Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Calon Ayah


__ADS_3

Di tengah cuaca yang cukup menusuk pada pertengahan musim gugur, tak menyurutkan minat para tamu undangan untuk menghadiri pesta peresmian kasino bertaraf internasional. Sebuah bisnis menggiurkan yang dibangun atas kerja sama antara dua penguasa berpengaruh yaitu Adriano dan Juan Pablo. Persiapan pesta yang dikerjakan hanya dalam waktu singkat itu, ternyata dapat berlangsung dengan luar biasa di tangan mereka berdua.


Setelah acara gunting pita tadi siang, malam harinya dilanjutkan dengan grand opening kasino. Semua tamu undangan yang sebagian besar merupakan orang-orang dari kalangan atas, berdecak kagum atas berdirinya sarana hiburan dengan konsep one stop entertainment, di mana segala jenis kesenangan bernuansa mewah ada di sana. Hotel dan juga pusat perbelanjaan lengkap.


"Luar biasa. Jika sudah melihat begini, rasanya aku lupa dengan segala proses pembangunannya dulu," decak Arsen yang juga hadir dalam acara peresmian itu. Dia lalu meneguk minuman dalam gelas yang digenggamnya.


"Kau benar. Ini adalah bisnis yang luar biasa," sahut Adriano bangga. Dia lalu melirik Juan Pablo yang bersikap seperti biasa, tak banyak bicara. Pria itu memikirkan keadaan Gianna yang kini telah resmi menjadi istrinya. Dia terpaksa meninggalkan wanita muda tersebut di villa, meskipun dirinya sudah menempatkan beberapa pengawal di sana.


“Seandainya Olive dapat ikut melihat keindahan tempat ini,” gumam Arsen kemudian.


“Memangnya kenapa kau tak mengajak dia kemari?” sahut Adriano seraya mengernyitkan kening.


“Dia tidak boleh bepergian jauh, tidak boleh terlalu lelah, apalagi naik pesawat. Dokter mengatakan usia kandungan tiga bulan sangatlah riskan. Aku harus menjaga istri dan calon bayiku baik-baik,” jelas Arsen dengan bangga. Kata-katanya berhasil membuat Juan Pablo hampir tersedak minuman.


“Olivia hamil?” Adriano terbelalak tak percaya. “Tak kusangka, sepertinya aku menemukan alasan kenapa kita bersahabat,” ucapnya antusias.


“Kenapa memangnya?” tanya Arsen sembari meneguk minumannya lagi.


“Karena Mia juga tengah hamil. Lihatlah, Arsen. Bahkan istri-istri kita hamil secara bersamaan,” Adriano terkekeh, lalu perhatiannya mengarah pada Juan Pablo yang sedari tadi lebih memilih untuk diam dan mendengarkan pembicaraan. Pria itu tampak sedikit salah tingkah.


“Um, bagaimana rasanya menjadi ayah? Pasti menyenangkan, mengingat ini adalah pengalaman pertama kalian.” Juan Pablo mencoba untuk masuk ke dalam pembicaraan.


“Tentu saja. Aku sudah membayangkan bahwa rasanya pasti akan luar biasa. Betul ‘kan, Adriano?” Arsen mengalihkan pandangannya pada pria bermata biru itu.


“Apa kalian lupa bahwa aku sudah menjadi ayah bagi gadis kecil bernama Miabella. Aku yakin rasanya sama saja, entah anak itu berasal dari benihku atau bukan,” ujar Adriano dengan mata menerawang, membayangkan pertemuan pertamanya dengan balita cantik bermata abu-abu itu.

__ADS_1


“Saat itu aku bermkasud untuk menjenguk Mia yang baru saja melahirkan putri dari Matteo. Miabella baru berusia beberapa hari. Dia tengah terlelap di dalam box khusus. Aku menatapnya dalam-dalam, malaikat kecil yang teramat cantik. Hatiku seketika menghangat saat melihatnya menguap dengan mata terpejam. Lalu, aku bertemu dengannya lagi setelah tiga tahun kemudian, saat dia menginjak usia balita. Bella memelukku waktu itu,” tutur Adriano pelan. Ada setitik keharuan dalam hatinya.


“Ketika dia memelukku, aku merasakan sebuah ikatan yang sangat kuat dengannya. Seakan-akan dia putriku sendiri, padahal dia darah daging Matteo. Menyedihkan sekali karena anak sekecil itu harus kehilangan ayah kandungnya,” terang Adriani lagi. Pria rupawan itu menunduk dalam-dalam, kemudian terdiam. Begitu juga dengan Juan Pablo yang sepertinya tak ingin menanggapi lagi ucapan Adriano.


Beberapa saat kemudian Adriano kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Aku rasa jika putriku lahir nanti, maka rasanya akan tetap sama seperti ini. Bagiku keluarga bukanlah ikatan yang terjalin hanya dari aliran darah yang sama, meskipun banyak orang yang mengatakan darah lebih kental dari air. Namun, terkadang keluarga sendiri pun bisa memutuskan hubungan darah dan bertindak kejam.” Manis senyuman Adriano tersungging dari bibirnya.


Juan Pablo tertegun untuk sejenak. Dia semakin membeku, tak dapat menanggapi perkataan Adriano. “Aku permisi dulu. Kalian nikmatilah pestanya. Aku akan memeriksa keadaan,” pamit Juan Pablo seraya berbalik begitu saja, meninggalkan Adriano dan juga Arsen yang memandangnya keheranan.


“Bagi orang yang tak mengenalnya, pasti mereka akan beranggapan bahwa Juan Pablo itu aneh. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya,” celetuk Arsen seraya terus memperhatikan sosok Juan Pablo dari belakang sampai dia tak terlihat.


“Ya. Dulu, waktu pertama kali bertemu dengannya, aku juga menilai bahwa dia aneh dan penuh misteri,” timpal Adriano sambil meneguk sampanye dari dalam gelas yang dia pegang sedari tadi.


“Apa kau mengetahui sesuatu, Sobat?” Arsen mendekatkan dirinya pada Adriano dengan suara setengah berbisik.


"Dulu saat Don Vargas meninggal, Juan Pablo langsung mengadakan pesta pengangkatan dirinya sebagai ketua organisasi yang baru. Seluruh aset dan bisnis Don Vargas dia ambil alih serta dia balik nama. Padahal kenyataannya tidak seperti itu,” jelas Arsen dengan suara yang semakin pelan tapi serius.


“Lalu, bagaimana kenyataan sebenarnya?” Adriano yang tertarik sekaligus penasaran, segera memfokuskan seluruh perhatiannya kepada Arsen.


“Dari awal, semua organisasi dan kerajaan bisnis yang diatasnamakan Don Vargas memang merupakan milik Juan Pablo Herrera. Beberapa saat setelah Don Vargas dikabarkan tewas, Juan Pablo bahkan mengganti nama klannya menjadi klan Herrera,” terang Arsen.


“Lalu kenapa dia harus bersembunyi di balik sosok Don Vargas? Untuk apa dia menyembunyikan kepemilikannya atas seluruh jaringan organisasi dan bisnis yang dimilikinya sendiri?” tanya Adriano semakin penasaran.


“Aku rasa mungkin ada kaitannya dengan ayah tiri Juan pablo yang berprofesi sebagai tentara. Seperti yang kau tahu, ayah Juan Pablo itu .…”


“Ya, aku tahu. Ricci pernah menyelidikinya. Akan tetapi, saat itu kami belum bisa menemukan informasi tentang siapa anak dari Sebastian Naldo Quentiero karena terbatasnya akses. Namun, kami sempat mengetahui nama istrinya. Pada akhirnya, semua teka-teki itu terjawab ketika Juan Pablo mengenalkan nama ibu kandungnya. Semua kecurigaanku terbukti. Ayah tiri Juan Pablo berjuluk Elang Rimba. Aku tidak tahu apakah dia ada hubungannya dengan pembunuhan Matteo” papar Adriano panjang lebar.

__ADS_1


“Kalau aku boleh memberi masukan, jangan membuat masalah dengan Juan Pablo. Jangan menyerang seseorang yang belum kau ketahui seperti apa kekuatan dia sebenarnya, Sobat,” saran Arsen.


“Aku tidak bisa melepaskan begitu saja seseorang yang telah menghancurkan hidup Mia,” desis Adriano dengan mata biru yang tampak berkilat.


“Sudahlah, Adriano. Lepaskanlah semua yang telah berlalu. Lagi pula, Mia sekarang terlihat jauh lebih bahagia ketika bersamamu,” saran Arsen lagi.


“Aku .…” Adriano menjeda kata-katanya, ketika dia merasakan ponsel yang dia simpan di saku celana bergetar. “Sepertinya Mia tengah mencariku.” Raut tegang tadi langsung mencair saat menyebut nama wanita yang teramat dicintainya dan mampu membuat seorang Adriano D’Angelo bertekuk lutut. “Tunggulah. Aku akan menerima telepon dulu sebentar.” Adriano menepuk pundak Arsen pelan dan berjalan cepat menuju sudut ruangan yang tidak terlalu ramai.


Adriano berdiri di dekat pohon palem hias yang ditanam dalam pot antik berukuran raksasa. Pot itu diletakkan di sisi lorong masuk menuju toilet pria. Akan tetapi, Adriano segera mengernyitkan kening, ketika menyadari bahwa bukan Mia yang menghubunginya, melainkan nomor lain yang tidak dia kenal. “Siapa lagi ini?” gumamnya seraya menyentuh ikon hijau pada layar. “Pronto.”


“Apa kabar sahabatku Adriano? Pasti kau sekarang tengah asyik menikmati pesta bersama Juan Pablo, bukan?” sapa pria di seberang sana yang tidak lain adalah Jacob.


“Sialan, kau lagi! Apa maumu!” sentak Adriano.


“Aku hanya menagih janji. Bantu aku menemukan flashdisk itu dan rekamanmu bersama nona Cantona akan aman,” sahut Jacob. Namun, kalimat itu malah membuat Adriano terbahak.


“Kau sudah tidak bisa mengancamku lagi sekarang, Jacob. Aku tidak peduli pada rekaman hasil jebakanmu, karena aku telah menceritakan semuanya kepada Mia dan dia sepenuhnya percaya padaku. Jadi, kusarankan kau mulai melakukan pencarian seorang diri saja karena aku tidak lagi peduli. Jika kau menampakkan diri di sekitarku atau di sekitar orang-orang yang kucintai, maka kusarankan agar kau segera berlari menjauh. Ketua Tigre Nero akan memburu dan menghabisimu sampai tak tersisa!” geram Adriano, lalu menutup teleponnya begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Jacob.


Adriano tak mengetahui bahwa semenjak dirinya menerima panggilan dari pentolan Killer X itu, Juan Pablo sudah berada di belakangnya. Dia bersembunyi di dalam lorong sambil menyandarkan diri pada dinding. Pria asal Meksiko itu menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Kecurigaannya atas kedekatan Adriano dengan Jacob selama ini ternyata keliru.


🍒 🍒 🍒


Hai, ada satu lagi rekomendasi novel yang keren untuk dibaca.


__ADS_1


__ADS_2