
“Theo meninggal dengan tenang. Begitu tenang, bahkan hingga aku pun tak menyadari hal itu. Dia pergi membawa serta harapan bahwa dirinya kembali dengan membawa jiwa yang bersih. Namun, aku tidak ingin menganggap jika kematiannya adalah sebagai penebus segala dosa-dosanya di masa lalu."
"Bagiku, Theo adalah pria yang hebat dan sangat baik. Dia pria luar biasa yang pernah kukenal. Selain ayahku tentunya.” Mia kembali terisak. Tangannya gemetaran, sehingga gelas yang tengah dia genggam pun terjatuh dan pecah.
Wanita itu tersentak. Mia segera menurunkan tubuhnya. Dia bermaksud untuk memungut pecahan beling tersebut dengan tergesa-gesa, sehingga membuat salah satu jemarinya tergores. Mia mengaduh serta meringis kecil, seraya menarik tangannya yang terluka.
Sementara, Adriano yang awalnya hanya memperhatikan, kini mulai turun tangan. Diraihnya tubuh Mia dan kembali dia dudukan di atas tepian tempat tidur. Dia mengerti kenapa Mia bisa bersikap seperti itu. Sesungguhnya, Adriano pun begitu terkejut dengan semua yang baru saja dirinya dengar. Rasa tak percaya sempat menyelimuti hatinya, tapi dia tahu jika Mia tak mungkin mengada-ada.
Adriano kemudian berjalan menuju laci di sebelah kanan tempat tidur. Dari sana, dia mengambil segala macam perlengkapan untuk mengobati luka di tangan Mia. Tanpa banyak bicara, pria bermata biru itu meraih tangan berjemari lentik Mia dan segera mengobatinya. Termasuk merekatkan plester pada luka tersebut. Adriano tak peduli meskipun wanita itu sempat menolak. Akan tetapi, dia tetap memaksa dan tak melepaskan tangan Mia “Jarimu terluka dan berdarah,” ucap Adriano.
“Telapak tanganku pernah berlumuran darah jauh lebih banyak dari ini,” balas Mia pelan.
“Itu karena aku tidak melihatnya. Jika aku menyaksikan hal itu, maka aku tak akan pernah membiarkannya.” Adriano menanggapi ucapan Mia. Dia sudah selesai dengan luka tadi. Pria berusia tiga puluh dua tahun tersebut kembali melayangkan tatapannya, kepada wanita cantik yang kini diam dan termenung. “Apa yang terjadi setelah itu?”
“Kenapa kau begitu ingin tahu?” Tatapan sinis Mia tertuju kepada pria tampan yang telah mengobati lukanya.
Sedangkan, Adriano hanya menghela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan. Dia lalu tersenyum kecil. “Karena menurutku Matteo tak akan mati dengan semudah itu,” jawabnya singkat.
Mia tak segera menjawab. Wanita cantik tersebut sesekali menundukan wajahnya. Ribuan sesal menggelayuti dan bertumpuk menjadi sebuah beban yang teramat besar. Membuat dirinya seakan tak mampu untuk memikul beban itu sendirian. Sementara, Mia tak pernah berbicara kepada siapa pun juga dari semenjak kejadian tersebut.
Isak pelan janda dari Matteo de Luca itu kembali terdengar. “Tidak semudah yang aku kira. Dulu, saat kematian ayah ... aku bisa menjalani hari-hariku dengan tenang dan tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk dapat menyembuhkan luka dalam yang kurasakan. Walaupun, sakitnya memang sama. Namun, kini rasanya jauh lebih berat bagiku. Butuh waktu hingga kurang lebih satu tahun untuk membuat pikiranku kembali jernih. Aku menjalani terapi, mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan dari dokter sampai aku merasa bosan saat melihatnya. Entah apa yang menjadi motivasiku untuk bisa kembali sembuh, karena rasanya aku lebih baik menjadi orang gila dan menghabiskan sisa hidupku tanpa harus teringat akan apapun,” tutur Mia dengan begitu lirih.
“Lalu, Mibella? Kau tak ingat padanya, Mia? Sebagai seorang ibu, tidak sepantasnya kau bersikap seperti itu,” tegur Adriano. “Seharusnya kau termotivasi untuk melanjutkan hidup demi putrimu,” lanjutnya tegas.
__ADS_1
“Miabella? Hatiku sakit saat melihat gadis kecil itu. Segala yang ada pada dirinya, selalu mengingatkanku terhadap Matteo. Mereka memiliki warna mata yang sama dan juga senyuman yang benar-benar mirip. Semua hal yang ada pada diri Miabella, selalu membuatku teringat kepada Matteo, dan hal itu sangat menyakitkan,” terang Mia sambil terus terisak.
Sesaat kemudian, Mia terdiam dan tampak berpikir. Hal itu dia lakukan cukup lama. Entah apa yang tengah mengganggunya kali ini. Namun, tak berselang lama dia kembali melayangkan tatapan tajam kepada Adriano. Raut wajahnya pun tampak dipenuhi kemarahan.
“Kau ... kau masih hidup, dan Theo-ku mati. Apa kau merupakan dalang di balik tewasnya suamiku?” tuduh Mia dengan tiba-tiba.
Seketika raut wajah Adriano berubah. Kesan ramah dan bersahabat tak terlihat sama sekali dalam dirinya. “Aku tidak akan melakukan hal sekeji itu, Mia!” tegas Adriano. “Apapun yang telah Matteo lakukan padaku di masa lalu, tetapi aku tak akan pernah menyerang seseorang dari belakang. Terlebih, jika orang tersebut tak bersenjata. Hal seperti itu bukanlah caraku." Adriano tak menerima tudingan yang Mia alamatkan terhadap dirinya.
“Dengarkan aku, Florecita Mia! Jika kau berpikir bahwa akulah yang telah menghabisi Matteo, maka kupastikan kau telah salah besar,” tegas Adriano lagi dengan penekanan suara yang sangat dalam.
“Semenjak kejadian malam itu di Pulau Elba, aku tidak lagi menginjakkan kaki di Italia. Seluruh bisnis di sana ditangani oleh ajudan kepercayaanku. Hal itu bisa kubuktikan dengan pasti,” lanjutnya membuat Mia terdiam, meski terus menatap pria bermata biru tersebut.
“Aku tidak dapat memercayai siapa pun setelah kepergian Theo. Banyak orang yang ingin menyingkirkannya, termasuk dirimu yang memang berniat untuk membalas dendam!” sanggah Mia dengan sinis.
Sementara, Adriano hanya menyunggingkan senyuman samar. Dia sadar jika Mia belum mengetahui kejadian yang sebenarnya. “Pada awalnya memang seperti itu. Aku ingin sekali menghabisi suamimu dengan tanganku sendiri. Namun, semua niat balas dendam tersebut sudah kusingkirkan jauh-jauh, ketika diriku menyadari bahwa kematian Matteo adalah kiamat bagimu! Aku tak ingin hal itu terjadi."
Sedangkan, Mia hanya terdiam mendengarkan ucapan Adriano. Pikirannya benar-benar kacau saat itu. “Sebaiknya aku pergi saja dari sini,” ucapnya seraya berdiri.
Akan tetapi, dengan segera Adriano mencegahnya. Pria itu memegang pergelangan tangan Mia. Membuat wanita berambut cokelat tadi mengurungkan niatnya untuk melangkah ke arah pintu. Mia menoleh dan menatap tajam pria bertubuh tegap tersebut. “Singkirkan tanganmu, Tuan D’Angelo!” Nada bicara Mia terdengar begitu sinis.
“Mari kuantar,” ujar Adriano kembali bicara dengan intonasi tenang serta lembut terhadap Mia.
“Tidak perlu!” tolak Mia dengan tegas. Dia menepiskan tangan Adriano yang masih memegangi pergelangannya.
__ADS_1
Akan tetapi, Adriano tak ingin mengalah begitu saja. “Silakan pilih. Jika memang kau ingin pulang dan mengizinkanku mengantarmu, maka aku akan membuka kunci pintu itu. Namun, jika kau menolaknya, maka itu sama artinya bahwa kau bersedia untuk bermalam di sini denganku."
"Ingat, Nyonya Cantik. Kunci kamar ini masih berada di tanganku. Selain itu, aku tak akan membiarkanmu keluyuran sendiri dalam kondisi kacau seperti ini. Jangan lupa bahwa kau sedang berada di Yunani, bukan Italia. Kau belum mengenal tempat ini dengan baik." Tersungging senyuman puas di sudut bibir Adriano. Dia membiarkan Mia terpaku untuk memikirkan kata-katanya. Sementara, dirinya memilih berlalu ke ruangan lain di dalam kamar.
Beberapa saat kemudian, Adriano kembali dengan sebuah mantel yang langsung dia pakaian di tubuh Mia meski tanpa memasukannya. Wanita yang sejak tadi masih terpaku di tempat dia berdiri, segera menoleh.
Akan tetapi, Mia tak berkata apa-apa. Dia hanya memperhatikan Adriano yang tengah membuka kunci pintu kamar tersebut, hingga pria bertubuh tegap itu mengajaknya untuk keluar.
“Sebaiknya kita makan malam terlebih dahulu,” ujar Adriano yang mulai melajukan kendaraannya dengan tenang.
“Aku tidak lapar,” balas Mia datar.
“Aku juga tidak. Namun, sekarang sudah saatnya untuk makan malam.” Adriano tetap pada keputusannya untuk mengajak Mia makan malam bersama.
“Kau saja yang makan. Aku akan menunggumu di dalam mobil,” ucap Mia lagi dengan dingin. Membuat Adriano tersenyum kecil seraya mengempaskan napas pendek.
“Ini bukan dirimu, Mia,” ujar Adriano pelan. “Aku heran. Mengapa orang-orang di Casa de Luca membiarkanmu pergi sendiri dalam kondisi yang seperti ini?” pikirnya.
“Mereka tidak tahu jika aku pergi ke Yunani," jawab Mia dengan datar. Tatapan matanya tertuju lurus ke depan. Dia seakan tak tertarik sama sekali untuk menoleh kepada pria tampan yang tengah mengemudi di sebelahnya.
“Maksudmu?” Adriano melirik Mia dengan raut tak mengerti. Namun, Mia tak segera menjawab. Wanita cantik tersebut masih memilih untuk diam. Adriano pun kembali fokus pada kemudi mobil, meskipun tadinya dia mengharapkan sebuah penjelasan dari Mia.
“Aku pergi dengan diam-diam. Lagi pula, masa pengobatanku sudah selesai. Aku tak tahu apakah akan sanggup kembali ke Casa de Luca atau tidak. Terlalu banyak kenangan di sana,” terang Mia sesaat setelah dirinya terdiam cukup lama.
__ADS_1
“Sebenarnya, aku sangat merindukan Miabella. Namun, hatiku terasa begitu sakit setiap kali melihat wajah anak itu,” ujar Mia seraya menyandarkan kepala, lalu memalingkan wajahnya ke samping. Air mata kembali menetes. Membasahi sudut bibirnya.
Mendengar penuturan Mia, Adriano kemudian menghentikan laju mobil yang dirinya kendarai. Dia menatap wanita yang memilih untuk menyembunyikan wajah darinya. “Jika kau tak ingin kembali ke Casa de Luca, maka sebaiknya ikutlah bersamaku ke Monaco,” ajak pria itu dengan yakin.