
Mobil pun kembali melaju saat lampu sudah menyala hijau, dua manusia yang bersatu
dalam pernikahan itu masih saja saling diam. Tidak ada kehangatan seperti
pengantin baru pada umumnya.
“Kita kemana tuan?” tanya Leon yang masih bingung dengan tujuan mereka.
“Kita ke rumah nenek!”
Nenek akan membunuhku jika aku
membawa Aisyah ke rumahku sendiri ….
“Baik tuan!”
Mereka akhirnya sampai juga di rumah besar yang di huni nenek Widya. Ternyata nenek
Widya sudah menyambut mereka di depan pintu.
“Assalamualaikum, nek!"
“Waalaikum salam, sayang. Selamat datang di rumah barumu, semoga kamu akan betah nanti!”
“Amiiin …!”
“ya sudah , Alex masuk dulu, gerah banget nek!” Alex segera meninggalkan nenek
Widya dan Aisyah dan menuju ke kamarnya.
“Ayo masuk sayang!” nenek Widya merangkul Aisyah mengajaknya masuk.
Nenek Widya dan Aisyah mengobrol di ruang keluarga sambil menunggu Alex kembali turun.
Ia memperkenalkan semua orang yang bekerja di rumah itu satu persatu.
Cukup lama hingga Alex kembali turun dengan baju yang lebih santai, neneknya tidak
akan mengijinkannya pergi bekerja
seharian ini, jadi lebih baik mengalah dari pada dapat masalah.
“Biar Aisyah buatkan the hangat untuk nenek ya!” ucap Aisyah saat Alex sudah ikut
bergabung. Sebenarnya itu hanya alasan saja, ia sedang menghindari pria itu.
“Iya …, buatkan juga untuk suamimu!”
“baik nek!”
Aisyah pun segera ke dapur, melihat nyonya barunya masuk ke dapur tentu membuat
pelayan yangs edang bekerja di dapur panik.
‘Nyonya …, apa yang nyonya lakukan di sini?”
“maaf karena telah menggangu pekerjaan kalian, tapi ijinkan saya untuk membuatkan the
untuk nenek!”
“Biar kami saja, nyonya!”
“Tidak …, apapun nanti yang menyangkut saya, biar saya sendiri yang melakukannya!”
“Tapi nyonya!”
“saya mohon!”
“Baiklah …, nyonya!”
Aisyah di sibukkan dengan membuat the di dapur. Tapi saat Aisyah sedang sibuk di
dapur, nenek Widya kedatangan tamu.
“Assalamualaikum, nek!”
“Waalaikum salam, nak Fahmi!”
“Maafkan kedatangan saya jika saya menggangu, nek. Saya hanya ingin menemui Aisyah, apa nenek akan mengijinkannya?”
__ADS_1
Sebelumnya nenek Widya tidak tahu ada hubungan apa antara Aisyah dengan gus Fahmi, tapi melihat kedatangan gus Fahmi kerumahnya hanya untuk bertemu dengan Aisyah membuatnya yakin bahwa ada hubungan antara mereka sebelumnya, dan mungkin itulah yang membuat Aisyah sulit untuk menerima cucunya.
Nenek Widya menepuk bahu gus Fahmi dan menunjuk kearah Alex, “Dia adalah cucuku, suami Aisyah!”
Gus Fahmi sudah pernah melihat pria itu, pertemuan mereka yang kurang baik saat itu.
Alex pun berdiri, ini kali kedua mereka bertemu. Alex mengulurkan tangannya, “Alex!”
Gus Fahmi menyambut tangan Alex, tidak ada rona dendam atau permusuhan di wajah gus
Fahmi,
“Fahmi!” gus Fahmi melepaskan tangan Alex dan kembali berucap,
“Aku berharap semoga Allah memberikan kebahagiaan pada pernikahan kalian dan di
persatukan dalam ikatan yang suci dan penuh kebaikan!”
Alex hanya tersenyum tipis, ia tidak menyangka pria di depannya ini akan sebaik ini.
Merelakan wanita yang di cintai menikah dengan pria lain. Semudah itu.
Aisyah yang baru kembali dari dapur begitu terkejut melihat gus Fahmi berhadapan
dengan Alex di sana. Ia sampai tidak sadar sudah menjatuhkan nampannya.
Pyarrrr
Gelas dan nampan berserakan di lantai, membuat pelayan yang tidak jauh berdiri
ditempatnya segera memunguti pecahan gelas itu sedangkan Aisyah masih terpaku
di tempatnya.
“Aisyah!”
Aisyah benar-benar tidak menyangka jika gus Fahmi masih bersedia menemuinya setelah
semua yang terjadi. Mereka masih sama-sama terluka.
“Kenapa?”
bisa menanyakan kenapa harus datang di saat luka itu belum benar-benar sembuh,
kenapa gus fahmi membuka kembali lika yang bahkan belum mengering.
“Tolong ijinkan aku bicara dengan istrimu!” ucap Gus Fahmi pada Alex, mau bagaimanapun
sekarang Alex lah yang paling berhak atas Aisyah.
“Silahkan!”
Setelah mendapat persetujuan dari Alex, gus Fahmi berjalan mendekati Aisyah, tapi
sebelum itu ia menoleh pada nenek Widya.
“Maafkan saya nek, tapi ada yang harus saya bicarakan sebentar pada Aisyah!” nenek
Widya pun mengangguk. Sekarang nenek Widya tahu ada hati yang terluka akibat
keegoisannya menikahkan cucunya pada gadis salihah itu.
Gus Fahmi mendekat pada Aisyah, ia memberi jarak satu meter, “Assalamualaikum, Sya!”
Tapi Aisyah masih terpaku, bahkan bibirnya terlalu kaku untuk sekedar menjawab salam
pria itu.
“Sya …, melepas mu memang teras berat bagiku, tapi aku bisa menerimanya. Walaupun
begitu sebagian hati ini masih milikmu, Sya.
Tapi sekarang keadaanya sudah berbeda Sya saat kau bukan lagi milik ibumu, harapan
yang telah ku bangun untukmu sudah musnah!” kini suara gus fahmi sudah mulai bergetar.
“Aku datang bukan untuk membuka kembali luka ini, tapi aku datang untuk melepaskan
semua, dan jangan biarkan luka ini terus mendera hatimu, pikirkan perasaan
__ADS_1
suamimu. Aku berdoa semoga pernikahan kalian di limpahi keberkahan oleh allah,
dan senyum itu tetap milikmu!”
Gus fahmi menunduk, ada air mata yang menetes di sana, Aisyah pun tak bisa
mengendalikan perasaannya. Ia hanya terus menangis tanpa mengeluarkan suaranya.
“Assalamualaikum, Sya!”
Gus Fahmi berbalik meninggalkan Aisyah, ia kembali menghampiri nenek Widya.”Maafkan
saya karena telah mencintai menantu anda!” ucap gus fahmi sambil menakupkan
tangannya di depan dada, “Tapi insyaallah setelah ini, saya maupun Aisyah sudah
melepaskan semuanya!”
“Saya yang seharusnya minta maaf nak Fahmi, karena nenek sudah memutuskan cinta
kalian!”
“Ini sudah takdir, nek!”
“Terimakasih karena sudah mencintai Aisyah sesempurna ini, saya hanay bisa berdoa semoga Allah mempertemukan nak Fahmi dengan jodoh yang lebih baik!”
“Terimakasih nek, saya pamit, assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!”
Saat gus fahmi sudah meninggalkan rumah itu, Aisyah segera berlari menuju ke
kamarnya, kamar mereka, kamar Aisyah dan Alex. Ia segera menjatuhkan tubuhnya
di tepi tempat tidur, memeluk lututnya dan meluapkan air matanya.
“Alex …, temani istrimu di kamar, tenangkan dia!” perintah nenek Widya, walaupun
mendengus kesal tapi ia tidak bisa menolaknya. Alex pun segera menaiki tangga
dan menuju ke kamarnya.
Alex masuk ke dalam kamar begitu saja tanpa mengetuk pintu, ia mendapati wanita yang
telah ia nikahi kemarin itu duduk di lantai dengan bersandar pada tepian
tempat tidur, ia menenggelamkan kepalanya di sela lututnya, suara sesenggukan
seirama dengan punggungnya yang bergerak naik turun.
Ini kali kedua ia melihat Aisyah menangis seperti itu gara-gara pria yang sama,
yang pertama di taman itu di tengah hujan dan yang kedua sekarang. Alex memilih
diam dan duduk di samping Aisyah.
Hingga cukup lama Alex menunggu, hingga mungkin Aisyah capek menangis. Ia mengangkat kepalanya, Aisyah begitu terkejut saat mendapati Alex berada di depannya hingga ia terlonjak kebelakang.
“Sudah berapa lama anda di sini?” karena tidak tahu jika Alex akan masuk, Aisyah tidak
mengenakan hijabnya.
Alex terpesona dengan kecantikan alami Aisyah, rambut Aisyah yang berantakan dan air
mata Aisyah yang masih berlinang membuat tangan Alex tergerak untuk menyibakkan
rambut itu.
“jangan menyentuhku dengan tangan kotor mu itu!” teriak Aisyah dengan tatapan marah,
setiap kali Alex menyentuhnya ia jadi teringat dengan wanita yang berbeda yang selalu menemani Alex setiap malam.
‘terserah ….!” Alex begitu kesal karena lagi-lagi mendapat penolakan dari Aisyah, ia
memilih berdiri dan meninggalkan aisyah begitu saja.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘😘❤️