Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (73)


__ADS_3

"Keterlaluan!" gerutu Raka dengan suara lirih tapi masih bisa di dengar oleh Asna, dan Asna hanya tersenyum mendengar bagaimana suaminya menggerutu. Ingin rasanya mencubit bibirnya seandainya bisa.


Ridwan langsung tersenyum begitu melihat Raka dan Asna keluar.


"Assalamualaikum mas Raka, ya Allah bagaimana kabar mas Raka?"


"Waalaikum salam, jadi kamu yang jemput? Seperti yang kamu lihat Wan!"


"Iya mas, tadi di minta mbak Asna!"


"Kalian kenal?" Ridwan merasa bingung dengan pertanyaan dari atasannya itu, jelas saja ia kenal karena kerap kali Raka meminta bantuan Ridwan untuk menjemput Asna.


"Mas Raka lupa ya, aku kan asisten kamu di toko juga, jadi selama mas Raka masih belum benar-benar sembuh, Asna yang akan mengurus toko!" Asna langsung berusaha menjelaskan sebelum Ridwan keceplosan.


"Sudah siap mas?" Ridwan segera mengalihkan pembicaraan setelah melihat Raka terdiam.


"Iya ayo!"


Ridwan pun langsung membuka pintu belakang dan bersiap membantu Raka untuk masuk ke dalam mobil,


"Tunggu, kenapa aku di belakang?"


Ridwan kembali kebingungan, ia menoleh pada Asna.


"Ada apa lagi sih mas?" Asna mulai tidak sabar.


"Kalau aku duduk di belakang, kalian mau duduk di depan berdua?"


Asna langsung tersenyum mendengar ucapan suaminya, Walaupun hilang ingatan tetap aja cemburuan ...


"Ya nggak lah mas, Asna duduk di belakang sama mas Raka!"


"Nggak, nggak!"


"Kok nggak sih?"


"Aku di depan sama Ridwan, kamu di belakang sendiri! Itu lebih aman!"


"Astaghfirullah hal azim, ribet banget!"


"Gimana mbak?" Ridwan yang bingun meminta pendapat pada Asna.


"Ya udah deh, kalian di depan. aja! Aku nggak pa pa di belakang sendiri!"


Ridwan pun akhirnya membantu Raka untuk duduk di depan sedangkan Asna duduk di belakang sendiri. Asna terus saja menggerutu sepanjang jalan, ia kesal dengan kelakuan suaminya yang jual mahal.


"Awas aja nanti, aku balas ya mas!"


Raka terus menanyai Ridwan sepanjang perjalanan perihal toko, tapi Raka tidak pernah membahas mengenai akad nya dengan pemilik toko, sepertinya ingatannya juga belum sampai di sana.


"Ehhh tunggu, kenapa kita ke sini?" Raka hampir saja menghentikan laju mobil saat mereka sampai di sebuah persimpangan yang harusnya jika ke rumah Abi dan uminya, mereka lurus tapi saat ini mobil malah belok.


"Kita ke rumah mas Raka!"


"Tapi rumahku di sana!"


"Mas Raka lupa ya kalau sudah punya rumah sendiri?" Ridwan sambil terus melirik ke belakang, melirik wanita yang terus fokus bermain hp.


Mbak Asna ihhh, ntar kalau aku salah jawab gimana? Ridwan benar-benar kerap di buat panik dengan pertanyaan-pertanyaan Raka.

__ADS_1


"Yang benar aku sudah punya rumah?"


"Iya mas, rumahnya di tinggali mas Raka sama mbak Asna!"


"Astaghfirullah!"


Istighfar Raka berhasil membuat Ridwan menghentikan mobilnya secara mendadak, Asna yang fokus dengan ponselnya begitu terkejut,


"Ada apa Wan?"


Ridwan yang di tanyai malah menoleh pada Raka,


"Ada apa mas, kenapa istighfar?"


"Apa kau tinggal berdua di rumah dengan wanita yang bukan muhrim?"


Mendengar pertanyaan itu, Asna yang kesal rasanya ingin melempar bantal leher yang ada di di tangannya. Ridwan yang melihat wajah kesal Asna tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.


"Wan, kenapa malah tertawa?" Raka menatap Ridwan tidak percaya.


"Nggak mas, lagi keinget sama film kartun Tom and Jerry. Lucu banget mas!"


"Aku serius kamu malah mikir yang lain!" Raka segera menoleh ke kursi belakang dan melotot pada Asna membuat Asna menciut nyalinya.


"Ada apa?" bantal yang ingin ia lempar tapi kini ia gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Bagaimana bisa kamu tinggal di rumahku?"


"Oh_, itu! Itu ya!" Asna begitu bingung bagaimana harus menjelaskannya, "Oh itu karena_, karena_! Karena mas Raka yang menawarinya!"


"Kok bisa!"


Pintar juga actingnya mbak Asna ..., Ridwan hanya tersenyum sendiri melihat adegan itu. Asna cukup tahu kalau suaminya hanya perlu di serang hati nuraninya agar bisa luluh.


"Jadi kamu punya anak?"


"Iya mas, anak perempuan yang mungil! Mas Raka nggak mungkin kan ngusir Asna, kasihan Shahia!"


"Siapa lagi Shahia?"


"Putrinya Asna mas, dia baru sepuluh bulan mas!"


"Baiklah, maaf!"


"Iya mas, terimakasih!" Asna mengusap air matanya dan tersenyum melihat suaminya luluh.


Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah yang seharusnya menjadi rumah mereka berdua, bertiga sebagai sepasang keluarga. Tapi untuk sementara waktu Asna harus bermain peran sebagai seorang asisten rumah tangga yang membantu mbak Rumi.


Kedatangan mereka juga langsung di sambut mbak Rumi,


"Assalamualaikum, mas Raka!"


"Waalaikum salam, mbak Rumi di sini?"


"Iya mas, saya bantuin mbak Asna buat ngurus rumah ini selama mbak Asna di toko!"


Asna langsung mengacungkan dua jempol pada mbak Rumi, beruntung Raka tidka melihatnya karena memang posisi Asna saat ini berada di belakang Raka.


"Kalau begitu Ridwan langsung kembali ke toko ya mbak!"

__ADS_1


"Iya wan, makasih ya!" Raka juga mengucapkan terimakasih kepada karyawannya itu.


"Sama-sama mas, Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Setelah Ridwan dan mobilnya meninggalkan rumah, Asna pun langsung mengajak Raka untuk masuk ke dalam rumah, mbak Rumi membawakan tas besar milik Raka.


Walaupun Raka merasa baru pertama kali masuk rumah ini, tapi ia merasa sangat tidak asing dengan rumah yang baru ia masuki itu, ia bahkan tahu tata letak rumah itu.


"Itu!" Raka menunjuk kamar yang dulu menjadi kamar mereka berdua.


"Itu kamar mas Raka! Ayo Asna antar ke dalam kamar!"


Saat mereka melintas di kamar sebelahnya, Raka kembali menunjuk pada kamar di sebelahnya,


"Ini?"


"Oh itu kamar Asna sama Shahia!"


"Benarkah? Aku merasa sering ke ruangan itu!"


"Iya, dulu mas Raka sangat perhatian sama Asna makanya sering memastikan keadaan Asna!"


"Begitu ya?"


"Iya mas, ayo masuk aja mas!" Asna segera membuka pintu dan mendorong Raka masuk ke dalam kamar.


"Mbak Rumi mana?"


"Kenapa?"


"Tidak pa pa, hanya merasa tidak nyama saja berada dalam satu ruangan hanya berdua saja dengan yang buka_!"


"Muhrim, aku tahu!"


Asna pun dengan kesal memanggil mbak Rumi.


"Aku bisa sendiri, nggak usah sentuh!" tolak Raka saat Asna akan membantunya untuk turun dari kursi roda dan berpindah ke tempat tidur.


"Astagfirullah hal azim, mas! Asna cuma.pengen bantu aja, nggak usah jual mahal deh! Nggak ada yang bakal ngira kita zina walaupun kita satu kamar!" Asna begitu kesal hingga hampir saja kelepasan.


"Mbak Asna, biar saya saja yang bantu! Shahia kayaknya bangun mbak!" mbak Rumi segera menengahi takut jika Asna sampai kelepasan.


"Iya mbak!"


Asna benar-benar keluar karena kesal, ia ingin sekali melakukan segalanya untuk sang suami tapi selalu saja, suaminya merasa masih bujangan dan tidak mau di sentuh sembarang orang. Walaupun begitu tapi ia juga bangga dengan suaminya, itu tandanya suaminya tidak pernah menyentuh yang bukan muhrimnya.


Bersambung


...Selamat hari raya idul Fitri minal aidzin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2