas penting di rumah kak Alex!"


"Baiklah, saya akan ke sana!"


"Terimakasih ya bi!"


Leon mengakhiri telponnya,


"Terimakasih ya dok!"


"Sama-sama!"


Bersambung


...**Jangan menunggu sesuatu yang besar terjadi. Mulailah di mana kamu berada, dengan apa yang kamu miliki, dan itu akan selalu membawamu ke sesuatu yang lebih besar." -...


...Mary Manin Morrissey**...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2